Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Makan Hati


__ADS_3

"Salman, Ini... untuk Kamu".


"Eng? dari?".


"..."


"Ooo mungkin dari Sofi".


"...".(Tersenyum)


"Terima Kasih, Uti Tania".


"Aku dengar sidang skripsi sedang di rencanakan ya?".


"Emm Alhamdulillah, semuanya sudah clear".


"Wah Selamat...".


"Iya Terima Kasih".


Salman tak menyangka di kala dirinya yang untuk ke sekian kalinya sedang menunggu Fattah mencari rumput, kembali berbincang dengan Salah satu Mommy Pondok, karena selain sudah akan wisuda, juga dari penampilan mereka sudah layak dan lebih mirip dengan Para Ustadzah pengabdian.


...


"Bismillah, Mah Suna berangkat".


"Iya Suna, Semuanya sudah di bawa? nggak ada yang tertinggal buku atau sebagainya?"(merapihkan baju Suna)


"Udah mah".


"Mamah jangan lupa minum vitamin yang sudah di berikan sama Dokter".


"Iya, iya,".


"Hemmm jadi berat mau pergi ninggalin Mamah sendiri".


(Menghela nafas Panjang)


"Kan ada Tante Kamu sama Bibi di sini, jadi Suna nggak perlu khawatir".


"Bi.. titip Mamah".(Menghampiri Moge kesayangan)


"Iya den".


"Eh, ini motor?"


"Nanti di taruh di Kafe Mah, siapa tau bakal kepakai, kasihan di garasi mulu".


ujar Suna di balik helm.

__ADS_1


"Emm ya udah terserah Kamu aja".


"Hati-hati di jalan".


Dengan Niat yang baru Suna memacu kuda besinya untuk melakukan sedikit perpisahan, meski sebelumnya hanya berdiam diri tidak pernah menungganginya karena harus memperhatikan kesehatan sang Ibu.


Hati sebenarnya masih sangat ingin memastikan Sang Ibu dalam keadaan yang baik-baik saja, karena Sebulan lebih pun Suna sepertinya tidak mengetahui dengan pasti apa yang di rasakan sang Ibu, bahkan Setelah berlibur bersama.


Apakah Sang Ibu masih bersedih mengingat Sang Ayah, atau setidaknya sedikit melupakan hal-hal yang membuat dirinya merasa bersalah.


"Mah, mamah jangan berfikiran ini salah mamah".


"Mamah Adalah ibu dan Istri yang baik buat Papah, Suna tau dengan jelas pengorbanan mamah untuk Papah maupun Suna, jadi ... Mamah jangan menyiksa diri".(mendekap)


"..."(Sumi)


Di balik Helm tak terasa Linangan Air mata sudah meng anak sungai ketika Suna malah tak mampu mengendalikan diri setelah mengingat kejadian-kejadian yang belakangan ini dirinya ketahui.


Dengan masih tersedu dalam tangisan. Suna berhenti sejenak di bahu jalan untuk menenangkan sesaknya dada yang tiba-tiba menyerang tanpa aba-aba.


"Ya Allah".


"Kok sesak banget".


"Huhhh heeue' ue' ".


"Pah... Suna janji bakal jaga Mamah, Suna janji bakal belajar bener-bener".


"Ya Allah Kiayi... hhhh Kiayi Orang Baik, Huuuh(merasakan Sesak makin pelik)


"Ya Allah berikanlah tempat terbaik untuk beliau, jagalah keluarganya dan berikan segala hal yang terbaik untuk Pondok dan Keluarganya".


Motor Itu melaju dengan kencangnya mengelabuhi setiap orang yang menyaksikan bahwa di balik helm pengemudi sedang bersedih dengan Air mata yang masih terus mengalir.


...


"MasyaAllah ini lukisan bagus banget, tapi sejak kapan Sofi mempunyai hoby menggambar? setahuku dia tidak pernah rajin seperti ini".


"Bahkan untuknya Menjadi seramping itu, aku yakin karena dirinya ingin sekali menjadi BAKAM".


"Emmm Maaf sebelumnya ini pensil yang beberapa waktu yang lalu Kamu jatuhkan".


"Eh... iya terima kasih, Emmm sebaiknya".(Sofi)


"A.. iya Aku tau, karena BAKAM kan?".


Salman menduga Sofi takut bahwa dirinya akan mendapatkan masalah bila kedapatan berinteraksi dengan Lawan jenis.


"Emm Saya mau menjadi BAKAM".

__ADS_1


"Kalau Akang tidak ada urusan lain segera lakukan yang menjadi kewajiban akang".


"Ooo' iya, ".


Salman sedikit menahan tawa saat seseorang yang kelihatanya tidak pernah merasakan olahraga sangat ingin menjadi seorang BAKAM berdiri dengan sedikit memalingkan pandang di hadapannya.


"emmm Aku Salman, nama kamu siapa?"


"Sofi".(Singkat)


"Emmm Aku bakal nunggu-nunggu banget sih kalau Kamu jadi BAKAM".


"Semangat".(Tersenyum).


Salman yang pagi itu mencuri-curi waktu untuk mengembalikan Pensil yang sempat masih ada pada dirinya, tidak membuat usahanya sia-sia setelah beberapa saat menunggu di Kafe Kita lalu melihat Sofi yang kala itu kembali Izin dan menyusuri jalanan yang lengang.


...


"Kang... mau tau apa yang sedang kita selidiki selagi Akang tidak berada di sini?".


"Apa Luthfi?"


"Anak kabur?"


"Atau Anak-anak yang ngumpet saat Subuh Jama'ah?"


"Emm enggak, Soal cinta katanya".


"Ada yang sengaja diam-diam memanfaatkan pagi buta untuk saling bertukar surat".


"Ooo".(Salman)


"Tapi kok Kamu bisa tau?"


"Emm informan".


"Yah untuk beberapa waktu ini masih belum begitu gencar".


"Tapi harus Kita tegur segera".


"Iya".


"Tapi memangnya ada tempat semudah itu untuk bertukar Surat?".


"Subuh? wah niat dan nekat sekali".


"Tepatnya di pagar pembatas mereka saling meniggalkan Surat".


"Ooo".

__ADS_1


Salman yang seperti mendapat sedikit teguran, jika saja seseorang yang bertukar surat itu adalah dirinya yang kala ini juga menyimpan sebuah lukisan dari lawan jenis bisa saja dirinya menjadi orang pertama yang di nobatkan sebagai seorang BAKAM yang di amankan.


Atau apabila dirinya yang kebetulan mendapati hal itu di depan matanya, entah apakah yang akan di lakukan, apakah bijak jika menindak hal semacam itu sedangkan dirinya juga tak jauh berbeda, berhubungan dengan lawan jenis.


__ADS_2