Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Kepanikan Zahira


__ADS_3

"Coba Uti ceritain bagaimana bisa Uti kenal dengan Ka' Willy?"


"Emmm ceritanya panjang Ra".


"Memangnya kenapa Ra'?".


"Em enggak, Aku nggak kenapa-kenapa Uti, cuman penasaran aja hehe".


"Tentang?"


"hhh, enggak, Aku cuma sedikit kehilangan alasan untuk menyambangi Kafe depan hhh".


"Hhh , Aku nggak suka Dia kok hhhh nggak".


"Ooo".


(Bisa-bisanya Dia bersikap aneh, padahal sejauh ini selalu garang)


"Eh .. jangan ngelamun, Aku juga tau tentang Rumor itu...".


"Ng?"(Tercengang)


"(...)"(Lailah tersenyum penuh curiga)


"Nggak-nggak, Uti salah sangka, Aku dan Fattah sebenarnya tidak mempunyai hubungan apapun".


"Benar Uti swear!"(Bereaksi berlebihan)


"Ak.. Akku bisa buktikan!"(menutupi rasa yang sempat terkubur dan telah di lupakan dengan beribu cara)


"Mmm,, Ku dengar Dia mengundurkan Diri dari Jajaran BAKAM, Sepertinya ada hal besar melatar belakangi hal tersebut".(menopang dagu dengan tangan)


"Rasa bersalah mungkin?"


"Ya?"


"Bisa jadi"(menganggukkan kepala)


"Iya biasanya anak laki-laki seperti itu, akan berusaha menghindari sesuatu karena sebuah penyesalan".


"Oo.. maksudnya menyesal menjadi seorang BAKAM?"Lirih Lailah mencoba menarik kesimpulan.


"Ya.. soalnya dia berani menggenggam lenganku Uti!".(datar)


"O... menggenggam lengan...".(mencoba menggoda)


"Iya, sejak saat itu, Aku memberi peringatan besar padanya".


"Aku omelin, eh aku malah baru tau kalau dirinya mengundurkan diri dari KETBAKAM".(menyilangkan kedua tangan dan berfikir kembali atas apa yang sudah di ucapkan)


(Uh.. sepertinya Aku salah berterus terang dengan Uti Lailah)


"Ooo, mendengar pernyataan ini Aku malah berfikir kalau dirinya bukan hanya menyesal telah melakukan hal itu padamu Ra', tapi...".


"Tapi?".(bengong)


"Tapi... memperjelas bahwa dirinya benar-benar menyukai dirimu".


"Ng...,".


(memanyunkan bibir)


"Yah, setidaknya itu lebih baik, dari pada dirinya terjerat permasalahan cinta bersama salah satu ketua".


"Aku tidak bisa bayangkan nasibnya jika ketauan oleh Kiayi".


...

__ADS_1


"Ndu..' selayaknya wanita memang memiliki hasrat ingin menjadi yang paling menonjol di antara sebayanya".


"sistem yang sudah lama ini, telah menyetarakan mereka siapapun dan seperti apa rupa mereka".


"Iya Abi".


"(...)".


"Apakah Kamu yakin dengan adanya kegiatan ini akan menimbulkan nilai-nilai positive?"


"Yakin Abi, menurut umai dari Acara ini akan menarik minat para santri putri untuk menambah kreatifitas dalam design".


"Itu pun kalau Abi mengizinkan".


"Baiklah, berhubung ini sesuatu yang baru di Pondok kita, Abi akan menunggu kabar dari jajaran BAKAM, apabila nantinya kegiatan ini mengganggu kegiatan mengaji, sekolah, apalagi Shalat mereka, maka Abi akan meniadakan kegiatan tersebut".


"Iya Abi, InsyaAllah Khumai akan turun langsung mengkoordinir di lapangan".


"..."


"Kalau begitu, segera setelah ini kumpulkan Para Jajaran BAKAM Putri untuk berkumpul di sini".


"Iya Abi".


...


"Saya tidak akan memperlonggar peraturan yang sudah terjaga bertahun-tahun di Pondok ini, Sekalipun Acara yang akan di laksanakan adalah bimbingan dari Anak saya sendiri".


"Untuk itu, Jajaran BAKAM harus tetap menjaga jalanya ketertiban, setiap waktu dan kegiatan nya, ketika waktu Shalat tinggalkan semua kegiatan dan segera lakukan shalat berjamaah di Masjid maupun di Asrama".


Beberapa Poin penting yang di utarakan oleh Kiayi nuruddin kala berhadapan dengan para Jajaran Bakam Santri Putri dan Kader-kadernya.


"Wah Aku merasa tidak enak jika terlalu ketat pada mereka yang nanti berlomba atau pada pelaksana Acara".


"Hemm cukup lakukan apa yang di instruksikan Kiayi Uti".


Lirih Lailah kepada salah satu BAKAM kala melewati Pintu dua dunia.


(Apa ini? kenapa tubuhku terasa gemetar mendengar ucapan Uti lailah seperti ini).


"Em... i. iya Aku akan ingat siapa diriku dimana pun itu inshaAllah".(sedikit gugup)


"Bagus!!"


"Sepertinya tidak akan ada masalah berarti, untuk menangani Acara ini".(bersemangat)


"Alhamdulillah".(Salah satu BAKAM yang mendengarkan pembicaraan kedua ketua)


(fyuh.. sepertinya akan ada hal lain yang terjadi)


gumam Zahira berjalan di antara para jajaran BAKAM.


Sedangkan Sofi yang tidak begitu khawatir karena pembimbing Acara adalah Wali kelasnya sendiri hanya diam mengikuti mereka menuju kamar di waktu selepas Isya.


...


"MasyaAllah, kira-kira Akan ada apa di seberang sana sampai para Uti-Uti cantik itu menyambangi Rumah Kiayi secara bersamaan?".


"Heh, heh".


"Iya kan mereka memang cantik kang?".


"Istighfar".


lirih Salman yang duduk di pojok serambi kanan masjid.


"Bisa saja Aku menindak dirimu karena memanfaatkan keadaan untuk melihat mereka".

__ADS_1


"Ups , hehe ternyata Aku melihat mereka bersama salah seorang BAKAM".


lirih Arif terkekeh.


"Sudah lah, apa gunanya penasaran dengan apa yang akan terjadi di seberang sana".


"Hal itu tidak akan merubah Kamu pintar juga Rif".


"Ee.. ada Kang.. Jajaran BAKAM Putri itu Cantik-cantik masyaAllah, Uti Lailah, Zahira, munirah namanya mirip seperti anak Kiayi cantiknya juga, Uti Sofi, dan masih banyak lagi".


DEG..


Salman terasa ingin bereaksi saat Arif mengatakan Nama Ukhti Sofi.


"Eh, Kamu memang ya..., Aku masih salah satu jajaran BAKAM loh".(menatap sinis)


"Astaghfirullah, hehe".(mengalihkan pandang pada Asrama putra yang terlihat di arah selatan)


"Ngomong-ngomong kemana Kang Suna?".


"Biasa, sepertinya beliau akan mengikuti jejak Kang Hasan, sekarang beliau masih berada di kamar melatih bacaan Al-qur'an".


"Sebenarnya Aku sedikit merasa lapar".


"Ayo kita berangkat!".


tiba-tiba Suna menghampiri mereka dan mengajak untuk pergi ke dapur.


"Mmm Aku mau di sini saja Kang, Biasanya Ummi akan mencari Diriku hhhh 'Berkah' ".(tersenyum)


"Hemm bisa aja , kamu mah Rif".(Suna)


"Aku kira Kamu hanya menunggu-nunggu hal tersebut jika hanya di berikan oleh anak-anak Kiayi".lirih Salman terkekeh.


"Is.. nggak lah Kang, ini soal berkah, bukan Soal anak Kiayi atau siapapun".


"Tapi memang anak-anak Kiayi cantik-cantik".


lirih Arif makin membuat Salman dan Suna ingin menghakiminya.


"Dah, dah lah, makin di bicarakan makin ngawur, Aku pergi dulu kalau begitu".lirih Suna melangkahkan kaki menuju tangga.


"Eh.. tunggu Kang.. bareng-bareng".(terburu-buru)


"Cepat!".


...


"Wah .. ramai sekali".


lirih Salman mendapati bahwa dirinya dan Suna sedikit terlambat hingga berdiri sedikit paling belakang di dalam antrian.


"Benar juga, kemana para jajaran BAKAM kala waktu makan malam tiba, sepertinya aku jarang sekali mendapati mereka Makan bersama dengan santri di sini".lirih Suna kepada Salman ketika melihat Fattah sudah sedikit berada di depan antrean.


"Biasa, mereka Akan berpatroli jika waktu-waktu sibuk seperti ini".


"Kalo kata mereka mah, kekosongan dan kesibukan selalu berdampingan apalagi baik sama buruk, nah.. tugas kami adalah menjaga kekosongan di saat kesibukan para santri seperti saat ini".


"Hemm seperti itu".


lirih Suna yang menanggapi Salman yang sedikit menyombongkan diri karena sudah menjadi salah satu jajaran BAKAM.


"Hey!"


"Antri ei".


"Mau apa kamu?"

__ADS_1


ujar Luqman menanggapi kicauan anak-anak yang mengantri kala melihat dirinya menyerobot antrean sampai di belakang Hasan disertai kedua orang temanya yang selalu mendampingi.


"Halo Kang BAKAM!".


__ADS_2