Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Rela


__ADS_3

"Mau Ku beri tahu satu hal?".


"Dulu ada seorang Pemuda yang sangat menginginkan Salwa, Tapi harus rela menunggu lama hingga kini, karena dirinya berniat mengajak untuk berpacaran".


"Apakah Kamu hanya berniat untuk mengajaknya berpacaran?".


"Atau semacamnya?".


"Oo tentu nggak, Saya sudah jelas ingin Menikahi Salwa, Saya juga sudah menemui Kakaknya karena baru Saya tau bahwa Salwa sudah tidak lagi memiliki Orang tua".


"Akan Saya pastikan tidak akan berAkhir seperti pemuda Yang Mas ceritakan".


"Selain itu, Salwa juga jelas mengetahui kebenaran Rasa yang Saya Miliki".


"Jadi Mas jangan Khawatir, dan Mas nggak akan menyesal mendukung Saya sebagai Kandidat pendamping Salwa".


"Hhhh".


"Baik lah".(Suna).


"Huft".


"Kenapa hal seperti ini sangat mengacau".


"Buat apa Aku menceritakan hal yang tidak berguna seperti tadi".


"Kalau memang Aku sudah rela kenapa hendak memperingatkan".


"Huft... bahkan berusaha untuk tidak perduli menjadikan diriKu aneh".


"Aaaaaahhhhhgrrr".


"Rasanya Aku ingin tidur sedikit lebih lama setelah ini".(Menyalakan Mobil).


"Khu khu khu".


"Gawat, setelah Tarawih ternyata sangat sepi".


"Hemmm".


"Kita harus hubungin Seseorang Sofi".


"Kalau tidak Kita akan berada di jalan semalaman".


"Saya ingin meminang Salwa untuk menjadi Pendamping Saya".


"....".(Hasan).


"Abi, Memangnya Salwa sudah memutuskan?".


"Entahlah Ummi' ".


"Ana juga kepikiran, untuk mempertemukan Salwa dengan Suna, tapi dengan keadaan yang seperti sekarang ini akan lebih sulit, karena Temannya Salwa itu datang dengan niat yang jelas terlebih dahulu".


"Tapi Bi, Salwa sudah jelas menyukai Suna".


"Mmm iya, Abi paham".


Hasan yang kini sudah berada dalam satu ranjang dengan Khumairah tengah membicarakan Salwa serta Pemuda yang dengan gagahnya mendatangi Rumah untuk memperoleh restu.


Bahkan masih hangat di ingatan, bahwa Suna sudah sempat mengajukan Diri untuk ber Ta'aruf Formulirnya ada pada Hasan.


"Abi, Salwa itu Unik, jangan sampai Abi salah memperlakukannya".


"Iya Ummi' ".


"Mungkin Kita harus segera membicarakan ini dengan Salwa".


"Abi juga khawatir akan itu".


"Abi takut Salwa nggak bahagia kalau Abi yang putuskan".


"...".(Khumairah).

__ADS_1


"Ummi' juga bantu Abi untuk menyakinkan Salwa, bahwasanya pernikahan adalah Ibadah terlama yang harus di lakukan bersama".


"...".(Khumairah).


"Bukan hanya kesenangan Duniawi saja".


"...".(Khumairah).


"Ummi'?".


"MasyaAllah, hhhh dah Bobo".(Merangkul).


"Hmmm, kebetulan lagi".


"...".(Salwa).


"...".(Sofi).


"Tunggu, nada-nada bicara Antum ini kok seperti penjahat".


"Jadi Seorang penjahat memberikan tumpangan?".


Ujar Suna membuat Sofi terdiam.


"Makasih Banyak udah bantuin Kita".


"Maaf ngerepotin".


"Nggak apa Sal, Dah seharusnya Aku ngebantu".


"...".(Salwa).


"O iya, Salwa Aku... nggak akan memaksa Kamu berbicara banyak, Karena mungkin banyak hal yang Kamu lalui di Mesir, ".


"Lalu..".


"Pemuda tadi, sepertinya Dia sangat menginginkan Kamu".


DEG


"Iya Sof?".


Sofi yang di tahan Salwa untuk tidak berbicara apapun itu, kembali terdiam di sebelah Salwa.


"Aku di sini juga belajar beberapa hal semasa menjadi Santri".


"Aku akan sangat berlapang dada, apapun yang akan Kamu lakukan setelah ini".


"....".(Suna menyeka Air mata).


"Uti, why, why why?".


"Uti kenapa nggak bilang aja terus terang kalau Uti juga mencintai Akang Suna?".


"Lalu?".(Salwa).


"Lalu Uti akan bahagia kan?".


"....".(Salwa).


"Sof, ada beberapa hal yang mestinya Suna paham jikalau Uti Mu ini juga Wanita yang begitu berharap dirinya tidak perlu di hadapkan pada berbagai macam Pilihan".


"Uti udah bertekad untuk tidak kembali mengedepankan ego Uti sendiri".


"Uti Mau belajar menjadi seorang Makmum yang baik".


"Uti, Uti suka dengan Akang Suna kan".


"...".(Salwa).


"Sof, Uti hanya ingat segala hal tentang Abi, Beliau sangat berharap Uti bisa seperti Uti Khumairah, karena itu permintaan dari Abi, sekolah, memperkaya Ilmu agama".


"Dan urusan Jodoh Uti hanya akan menunggu waktu yang tepat, calon yang tepat, ".

__ADS_1


"Meski bukan dengan Akang Suna gituh Uti?".


DEG


"Uti nggak tau Sof, mendengar kata-kata Suna tadi, sepertinya ada sesuatu yang sudah berubah".


"Uti, kenapa Uti tidak menanyakan kesanggupan Akang Suna menjadi Imam Uti, Atau seberapa jauh niat Beliau?".


"...".(Salwa).


"Uti, mungkin Beliau juga sudah berdamai karena sudah berkaca dengan umur, atau posisi Uti yang kini sudah di hampiri Mas Herlam".


"Uti, percaya deh, Akang Suna sudah berubah tidak seperti dulu lagi".


"Sof".


"Uti tahu itu, Dia hanya menunggu Uti hingga sekarang".


DEG


"Merelakan Uti itu nggak mudah, apalagi hanya untuk mempermudah Mas Herlam masuk mendekati Uti".


"Tapi karena Beliau sudah berdamai selama ini".


"Hampir lima tahun Uti".


"Aku pikir Beliau berhak menerima hasilnya".


"Huft".


"Kenapa jadi begini".


Lirih Suna duduk di samping Ranjangnya terduduk lemas membayangkan semua hal yang baru saja dirinya alami, kesulitan mengutarakan apapun yang ada di hatinya, waktu yang tak berpihak, serta dirinya kini seolah menuai penyesalan mengajukan Diri untuk berTa'aruf.


"Emang Lu sanggup liat Dia sama yang lain?".


"Bego' ".


"Lu pikir Lu kuat?".


"Oi, lu inget Siapa yang Nulis Formulir itu?".


"Lu juga kan yang berusaha mencari pengirim barang di atas Masjid?".


"Bos, emang Mamah nunggu elu?".


"Nunggu elu buat kasih Dirinya Cucu?".


"Iya sih, Tapi emang Dia peduli ama siapa Lu punya BaBy?".


"Sekarang Apa?".


"Semua orang hampir ninggalin Lu".


"Mamah nggak kunjung Lu bahagiain, Bahkan Salwa, Lu berlagak bisa hidup tanpa Dia".


"....".


"Tapi Lu bisa kok Move on".


"Tapi Umur Lu?".


"Lu udah Rugi nungguin Seseorang, yang Kini, seolah Lu nggak Berharap Dia jadi milik Lu".


"You Lost Everything".


"Khu.. khu khu".(Tersedu-sedu).


Kini Suna menangis dalam diam, dengan segala bisikan hati yang terus terdengar di telinganya, melupakan Waktu, dan segala hal membuat tangisan begitu mengalir menganak sungai, tak terbendung tanpa tau kapan mereda.


Tanpa tau kapan terlepas dari kepelikan suasana yang menyelimutinya.


...

__ADS_1


__ADS_2