
Hanafi, Insha, Salma dan dokter Arya telah selesai makan di kantin rumah sakit. Mereka makan sambil membicarakan keadaan ayah.
Dokter Arya pun pamit untuk beranjak terlebih dulu karna jam prakteknya sudah akan di mulai. Sementara mereka bertiga kembali dan masuk ke dalam ruangan VVIP tempat ayahnya berbaring.
Dengan sebuah pandangan Hanafi sudah mengisyaratkan seorang perawat yang menemani ayah untuk segera pergi.
Setelah beberapa menit berlalu ayah pun tersadar.
Insha yang pertama kali menyadarinya dan langsung beranjak dari sofa ke samping ayahnya menggenggam tangannya erat.
"Insha..."
tersenyum mendapati Insha yang sudah ada di sampingnya.
"Ayah...bagaimana keadaan ayah...apa yang ayah rasakan..apa masih sesak..mana bagian yang sakit ayah...katakan.."
mencecar ayah dengan banyak pertanyaan.
"Sayang...ayah masih baru tersadar..kenapa kau menanyakan banyak hal padanya.."
menyentuh kedua pundak Insha dengan tangannya lalu mensejajari istrinya.
"Ayah...apa ayah sudah baikan..."
kini Hanafi yang bertanya.
"Alhamdulilah...sudah lebih baik naakk.."
"Kenapa sesak ayah bisa kambuh lagi...apa ayah pergi ke ladang lagi.."
Insha berkata sambil cemberut menatap ayahnya.
"Tidak Insha...ntah kenapa tadi pagi tiba-tiba ayah sesak nafas...mungkin karna udara yang semalam memang terasa dingin sekali..untung saja aku sudah terbangun...lalu aku langsung menelpon dokter Arya..."
"Apa dokter Arya datang sepagi itu tadi ke rumah kak.."
"Iya Insha...mungkin sekitar 10menit dia sudah datang ke rumah dan membawa sebuah ambulan lalu membawa ayah kesini.."
"Sungguh ...aku harus berterimakasih pada dokter Arya ..."
Hanafi sudah cemberut sendiri karna mendengar berbagai pujian Insha kepada Arya, seakan Hanafi terlupakan begitu saja yang berada di sampingnya. Ayah pun demikian dengan kondisinya sekarang ia memilih untuk diam mendengarkan kedua anaknya menyanjung dokter Arya.
Pembicaraan Salma dan Insha berjalan begitu saja tentang kekagumannya pada dokter Arya sebagai penolong ayahnya. Dan baru berhenti ketika seorang mengetuk pintu membawakan menu makanan untuk sang ayah.
Seorang itu lalu beranjak pergi setelah menaruh nampan di meja, begitu pula Hanafi yang berpamitan keluar hendak mencari dokter Arya untuk sebuah keperluan. Sementara Insha dan Salma bergantian menyuapi ayahnya dengan makanan dan buah-buahan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
*
Ruangan praktek dokter Arya.
ada seorang perawat yang berdiri di samping dokter Arya yang sedang duduk di kursinya. Arya terkaget tiba-tiba Hanafi masuk ke ruangannya begitu saja saat dirinya tengah ada di jam prakteknya, dengan banyak pasien yang masih mengantri di luar ruangan.
"Aku mau bicara denganmu.."
bicara dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Han..nanti aku akan menemuimu ...aku masih banyak pasien sekarang.."
faham betul kalau tuan muda yang satu ini tak mau di bantah keinginannya, wajahnya kini nampak bimbang menatap Hanafi.
"Sebentar saja, cari dokter pengganti lainnya..apa cuma kau dokter di rumah sakit ini.."
"Baik..baik..ayo kita bicara di ruanganku...pergilah dulu sebentar lagi aku akan menyusulmu..."
menatap Hanafi yang sudah keluar ruangan sebelum Arya menyelesaikan kalimatnya.
Dan Arya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menatap heran dan memerintahkan seorang perawat di sampingnya untuk mencari dokter pengganti untuk menggantikan tugasnya saat ini.
Di ruang dokter Arya sekarang, Hanafi dan Arya tengah duduk berhadapan.
"Katakan Ar ..apa yang kau maksud tadi..dan apa yang ingin kau katakan padaku.."
Kata-kata Arya tadi terpotong saat hendak menjelaskan kondisi ayah pada Hanafi, Insha tiba-tiba datang menghampiri mengajak mereka sarapan karna sang kakak Salma merasa lapar, Hanafi pun memberikan sorot mata pada Arya sebagai isyarat menyuruhnya untuk diam.
Arya pun menunda penjelasan nya yang membuat Hanafi penasaran hingga ia menyusul Arya yang masih dalam jam prakteknya.
__ADS_1
"Begini han...beberapa hari yang lalu sebelum sesaknya kambuh tim medis ku melakukan pengecekan rutin pada ayah, mereka mengambil beberapa sampel darah dan lainnya..itu karna keadaannya yang semakin menunjukkan penurunan...dan hasilnya.."
"Apa hasilnya cepat katakan.."
hmm..menyuruhku cepat tapi kau memotong perkataanku...
Kesal sendiri akan tingkah Hanafi yang tidak sabaran.
"Tubuhnya sudah tidak dapat menyaring darah dengan baik han...dengan kata lain kita harus membantunya melakukannya.."
"Tentu saja kau harus terus membantunya untuk sembuh.."
"Bukan begitu maksudku..aku tau hal itu..tapi ini lebih serius.."
"Lalu apa..cepat katakan.."
"Diamlah dulu han...jangan memotong penjelasanku..itu membuatku semakin bingung.."
Akhirnya terlontar juga kata-kata itu, karna Arya sudah tidak tahan lagi dengan sikap han.
"Maafkan aku...lanjutkan penjelasanmu.."
tetap saja masih dengan wajah tanpa bersalahnya.
"Ginjalnya sudak tidak bisa menyaring darah dengan baik..ginjalnya menunjukkan penurunan fungsi..Kita harus melakukan cuci darah setiap 2 minggu sekali untuk membantunya.."
"Apaa....bukankah itu menyakitkan ar...kau sudah gila ya.."
"Aku serius han...jika tidak tubuhnya akan semakin tidak stabil.."
Hanafi sudah menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal dan menunjukkan aktivitas lain yang membuat Arya lagi-lagi menatapnya heran.
"Hey han...apa yang kau lakukan...sudah lah..itu yang kita bisa lakukan untuk membantu tubuhnya tetap berfungsi dengan normal.."
sekarang memegangi tangan han yang sudah mulai mencengkram meja Arya kuat.
"Han..ayah beruntung telah mempunyai menantu sepertimu..dan kita sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya.."
Kini Hanafi menopang kedua wajahnya menunduk ke bawah melihat meja kerja Arya dengan tatapan kosong, matanya sudah terlihat basah.
"Bagaimana han...aku harus meminta persetujuan darimu untuk melakukannya mulai minggu ini.."
Keadaan hening sejenak, lalu tiba-tiba di kegetkan dengan suara pintu di buka, seketika keduanya menoleh ke arah yang sama.
"Insha..."
"Nona ada apa.."
Terkesiap takut terjadi sesuatu pada ayahnya Insha.
Tapi yang membuka pintu malah tersenyum karna melihat expresi wajah mereka berdua yang menurutnya lucu.
"Hehe..tak apa dokter..maaf mengganggu kalian..aku hanya ingin berterimakasih pada dokter Arya karna tlah membawa ayahku kesini secepat mungkin, aku tak tau apa yang akan terjadi jika tak ada dokter..."
Berjalan mendekati Hanafi dan melingkarkan tangan nya pada leher Hanafi, lalu mengangguk dalam pada dokter Arya sebagai tanda terimakasih.
"Itu sudah menjadi tugasku nona...ayah juga orang tuaku sekarang.."
Kini wajahnya bersemu merah karna pujian Insha yang tiba-tiba.
Hanafi yang menyadari itu pun melontarnya kata-kata sinisnya.
"Tidak usah bersikap seperti itu di depan istriku.."
memangnya apa yang aku lakukan..
gumam hati arti yang tidak mengerti dengan maksud Hanafi.
"Memang kenapa aku han.."
"Buang wajah sok gantengmu itu di depan istriku...atau kau memang mau menggodanya ya.."
"Astaga...aku selalu serba salah.."
gumaman yang masih bisa di dengar oleh semua orang.
__ADS_1
Insha pun hanya bisa terdiam yang terkikik pelan karna tingkah dua orang di depannya.
"Oh ya sayang..ada apa kau sampai kemari..apa kau hanya ingin mengucapkan terimakasih pada dokter genit ini..."
yang di maksud hanya menepuk kening dengan tangannya.
hmm..susah memang bicara dengan orang yang sedang dimabuk cinta..
"Tidak sayang..."
"Lalu apa lagi...kau sudah merindukanku rupanya..."
"Hehe mungkin itu juga salah satunya..."
"Lalu yang satunya.."
sekarang melingkarkan tangannya pada pinggang Insha tanpa rasa malu.
"Sayang.."
risih sendiri dengan sikap Hanafi karna mereka sedang bersama seorang dokter sekarang.
Insha mencoba membuka tautan tangan Hanafi di pinggangnya.
"Biarlah kenapa...kau malu padanya.."
Menunjuk Arya dengan ekor matanya.
"Hmm..tidak sayang.."
berusaha mengelak..kini sudah berhenti dan pasrah dengan sikap suaminya.
ya..ya..ya...memang dunia milik kalian berdua..
suara hati Arya yang sudah merasa canggung sendiri.
"Katakan kenapa kau kesini sayang.."
"Kau lupa sayang.."
"Lupa tentang apa sayang.."
sudah berfikir keras hal apa yang terlupa olehnya.
"Janjimu tadi di dalam pesawat.."
"Oh astaga...ya..ya tentu saja aku ingat..tapi aku tak akan mengizinkan dokter genit ini untuk memeriksamu.."
"Lalu dengan siapa sayang..."
"Ada apa han memangnya..."
"Antarkan aku dan Insha menuju ruang dokter kandungan tentu harus seorang perempuan...aku tak mau tubuhnya dipegang oleh lelaki selain aku.."
"Apa kalian akan menjalani program hamil sekarang..atau.."
"Hmm..tentu saja ayo antarkan sekarang.."
memotong kalimat Arya yang di sadarinya akan mengarah kemana, dan tentu akan membuat Insha teringat kembali akan test nya tadi pagi.
"Baiklah..mari ikuti aku.."
"Ayo sayang.."
Sudah berdiri dan memeluk Insha berjalan keluar ruangan.
Arya juga beranjak ia keluar dan menutup pintu ruangannya.
"Hey...cepat tunjukkan dimana..atau aku akan mencarinya sendiri.."
Arya menoleh melihat dua sejoli itu sudah beberapa langkah jauh darinya, dan menyadari kata-kata tuan mudanya jika ia membiarkan tuannya mencari dokter kandungan itu sendiri dia sudah mengerti akibatnya, mungkin Arya akan tidak di izinkan libur selama sebulan penuh dari rumah sakit, meskipun ia tau ia sendiri yang menentukan jadwal kerjanya.
Haduuh..iya..iya...lagian siapa yang suruh kalian jalan duluan...nunggu penunjuk jalannya kenapa...
Arya berjalan tergopoh-gopoh berusaha mensejajari tuan mudanya itu.
__ADS_1
Tuhan..ku mohon selamatkan hari liburku...
Bersambung...