
Atas saran dari dokter Arya dan dokter anak yang menangani Khanza. Hanafi di sarankan untuk membawa Khanza ke negara A. Negara dengan tehnologi kesehatan yang canggih. Disana Khanza bisa menjalani pengobatan juga terapi untuk memulihkan pendengarannya.
Meski dokter telah berkata bahwa akan sulit menyembuhkan Khanza dengan cacat bawaan lahirnya, tapi Hanafi tetap ingin mencoba dan memberikan yang terbaik untuk putrinya. Hanafi tak ingin permata hidup satu-satunya yang tersisa untuknya akan bersedih untuk seumur hidupnya. Ia tak ingin putri kecilnya nanti menjadi bahan tertawaan teman-temannya akibat ia yang tak bisa mendengar.
Hanafi ingin putrinya tumbuh menjadi wanita yang sempurna, juga kelak akan bisa meneruskan perusahaan Hanafi ketika ia sudah tak mampu lagi untuk menjalankannya.
Hanafi, Mirna dan juga Khanza berangkat menuju ke negara A, untuk menjalani pengobatan Khanza. Ia memilih rumah sakit terbaik disana, untuk melakukan pengobatan untuk Khanza.
Mirna dan Khanza juga 2 pengawal bertempat tinggal di sebuah villa yang sudah di sewa Hanafi untuk sementara waktu ketika berada disana. Villa itu berjarak cukup dekat dengan rumah sakit, tempat Khanza menjalani pengobatannya sehingga memudahkannya untuk sering mengunjungi rumah sakitnya.
Hanafi tak tinggal dan menemani Khanza disana, karna dia juga harus bekerja di perusahaannya yang mulai mengalami penurunan. Ia tak ingin jerih payahnya selama ini hilang begitu saja. Apalagi Khanza yang membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya.
Hanafi meninggalkan Khanza bersama baby sister Mirna dan dua pengawalnya di negara A. Berharap mereka menjaganya dengan baik, dan Khanza bisa sembuh dan mendengar kembali dengan normal seperti anak seusianya.
Dalam satu minggu sekali, di sela-sela kesibukannya Hanafi akan pergi ke negara A untuk melihat perkembangan langsung Khanza disana. Ia juga menitipkan sejumlah uang pada Mirna untuk keperluan pengobatan Khanza, dan juga seluruh kebutuhannya disana.
Sangat besar harapan Hanafi untuk kesembuhan Khanza dalam pengobatannya. Hanafi ingin Khanza tumbuh dengan sempurna tanpa kekurangan apapun, bahkan ia rela melakukan segala cara untuk kesembuhan Khanza. Semua saran pengobatan dan terapi di rumah sakit negara A Khanza jalani, dengan biaya yang sangat mahal tentunya.
Tapi Tuhan kembali berkehendak lain, dengan semua usaha Hanafi, Khanza tetap tidak mengalami perkembangan sama sekali. Dokter disana juga mengatakan hal yang sama, bahwa cacat lahir bawaan akan sulit di sembuhkan. Itu sudah sangat jelas bahwa bagaimana pun jerih payah Hanafi untuk membuat Khanza mendengar lagi secara alami adalah sia-sia.
__ADS_1
Hanafi pun putus asa, ia menghentikan semua pengobatan untuk Khanza. Atas saran sari beberapa dokter Hanafi pun memesan alat bantu pendengaran untuk Khanza.
Alat dengan desain khusus untuk bayi-bayi yang memiliki gangguan pendengaran, dengan desain dan pengaplikasian yang mudah dan tidak mengganggu sama sekali. Alat yang di desain sangat kecil hingga tak begitu terlihat kecuali seorang benar-benar melihatnya dengan jeli.
Hanafi membelinya dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran alat yang sangat kecil itu, tapi memang itu yang membuat harganya mahal.
Ketika alat bantu pendengaran itu di sematkan di telinga Khanza, alat itu dapat berfungsi dengan baik, dan Khanza mulai bisa mendengar normal lagi. Ia merespon panggilan dari arah manapun, dan itu juga yang membuatnya semakin ceria, karna ia bisa mendengar semua suara yang ada di sekitarnya.
Menganggap selesai masalah Khanza, karna kini Khanza telah bisa mendengar lagi meski dengan sebuah alat bantu.
Kini Hanafi harus mendapat lagi masalah dalam perusahaannya.
Beberapa anak cabang di berbagai kota mengalami kolaps secara bersamaan. Karna sikap korup para pegawainya, di salah satu anak cabang, setelah di selidiki banyak pengeluaran kantor yang teryata jumlahnya melebihi jumlah yang seharusnya. Banyak keperluan-keperluan kantor yang tergolong tidak penting maupun bersifat pribadi di beli.
Membuat pengeluaran kantor menjadi semakin banyak, dengan pemasukan yang semakin sedikit. Sudah tentu bisa di pastikan dalam kurun waktu beberapa bulan kantor pasti akan mengalami ketidakseimbangan keuangan. Manager sebuah anak cabang juga telah meminjam uang di sejumlah bank untuk menutupi keuangan kantor, karna ia merasa kantor yang di pimpinnya sudah mulai di titik terendah, ia takut kalau-kalau Hanafi tau dan menyelidikinya , ia pun meminjam uang dengan jumlah yang cukup besar.
Dengan sejumlah uang itu beberapa bulan kantor cabang sempat bertahan. Tapi karna cicilan pinjaman di bank yang tak kunjung di bayarkan, pihak bank akhirnya memutuskan untuk menghubungi kantor pusat Wijaya gruop untuk membayarkan semuanya. Tak tanggung-tanggung seluruh hutang anak cabang di bawah kendali anak buahnya mencapai triliunan.
Mengetahui hal itu Hanafi sangat marah dan di buat stress. Bagaimana tidak, baru saja selesai dengan masalah anaknya Khanza, sekarang dia juga di uji dengan masalah di perusahaannya. Dan juga berita tentang hutang dari perusahaan besar Wijaya group tentu langsung menjadi berita utama di negaranya. Bagaimana bisa perusahaan besar yang tentu memiliki banyak saham dan juga kekayaan bisa memiliki hutang sebanyak itu.
__ADS_1
Dari berita itu pun banyak praduga muncul bahwa banyak titik hitam di balik jayanya perusahaan Wijaya group, yang sengaja di tutup-tutupi oleh perusahaan.
Dari situ juga para klien dan kolega yang bekerjasama dengan Hanafi memutuskan untuk mundur, karna tak mau tersangkut juga dengan masalah hutang piutang yang mengatas namakan Wijaya group.
Hanafi dengan terpaksa menutup banyak anak cabang di berbagai kota. Dan memilah lagi karyawan-karyawan yang ada di bawah kepemimpinannya. Karyawan yang teryata mempunyai perilaku korup akan langsung di pecat saat itu juga. Tak lupa Hanafi juga menyuruh pihak berwajib untuk mengurus para manager dan karyawan yang terbukti memakai uang kantor dan terbukti menjadi sumber dari semua kekacauan ini untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Kini Hanafi hanya mempunyai kantor pusat dan 2 anak cabang yang di pimpinnya. Ia tak lagi percaya dengan siapapun, ia memimpin langsung kantor pusat dan anak cabang tersebut. Sebelumnya dia mempunyai anak cabang di berbagai kota, juga bisnis-bisnis lainnya yang mengusai seluruh aspek.
Akibat hutang sang karyawannya dan juga bunga bank yang terus menganak, ia harus membayarnya dan terpaksa harus menutup beberapa bisnisnya untuk membayar hutang yang tak sedikit itu.
Hanafi sangat di buat stress dengan segala masalah yang ada di hidupnya, ia tetap harus bangkit untuk Khanza yang masih mempunyai masa depan yang panjang, dan tentu membutuhkannya untuk tetap terus di sampingnya.
Perusahaannya masih berjalan, dan bisa menopang kehidupannya dan putrinya tapi tentu tak sejaya dulu, dia kini lebih memikirkan lagi untuk membeli sesuatu. Kecuali untuk keperluan Khanza anak satu-satunya yang sangat di sayanginya.
Baru saja semua masalah selesai dan kembali hidup tenang. Hanafi juga mulai terbiasa dengan kekayaan dan perusahaan yang tersisa. Kini dirinya harus kembali sedih dan berduka karna kepergian pak Sun yang selama ini membantunya. Bahkan Hanafi masih sempat meminta pak Sun untuk ikut campur tangan saat terjadi masalah yang baru saja menyerang perusahaannya.
Akibat masalah itu pula pak Sun yang mulai tua tak kuat menahan beban fikiran yang terlalu berat, ia slalu berfikir tentang kehidupan Hanafi kedepannya. Apalagi saat dia tau semua masalah yang kini terjadi pada Hanafi. Ia tak mau Hanafi hidup susah, ia juga mengingat lagi janjinya dulu kepada mendiang ayah Hanafi bahwa ia harus menjaganya dan memastikan Hanafi hidup dengan layak dan bahagia.
Rasa bersalahnya kepada Tuan besarnya, juga karna berbagai beban fikiran yang ada, membuat tubuhnya semakin lemah. Pak Sun mengalami serangan jantung tepat beberapa minggu setelah masalah dalam perusahaan Hanafi terselesaikan. Dan itu membuat pukulan keras bagi Hanafi, ia tak tau lagi harus bergantung pada siapa, mengingat sedari dulu pak Sun lah yang sudah banyak berjasa dalam kehidupan maupun perusahaannya. Bahkan ia sudah seperti orang tua untuk Hanafi, karna selalu mengalirkan kasih sayang dan cinta yang hangat padanya.
__ADS_1
Mendengar berita yang di bawa oleh para pengawalnya, seketika badan Hanafi langsung melemas, airmata mengalir tak henti-hentinya, ia meringkuk di samping sofa ruang tamu mengeluarkan segala kesedihan yang di rasakannya.
Bersambung...