2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Keinginan Ayah


__ADS_3

Sore hari Hanafi baru tiba di rumah sakit, ia sudah berusaha datang dengan cepat, mobilnya di kawal khusus oleh beberapa mobil polisi yang menyibakkan jalanan untuknya lewat.Tapi karna jarak antara rumah sakit dan kota D cukup jauh sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai.


Hanafi tergesa masuk, seperti biasa dokter Arya sudah berdiri siaga di depan pintu masuk menunggunya, sejak dalam perjalanan tadi ia sudah di berondong dengan banyak pertanyaan dari pesan singkat Hanafi, yang hampir tiap menit menanyakan perkembangan keadaan ayah mertuanya.


"Bagaimana keadaannya sekarang..."


Berkata sambil berjalan cepat tak melirik ke arah Arya sedikit pun.


"Masih sama han..ayah masih belum sadar..."


mengekor di belakang Hanafi sambil tergopoh-gopoh ingin mensejajari langkah kaki tuan mudanya.


apa aku harus bicara sekarang...ah tidak... jangan..tapi kalau aku tak memberitahunya cepat atau lambat dia akan bertanya juga ...atau akan mengetahui kondisi ayah dari dokter lain...ujung-ujungnya aku yang akan di salahkan atas keadaan ini...


Arya mencoba menyiapkan hatinya, selama beberapa detik berjalan keduanya diam, lalu Arya pun memegang lengan Hanafi dan mencoba menghentikan langkah kakinya di lorong rumah sakit yang terlihat sepi.


"Han..tunggu..."


"Apa... ada apa arr...aku ingin segera melihat keadaannya.."


sudah ingin marah dengan tindakan Arya yang tiba-tiba menarik lengannya.


"Aku ingin bicara padamu...ayo kita pergi ke ruangan ku.."


"Tidak..cepat katakan disini sekarang juga..."


"Bagaimana nanti jika ada yang mendengar.."


"Kau tak lihat tak ada seorang pun disini..cepat katakan.."


sudah menghardik Arya dan arya pun tak dapat mengelak lagi.


"Sepertinya sudah waktunya untuk mengihklaskan ayah han..."


tangannya mencengkram kuat jas yang di kenakannya, gemetar, jantungnya berdegup kencang, keringat dingin sudah mulai muncul di wajahnya. Arya takut akan reaksi Hanafi Saat ia mengatakan itu, karna ia tau Hanafi tak akan semudah itu memahami keadaan ayahnya yang sudah sangat serius itu.


Tapi sekarang atau pun nanti Arya harus memberitahu keadaan yang sebenarnya, beberapa jam yang lalu sebelum Hanafi sampai dia sudah menyiapkan hatinya untuk kemarahan sesaat yang mungkin akan muncul pada Hanafi, juga berbagai tindakan yang mungkin sulit untuk di kontrol ketika ia marah, karna Arya sudah sangat Hafal dengan sahabatnya yang satu ini.


"Apa katamu...kau sudah gila...aku membayarmu bukan hanya untuk diam saja disini...lakukan tindakan untuk menyelamatkannya...atau aku akan melemparmu dari sini sekarang juga..."


Hanafi mencengkram jas Arya kuat sampai membuat pemilik jas itu mundur karna terdorong tangan kekarnya.


huuffh...sudah ku duga kan dia akan marah...


Arya tak berkata apa pun, dia hanya terdiam mendapat perlakuan dari Hanafi yang cukup kasar.


"Hey...kenapa kau diam saja...apa kau tak sanggup merawatnya...aku akan memindahkannya ke rumah sakit yang lebih canggih dari rumah sakit tidak berguna mu ini..."


Padahal kau tau han...ini adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap disini...


"Kau benar-benar tak berguna Ar...percuma aku membayarmu mahal...jika kau tak bisa menyelamatkannya.."


Amarah benar-benar mengusai hatimu tuan muda...sadarlah...


"Hey...katakan sesuatu kenapa kau hanya diam.saja.."


Arya memang memilih terdiam menerima setiap perlakuan dari Hanafi yang sedang di kuasai oleh emosinya.


Dengan tubuhnya yang masih gemetar dan keringat dingin yang tiba-tiba saja memenuhi wajahnya, Arya mencoba berkata sesuatu, dan tentu saja sambil terbata-bata,ia juga berusaha melepaskan cengkraman tangan Hanafi dengan perlahan.

__ADS_1


"Tenanglah dulu han ....tenang..."


"Apa...kau masih bisa menyuruhku untuk tenang setelah mengetahui keadaannya yang sedang kritis sekarang..."


nada suaranya masih terdengar meninggi, tapi kini ia sudah melepas cengkramannya pada jas Arya.


"Kendalikan emosimu han...kau tak bisa bersikap egois seperti ini...sikapmu bisa semakin menyakitinya...tubuhnya rapuh han..."


Mata Arya kini berkaca-kaca.


"Katakan padaku ar...kenapa semua orang yang ku sayang pergi meninggalkanku...apa salahku..."


Kini Hanafi terisak menyandarkan dirinya di dinding, kedua tangannya menutupi wajahnya.


"Kau tak salah han...kita sudah berusaha dengan baik han..."


Arya menepuk-nepuk pundak Hanafi berusaha menenangkan.


"Apa ayah sudah tidak bisa bertahan lagi...katakan apa obat yang bisa menyembuhkannya...aku akan membelinya barapapun harganya..katakan ar..."


memandang Arya dengan wajah memelas dan berderai air mata.


"Han...aku mohon jangan seperti ini..."


"Katakan padaku...sampai kapan ayah bisa bertahan.."


"Aku pun tak bisa mengatakannya han...karna itu hanya rahasia Tuhan..tapi melihat keadaannya yang sekarang..."


"Kenapa katakan ar..."


"Keadaannya semakin menurun drastis...beliau belum sadarkan diri...ayah dalam keadaan koma han...dan mungkin tak akan bertahan lebih lama lagi jika keadaannya semakin menurun seperti sekarang..."


Begitupun dengan Arya yang ikut meneteskan air mata, seakan ia tau apa yang di rasakan Hanafi sekarang.


Dari kejauhan seorang perawat setengah berlari memanggil-manggil dokter Arya.


Arya yang melihat perawat itu hendak menghampirinya , menaruh jari telunjuknya di bibirnya sebuah isyarat untuk menyuruhnya terdiam, karna ia sedang bersama Hanafi dengan hati yang sedang kacau, ia tak mau membangkitkan emosinya lagi.


Tapi ntah karna panik atau apa perawat itu malah mendekat dan berkata.


"Maaf dokter, pasien ICU VVIP no.1 sudah sadar.."


sambil menundukkan kepala dalam, perawat itu mengenali siapa yang tengah berjongkok di depan dokter Arya.


Seketika Hanafi pun mendongak menatap perawat itu lalu sedetik kemudian ia menatap Arya dengan wajah yang sudah sedikit cerah.


"Ayaah.."


Arya dan Hanafi berkata bersamaan, mereka berdua pun berlari kecil menuju ruangan yang di sebut, melewati dan meninggalkan perawat itu begitu saja.


*


Ruang VVIP ICU


Arya dan Hanafi memasuki ruangan, terlihat Insha dan Salma yang sedang tersenyum menatap ayah serta menggengam tangannya erat.


Hanafi segera mendekat.


"Ayah...apakah ayah baik-baik saja.."

__ADS_1


Arya pun memeriksa kondisi ayah insha yang sudah tampak membuka mata.


sungguh ini merupakan keajaiban..bertahanlah ayah..


suara hati Arya.


"Baik nak han..."


menjawab dengan suara parau nya.


"Jangan mengajak ayah banyak bicara dulu han, biarkan beliau beristirahat..Keadaan ayah baik...saya pamit permisi dulu"


Arya menepuk pundak Hanafi sambil berlalu pergi. Hanafi pun mengantarkan Arya keluar ruangan ntah apa yang mereka bicarakan sebelum Arya keluar.


"Apa ayah mau minum..."


Insha menawarkan minuman yang ada di samping ayah yang belum tersentuh sama sekali.


Tapi ayah menggeleng dengan pelan.


"Atau ayah mau makan...ayah belum makan apa pun sejak tadi pagi..pasti ayah lapar.."


Salma melakukan hal yang sama.


Ayah menggelengkan kepala lagi.


"Lalu apa yang ayah mau....atau ayah ingin makan makanan kesukaan ayah.."


Salma membujuk lagi.


"Aku akan memasaknya sekarang jika ayah mau.."


Insha mencoba menawarkan diri.


Ayah tetap menggelengkan kepalanya.


"Atau ayah ingin makan sesuatu...katakan saja ayah...aku akan membuatkannya..."


Insha merayu lagi, dan tersenyum tulus pada ayahnya.


"Atau ayah ingin istirahat saja....tapi ayah belum makan sesuatu dari tadi pagi.."


Sahut Salma lagi.


"Katakan sesuatu ayah...ayolah.."


Ayah tak menjawab apapun hanya menggeleng lagi dan lagi...tapi pandangannya tetap fokus pada mereka berdua yang bertanya, yang menandakan ayah masih dalam keadaan sadar sepenuhnya.


Salma dan Insha diam sejenak, mereka saling menatap bingung.


"Katakan ayah, apa keinginan ayah..kita akan mewujudkannya..Salma dan Insha bingung kalau ayah hanya diam saja...Katakan apa yang ayah inginkan.."


Salma tampak menunjukkan wajah memelas pada ayah.


"Ayah ingin melihatmu menikah Salma..."


Sahut ayah kemudian dengan suara parau nya dan terbata-bata.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2