Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Wallahi ya Ustadz!.


__ADS_3

Kabar menghebohkan kini menggemparkan Pondok Ihya' di pagi menjelang waktu memasuki jam masuk kelas, Pasalnya Asrama Al ma'wa di hampiri Seorang Santri yang bahkan tidur di dalam, bahkan di bangunkan oleh penghuni di dalamnya dengan cara di aniaya, di pukuli dengan Bantal dan sapu kamar, bahkan di antara mereka ada yang meneriaki maling.


Dengan Sangat ketakutan Santri tersebut bersembunyi bahkan harus memutar otak dalam kepanikan, hingga akhirnya meloncati pagar dan mengambil jalan memutar menuju lapangan Silat Jajaran BAKAM Putra.


Dalam diam dan ketakutan santri tersebut menggigil pucat.


"Ustadzah .. beneran Ustadzah, ada Santri Putra pagi ini yang ketauan tidur di Kamar kami".


"Iya mana Aneh banget masih pakai pakaian shalat".


"Emmm kalian yakin itu Santri Putra?"


"Iya Dzah Kami sekamar melihat semua".


"Tapi sebelum tidur kalian tidak melihatnya".


"Aneh".


Lirih Ustadzah Ainul yang kala itu langsung mengintrogasi perihal Santri putra yang menyelundup ke Asrama Putri.


"Lalu pengurusnya?".


"Kami nggak tidur Dzah, Kami terjaga sepanjang malam".


"Tapi anehnya menjelang Subuh kejadian itu terjadi".


"Kami pun kaget, Kami nggak melihat siapapun yang masuk".


"Kalaupun ada pasti Kami sudah mengusir dan melaporkannya duluan Dzah".


Tambah salah seorang dari tiga pengurus yang malam ini bertugas menjaga Asrama.


"Iya, untuk sementara tidak usah panik, biar Ustadzah bicarakan kepada Ustadzah Oki yang kebetulan mengajar di Sini kan".


"Semoga pelakunya bisa di tindak dengan segera".


"Ya Ustadzah"(santriwati)


...


"Ayyuha, sekarang Sekali lagi Saya tanya siapa di antara kalian yang malam, atau pagi ini menyeberangi pembatas".


Tegas Ustadz Oki yang kala itu berbicara di depan enam ratus Santri termasuk para Santri yang sudah menduduki jenjang perkuliahan setelah mendapat persetujuan dari Hasanuddin selaku pengganti Kiayi Nuruddin.


"Hemmm sebenarnya Dosenku kali ini killer sekali".


"Huft".


"Hari ini aku presentasi, tapi kayanya alasannya kuat untuk tetap mendapat nilai".


"Siapa sih yang bikin masalah sampai semuanya di buat berdiri?"


"Mana mataharinya lagi cerah-cerahnya".


"Em... Suna".


"Apa Tah?"


"Menurut pengalamanKu, Ustadz Oki Sangat tegas masalah kedisiplinan, Apalagi Ustadz Sofwan".


"Lalu apa?".


"Bukan tidak mungkin kita di jemur di sini seharian".

__ADS_1


"What?"(Suna)


"Ini intuisiku saja, jika seseorang diantara kita maupun santri berada di luar pagar, maka dia tidak berada di posisinya saat itu".


DEG


"Jangan bilang Akang mencurigai Arif?".


"Aku hanya berfirasat saja.., sekarang Aku kembalikan padamu karena sebenarnya Antum lebih Tua dari Saya".


"Sekarang kalau benar yang ku lihat itu Arif, tidak mungkin Saya dan Salman melihat orang yang sama Pagi ini".(Fattah)


"Tapikan belum tentu itu Arif".(bersikukuh)


"Percaya padaku Polanya ketika kita tidak ada yang mengaku Pengecekan Absensi akan di lakukan".


"Dan waktu terbaik untuk mencari kebenaranya tanpa membahayakan siapapun adalah Saat ini".


"Banyak yang sedang mempunyai problem pribadi pagi ini, presentasi, tugas, dosen killer, dan Persiapan Ujian SMA (dalam) pondok".


"Kamu bercanda ya Tah? coba pikirkan, Kalau benar itu Arif, ini bukan persoalan menyebrang pembatas".


"Bisa jadi kejadiannya lebih parah dari itu sampai kita di buat seperti ini".


"Dan Aku bukan seseorang yang bisa mengorbankan seorang teman".


"Hemmm".


"Sekalipun kalau itu benar-benar teman Akang?".(Fattah)


"Tah, Lebih baik kita tidak membicarakan hal ini dan menunggu keputusan".


(Bisa-bisanya dia ingin mengorbankan Arif)


Selain itu Di sisi lain di belakang Jajaran Guru-guru dan para Santri para BAKAM yang berdiri tegap menjadi pagar betis mengawasi gerak-gerik setiap santri, berdiri di antara mereka Salman yang juga memikirkan kejadian di kamarnya hingga perbincangan di kandang Sapi.


"Jika benar yang kulihat adalah Suna".


"Jadi Arif memang tidak berada di Pondok dari Subuh".


"Atau bisa lebih pagi dari itu".


"Tapi jika mempercayai Suna yang Aku lihat jelas dirinya, tapi Aku waktu itu bangun tidur fattah pun bangun tidur untuk menyadari Suna di kawasan Asrama".


"Tapi Arif jelas berbeda posturnya dengan Suna".


"Tapi jika Benar Yang berada di luar pagar adalah Arif, sedang Suna mengaku tidak berada di Asrama, bahkan membangunkan Para BAKAM, jadi .. siapa sebenarnya yang sudah membangunkan Kami?".


"Mendengar kata-kata Suna yang tidak pernah lolos dari sengatan listrik yang kami pasang".


"jelas itu bukan Suna, tapi jelas juga bukan Arif karena dirinya tidak pernah sepagi itu membangunkan Para BAKAM Pondok".


"Apalagi Masuk".


"Huft".


...


"MasyaAllah, benar ini absensinya?"


"Benar Ustadz, Saya sendiri yang bertugas tadi malam".


"Ini hadir semua".

__ADS_1


Lirih Ustadz Oki kurniawan yang kaget karena melihat absensi para Santri.


"Ok, Untuk semua Santri yang berada di bagian segera maju".


Berdiri di sana Suna diantara beberapa Santri yang mendapat bagian tugas dari Kiayi untuk mengurus, maupun menjadi kader mulai dari BAKAM Penegak Bahasa, Penerimaan Tamu dan Ta'mir Masjid.


"BAKAM sepuluh?"


"Na'Am".


"Luthfi".(Hadir)


"Ni'Am".(Hadir)


"Pratama galih".(Hadir)


"Asyifa".(Hadir)


"Ikhsanuddin".(Hadir)


"Mujaddid".(Hadir)


"Agung".(Hadir)


"Bima".(Hadir)


"Kahfi".(Hadir)


"Salman".(Hadir)


"Lengkap".


Lirih Ustadz Oki kurniawan membacakan Setiap Absensi Bagian hingga akhirnya menemukan Satu orang Tidak hadir di pertemuan yaitu salah seorang Ta'mir Masjid yang sedang sakit.


"Waallah ya Ustadz.."


"bukan maksud Saya".


Gemuruh Para Santri mendengar pernyataan Arif yang bahkan belum di tanya namun mengungkapkan pernyataan seolah dirinyalah yang berada di luar Pagar.


"Allah, coba jelaskan secara terperinci, Kamu kenapa?".


"Kenapa pucat sekali?".


"Ustadz... Al'Akh (Hassan)".


...


"Aku nggak percaya selama itu Kita berdiri ternyata menunggu pengakuan Arif yang juga tidak tahu-menahu perihal dirinya di dalam kamar Santriwati".


"Besok-besok gitu aja, Ya Ndak tau Saya juga ndak Tau".


"Kelar Masalah".


"Hehe kok kedengarannya kaya ndak Cerdas ya".


"Iya kali' masuk kamar Wanita bilang ndak tau".


"Dah lah, kali ini Aku harus bergegas ada Jam kuliah yang menunggu".


"Sama, mana Dosennya sedikit kurang Ramah".


"Bisa berabe kalo telat".

__ADS_1


Lirih beberapa Santri yang berbincang setelah akhir perkumpulan yang begitu dramatis karena Arif berani bersumpah dengan nama Allah bahwa dirinya tidak ada niatan menyeberangi pembatas Pondok, dan pernyataannya yang begitu kontroversi adalah ketika dirinya tidur di Tempat Imam dan Bangun di Tempat berbeda.


__ADS_2