Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Babak baru


__ADS_3

"Emm, Uti memangnya seserius itu yah sampai Uti di ajak berbicara empat mata?".


"Emm, maaf Sof, Kamu pasti ngerasa nggak enak banget yah, semuanya baik aja kok".


"Uemm".


"Tapi kelihatannya Ustadzah sedang tidak baik".


"Yah, memang".


Sebelumnya


"Sofi, Ustadzah, minta waktunya sebentar ya Nak".


"Em, iya Ustadzah".


Dengan sedikit rasa penasaran Sofi meninggalkan Salwa dan Khumai berada di dalam kamar, sedangkan dirinya menunggu di ruang tamu.


"Salwa, ".


"Iya, Uti?".


"Kamu nggak menyembunyikan sesuatu kan?".


"Menyembunyikan?".


"Sesuatu?".


"Iya, Al'akh Hasan kehilangan surat".


"Emm, ada di laci".


"Mana?".(Bergegas mencari)


"Uti, Uhibbuhu(Aku mencintainya)".


DEG


"Salwa?,".


"Uti, Ana nggak mau lagi menutup-nutupi, Selain membahagiakan Abi dan Ummi, aku juga menginginkannya".


"Salwa,


"Kenapa Uti?".


"Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada seseorang".


"Uti, Dia juga mencari Ku".


"Salwa, Kita harus mendahulukan kepentingan Pondok, Kamu tahu itu kan?".


"Al'akh Suna sudah berniat baik untuk mengabdi di Pondok ini".


"Uti, nggak bisa kah ini di bicarakan?".


"Salwa, semua ini juga sudah di bentuk sedemikian rupa oleh Abi, kita tidak bisa memutuskan secara sepihak".


Ujar Khumairah menyadarkan kembali Salwa, bahwa segala sesuatu di Pondok, segala keputusan-keputusan besar termasuk Ta'aruf juga di pertimbangkan melalui musyawarah di antara Ustadz-Ustadz senior.


"Ukhti, Ukhti tahu kan dirinya berada di Pondok karena Aku?".


DEG


Seketika Khumairah mengingat kembali awal dimana Suna menyambangi Rumahnya dengan Pita Suara yang terganggu hingga Fattah yang selalu melaporkan Salwa yang selalu mencuri waktu untuk sekedar memandangi Suna.

__ADS_1


"E' Ustadzah, Maaf, Ukhti yang beberapa waktu belakangan sering kembali dari seberang, adik Ustadzah yah?".


"Eh?".


Khumairah di kagetkan deengan kata-kata penyiram bunga yang hari ini berkata tanpa memalingkan muka pada dirinya.


"Mmm, sebaiknya Akang mengerjakan hal lain, karena Abi akan marah besar jika tahu kamu memperhatikan lawan jenis seperti ini".


DEG


Kata-kata lembut Ustadzah Khumairah kali ini cukup untuk membuat Suna gemetar merasakan ketakutan.


Ingatan itu masih sangat jelas di kepala Khumairah.


"Salwa, jangan hanya karena cinta buta, Salwa beranggapan Akang Suna benar-benar menginginkan Salwa".


"Tapi Uti, bagaimana jika dia benar-benar menginginkanKu?".


"Lalu ini?".(Menunjukkan Surat).


"Uti, Tolong, Aku ingin melakukan bagian Ku".


"Salwa?".


"Kamu nggak terikat apapun dengan Beliau kan?".


"Kamu nggak ngapa-ngapain kan selama ini?"


"Nggak, ya Allah nggak Uti, hanya saja Aku benar-benar yakin Dirinya menungguKu selama ini".


"...".(Khumairah)


"Uti, Aku tidak ingin membuat beliau merasa penantiannya sia-sia".


"Salwa, jaga batasan-batasan diri Kamu, dengan Beliau menuliskan Surat ini, berarti sudah ada yang berubah di dirinya".


DEG


"Salwa, jangan pernah bicara seperti itu, jodoh adalah cerminan diri Salwa".


"Kalau Al'akh Suna sudah mengajukan surat semacam ini berarti ada hal yang sudah berubah".


"Uti".


"Salwa, cinta bisa saja menerpa meski kamu diam layaknya sayidah Fatimah anak Rasul".


"Uti, tapi Uti, Salwa tau Al'akh Suna juga menginginkan Salwa".


"Salwa, Jaga nama baik Abi, tidak pantas jika Kamu menghalang-halangi niat baik seseorang".


"Uti".


"Satu lagi, jika Al'akh Suna tidak memilihMu di kala dirinya berubah menjadi lebih baik, Uti rasa ada yang perlu di perbaiki dari diri Kamu Sal".


DEG


...


"Mah, Mamah bahagia sekarang?".


"Emm?".


"Mamah pernah bilang, mamah bahagia karena berjodoh dengan Papah, meskipun Papah pekerja keras sampai lupa waktu".


"Suna, Maafin Mamah ya nak".

__ADS_1


"Eh, enggak Mah, Suna bukan ingin menyalahkan Mamah, Suna tau ini semua musibah, nggak ada yang bisa merubahnya".


"Suna hanya ingin tau apakah Mamah berhasil Move on dari musibah ini dan benar-benar bahagia?".


"Hemm,".


"Suna, Mamah tidak sedih lagi kok".


"Untuk Papah, Mamah masih saangat mencintai beliau".


"Sama seperti Mamah mencintai Kamu".


"Hemm,".


"Itu termasuk dengan kehadiran Dokter?".


"Papah".


"Iya, Papah" (Suna).


"Yaa, termasuk Mamah sangat beruntung Beliau tidak mempermasalahkan keadaan Mamah, keadaan kita".


"Di sisi lain, Beliau juga Ayah yang baik bukan?".


"Entah lah".(Suna).


"Hemm, jika ada yang ingin Kamu sampaikan-sampaikan saja Suna".


"Mah, apakah mungkin Kita berpaling dari cinta yang kita miliki?".


"Emm, Suna tidak semua orang seberuntung Mamah, dan Mamah juga selalu di bayangi rasa takut".


"Takut jika saja Papah tidak bahagia di sana, sedangkan Mamah di sini sangat di Istimewakan oleh Papah sama Kamu juga".


"Mah, Papah bakalan seneng banget kok kalo tau Mamah sekarang, Trust me".


"Hemmm, Suna Kamu sudah berada di Pondok sangat lama seharusnya sudah banyak yang kamu tau".


"Tidak semua orang bisa merelakan Cinta mereka berbahagia dengan yang lain".


"Jika memungkinkan, kejarlah Cintamu, dan jika memang tidak maka anggaplah dirinya memang bukan jodoh Kamu, dan doakan kebahagiaan juga kepadanya".


"Sepertinya merelakan Cinta karena maut sedikit terdengar lebih mudah di Ikhlaskan".


"Mmm itu, Mamah mencoba mengatakan hal itu".


"Bukan kah itu salah satu pelajaran di Pondok Kamu?".


"Iya Mah, Suna tau".


"Tapi harusnya Suna lebih cepat menyadari, kalau Suna lebih baik berhenti jika ingin melihatnya bahagia".


"Mmm?".


"Siapa? anak Kiayi?".


"...".


"Suna cari lah seseorang yang akan sangat berbahagia karena memiliki Kamu".


DEG


"Bukan hanya mengedepankan kebahagiaan Kamu".


"Memang anak Kiayi sangat membuat Kamu maupun Mamah bahagia".

__ADS_1


"Tapi mungkinkah dirinya bahagia bersama Kamu?".


"Hmmm".


__ADS_2