Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Subuh


__ADS_3

Langit malam itu begitu cerah dua dunia yang berdampingan mengalir di dalam poros masing-masing, tanpa pernah tau satu sama lain, hanya selayang pandang tanpa sempat mencari tau di balik tembok setinggi dagu.


Cerita itu masih masyhur di kalangan Santri dan Santriwati kala seorang Anak Kiayi menerobos pintu penghubung dua dunia, tapi tidak pernah ada yang tau apa penyebab pastinya, karena semua orang yang mengetahui persis kejadian tersebut sebagian besar adalah BAKAM yang sulit di ajak untuk berterus terang dalam beberapa Hal.


"Ok untuk sementara besok Subuh Akang Suna Qira', lalu Aku dan Kang Salman keliling ke Asrama".


"(...)"(Suna)


"Baik lah, bagaimana bagusnya aja".


"Sebenarnya Aku ingin sedikit beristirahat mengunjungi Gedung persemayaman para BAKAM".


"Em, bukanya apa, mereka itu orang-orang sibuk jadi kadang mengigau yang aneh-aneh".


"Emmm, hari ini aja kang, tolong hehehe besok Akan segera Aku buat jadwalnya".


Lirih Arif yang meyakinkan Salman untuk bertahan Sehari setelah pulangnya Suna kembali ke Pondok.


...


"Uti Putri... Uti...".(berlari terburu-buru)


"Uti... !".


"Ng? Oi!"(Berjalan menghampiri)


"Congrat.. congrat...".


"Apa sih.. Aku nggak paham?".


"Itu Acara yang ingin Uti selenggarakan mau di pertimbangkan oleh Ustadzah Khumai, yah kalau firasat Ku enam puluh persen Acara tersebut akan di setujui oleh Kiayi".


"Ummm".(Tersenyum)


"Makasih Banyak ya Sof...".(memeluk)


"Iya... Sama-sama"(membalas pelukan kegirangan)


SEBELUMNYA.


"Wah, yang di katakan Uti Lailah benar kali ini keringatKu sudah tidak tertolong Aku tidak punya pilihan lain".


"Ustadzah"(mengangkat tangan)


"Na'am?(Ya) Limadza?(Kenapa?)".


"Urid.. an asta'dzina ilal Hammam".(Mau izin ke kamar mandi)


(Gawat kenapa Aku bisa seberani ini Izin di jam pelajaran Tamriinul lughah)


"Khamsu daqa'iq"(lima menit)


Ujar Ustadzah Khumairah yang masih menghadap white board, menuliskan poin-poin pembelajaran.


"Na'am Ustadzah"(begegas)


Lirih Sofi dengan pikiran yang campur aduk, dimana jarak kelas dan Kamar hampir dua ratus meter dan kelasnya pun berada di lantai dua.


Sesampainya di Kamar Sofi sempat di kejutkan dengan keberadaan Ukhti Lailah yang ternyata masih berada di Kamar.


"Assalamualaik..(kum) Allah".(terkejut)


"Eng? kenapa? Hari ini jadwal Kuliahku di pindah menjadi jam 10.00"(berkedip dengan Masker hijau masih melekat dan hampir mengeras)


"Emm, Aku kira Syai'n akhor!"(Sesuatu yang lain)


"Lagian pake masker warna hijau...".(memasuki kamar dengan memegangi dada)


"Ya, kalau putih mungkin akan lebih serem, By the way, kok nanggung bentar lagi bel istirahat SMA Dalam(Pondok) sepertinya akan berbunyi".


"Ng? masa sih?"(menanggalkan kemeja putih)


"Seingat Ku Aku punya dua".(lirih)


"(...)"(Lailah bingung dengan sesekali menyentuh pipi yang terbungkus masker hijau)


"Cari apa? seragam?"


"Iya seingat Ku...Ak wah Aku Lupa pakaianKu masih ada yang Ku rendam".(bersandar di depan Lemari)


"Seragam Sma, Sepertinya Aku masih menyimpan kepunyaan Ku, sepertinya muat di kamu deh".(berbalik membuka lemari)


"Aku nggak percaya , dulu Uti lailah seberapa ramping bahkan seragam yang Aku kenakan rasa-rasanya masih cocok di kenakan oleh dirinya".


"Tapi untuk Ku kenakan, tidak ada space yang tersisa"


lirih Sofi yang benar-benar memperhatikan langkah untuk tidak gugup dalam perjalanan cepat menuju kelas, mengingat usaha dirinya untuk mengeringkan tubuh dari peluh yang membanjiri tubuhnya, hingga di pinjami seragam oleh Uti Lailah.


"ting !!! ting !!! ting !!!".


Betapa terkejutnya Sofi mendapati Bel Istirahat berbunyi setelah langkahnya sedikit lagi menyentuh Pintu masuk kelas, bahkan beberapa temanya sempat menertawai dirinya karena datang di waktu berakhirnya masa belajar.


"Ustadzah, Aku minta maaf, tadi Akh(U)".


"Lain kali rencanakan semuanya dengan benar Sofi, sepertinya pagi ini tak begitu sebaik biasanya"(merapihkan peralatan mengajar)

__ADS_1


"Iya Ustadzah".


"Sebagai hukuman, Kamu hapus semua tulisan di white board".(tersenyum)


"Emm siap Ustadzah".(bergegas)


"Baju kamu sebaiknya ganti, sudah kekecilan kayanya sampai tubuh kamu seperti itu"


"Em iya Ustadzah, ini baju Ukhti Lailah"(tersenyum)


"Ooo".


"O iya, ustadzah, Ada yang ingin saya bicarakan".


Lirih Sofi teringat perihal Putri yang berencana mengadakan event kesenian membuat baju 'pentas Kreativitas Busana'. dan memintanya sebagai Ustadzah Pembimbing dan memperoleh Izin Kiayi.


"Ooo seperti itu, Mmmm baiklah nanti Saya coba bicarakan dengan Abi, kemungkinan nya Saya tidak tau, tapi Akan saya usahakan".(tersenyum mengelus pipi Sofi)


"Makasih banyak ya Ustadzah!!"(tersenyum bahagia)


...


"Allah... "(ngos-ngosan)


"..."


Suna yang kembali tersadar dari mimpi buruknya terbangun di pukul dua pagi.


"Mungkin itu isyarat"


"...?"


"Kenapa nggak tahajjud aja Kang, nanggung".


Lirih Salman yang kembali memposisikan dirinya di atas sajadah sekaligus tempat tidur di atas karpet dengan pakaian sholat seusai ibadah shalat malam.


"Ng... jangan lupa bangunin Aku juga kang!"(meraih pergelangan kaki suna dengan mata terpejam).


"Ng.. iya".(meneruskan langkah)


"Rabbi ighfir lii wali waalidayya warham huma kama rabbayani shagirah..".


"Ya Allah, Bantulah hamba mewujud kan cita-cita hamba dan cita-cita orang tua hamba ya allah, jauhkanlah mereka dari marabahaya, hamba ingin membahagiakan mereka ya Allah, sempatkan lah hamba mengukir senyum di bibir mereka".


"Ya Allah"(menitihkan air mata)


"Ayah hamba sedang berada di Rumah Sakit, ya Allah hamba ingin menjadi seorang anak yang berbakti, hamba ingin...ukhh khhh hamba ingin melihat beliau menikmati masa tuanya ya Allah, Ibu hamba begitu menyayanginya ya Allah hamba berjanji akan Lebih baik lagi menjalankan kewajiban hamba ya Allah".


"Rabbana Aatina fiddunya hasanah wafil aakhiroti khasanah wa qina adzabannar".


Suna kembali meneruskan kenikmatan Awal hari yang sejuk kala itu dengan menuju tangga utama yang menyajikan dua pemandangan megah langit yang berbintang serta sebuah masjid dan kilauan lampu asrama dari kejauhan di seberang tembok pembatas.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


"Shabahul khair".


"Shabahunnur".


"Wah Awal yang bagus, jam segini langsung bangun bahkan baru pulang".


"Hhhhh".


"Saya duluan".


"Akang udah Shalat?"


"Udah Tah, silahkan, silahkan".


"Jadi apa nih motivasi terbaru yang di dapat oleh seorang Akang Suna?".


Lirih Fattah sesaat setelah mendirikan Shalat tahajjud.


"Emmm entah lah Tah, sepertinya Ada yang perlu aku perbaiki caraku menuntut ilmu di sini".


"Sama seperti kata-katamu dulu".


"Aku baru menemukan pentingnya niat baik di dalam Pondok ini".


"Wah bagus itu".


"Iya, bagus banget tah, mungkin kali ini Aku benar-benar akan memulai semuanya dari awal".


"(...)".


"Yah, yang terpenting jangan berhenti di tengah".(Fattah menepuk pundak Suna)


"O iya, sudah mau Subuh tapi Situ masih di sini?".


"Mmm Akang belum tau ya?".


"Audzubillahiminassyaitonirrajim".


"Bissmillahirrahmanirrahim".

__ADS_1


"Arrahman...


(Saya berhenti dari BAKAM, karena ada beberapa hal yang perlu Saya perbaiki)


Suna yang sempat teringat kata-kata Fattah kala sebelum subuh menjadi semakin yakin bahwa memang selayaknya seorang santri sudah seharusnya lebih sibuk dengan perbaikan-perbaikan diri, dari pada memikirkan ***** duniawi.


"Ka'anna hunnal yaaqutu wal marjaaan".


("Jadilah Seseorang yang Alim, yang pintar. ketahuilah, tidak kan dunia begitu berharga bagi orang yang Alim, yang pintar dalam hal Agama. jangan khawatirkan duniamu Suna".)


SEBELUMNYA.


"Assalamualaikum".


"(...)"


"Waalaikumussalam".(Lirih mengigau)


"Man Rabbuka yaa Arif!!!"


"Rabbi, Allah hu Rabbi".(masih mengigau)


"Astaghfirullah!!"


Salman yang merasakan hal yang aneh beristighfar hingga membangunkan Arif.


"Yah, bangun dia".


Lirih Suna terkekeh karena Arif yang terbangun.


"Kenapa Kang? sudah subuh yah?"(mengucek-ucek mata dan muka)


"Aku qira' Ya Akang bangunin BAKAM ma Santri".


"Hemmm Lain di rencana lain di pelaksana".


"Aku kira telah di kubur Satu liang bersama manusia ini".


Lirih Salman seraya merapihkan sarung dan baju.


"Yah lantas bagaimana?".


"Ng? ya bangunin lah kang, hhh dia memang selalu seperti ini".


"Rif.. Rif.. bangun eei kamu tidur di mana ini tau?"


"Ngg??"(berusaha membuka kedua mata)


"Eee toleh-toleh, cepat sebelum Kiayi keluar dari rumah".


"Ha?"


Sontak kata-kata Salman membuat Arif langsung berdiri dan berusaha melarikan diri, sedangkan Salman dan Suna hanya menertawai Arif yang baru sadar setelah mengira tidur di depan rumah Kiayi.


"Baiklah, Sesuai Jadwal ya Kang?"


(berjalan membawa gayung handuk)


"Jadwal apanya Rif?"(Suna terkekeh)


"Hemm Susah kalau pikun sejak dini, Aku dan kang Salman berkeliling, Akang Suna Qari' ".


"(...)"(Suna dan Salman tersenyum)


...


"Hemmm Kamar ini lagi, Kira-kira Sudah pada bangun atau belum?"(mengetuk Pintu)


"Al'Akh... bangun-bangun".


"Hemm begini kalau sudah terkunci dengan fasilitas nih".


"Krekkk!".


"DUAR!!! Hayo loh.. ".


"Allahu akbar uuuuuaa !!!"(mempraktekan kuda-kuda dengan pakaian Rapi)


"Hahahahaha".


"Gimana to Kang , mau bangunin jam segini , kami dah bangun, mending ke asrama aja" ujar para BAKAM muncul dari pintu Putih bersiap untuk membangunkan para santri.


"Anak-anak Ta'mir dah bangun?"(Luthfi)


"Dah".(membalik arah)


Akhirnya Jajaran BAKAM dan dua orang Ta'mir masjid mengelilingi Asrama sedangkan Suna sudah melantunkan Bacaan Surah Arrahman, meramaikan Subuh di Pondok Ihya', bahkan beberapa kejadian tak terduga selalu terjadi setiap harinya.


"Ng? dah bangun Kang?".


"Dah Rif".


Ujar Fattah menjawab Arif yang berniat mengecek kamar yang menjadi tempat tinggal Fattah, dan bersiap membangunkan Anggota kamar yang lain.


"Haya.. haya... bangun-bangun... Kang kang!! Subuh, subuh".

__ADS_1


...


__ADS_2