
Insha telah selesai melaksanakan berbagai pemeriksaan di ruangan dokter kandungan, Hanafi pun dengan setia menemaninya.
USG juga telah di lakukan tapi hasilnya memang belum terdapat kehidupan di dalamnya.
Kini Hanafi dan Insha menunggu di kantin hasil akhir dari semua pemeriksaan yang telah di lakukannya. Mereka mengobrol tentang keadaan ayah, juga sedikit di selingi godaan-godaan dari keduanya jika mereka sudah membahas tentang pemeriksaan Insha tadi juga bahasan tentang seorang bayi.
"Hmm...semoga saja semua hasilnya baik-baik saja.."
gumam Insha pelan sambil melahap es cream coklat lumer di mulutnya.
"Tentu saja..memangnya apa yang akan terjadi padamu sayang..semua akan baik-baik saja.."
Insha tersenyum memandang Hanafi sambil terus melahap es cream kesukaannya.
"Sayang..kau sudah membawakan makanan untuk kak Salma kan.."
"Sudah ini..."
menunjuk beberapa kantong plastik di samping mejanya.
"Ya sudah...kau ke ruangan ayah dulu ya..aku mau ke toilet sebentar..nanti pasti dokter akan memberi tahu kalau hasilnya sudah keluar.."
"Iya sayang...nanti segera menyusulku ya.."
"Iya sayang.."
Insha sudah beranjak meninggalkan Hanafi dan cup es cream yang sudah kandas sepenuhnya.
Sementara Hanafi menetap Insha sampai ia masuk ke dalam ruangan ayahnya yang tak jauh dari kantin itu lalu Hanafi pun berlalu juga.
**
Esok hari telah tiba Insha segera bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit hendak menggantikan Salma yang semalaman sudah menunggu ayahnya di rumah sakit.
Suasana hatinya kini tengah riang, pasalnya sore hari nanti ayahnya sudah di perbolehkan untuk pulang, tentu masih dengan pengawasan ketat paramedis yang selalu datang ke rumahnya setiap dua hari sekali. Insha juga merasa senang dan lega karna hasil pemeriksaan kandungan yang dilakukannya kemarin semua dalam keadaan baik.
Berdasarkan penjelasan sang dokter mentruasinya bisa terlambat datang mungkin karna faktor hormon saja, dokter juga sudah memberikan obat untuk mendorong siklus mentruasinya supaya teratur kembali, juga memberikan beberapa vitamin untuk Insha agar program hamil yang di jalaninya segera berhasil.
Bukan itu saja Insha juga harus rajin berolahraga dan menjaga pola makannya, makan makanan yang bergizi, sayur juga buah-buahan segar harus ada di setiap menu makannya. Semua jadwal makannya sudah di atur oleh ahli gizi rumah sakit, mereka memberikan beberapa lembar kertas bertuliskan apa saja menu yang harus ada di setiap hidangan yang di makan Insha, dan itu di berikan pada bagian dapur yang selalu memasak makanan untuknya.
Jam 07:00 Insha sudah melakukan sarapan bersama Hanafi dan para pembantunya. Di dalam kamar Insha tengah membenahi jas yang di kenakan suaminya untuk bekerja, memasangkan dasi yang baru saja ia pelajari melalui ponsel miliknya, karna sebelumnya jangankan untuk memakaikannya melihat orang berdasi saja ia sangat jarang.
__ADS_1
"Jaga pandanganmu sayang...jangan terus memandang dokter genit itu..atau aku akan memindah tugaskan dia di pelosok negeri kalau perlu.."
"Hihihi...ya ampun sayang..kau masih saja mengingat kejadian kemarin..."
"Hmmm...mana mungkin aku bisa melupakannya kau bahkan memuji-muji kebaikannya di depanku.."
"Sayang...aku hanya berusaha berterimakasih dengannya..sungguh tidak lebih dari itu...aku hanya mencintaimu seorang.."
sahutnya sambil bergelayut manja melingkarkan kedua tangannya di leher Hanafi.
Hanafi pun menghentikan peringatannya karna melihat senyuman manja dari Insha yang membuatnya menjadi hilang fokus pembicaraannya, ia malah memeluk Insha sekarang dan beberapa detik kemudian mencium bibir Insha dengan lembut.
Aktifitas itu pun berjalan hingga cukup lama, sampai Insha melepasnya.
"Sayang..nanti kau bisa terlambat bekerja.."
"Hehe...maaf..habis kau yang menggodaku.."
"Kenapa jadi aku ..."
"Ya kau menggodaku dengan bibir manismu itu.."
"Awas kamu ya.."
Hanafi menyusul Insha berlari keluar kamar sambil meraih tas kerjanya.
Mobil pun sudah sampai di depan lobi pintu masuk rumah sakit, hari ini Hanafi memilih untuk mengemudi mobilnya sendiri tanpa di antarkan pak Tono.
"Sayang...aku pergi dulu ya...jaga dirimu baik-baik..sampai jumpa nanti sore.."
"Iya sayang hati-hati ya.."
Lambaian tangan Insha terlihat sampai mobil pun menghilang dari pandangan.
Insha pun menggantikan Salma untuk menunggu ayahnya di rumah sakit, sebelum Salma pulang Insha sudah menyuruh Salma untuk sarapan makanan yang di bawanya dari rumah yang sudah di siapkan khusus oleh mbak Fatimah atas perintah dari Insha.
Waktu pun bergulir begitu cepat hingga sampai pada sore hari yang di tunggu yaitu untuk membawa ayah pulang kembali ke rumahnya.
Salma sudah kembali sejak siang hari, di rumah dia sudah menyiapkan dan membersihkan kamar ayahnya.
Hanafi pun sudah sampai di rumah sakit, hari ini ia pulang lebih awal untuk mengantarkan sendiri ayahnya pulang ke rumah padahal ada banyak mobil khusus rumah sakit yang siap mengantarkan pasien saat pulang, tapi Hanafi menolaknya dan memilih menyetir sendiri mobilnya untuk membawa ayah pulang.
__ADS_1
Semua persiapan untuk pulang sedang di urus oleh beberapa perawat disana, tentang obat-obatan yang harus di minum di rumah makanan yang tidak boleh di makan oleh ayah, juga secara khusus ayah di berikan tabung oksigen serta alat-alat kesehatan lain untuk membantu pernapasan jika sewaktu-waktu sesaknya kambuh lagi.
Alat-alat itu khusus di kirim langsung oleh pihak rumah sakit nanti ke rumahnya.
Dengan di bantu oleh beberapa perawat disana ayah memasuki mobil Hanafi,di berikan juga kursi roda otomatis untuk mempermudah ayahnya berjalan-jalan di sekitar rumah jika ia menginginkannya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang yang di kemudikan oleh Hanafi. Insha pun berada di samping kursi kemudi sedangkan Salma dan ayah mereka berdua berada di kursi belakang.
Saat jalan menuju ke desa tempat tinggalnya sudah dekat ntah kenapa ayah menyuruh Hanafi untuk menuju ke lain arah.
"Nak..nanti di gang depan belok kiri saja ya.."
"Belok kiri yah...bukannya rumah ayah ada di belokan yang kanan ya.."
Hanafi menatap spion dalam mobil melihat ke arah ayahnya yang ada di belakang.
"Iya yah...memang nya ayah mau kemana ini kan sudah sore.."
sahut Insha pada ayahnya.
"Iya yah...bukannya ayah juga butuh banyak istirahat sekarang.."
Salma bergantian menjawab.
"Ayah baik-baik saja...ayah mohon..belokkan saja ke kiri ya nak han..."
Semua tak dapat mengelak lagi dengan permintaan ayah dengan suara yang masih tampak lemah itu.
Mobil pun berbelok ke kiri, melaju sudah cukup jauh Insha dan Salma seperti tak asing dengan jalan ini, jalan yang sudah lama tidak mereka lewati.
Seketika Insha menoleh pada Salma, Salma pun demikian segera memandang Insha seakan mereka mengetahui arah pemikiran yang sama tanpa berkata apa pun. Insha pun langsung memandang ayahnya dan hendak bertanya.
"Ayaah...."
belum sempat ia bertanya tapi seakan ayah mengerti arah pertanyaan Insha padanya.
"Iya...ayah merindukan ibu kalian..."
dengan suara pelan dan sedikit menahan air mata yang mulai menganak di ujung matanya.
Bersambung...
__ADS_1