2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
kejahilan Insha


__ADS_3

"Iya 3 bulan...tuh kan.... kau pasti tak mendengarkan dengan baik ..dasaar..."


"Lalu kalau aku menginginkanmu bagaimana..."


"Tidak boleh...."


"Boleh lah sebentar saja ya..."


"Tidak boleh...kau ini kenapa bandel sekali sih...dasar mesum.."


"Kau mengataiku apa..."


Hanafi mulai melancarkan aksinya menggelitiki Insha.


"Aah sayang...jangan disitu gelii.."


Mereka pun bercanda dengan saling menggelitik satu sama lain, bahkan terdengar tawanya sampai di luar kamar. Tawa Hanafi dengan suara yang Khas pria dewasa.


Pagi itu sarapan di lakukan tanpa drama Insha sarapan bersama di bawah dengan semua pelayan dan koki yang ada, termasuk juga Mirna dan Khanza dengan segala kejahilannya.


Insha dan Hanafi kembali ke kamar, Hanafi hari ini sengaja berangkat lebih siang karna pekerjaan di kantor yang tidak memakan banyak waktu untuk mengerjakannya, dia juga bisa pulang lebih awal nanti setelah pekerjaannya selesai.


"Sayang...temani aku...."


"Aku nanti akan pulang lebih awal sayang...aku akan segera pulang dan menemanimu seperti biasanya ya..."


"Bukan itu maksudku..."


"Lalu apa..."


"Aku ingin kau membawaku pada rumah yang sudah kau belikan untuk Salma...aku penasaran seperti apa rumah itu..."


"Hah...tidak...bahkan usia kandunganmu belum genap 3 bulan...kau lupa kata dokter Vina...kau tak boleh kemana-mana dan mengurangi aktivitasmu sampai usia kandunganmu 3 bulan kan..."


"Tapi aku penasaran sayang...boleh ya..."


"Tidak sayang...kota X itu sangat jauh butuh waktu seharian untuk sampai disana..aku tak ingin kau dan anak kita kenapa-napa karna itu...aku tak mau..."


"Sayang tapi aku ingin tau rumahnya..."


"Ayolah Insha sayang...jangan keras kepala...fikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu...tentu kau tak mau terjadi sesuatu padanya kan..."


Melihat reaksi Insha yang hanya terdiam sedih dan menundukkan kepalanya, seketika Hanafi jadi berfikir bagaimana cara untuk membuat Insha mengerti. Lalu beberapa detik kemudian Hanafi mempunyai ide untuk menunjukkan video dalam ponselnya yang menunjukkan seluruh isi rumah itu dan area yang ada di sekitarnya. Video yang sempat ia buat waktu itu ketika membeli rumah dan menunjukkannya pada Salma. Menunjukkan apakah seperti itu rumah yang dia inginkan.


"Sayang kau tak perlu kesana...aku mempunyai video tentang rumah itu...kau bisa melihat seluruh isinya tanpa harus kesana...ya.."


"Benarkah..coba mana lihat.."


Insha meminta ponsel Hanafi dengan antusias.

__ADS_1


Dari semua video yang di lihat teryata rumah impian yang di minta Salma adalah rumah yang sederhana dengan satu lantai, tidak terlalu luas, memiliki halaman dengan taman dan bangku yang menghadap langsung pada sinar matahari saat pagi hari. Di kelilingi dengan perkebunan dan pegunungan dengan udara yang sejuk.


Ntah kenapa hati Insha terasa lega, hatinya masih terasa tak rela jika Hanafi membelikan Salma rumah yang besar dan mewah dengan segala fasilitasnya.


Tapi prasangka Insha salah, rumah itu hanyalah rumah sederhana ala rumah desa di pegunungan dengan suasana yang temaram.


"Kau sudah puas..."


"Hmm...terimakasih sayang..."


"Lagian untuk apa kau ingin melihatnya sayang..."


"Tak apa aku hanya penasaran saja...sayang..."


"hmm ya sudah kalau begitu....hmmm ada apa sayang..."


"Aku mau mangga muda..."


"Baiklah...aku akan belikan ...kau mau berapa banyak katakan..."


"Aku tak mau kau beli..."


"Laah...lalu..?"


Hanafi sudah menatap Insha dengan menelan air liurnya kasar, tak berharap mendengar sesuatu yang merepotkan dirinya.


"Aku...aku tak bisa memanjat sayang...aku nanti bisa jatuh..."


"Aah...aku mau kau yang memetiknya..."


"Ya ampun sayang...lagian pohon siapa yang akan aku petik buahnya..."


"Ada banyak pohon mangga di kebun belakang rumah ini sayang...apa kau tak tau..."


Insha menatap Hanafi heran.


"Benarkah...aku tak pernah melihatnya.."


Dan saat itu juga Insha dan Hanafi pergi ke kebun belakang rumah. Hari itu Hanafi tak jadi pergi ke kantor karna waktu yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, itu karna Hanafi menunggu Insha melihat video rumah di kota X tadi. Dan sekarang ia lebih memilih untuk di rumah menuruti kemauan Insha yang ingin melihatnya memetik mangga muda.


Telah sampai di kebun belakang rumah, benar saja ada banyak pohon buah disana, yang sudah di susun dengan rapi sesuai jenisnya. Hanafi sampai terkagum dengan kebun pribadi Insha itu.


"Sejak kapan ada kebun seluas ini disini sayang...aku bahkan tak pernah melihatnya..."


"Itu karna kau memang tak pernah berjalan-jalan disini..."


ledek Insha dengan tawa ringannya.


"Siapa yang menanam semua pohon buah disini sayang..."

__ADS_1


Hanafi dan Insha berjalan bergandengan tangan.


"Aku yang menanamnya...dan tukang kebun yang merawat semuanya....sebagian aku membeli bibit buah yang sudah berbentuk pohon...jadi tinggal menunggunya berbuah saja..."


Insha dengan bangga memperlihatkan senyumnya.


Hanafi pun segera memanjat pohon mangga yang di tunjuk Insha. Cukup kesusahan karna ia sama sekali tak pernah memanjat sebelumnya. Tapi dengan segala usahanya Hanafi mampu memetik satu kantong penuh mangga muda untuk Insha.


Dengan keringat yang bercucuran, Hanafi menyerahkan sekantong penuh mangga muda pada Insha yang sudah di bawah.


"Ini sayangku..mangga muda permintaanmu...sekarang ijinkan aku mandi dulu karna badanku terasa gatal semua....mungkin terkena ulat bulu saat di atas pohon tadi...."


Kulit Hanafi yang putih terlihat merah-merah di beberapa titik, dan itu malah membuat Insha tertawa ringan sambil memegangi kantong mangga mudanya.


Hanafi keluar dari kamar mandi, dia melihat Insha tengah duduk bersila di atas karpet bulu yang ada di kamarnya. Memegang satu mangkuk besar mangga muda yang sudah di iris tipis. Sesekali terlihat Insha melahapnya sambil menonton acara televisi.


Hanafi yang melihat itu menelan air liurnya membayangkan mangga muda dengan rasanya yang asam masuk ke dalam mulutnya. Hanafi segera berjalan mendekati Insha, dan betapa terkejutnya ia saat melihat semangkuk besar mangga muda itu hampir habis di tangan Insha.


"Astaga sayaang..."


Hanafi langsung saja menyahut mangkuk itu dari pegangan Insha.


"Kenapa kau memakan semuanya....bagaimana kalau perutmu sakit nanti...ini pasti asam sekali kan...ya ampun nak...katakan pada ayah...apa ibumu memaksamu juga memakan buah asam ini..."


"Aiiihh...sini kembalikan mangkuk ku..aku ingin menghabiskannya..."


Insha berusaha merebut mangkuk dari tangan Hanafi.


"Apa kau benar-benar mengupas semuanya tadi sayang..."


"Tentu saja karna kau yang mencarikannya maka aku akan memakan semuanya..."


"Ya ampuun...seharusnya aku hanya mengambil satu untukmu...kau bahkan hanya memakan nasi sedikit sekali tadi...tapi kau mampu menghabiskan mangga muda dengan jumlah sebanyak ini...sayang sudah cukup perutmu bisa sakit nanti..."


Belum sempat Insha menjawab tiba-tiba terlihat seorang pelayan membawa 2 buah kantong yang cukup besar di kedua tangannya.


"Nona ini pesanannya sudah datang.."


Hanafi menatap Insha dengan tatapan bingung,


"Pesanan...?"


"Hehe aku ingin melihatmu makan siomay sayang..."


"Siomay..?? Sebanyak itu....??"


Hanafi lagi-lagi menatap Insha dengan tatapan heran.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2