2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kedai ice cream


__ADS_3

Hanafi dan Salma menghampiri ayahnya, terlihat jelas ayah menyunggingkan senyum manisnya di tengah keadaannya yang lemah.


"Ayah...aku sudah menikah sekarang..restui kami yah.."


Salma bersandar di bahu ayahnya, memegang tangannya erat masih di balut kebaya putih lengkap dengan riasan pengantin.


Air mata Salam menetes.


Bagaimana bisa aku menikah dengan suami adikku sendiri...kejadian ini begitu cepat..maafkan aku mas Pras...


"Ayah...merestui kami kan..aku Insha dan juga kak Salma akan hidup bersama.."


Hanafi menatap ayah dengan senyum manisnya.


Tanpa di duga ayah membuka bibirnya perlahan.


"Terimakasih..."


katanya perlahan dengan suara pelan dan terbata.


Seketika Salma mendongakkan kepala terkaget dengan suara ayahnya, dia kini semakin memeluk ayah,Salma tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.


"Kak Salma jangan memeluk ayah terlalu erat.."


Hanafi menyadarkan Salma.


Seketika Salma tersadar, ia memeluk ayah dengan eratnya karna perasaan senangnya.


Ayah pun tampak sedikit tertawa karna perlakuan Salma itu, melihat ayah tertawa semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa ringan.


Sementara dokter Arya yang melihat perkembangan ayah dalam merespon setiap keadaan ia pun ikut tersenyum.


Sungguh luar biasa...sepertinya keadaan ayah membaik..


Arya juga melirik monitor di samping ayah yang selalu berbunyi mengikuti detak jantungnya.


Tanda-tanda vitalnya juga semakin stabil...semoga keadaannya terus stabil seperti ini...


Tangan ayah sedikit terangkat ingin menggapai sesuatu, Salma yang menyadari bahwa ayah ingin memegang tangan Hanafi yang sedikit berada jauh darinya, segera memberitahu Hanafi.


aku harus memanggilnya apa ...bagaimana pun dia suamiku sekarang...secara agama kami sah sebagai suami istri...meski ini cuma sementara...


" Mas han...ayah ingin memegang tanganmu.."


panggilan itu terlontar begitu saja dari bibir Salma, membuat Hanafi juga terkaget dengan panggilan itu, ia menatap Salma lekat seakan mengatakan 'kenapa memanggilku begitu' . Tapi Hanafi segera tersadar ia berada di dekat ayah sekarang, ia pun membiarkannya dan mendekat pada ayah.


Ayah memegang tangan Hanafi.


"Terimakasih..."


kata ayah lagi sambil tertatih

__ADS_1


Hanafi tersenyum,


"Iya ayah..saya akan menjaga kak Salma.."


Seketika kata-katanya terhenti, ia menyadari panggilannya pada Salma yang sekarang sebagai istrinya.


"Iya ayah..saya akan menjaga Salma dengan baik..saya juga akan menjaga Insha dengan Baik...ayah tak perlu khawatirkan apa pun sekarang.."


Ayah pun tersenyum, air mata menetes di ujung matanya. Air mata bahagia dari ayah yang telah melihat kedua anak mereka menikah dengan orang yang tepat.


Hanafi pun terus berkata pada ayah bahwa dia juga bahagia dengan pernikahan ini, dia akan berlaku adil, dia juga akan bertanggung jawab untuk kedua putrinya dan masih banyak lagi yang di katakannya yang semakin membuat ayah terlihat cerah dan tak henti-hentinya tersenyum kepadanya.


Setiap orang yang berada di dalam ruangan itu, ikut tersenyum bahagia, apalagi melihat keadaan ayah yang semakin menunjukkan perkembangan yang luar biasa.


Hanafi kini sudah berada di ujung bed, dia memperhatikan Arya yang sedang memeriksa kondisi ayah.


Hanafi seketika tersadar ia memandang ke segala arah, ia mencari keberadaan Insha yang tidak dapat ia lihat dimana pun.


Insha...dimana kau...astaga bahkan aku tak menyadari kau menghilang dari ruangan ini...


"Kriss...apa kau melihat nona Insha.."


kata Hanafi seraya mendekati Kriss.


"Nona Insha keluar setengah jam yang lalu tuan..."


"Kenapa kau tak memberitahuku...kemana dia pergi.."


"Maafkan saya tuan...Nona pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun..."


Di luar ruangan Kriss sudah menyiagakan 4 orang pengawal, untuk menjaga dan memastikan tidak ada seorang pun yang masuk saat pernikahan rahasia itu berlangsung.


"Kemana Nona Insha pergi..."


Kata Hanafi dengan suara yang sedikit meninggi, mengagetkan para pengawal yang sedang berdiri diam disana.


"Nona pergi ke arah sana tuan..."


Salah seorang pengawal itu menjawab.


Hanafi pun berjalan ke arah yang di tunjjukkan, dan mengumpat pada dirinya sendiri betapa bodohnya dia tidak mengetahui bahwa Insha pergi.


Sayang....dimana kau...jangan membuatku khawatir seperti ini...


Hanafi terus berjalan di lorong-lorong rumah sakit melihat ke segala arah, tak ditemukan sama sekali sosok wanita yang di carinya.


Sayang maafkan aku...dimana kau sebenarnya..kenapa kau menghilang seperti ini..


**


Insha melihat senyum yang terpancar dari semua orang yang ada di ruangan VVIP tersebut, mereka ikut bahagia dengan pernikahan Hanafi dan Salma.

__ADS_1


Tapi ntah kenapa Insha sama sekali tak bahagia dengan keadaan itu, hatinya terasa perih melihat setiap senyuman yang tersungging disana, tubuhnya seakan gemetar menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.


Bahkan kau sangat bahagia dengan pernikahan ini sayang...kenapa kau lakukan semua ini padaku..


Suara hati Insha saat melihat senyum cerah Hanafi di depannya, yang bahkan sama sekali tak menoleh ke arahnya.


Insha pun memilih berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Melewati para pengawal begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Insha terus berjalan di lorong rumah sakit tak tentu arah, kakinya berhenti ketika melihat kedai es cream di kantin rumah sakit yang besar itu, disana menjajakan berbagai macam makanan lezat tapi ntah kenapa hanya es cream yang mengalihkan perhatiannya.


Insha masuk ke dalam nya, disana sudah terdapat meja dan kursi warna warni dengan ornamen-ornamen dan gambar es cream yang lumer menghiasi setiap sudut ruangan.


Ia memilih kursi di sudut ruangan, menghadap ke dinding disana terdapat gambar es cream coklat lumer dengan toping choco chips di atasnya.


Ia sengaja memilih tempat di sudut yang tentu tak akan terlihat dari luar kedai itu.


Insha memesan berbagai rasa es cream disana, cup demi cup ia habiskan dengan cepat, tanpa merasakan lezatnya es cream yang meleleh di mulutnya. Ntah kenapa ia melahap es cream itu dengan rasa amarah, kecewa, sedih, juga ada sedikit bahagia ketika mengingat senyum ayahnya.


Semua perasaannya kini campur aduk, air mata yang sedari tadi mengalir juga membasahi mejanya bercampur dengan embun dingin es cream yang di lahapnya.


Sudah satu meja di hadapannya di penuhi dengan cup es cream yang sudah kandas isinya, tapi Insha terus saja memesan pada para pelayan, ketika cup yang ada di tangannya kandas begitu saja.


Perutnya sama sekali tak terasa kenyang, seakan es cream yang sedari tadi di telannya hilang begitu saja di udara.


Sang pemilik kedai melihat begitu aneh dengan tingkahnya setelah mendapat laporan dari para pegawainya, bahwa seorang wanita di ujung sana terus memesan es cream yang bahkan cup nya sudah terlihat penuh di meja.


Pemilik kedai itu merasa khawatir, apalagi melihat wanita itu menangis dan melahap setiap es nya dengan satu sendok penuh, dan terus menyuapi mulut nya tanpa henti. Ia pun memilih untuk menghampirinya.


"Nona...maafkan saya..sepertinya tak baik jika nona memakan es cream sebanyak itu..terlebih lagi ini sudah larut malam nona..."


Insha memandang aneh wanita yang berdiri di sampingnya.


"Tak usah hiraukan aku...cukup berikan aku semua es cream yang ada disini...jangan khawatir aku akan membayar semuanya.."


Insha menatap penuh penekanan, terlihat matanya yang tengah merah sembab,air mata yang terus menetes dan expresi wajah yang tidak bisa di tebak.


Sang pemilik kedai tampak ketakutan, ia hanya mengangguk lalu terdiam tak berbicara apapun dan memilih pergi dari sana, ia menyuruh para pegawainya untuk menuruti setiap keinginan nona misterius itu.


"Sepertinya dia bukan orang sembarangan...dari gaya pakaiannya dia terlihat seperti orang kaya.."


gumam pelan sang pemilik kedai sambil masuk ke ruangannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Insha masih berada disana, suasana di kantin pun sudah nampak sepi pengunjung, hanya terlihat beberapa orang yang sedang duduk di beberapa kedai yang ada disana.


Kantin di rumah sakit ini terdiri dari beberapa kedai, dan mereka yang berjualan disana di tuntut untuk buka 24 jam penuh, untuk memenuhi kebutuhan para pasien maupun keluarga pasien, yang terus berada di rumah sakit sepanjang waktu.


Insha tampak terus melahap es cream di cup nya, tapi kini tangannya tampak sudah lelah, suapannya mulai berkurang dari satu sendok penuh menjadi hanya separuh, tapi cup demi cup terus bergulir sepanjang berjalannya waktu.


Hingga sebuah tangan yang tak asing tiba-tiba meraih tangan Insha yang hendak menyuapkan sesendok es cream ke mulutnya.

__ADS_1


Tangan itu menepis sendok yang masih terdapat es cream di dalamnya hingga sendok itu pun terjatuh dan menumpahkan isinya di lantai.


Bersambung...


__ADS_2