Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
PATAH HATINYA SEORANG MUADZIN


__ADS_3

Di hening nya suasana malam beberapa santri masih terjaga di serambi masjid terlihat kini suna sudah dapat membaur setelah beberapa waktu lalu memutuskan untuk mengemban ilmu di Pondok Pesantren yang di pimpin oleh KH. Nuruddin.


Meski dengan berbagai macam problematika yang menerpa sempat menggoyahkan keyakinan Sua, dari mulai permasalahan umur, usaha kedai yang ia miliki, bahkan sebelum ia memastikan memperoleh izin dari ibunya, putri mantan pacarnya sempat menyatakan bahwa dirinya ingin kembali menjalin kasih bersama Suna.


"Eh, kang Sun tumben malam ini ke sini?"


"Ea Rif saya ingin mencari udara segar, seharian di dalam kamar kurang cocok dengan kepribadian saya"


ujar suna yang sekarang lebih banyak menggunakan baju Muslim dan sarung"


"Kang suna memang berbeda sekali sama kang Hasan, beliau bisa tuh yang namanya i'tikaf di sini (masjid) sehari full" lirih Arif yang masih duduk di bangku SMA.


Malam itu Suna teringat kembali kejadian dikala dirinya memaksa hasan untuk berlatih begitu keras, hingga dirinya di tegur oleh KH. Nuruddin, selain itu, meski telah beberapa waktu ia menjalani kehidupan di dalam pondok, ia belum sempat beramah-tamah dengan hasan karena kebiasaan hasan yang selalu di masjid sebagai seorang Ta'mir Masjid di Pondok itu.


"Hem, dimana dia sekarang?"


"Eng? dimana lagi hehe, akang Hasan mah dia pasti belajar alunan qiro' atau sedang istirahat sekarang" ujar Arif yang menjadi kader Ta'mir yang bertugas menjadi pendamping membantu hasan.


"Ooo,"


"Glek!!"(pintu rumah Kiayi Nuruddin terbuka dan memunculkan sesosok yang telah lama menjadi primadona di Pondok itu, yaitu Ustadzah Khumairah.


MasyaAllah (lirih Arif)


(......?)


Suna hanya berpaling pandang sekilas pada Arif yang mengucapkan kalimat takjub, kala sosok Khumairah yang muncul hanya sekilas dan masuk kembali, karena kemuncula nya hanya untuk memastikan pintu rumah agar terkunci.


"Hem..., ternyata kamu belum berubah"


Lirih seseorang dari arah belakang Suna dan Arif sontak membuat Arif panik, sedang suna yang menoleh kebelakang mendapati sosok Hasanuddin berdiri dengan gagahnya, dengan aura khas seorang yang begitu terjaga dari perbuatan yang tidak berguna.


"Aaa, Hasan, kita cuma kebetulan ketemu karena aku bosan di kamar, ternyata duduk di tangga masjid ini sungguh menenangkan" ujar Suna berusaha mencairkan suasana di depan seseorang yang sama tapi dengan latar yang berbeda.


"Akang harus tahu, berkumpul di jam yang bukan waktunya adalah hal yang tidak di benarkan, akan ada banyak hal yang tidak berguna yang mungkin akan menyia-nyiakan waktu, contohnya si bandel satu ini (menyelentik telinga Arif)"


"Eng? maksudnya?"


"Ia dia ini ada maksud tersendiri duduk-duduk di sini,"


"Arif!!?"


Tiba-tiba ustadzah khumairah muncul dengan memanggil arif dengan satu nampan makanan, membuat Arif terburu-buru menyusuri anak tangga meninggalkan Hasan maupun Suna dalam kebingungan karenanya.


"kang Suna kang Hasan ini di makan, kata Ustadzah ini oleh-oleh dari Kiayi, Mumadzir kalau tidak dimakan" ujar Arif yang kini menyantap makanan tersebut satu demi satu, sedang Suna dan Hasan masih terdiam menikmati kesunyian malam itu.


"Itu Ustadzah yang katanya Princess itu yah?"


"Ng? wah sepertinya akang begitu cepat memahami ya, ia, itu Ustadzah Khumai beliaulah yang di sebut sebagai Princess"


ujar arif dengan lemper di tangannya.


"O.., ituh" (Suna)


(....) Hasan yang mendengarkan percakapan mereka hanya sempat bertanya-tanya di dalam hati tanpa sempat membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan Ustadzah Khumai yang sudah mulai membuat ruang di dalam hatinya.


"Akang suka sama beliau tah?"


ujar Arif yang seketika membuat suasana sunyi untuk beberapa sa'at.


"Suka"


Kini suasana semakin canggung ketika Suna mengatakan dengan secara jelas dengan mengatakan satu kata yaitu suka, Arif yang mendengar hal tersebut hanya bisa meneguk liur karena selain ia memancing suasana menjadi canggung di sisi lain ia pun mengetahui bahwa hasan sudah di gadang-gadang menjadi kader penerus estafet kepemimpinan KH. Nuruddin yang berarti akan bersanding dengan Ustadzah Khumairah.


"Ah, tidak, aku hanya bercanda, mana mungkin aku pantas bersanding dengan dia yang anak seorang kiayi besar seperti KH. Nuruddin"


"O.., hehe ia , becanda hhh"


Arif (terkekeh lirih)


"Nilaiku masih nol besar bila di bandingkan dengan hasan, bukankah begitu San?"


"....."(Arif)


"Eh' ndak, saya tidak punya sesuatu yang bisa di bandingkan mas, hehe saya mah apa, masih belajar"


ujar Hasanuddin menyanggah pertanyaan Suna setelah sekian menit terdiam.


Beberapa sa'at mereka duduk dan berbincang Hasan pun beranjak menuju kamar Ta'mir karena waktu sudah semakin larut,


menyisakan suna dan arif yang masih berbincang.


"Kang, akang nda bermaksud ingin bersaing dengan kang hasan kan?"


"Eng? ya harus lah, bersaing dalam kebaikan kan di anjurkan,"


"Nda.., nda, maksudku tentang Ustadzah Khumai...?"


"Ah ituh, saya kan sudah bilang, saya nggak pantas bersaing dengan hasan untuk dalam hal ini, malah saya harus belajar banyak dari dirinya".


"Dan sepertinya kalau dia yang di gadang-gadang melanjutkan estafet kepemimpinan KH. Nuruddin dan bersanding dengan ustadzah kumai itu sudahlah pasti sangat cocok". ujar suna mempertegas ketidaktertarikannya pada Ustadzah Kumai.


"O..." tak kira penyebab akang masuk sini karena mengejar sosok ustadzah Kumai seperti yang jadi pemberitaan belum lama ini".


"Nggak lah.., itu hanya kabar yang tidak benar, mana mungkin aku bisa menyaingi seorang pilihan KH. Nuruddin.

__ADS_1


"Ah, ia benar juga, memang selama ini katanya anak-anak beliau berjodoh dengan seseorang pilihan beliau sepertinya itu juga akan terjadi pada Ustadzah Kumai".


"Em.., memangnya kamu tahu dari mana tentang hal itu?" tanya suna penasaran.


"Ah, ituh. mudah sekali di tebak, keluarga beliau kan standar keluarga yang sangat menjaga ketentuan agama, jadi bisa di pelajari dari kitab-kitab yang membahas tentang ta'aruf hehe"


"O..."


Suna kini tenggelam membayangkan percakapan dirinya dengan arif barusan, karena kini ia hanya seorang diri setelah Arif kembali ke kamar ta'mir,


Di kala ia tengah menikmati sumilir angin malam yang menyapu dinginnya tangga masjid nurul yaqin,


dirinya pun sempat memikirkan Salwa yang berada tepat di seberang tembok yang menjadi garis pemisah.


....


"Tak ku sangka semakin jauh aku masuk semakin banyak yang ingin aku tahu"(merebahkan badan)


"Ehem, jadi aku termasuk yang ingin kamu tahu?"


"eng?"


(.....?)(bangkit)


"Kamu kkok?"


Suna begitu kaget mendapati sosok yang begitu ingin ia temui berdiri tepat di tangga pertama.


"Kenapa? aku...? ia ini aku,,, aku Salwa".


"Ia, akk aku tahu kamu Salwa tap.... tapi kenapa..?"


"Kenapa? kenapa aku ada disini?"


"...."(Suna mengangguk)


"Aku ke sini buat nemuin kamu... kamu tau.., ituh... aku ada jaaa....uuuh di balik tembok itu(menunjuk tembok pemisah)"(menaiki tangga dan duduk di samping suna)


"Kamu nggak tau seberapa beraninya aku, aku..., bisa menemui kamu selama aku mau dan selama kamu berada di sini".


"Nggak-nggak, nggak mungkin kamu seperti itu, kamu bahkan tak berani bahkan hanya untuk melewati jalan menuju kampus, hhhh".


"Memangnya seperti apa aku di mata kamu?"


"Ng?"(menjaga image cool tetap stabil, meski sejenak jantungnya begitu berdegup dengan sangat cepat)


"Aku di mata kamu itu seperti apa?"


"Mm, sudah lama aku menantikan waktu-waktu seperti ini, aku sangat terkesan dengan dirimu kala kamu datang dengan seragam silat dan memesan belasan kopi".


"Itu saja?"


"Jadi ada rasa yang menurutku yang harus di perjelas , karena aku sudah terlanjur tahu dan ingin mengetahui hal itu dari kamu secara langsung".


" I LOVE U ".


"....."


Suna terdiam mendengar suara yang melafadzkan sebuah pengakuan rasa dari seseorang yang duduk di sampingnya tersebut.


" i love you ??".(lirih tak percaya)


"Sepertinya aku nggak harus memperjelas kata-kata ini ia kan?"(Salwa tersenyum)


"Astaghfirullah, kang Suna, kang??"


"I love you"(mengigau)


"Siapa itu kang?" tiba-tiba Fattah mengarahkan senter besar yang ia bawa, karena malam ini ia bertugas menjaga malam.


"Ini kang Suna, beliau ketiduran saya kira beliau kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Arif".


"Ah ya sudah, kalau begitu biar saya saja yang bangunkan, akang istirahat saja, untuk persiapan subuh nanti".


ujar Fattah menaiki anak tangga menuju suna yang tertidur lelap sampai mengigau, sedang Hasanuddin kembali memasuki masjid menuju kamar ta'mir.


"Huft, sulit di percaya sahabatku menyukai sosok sebobrok ini, bisa-bisanya dia tidur di tempat terbuka". lirih Fattah duduk di sebelah suna yang masih mengigau mengucapkan I love you.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan sekalipun kamu tahu kalau aku mencintaimu?"


"Em.., aku ingin kita saling memastikan dan saling mengenal satu sama lain".


Di umur yang tak lagi belia Suna masih merasakan kecanggungan dan cenderung seperti tak mampu meyakinkan sosok yang ada di hadapannya yang hanya terkekeh tanpa menunjukan kesan kemauan ataupun menolak ajakan darinya.


"Sudahlah, aku sepertinya tak cukup waktu untuk meladeni perbincangan ini, aku harus kembali"


"sssss SALWA!!!!"


(Suna terbangun dari tidurnya dengan memanggil nama salwa, tanpa ia sadari sosok menyeramkan berada tepat di sampingnya, sosok fattah dengan pakaian serba hitam baju silat khusus yang di kenakan saat berjaga malam.


"Wah-wah wah, mengesankan, dengan cara bangun abang yang seperti ini, aku bisa langsung tau niat abang masuk ke sini".


"Hosh, hosh hhhh"


"Minum?(menyodorkan botol air mineral)"

__ADS_1


"Sialan malah ngigo"


ujar suna sesa'at sebelum meminum air mineral yang di berikan Fattah.


"Mmm alhamdulillah, hhhh tadi akhu mimpi'in Salwa di sini, aku kira itu beneran, dia nggak seharusnya berada di sini kan, sepertinya Pondok ini di disain agar terpisah kan?"


ujar suna menceritakan sekaligus bertanya pada Fattah.


"Memangnya abang mimpi yang seperti apa sepertinya pernyataan tak seperti kenyataan?"


"Maksudnya?"


"Ia, abang sedari tadi hanya mengigau dan hanya mengucapkan tiga kata dan satu nama selama tidur,


I love you serta nama salwa sebelum terbangun".


ujar Fattah yang seolah mendapati kejanggalan dari


ekspresi Suna yang terengah-engah.


"Ng itu.."


"Sepertinya mimpinya begitu sangat membahagiakan sampai abang mengigau dan mengucapkan kata-kata seperti itu".


"Ia itu sebenarnya..".


"Bang.., sebaiknya abang luruskan dulu niat abang yang bahkan belum seumur jagung".


Mendengar Fattah yang berbicara seolah menggurui nya, suna hanya terdiam dan sempat terbayang akan kekakuan Fattah tentang informasi yang berkaitan dengan salwa yang juga menyangkut tentang instruksi yang di berikan oleh kH. Nuruddin kepadanya, bahkan Suna sudah menyimpan curiga kehadiran Fattah di kafenya adalah bertujuan untuk menjauhkan salwa darinya.


"Ah, sudahlah, sepertinya benar yang di katakan oleh Hasan tadi, semakin malam seperti ini hal-hal yang hadir tidak punya manfa'at sama sekali".


"....?"


Fattah hanya terdiam mendengar nada bicara suna yang menjadi berbeda.


"Ada baiknya aku tidur dan tidak membuang-buang waktuku"(beranjak menyusuri anak tangga)".


"Benar ada baiknya abang menghimpun tenaga untuk belajar pada esok hari".


"Cih, bisa-bisa bisanya dia berbicara se kaku itu".


Akhirnya Suna kembali menuju asramanya yang tak begitu jauh di arah selatan masjid, dengan sembari memikirkan mimpi yang baru saja ia alami, dan terusik dengan sikap Fattah yang sepertinya tidak begitu cocok dengan dirinya, dan berfikiran bahwa ada baiknya dirinya berteman dengan Hasan yang cenderung pendiam dan sepertinya adalah seorang pendengar yang baik.


...sebelum itu....


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam".


"Sudah pulang ke asrama akang Suna barusan Rif?"


"Hem, kang, bukannya aku nggak mau bangunin kang Suna tapi, beliau itu susah di bangunkan, padahal sepertinya belum lama tertidur, tapi seperti habis membajak sawah jadi seperti sangat capek".


ujar Arif yang mengganti baju koko dengan kaos.


"Hem, kamu gimana to Rif, orang beliau itu kamu biarkan tidur di tangga luar masjid kamu bisa masuk ke sini".


"Em, ia sih, kang, tapi kan jam segini pasti BAKAM juga bakal ngecek gedung dan lain sebagainya kan, nanti juga di bangunkan".


ujar Arif yang sudah tak tahan menahan kantuknya dan merebahkan diri di atas sajadah.


"Ia kalau di temukan, kalau tidak? apa nggak sampe pagi beliau tidur di sana."(bersiap kembali menuju tangga utama masjid).


.....


I love you...,


"ng....? i love you...


(Suna mengigau)


( (Akang suka sama beliau tah?"


ujar Arif yang seketika membuat suasana sunyi untuk beberapa sa'at.


"Suka"(suna) )


"Siapa itu kang?" tiba-tiba Fattah mengarahkan senter besar yang ia bawa, karena malam ini ia bertugas menjaga malam.


"ini kang Suna, beliau ketiduran saya kira beliau kembali ke kamarnya setelah berbincang dengan Arif".


"Ah ya sudah, kalau begitu biar saya saja yang bangunkan, akang istirahat saja, untuk persiapan subuh nanti".


"Ah ia tolong di bangunkan ya...,".


(bertolak kembali memasuki masjid)


"Astaghfirullah, perasaan apa ini, tidak-tidak, ini nggak boleh terjadi, ada banyak hal yang harus ku khawatirkan, tapi apakah mungkin beliau menginginkan Ustadzah Khumai hingga memutuskan memasuki Pondok?"


"Apa mungkin hal ini juga yang menyebabkan beliau berlaku kasar di lapangan waktu itu?"


"Astaghfirullah"


(memasuki kamar ta'mir)

__ADS_1


Wa..alaikumussalam (Arif bingung)


Mendapati Hasanuddin beristighfar Arif hanya tersenyum, ia beranggapan bahwa hasanuddin pun syok karena mendapati Suna begitu sulit di bangunkan.


__ADS_2