
keesokan Harinya
"Ummi' Aku berangkat".
"Iya salwa".
"Uti Salwa, hati-hati semangat menghafal ya!!"
ujar Sofi yang menyempatkan diri mengunjungi Salwa meski semalaman suntuk menjaga Keamanan Pondok Ihya'.
"Iya Sofi terima kasih banyak ya, Kamu juga semangat".
(memasuki mobil Pondok setelah memeluk sahabatnya tersebut)
"Hasan, jangan ngebut di jalan, hati-hati"
"na'am Ummi, hasan mengerti".
(Mencium tangan)
"Khumairah sudah mewakilkan jam mengajar kan?"
"Sudah Abi, ustadzah anita bersedia menggantikan jam mengajar ku"
(mencium tangan)
...
"Baiklah kalau itu yang menjadi keinginan nak Suna, Kami hanya berpesan tenangkan diri sebelum melakukan segala hal".
"Teruslah haus akan pengetahuan ilmu agama".
"Iya Kiayi, Saya akan mengingat itu semua".
"Hati-hati di jalan Kang".
"Iya Rif Saya hanya pulang sebentar juga, tolong gantikan Saya ya selama saya tidak di sini".
"Iya Kang, jangan khawatir".
"Apalah artinya Cinta kalau hanya Aku yang menginginkannya, sedangkan dirimu ku rasa tak begitu sama dengan diriku Salwa".
lirih Suna yang berjalan keluar dari Pondok bahkan dirinya sempat menyaksikan keberangkatan Salwa pagi ini.
"Setidaknya Aku mengetahui dirimu pun mencari ku dan Mengkhawatirkan Ku meski Kamu mengira kakak Mu lah yang ingin Ku miliki".
(menggenggam erat surat yang dulu di tulis Salwa dan di berikan melalui perantara Zahira)
"Mas Suna!"
"Iya kang!?"
"Cuti yah?"
"begitulah ceritanya Mas jadi Saya memutuskan pulang"
Ujar Suna yang menceritakan penyebab iya cuti adalah ingin bertemu dengan ibunya, setelah berpapasan di seberang jalan bersama Kang Triss.
"Ooo begitu, la terus gimana kabar Santri wati itu Mas?"
tanya Kang triss yang Tempo hari menyaksikan langsung Suna yang di marahi oleh Salwa karena tidak sengaja menyentuh tangan Salwa.
"Yah begitulah Kang hehe Dia kan nggak mondok di sini , dia udah berangkat lagi ke Pondok Tahfidz nya".
"Ooo , iya, iya, Seingat Saya dia itu selalu berangkat kuliah bersama dengan Zahira".
"Ya betul".
"O iya kang, Saya pamit dulu mau bawa pulang barang-barang, sama ganti kostum hhh".
"Oo kenapa nggak di pakai aja Mas hhhh mantep malah".
"Apalah akang ini mana ada yang mantep kaya gini, harus menyesuaikan, dah lah, Saya pergi dulu!"(Tersenyum)
"Jalan?"
"Iya, paling nanti naik angkot"
"O iya mas, hati-hati!"
DI DALAM ANGKOT
"Le, dah nyampe?"
"Belom bu' ".
ujar Salah seorang pemuda menuntun ibunya yang tidak dapat melihat,
dengan berbagai macam belanjaan dari pasar duduk di depan Suna.
"Berapa ya bang?"
"Anak sekolah yah?"
"Lima ribu aja".
"Ini ambil kembalian nya"(menyodorkan uang dua kali lipatnya)
"Iya"(bingung)
...
"Assalamualaikum!"
"mah!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam"
"Eh, den Suna udah pulang?"
"(...)".
"Saya asisten baru ibu di sini".
"O.., Ibu di mana bi'?"
__ADS_1
"Oh, anu ibu sedang keluar".
"Sama bapak ya?"
"(...)"
"Oh ya biarlah mereka juga jarang jalan berdua" (tersenyum)
"Den, biar bibi yang bawa?"
"Ngga usah bi' bibi kerjakan yang lain saja ini biar saya yang urus".
"Iya den, pekerjaan rumah sudah semua, cuman untuk sarapan mungkin sebentar saya siapkan".
"O nggak usah bi' Saya harus pergi, Sarapannya di tempat saya kerja saja".
(...)
"Titip rumah ya bi' ".
ujar Suna menyusuri tangga dari kamarnya dengan menggenggam kunci Moge kesayangannya.
"Iya den".
"Kalau mau nonton tv remote nya ada di..."
"Di Sofa Den".(tersenyum)
"Hhh iya, anggap aja rumah sendiri bi' ".
"(...)"(tersenyum)
"Ok.. kita lihat ada yang perlu di perbaiki nggak dari Kamu?"(membuka garasi motor)
"Kedengaran nya ada yang perlu sedikit di periksa"(melepas topi untuk memakai Helm)
Suna pun kini kembali menyusuri jalan dengan moge kesayangannya setelah keluar dari bengkel, melaju dengan kecepatan tinggi melepas kerinduannya pada kuda besi itu.
Setelah sampai Suna pun menjadi pusat perhatian para pengunjung dengan style dan postur tubuh yang gagah turun dari moge kesayangan miliknya,
bahkan Suna sempat melupakan rasa malu bahwa kepalanya tanpa sehelai rambut.
"Gawwat"(memakai kaca mata hitam menutupi malu)
"wah-wah... cepat sekali kembali Mas?"
"Hehe Uang harus di jemput Kang".(memasuki ruang ganti)
"Itu kepala rambutnya lari kemana Mas?"
"Ah ini hhh mungkin style jaman sekarang harus segera di rubah kang yang botak itu lebih seksi hhh".
(padahal aku botak gara-gara terlambat pulang dari sini)
"hhhhh bisa aja mas Suna mah".
Akhirnya Suna dan Kang Triss bekerja sepanjang hari dengan Suna yang selalu memakai topi dan kaca mata hitam menutupi rasa malu.
"Kang Triss Kopinya satu ya".
"Anak magang ya kang?"
"(...)".(Suna)
"Emm psst pssst kang triss, itu?"(memberi isyarat mata)
"Oo itu kan mas Suna de' beda ya?"
lirih kang triss memberitahu Zahira bahwa sosok yang tidak mempedulikan nya adalah Suna yang semenjak tadi mondar-mandir mengantarkan pesanan.
"Ngomong-ngomong kenapa kok berangkatnya agak siangan ?"
"Ah biasa kang, hari ini mata kuliah saya cuma satu jadi kadang dosennya minta pertemuan agak lambat karena kebetulan punya momongan juga beliau".
"Ooo begitu".
...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam eh ibu udah pulang".
"(...)"
"Saya asisten yang di minta ibu mitha untuk bekerja di sini Bu' ".
"Ooo hhhh maaf ngerepotin, Ibu sebaiknya kembali saja karena Saya sendiri mampu mengurus rumah ini".
"Maaf Bu' bukan Saya lancang, karena Saya di minta oleh Ibu Mitha untuk tidak meninggalkan rumah ini karena beliau khawatir dengan ponakannya".
"Emm terserah Bibi saja, asal jangan merubah sedikitpun benda di dalam rumah ini".
"Iya Bu' Ibu Mitha juga sudah berpesan seperti itu".
"Bi'? anak saya?"
"O... den Suna? Den suna sudah kembali dan langsung pergi katanya ke tempat kerja".
"Bibi nggak bilang apa-apa kan?"
ujar Sumi sedikit panik mendapati Suna kembali dari Pondok tanpa di duga-duga, sedang dirinya tengah sibuk merawat suaminya dan tidak ingin menjadi beban untuk anak semata wayang nya tersebut.
"Emm Den Suna sudah terlanjur mengira Ibu dan Bapak sedang jalan jadinya langsung pergi tanpa khawatir".
"fyuh...".(terduduk di tangga)
"Mau teh Bu'? nanti saya buatkan".
"Iya Bi' tolong".(mengangguk)
"Maaf atas sikap tidak menyenangkan saya tadi Bi"
"Ngga apa-apa Bu' Saya sudah mengetahui segala hal mengenai Ibu dan Keluarga Ibu dari Ibu Mitha, Ibu memang sebaik yang di bilang Ibu Mitha".
"(...)"(meminum teh)
"Saya pamit ke belakang Bu".
__ADS_1
"Eh Bi', T tolong rahasiakan mengenai Bapak dari Suna, Saya tidak mau dia terbebani dalam menuntut ilmu di Pondoknya".
"Iya Bu' Saya mengerti".(memegang kedua tangan yang sempat menahanya untuk pergi)
...
"Ra' situ kan dah lama kenal sama Saya".
"Eng? enggak".(menggeleng)
"Ok, sama Salwa sudah lama kenal to?"
"Em iya, aku sahabatan sama dia sejak kecil".
"Ra.. sebenarnya Salwa itu suka atau enggak sih sama Saya?"
ujar Suna dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Hufff hhhh kkh"
"Biasa aja!!.. kalau dirinya tidak suka ya sudah katakan, Aku juga akan berhenti mengejarnya".
"Emm memangnya kalau Salwa benar-benar suka dengan Akang apa yang akan akang perbuat?".
"(...)"(Suna terdiam)
"Yah seperti itulah Salwa saat itu sampai sekarang".
"Maksudnya?"(Suna)
"Dia tidak pernah berhenti mengagumi Akang, Tapi cobalah Akang koreksi lagi diri Akang, cara-cara Akang mengejar dirinya, karena Salwa juga tidak punya banyak pilihan".
"Maksudnya?"
"Salwa itu di kelilingi oleh Kakak-kakak yang Sangat bahagia dengan jodoh pilihan Abi nya".
(...)
"Ya menurutKu Akang tidak usah terlalu Menggebu-gebu mengejar dirinya Salwa pun sepertinya tidak akan suka".
"Ukhti?"
DEG
Betapa terkejutnya Zahira dan Suna ketika seorang Ustadz memergoki mereka berdua yang tengah berbincang di meja kasir, seorang Ustadz yang sangat terkenal dengan ketegasan nya dalam mengawal ketertiban Pondok dan Santri.
"Afwan ustadz(Maaf Ustadz)".
Lirih Zahira setelah di isyaratkan pergi oleh ustadz tersebut.
"Akang pemilik Kedai ini?".
"Na'am Ustadz".
"Ho.. anak seberang(Pondok), jadi ini pekerjaan sampingan selain menuntut ilmu agama?".
"(...)"(Suna menggeleng)
"Oo mungkin memang tujuannya adalah Santriwati sampai-sampai antum ini masuk Pondok?".
"Oo enda ustadz nda"
"Lantas? coba jelaskan perkara antum ma'aha (dengannya) barusan itu dekat sekali berduaan di sini, di jam sibuk".
"La' Ustadz(Nggak Ustadz)".
"Lho kan saya sendiri tadi melihat dengan jelas, kamu tahu kan?".
"Na'am Ustadz(Iya Ustadz)"
Dengan tatapan tajam Ustadz sofwan terus memojokkan Suna yang semakin merasakan rasa bersalah yang berlipat ganda kala dirinya teringat siapapun dapat di adili di dalam pondok Ihya ini.
Akhirnya dengan segala peringatan dan nasihat yang terlontar dari lisan Ustadz Sofwan, membuat Suna benar-benar merasakan hilangnya harapan dan sempat merasakan hilangnya alasan untuk kembali ke Pondok Ihya' Karena dengan insiden tertangkap basahnya dirinya berbincang dengan Zahira, membuat dirinya berhutang cukur Botak sebagai imbalan karena melanggar peraturan.
"Allah...".(terduduk lemas)
...
"Suna pulang!"
"Makan malam Den, biar Bibi siapkan?"
"Emm nanti aja lah Bi' ".
"Belum laper"(tersenyum menaiki anak tangga)
("Emm memangnya kalau Salwa benar-benar suka dengan Akang apa yang akan akang perbuat?".)
"Huft..".
"sholat dulu kalau gini mah, pusingnya ya allah!"(menuju kamar mandi untuk membersihkan diri)
"Bi' Suna di rumah?"
"Iya Bu' Ibu sudah mau berangkat kembali ke Rumah Sakit?"
"Shut... jangan keras-keras... nanti Suna dengar!"(Panik)
"(...)".(mengangguk)
"Ya sudah Saya pamit jaga rumah ya, titip Suna ingat jangan mengubah apapun"(terburu-buru membawa pakaian dengan tas ransel)
...
"Loh kayaknya jam segini masih sepi aja nih rumah?"
"(...)"(terdiam menata meja makan)
"Masih belon pulang mamah ma papah yah Bi'?"
ujar Suna seusai mengerjakan Shalat isya".
"(...)"(tersenyum)
"Wah padahal biasanya makan malem itu waktunya kumpul".
ujar Suna seraya mengambil nasi dan berbagai macam lauk".
__ADS_1