2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Alasan


__ADS_3

Drrrth...drrrth..drrrth...


suara ponsel bergetar.


Hanafi mencoba membuka kelopak matanya yang masih nampak ingin bercengkrama satu sama lain. Sulit karna kantuk yang masih teramat sangat, dengan mata yang masih tertutup Hanafi mencari sumber suara itu.


Ponsel yang slalu ia mode getar saat malam hari karna ia tak ingin ada yang mengganggu nya saat beristirahat.


Ia pun mendapati ponsel yang masih bergetar itu, matanya sedikit terbuka melihat layar ponselnya bukan panggilan dari siapa yang pertama kali ia lihat tapi jam berapa saat ini.


hmm...masih jam 04.23 siapa yang menelponku sepagi ini..


Baru di lihatnya siapa yang menelpon sedetik kemudian.


Arya...ada apa dia menelponku mengganggu saja..ini kan masih pagi buta..


menggerutu sendiri dalam hatinya.


Hanafi pun menekan tombol untuk menerima panggilan itu.


"Hallo...ada apa jangan menelponku kecuali keadaan yang serius...mengganggu tidurku saja"


berbicara dengan mulut yang masih enggan terbuka sepenuhnya.


"Hallo...iya..iya maaf han...kau masih tidur ya..."


"Mana bisa orang tidur mengangkat telpon..menyebalkan sekali.."


"Maaf..maaf jangan marah han...ada hal penting yang harus aku kabarkan...bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang.."


mencoba berbicara basa-basi karna tak mau mengagetkan orang yang baru saja bangun tidur, apa lagi lawan bicaranya menjawab dengan suara yang sedikit kesal.


"Ada apa sih..cepat katakan.."


"Kesinilah...datang ke rumah sakit saja dulu secepatnya han..."


"Sudah gila ya...aku sedang bulan madu bersama istriku di negara X sekarang...mana bisa aku datang kesana...cepat katakan apa yang terjadi..."


Nada suaranya sudah semakin di bumbui amarah, ia sekarang sudah terduduk dengan mengucek-ngucek matanya berharap rasa kantuk itu hilang.


Menyadari suaranya yang meninggi seketika ia menoleh pada tempat tidur di sampingnya,


Untung saja Insha sudah bangun..


"Apaa...di negara X..lalu kapan kau akan pulang han.."


"Sebenarnya ada apa sih..kalau tidak ada yang penting ya sudahlah...aku masih mengantuk..jangan menggangguku lagi."


sudah menjauhkan ponsel dari telinganya dan hendak mematikan panggilan itu.


Tapi terdengar suara lawan bicaranya.


"Han tunggu...ayah Insha berada di rumah sakit..sesak nafasnya kambuh.."


Seketika kantuknya hilang dan matanya terbuka sempurna.


"Apaa...kenapa kau baru mengatakannya.."


"Aduuh...salah lagi aku.."

__ADS_1


bergumam yang masih bisa di dengar Hanafi.


"Bagaimana keadaannya sekarang.."


merendahkan suara takut-takut kalau Insha sedang ada di kamar mandi saat itu.


"Ntahlah han..aku sudah memberikan obat untuknya..semoga keadaannya membaik.."


"Pastikan kau memberikan perawatan terbaik untuknya...aku akan segera kesana.."


"Baik han..."


Hanafi menutup telponnya tanpa kata perpisahan sedikit pun.


Lalu ia beranjak ke kamar mandi, terlihat pintu sedikit terbuka berarti tak ada orang di dalamnya.


lalu kemana perginya Insha sepagi ini...


Tak berfikir terlalu panjang ia langsung masuk dan mandi, selesai melakukan ritual membersihkan badan ia sekilas melihat bungkus alat test kehamilan yang sudah di belinya kemarin.


Di saat hati yang sedang bingung karna belum mengetahui keadaan ayah secara langsung, di tambah lagi mengetahui hasil test kehamilan yang negatif, Hanafi sudah bisa menebak pasti istrinya sekarang tengah bersedih. Untuk itulah Hanafi merahasiakan alasan kepulangannya yang tiba-tiba sekarang, karna ia tak ingin membuat Insha semakin sedih mengetahui penyakit ayahnya kambuh dan sedang berada di rumah sakit sekarang.


Hanafi mengingat kembali kejadian tadi pagi yang membangunkannya. Lamunannya pun buyar saat seorang pramugari memberikan beberapa makanan ringan untuk menemani perjalanan nya, ada juga cake coklat lumer kesukaan Insha.


Setelah menaruh beberapa makanan itu di meja pramugari itu segera beranjak pergi.


Kemana Insha kenapa dia lama sekali...


Hanafi sudah berdiri hendak menyusul Insha ke kamar mandi tapi Insha sudah berada di hadapannya dengan terisak dan warna mata yang sudah memerah.


"Insha kenapa kau menangis lagi...kan sudah ku bilang..aku tak mempermasalahkan soal..."


"Kenapa mas tak mengatakannya padaku.."


"Mengatakan apa sayang.."


Masih bingung dengan pertanyaan Insha dan berusaha meraihnya untuk menenangkannya.


"Kalau ayah..."


air matanya semakin mengalir, membuatnya tak bisa meneruskan kata-katanya.


astaga siapa yang mengatakannya pada Insha..bukankah tak ada yang tau alasan kepulangan ku ini..kecuali Arya dan...Salma...ya kak Salma pasti yang memberitahunya..


bodohnya aku..kenapa aku sampai tak kepikiran kesitu...dan membiarkan kak Salma mengatakan pada Insha...


Huuh...


sudah frustasi sendiri mengutuki kebodohannya, dan sedikit kesal karna hal yang di tutupinya terbongkar sebelum Hanafi sendiri yang memberi tahunya.


Hanafi memeluk Insha dan mendudukannya di bangku yang di tempati Insha tadi.


"Maafkan aku sayang..aku tak ingin kau bersedih..makanya aku tak mengatakannya padamu.."


"Ayah sudah membaik...barusan Arya memberi kabar kepadaku.."


"Benarkah..."


jawab Insha seketika sambil masih terisak.

__ADS_1


"Iya sayang...jangan menangis lagi ya...aku tak bisa melihatmu sedih seperti ini..."


Hanafi mencoba menghapus air mata Insha yang terus mengalir lagi dan lagi.


Perjalanan pun di lalui dengan kegelisahan Insha yang tergambar jelas di raut wajahnya.


Hingga akhirnya mereka pun tiba di bandara, mobil pun melaju dengan kencang menyibak jalanan yang masih cukup ramai orang memacu kendaraan mereka untuk sampai tepat waktu di tempat kerja masing-masing, juga para pelajar dan mahasiswa yang tak ingin di hukum karna keterlambatannya.


Sampailah mereka berdua di rumah sakit terbesar di kotanya, rumah sakit milik sang tuan muda Wijaya group.


Mobil terparkir di tempat khusus yang sudah di siapkan untuk mobil Hanafi, dokter Arya sudah berdiri di pintu masuk lobi rumah sakit menunggu kedatangannya.


"Bagaimana keadaan ayah ar..."


menggandeng tangan Insha sambil trus berjalan mengikuti langkah Arya di depannya.


"Tenang lah...ayah sudah membaik..dia sedang tertidur sekarang..aku sudah memberinya obat.."


"Dimana kak Salma apa dia ada disini juga.."


Insha tiba-tiba memotong pembicaraan keduanya.


"Iya nona..kak Salma berada di ruangan bersama ayah.."


Sampailah pada ruang VVIP yang di tempati ayah Insha, Hanafi pun memberikan isyarat untuk Insha masuk terlebih dahulu, sedangkan Hanafi masih ingin mengobrol dengan Arya mengenai keadaan ayahnya.


Insha pun membuka pintu, seketika Salma menoleh padanya.


"Insha..."


beranjak dari kursi di sebelah ayahnya dan langsung memeluk adiknya yang baru saja tiba.


"Kukira kau tak akan datang Insha...aku takut sendirian..."


"Aku pasti akan datang kak...bagaimana keadaannya sekarang...?"


"Sudah membaik in...sesaknya sudah jauh berkurang..."


"Apa ayah sudah minum obat.."


"Sudah in...setelah minum obat ayah terlihat lebih baik lalu tertidur...katakan padaku jam berapa kau pulang...sepagi ini kau sudah datang disini..."


mempertanyakan kepulangan Insha, karna Salma mengetahui Insha yang tengah berada di negara X kemarin lewat pesan singkatnya.


"Syukurlah aku sangat khawatir akan keadaan ayah kak..tentu saja aku naik pesawat tadi pagi.."


mereka sudah duduk di sofa di dekat bed ayahnya sambil menggenggam tangan satu sama lain.


"Memang ada ya pesawat yang terbang sepagi itu..apalagi kau pasti mendadak kan memesan tiketnya..memang bisa ya.."


Mempertanyakan hal yang di ketahuinya tentang dunia udara yang bahkan Salma pun belum pernah menaikinya.


"Aku tak perlu tiket kak..jam berapa pun itu..karna aku naik pesawat pribadi milik mas han.."


"Pesawat pribadiii..."


menatap Insha dengan tatapan tidak percayanya.


sebenarnya sebanyak apa harta Hanafi sampai-sampai dia memiliki pesawat pribadi...

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2