2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Masalah pada Khanza


__ADS_3

Setelah seminggu Hanafi pulang dari rumah sakit, dirinya masih harus istirahat total di rumahnya, di temani oleh seorang perawat selama 24 jam di rumahnya, juga dokter Arya yang slalu datang berkunjung sehari sekali untuk mengecek kesehatan Hanafi.


Hanafi seakan tak memiliki semangat lagi untuk memulai harinya, apalagi setelah Insha menghilang lagi dari rumah sewana, ia tak bisa lagi menemui Insha. Hanafi berusaha mencari dan trus mencari, dia juga menyuruh seorang untuk datang menemui Prass untuk menanyakan keberadaan Insha. Dan sudah bisa di tebak tentu Prass tak akan dengan mudah memberitahu keberadaannya pada Hanafi.


Prass tak ingin wanita yang di cintainya bertemu trus dengan mantan suaminya itu.


Yang nanti bisa menumbuhkan lagi benih-benih cintanya pada Hanafi.


Bulan-bulan Hanafi lalui tanpa adanya semangat dalam hidupnya, ia selalu saja merasa kesepian, hatinya hampa, fikirannya selalu melayang kemana-mana. Ia bahkan sering melamun ntah apa yang ada dalam fikirannya. Tubuhnya bahkan terlihat kurus dengan rambut yang sedikit panjang, dulu ia sangat mementingkan penampilannya kemana pun ia pergi, berbeda dengan kini, ia lebih tak peduli dengan tubuhnya, penampilannya selalu terlihat acak-acakan karna tak ada lagi penyemangat dalam hidupnya.


Hanya Khanza yang kadang bisa membuat dia sadar bahwa masih ada yang butuh perhatian dan kasih sayangnya.


Khanza tumbuh dengan cepat, kini dia sudah bisa tertawa saat di ajak bicara, tersenyum bahkan merespon ketika ada seorang di dekatnya.


Tapi akhir-akhir ini baby sister Mirna menangkap suatu perilaku yang aneh dari Khanza. Ia hanya merespon dan tersenyum ketika melihat seorang yang ada di depannya, ataupun terlihat olehnya. Ketika namanya di panggil atau pun suara-suara yang di buat untuk mengalihkan perhatiannya sama sekali Khanza tak merespon itu.


Mirna takut ada sesuatu yang salah pada nona kecilnya. Mirna mencoba membicarakan itu pada Hanafi. Ia bicara dengan sangat perlahan, takut membuat Hanafi salah sangka padanya. Karna Mirna juga tau semenjak Insha pergi dari rumah itu Hanafi menjadi sosok yang di penuhi dengan amarah, ia mudah sekali terpancing amarah. Bahkan hanya dengan satu kata yang salah di dengarnya bisa memicu kemarahan besar untuk semua orang di rumah.


Kala itu Hanafi tengah berada di depan kamar Khanza. Duduk santai di sebuah kursi, di hadapannya terdapat sebuah laptop. Rupanya ia sedang memeriksa beberapa file klien yang baru di kirimkan oleh Kriss.


Mirna dengan langkah perlahan, ia menghampiri Hanafi, sudah berapa hari ini Mirna menunda untuk mengatakan ini pada Hanafi. Karna Mirna melihat tuannya sedang dalam keadaan yang kurang baik. Hari ini Mirna melihat wajah Hanafi yang cukup cerah, ia pun memberanikan diri untuk mengatakan masalah Khanza padanya.


"Tuan..."


"Hemm..."


Hanafi hanya sekilas menatap Mirna lalu kembali fokus pada laptopnya.


"Maaf tuan sebelumnya.."

__ADS_1


"Katakan ada apa..."


Jawab Hanafi yang tak ingin basa-basi dari Mirna.


"Maaf tuan...saya berminggu-minggu mengamati nona kecil...sepertinya ada sedikit masalah pada pendengarannya..."


Mirna mengatakan sambil menundukkan kepalanya, ia terlihat memejamkan matanya takut akan reaksi Hanafi.


"Apa maksudmu...jelaskan..."


Hanafi langsung menatap Mirna tajam, ia sangat sensitif jika menyangkut masalah Khanza, ia tak ingin terjadi apapun pada putri satu-satunya itu.


"Di usianya yang menginjak 5 bulan ini...nona kecil tidak dapat merespon sebuah panggilan tuan..nona hanya tersenyum dan merespon hal di sekitarnya ketika terlihat di matanya....saya rasa nona memiliki masalah pada pendengarannya tuan...maaf tuan jika saya lancang..."


Hanafi menatap Mirna dengan tatapan tajam.


"Tapi bukankah dia slalu tersenyum saat seorang bicara padanya...bahkan dia tertawa..."


Hanafi segera menaruh laptop di atas meja, ia pun masuk ke kamar Khanza dengan wajah penuh khawatir.


Hanafi berdiri di dekat box bayi khanza. Khanza sedang dalam posisi miring bermain boneka kecil di kedua tangannya. Sesuai penuturan Mirna Hanafi mencoba memanggil Khanza dari arah belakang.


"Sayang....khanza....khanzaaa....ini ayah nak....khanzaa..."


Dan benar saja apa yang di katakan Mirna, Khanza sama sekali tak merespon panggilannya, ia masih di posisi yang sama bermain boneka.


Saat itu juga Hanafi melihat wajah Khanza, ketika Khanza tau kehadiran Hanafi ia pun tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari boneka kepada ayahnya.


Hanafi dengan wajah sedihnya menatap Mirna, seakan mengatakan kenapa baru sekarang mereka semua menyadarinya. Dengan cepat Hanafi mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana, sebelum keluar kamar Khanza ia mengatakan sesuatu pada Mirna.

__ADS_1


"Persiapkan Khanza kita akan membawanya ke rumah sakit segera..."


Hanafi berbicara sambil berlalu.


Hanafi juga terdengar menelpon tak Tono untuk menyiapkan mobil untuk ia gunakan ke rumah sakit.


Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit Jaya Husada, seperti biasa Arya sudah menunggu Hanafi di pintu masuk rumah sakit khusus.


Arya sedikit menatap Hanafi dengan iba, sahabat sekaligus tuan mudanya ini, sangat terlihat kacau akhir-akhir ini, tepatnya setelah perceraiannya dengan Insha.


Hanafi seperti tak memiliki lagi semangat untuk hidup.


Hanafi, dokter Arya dan juga Mirna yang menggendong Khanza di giring masuk oleh dokter Arya ke ruang dokter khusus anak. Mirna mengatakan permasalahan yang di alami Khanza dan dokter pun mulai memeriksa, dan mulai melakukan beberapa tes pendengaran untuknya.


Dari hasil tes sederhana itu dokter menyimpulkan bahwa Khanza memang mengalami gangguan pendengaran, atau bahkan tidak bisa mendengar sama sekali. Khanza pun kembali menjalani beberapa tes lanjutan disana.


Hanafi sudah menunggu dengan cemas hasil dari tes pendengaran Khanza, ia menggendong Khanza sambil trus menciuminya. Memeluknya erat seakan takut terjadi sesuatu yang serius pada Khanza.


Dan benar saja setelah menunggu hasil tes selama beberapa jam. Hasil tes menunjukkan Khanza mengalami gangguan pendengaran, Khanza masih bisa mendengar tapi dengan ritme suara yang sangat kecil, cukup sulit untuknya mendengar apalagi pada usianya yang masih menginjak 5 bulan. Cukup sulit untuk mengenali suara di sekitarnya apalagi dengan ritme yang sangat rendah.


Dokter juga menyimpulkan bahwa masalah pendengaran Khanza murni bawaan lahir. Dari situ dokter Arya yang mendengarnya pun cukup terkejut. Ia terbayang kembali bagaimana ia meneteskan suatu cairan pada sel yang akan di tanamkan pada rahim Salma waktu itu. Cairan yang akan membuat sel itu berhenti berkembang. Tapi Tuhan membuat takdir lain, Sel itu tetap berkembang di rahim Salma meski telah di pastikan oleh dokter Arya bahwa Sel itu akan mati dalam beberapa jam setelah cairan di berikan, tepat saat sel telah tertanam di rahim Salma.


Dalam analisa dokter Arya itulah yang membuat Khanza memiliki cacat lahir bawaan. Cairan itu tak mematikan sel, tapi hanya merusak sebagian selnya saja. Arya sangat merasa bersalah pada Hanafi, akibat perbuatannya ia malah membuat kehidupan Hanafi semakin hancur karna Khanza.


Tanpa sepengetahuan Hanafi dan Mirna yang ada di sampingnya, Dokter Arya menitikkan airmata, ia juga sangat merasa bersalah kepada Khanza. Ia berfikir itu semua pasti karna ulahnya, jika saja waktu itu dia tidak mencoba membunuh sel itu, dan memberi cairan mematikan itu, pasti sekarang Khanza akan tumbuh menjadi anak yang sehat.


Dokter Arya merasa sudah merusak hidup Khanza yang bahkan tak tau apa-apa tentang hal yang terjadi. Dia akan cacat seumur hidupnya. Dokter Arya menatap bayi mungil itu, parasnya sangat cantik dan menggemaskan.


Maafkan aku Khanza semua karna salahku...jika saja waktu itu aku tak mencoba untuk memasukkan cairan itu...pasti kau akan tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik dengan segala kesempurnaanmu....tapi apa yang terjadi...aku malah merusak masa depanmu...bahkan sebelum kau terlahir kedunia ini....Maafkan aku...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2