
"Alhamdulillah, rata-rata hasil Ujian ku mengalami peningkatan".
"Ng..".(takjub)
"Hummm Awal yang baik".
"Bagus ini Sof..".(mengembalikan selembar kertas laporan nilai hasil Ujian)
"Aku sempat takut karena kesibukan di sini(BAKAM)".
ujar Sofi yang merasakan kali pertama menghadapi masa-masa ujian dengan sederet kewajiban di dalam Organisasi, bahkan minggu-minggu terakhir juga mempersiapkan karya seni untuk esok hari.
"Iya Ukhti, ini usulan kami".
"Ng.. ini masih usulan kan, kan nggak lucu kalau kita mengambil keputusan sepihak".
"Pasti ada yang jauh lebih pantas mengenakan gaun ini".(menyentuh gaun dengan perpaduan dedaunan yang telah berubah menjadi salah satu pusat perhatian)
"Emm sebenarnya Kami sudah mengadakan pemungutan suara tanpa sepengetahuan Ukhti, dan hampir semua orang sepakat untuk memilih ukhti mengenakan gaun tinkerbell ini".
"(...)".(Sofi terdiam)
...
A'udzubillahiminasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim.
"
اَ لْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ٚ
al-hamdu lillaahillaziii angzala 'alaa 'abdihil-kitaaba wa lam yaj'al lahuu 'iwajaa
قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًا ۙ
qoyyimal liyungziro ba`sang syadiidam mil ladun-hu wa yubasysyirol-mu`miniinallaziina ya'maluunash-shoolihaati anna lahum ajron hasanaa
...
"Alhamdulillah, sepertinya Anti sudah kembali menemukan hafalan yang hilang".
"Emm Alhamdulillah Ustadzah".(menahan air mata)
lirih Salwa setelah menyelesaikan laporan hafalan satu surat Al-kahfi dengan sempurna, bahkan memperoleh kemajuan yang pesat setelah sebelumnya sempat merasakan kesedihan karena kehilangan hafalan.
"Alhamdulillah kalau begitu Salwa, Aku juga sangat senang mendengar kembalinya hafalan Kamu, congrat...".(merangkul)
"Iya ustadzah, ini juga berkat do'a Antunn".
ujar Salwa menyikapi kata-kata Ustadzah Fitri setelah menyelesaikan sesi laporan.
"Jadi apa lagi rahasianya selain menambah hafalan di bawah pilar besar masjid?"
"Aku bahkan sempat menduga kalau kamu tidak pernah kembali ke Asrama akhir-akhir ini".
"Hehe yah, seperti yang Ustadzah lihat, Aku hampir kecewa dengan diriku sendiri Dzah".
"Tapi Alhamdulillah semuanya bisa terlewati".(tersenyum)
...
"Ibu, sebelumnya maaf apakah.. Ibu merahasiakan sesuatu kepada Anak ibu mengenai Bapak?".
"Eee.. bukan maksud saya mencampuri keluarga ibu, tapi... beberapa waktu yang lalu perawat Nina memberitahukan ada seorang pemuda menjenguk namun tidak ingin keberadaanya di ketahui oleh ibu".
DEG
"Ng... iya dok?"
"Em sebenarnya bukan ranah Saya membicarakan hal ini, tapi... mungkin ada hal yang dapat membuahkan perubahan dengan hadirnya seorang anak".
"Apalagi melihat keadaan seorang Bapak terbaring lemah Saya pikir akan lebih baik bila beliau lebih dekat dengan keluarganya di waktu-waktu seperti ini".
"(...)".(terdiam dengan air mata yang siap mengalir)
...
Hari berganti, semua persiapan menuju pekan olahraga di sambut meriah dengan akan di selenggarakannya pertandingan pencak silat yang mempertemukan Salman dan Fattah serta empat orang anggota BAKAM lainya termasuk Luthfi yang bertemu dengan Ikhsannuddin di permulaan turnamen.
"Wah... tak terasa .. sudah libur pertengahan semester!!..".
"Aku sudah lama menunggu masa-masa ini, Aku mau cuti sementara".
"Hemmm senangnya..".(Putri)
"Hey, setidaknya jangan sekarang, karena ba'da isya adalah pertunjukan Acara milik Ukhti Putri".
ujar Zahira yang pagi ini juga menyempatkan menyambangi Dapur.
__ADS_1
"Iya, pokoknya malam ini Ukhti Zahira maupun Ukhti Putri harus menyempatkan diri ke Tempat tamu, Aku akan meminta Mamah menyiapkan hidangan untuk kita".(tersenyum)
"mmmm".(Putri)
"Ukhti Lailah sekalian yah,"(Zahira)
"Iya, Ukhti Lailah juga".(Sofi)
"(...)".(zahira tersenyum)
"Liburan, sebentar lagi...".(Berbahagia)
...
"Shabahul Khair...".
"Shobahunnur..".(tersenyum)
"Berangkat bareng?".
"(...)"(zahira)
"Emm Aku mempunyai sedikit Rezeki, gimana kalau pagi ini Kita ngopi sebentar".
"Karena Kuliah hari ini di mulai jam setengah sembilan ada banyak waktu luang".
"Mmm, Ok sepertinya Kita juga jarang banget bersama-sama, Aku ikut".(tersenyum)
"Alhamdulillah, Yuk!"(merangkul)
DI KAFE
"Emm, mas, Coklat matcha nya dua , sama kuenya dua juga yah".
lirih Lailah yang memesan semuanya atas keinginannya sendiri setelah zahira menyatakan ikut dengan apa yang akan di pesan Ukhti Lailah.
"Mmm, sepertinya kalau kita berdua bersama seperti ini akan lebih aman dari pada tiap hari bertemu dengan lawan jenis dari alam sebelah ya kan?".
DEG...
"(...)".(Apa mungkin)
Gumam Zahira yang mengira Ukhti lailah di tugaskan untuk mengawasinya atau malah sudah di tugasi mengawasinya sejak lama.
"Aku sudah lama tidak mempunyai teman berangkat bareng ke Kampus".
"Emm InsyaAllah, awal tahun depan Sofi akan segera lulus, dan melanjutkan Kuliah di kampus kita".
"Wah, beneran? masyaAllah, seneng banget dengernya".
"Emmm Kalau Kamu sudah menentukan pilihan?"
"About?"
"Emm setelah kuliah, melanjutkan Study atau mau berhidmat mengabdi di Pondok?".
"Ng ... entahlah Ukhti, Aku pun masih bimbang, kadang Aku berfikir apakah Aku pantas hhh".(tersenyum)
"Permisi"(Kang triss membawa pesanan)
"(...)"(Zahira dan Lailah tersenyum)
"Emmm menurutku kamu malah yang paling cocok untuk itu, ups maaf kalau mengganggu".
"Sebenarnya sebagai ketua Aku pun melihat potensi pemimpin serta Sosok Ustadzah yang akan banyak di sukai oleh teman-teman".
"Ng ... entahlah".(meraih coklat matcha)
"Kalau Ukhti sendiri?"
"Apa yang akan Ukhti lakukan?".
Lirih Zahira menanyakan kembali pertanyaan Lailah di awal.
"Em... Sebenarnya, Aku sempat merasa begitu bahagia melihat Ustadzah Khumai dan ingin mengikuti jejaknya".
"Sayangnya...".
"Emmm? Sayangnya?"
(Zahira penasaran)
"Sayangnya, Selain Ketua Bakam, Aku belum menemukan Sosok yang membuat diriku begitu serius untuk mengabdikan sisa hidupku di sini".
DEG
"(Ketua BAKAM? apa jangan-jangan.. Fattah?)"
__ADS_1
"(Lalu apa artinya semua yang telah di katakan Uti lailah jika dirinya sempat tidak mempunyai alasan untuk berkunjung ke Kafe ini?)".
"Ah, perihal Jodoh tiada seorangpun hamba yang tau kan, mungkin saja Aku akan berjodoh dengan dengan siapapun itu yang sudah di tentukan Allah di luar Pondok".
"Mmm, iya, memang seperti itu, sementara ini harusnya akan lebih baik memperbaiki diri".
"Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu Aku sempat di pergoki Ustadz Sofwan sedang berbincang dengan salah satu Santri di sini".
"Ups, iya?"
"Ng, Iya, entah apa yang akan terjadi jika saja Ustadz Sofwan melaporkan kepada Kiayi".
"Huft..".
"Emmm sejauh ini semuanya baik-baik saja".
"(...)".(menggerakkan kedua alis lesu)
Zahira dan Lailah menghabiskan waktu senggang sebelum Kuliah di mulai dengan berbincang banyak hal bersama, bahkan keduanya sudah memutuskan untuk berangkat kuliah bersama, meski jam Kuliah Lailah yang selama ini sedikit lebih santai karena hampir semua mata kuliah miliknya di mulai pada jam sembilan pagi.
Sore hari di Pondok, kini sebuah tenda dengan panggung setinggi satu meter telah berdiri di lapangan Pondok putri, membelakangi masjid dan tembok pembatas Pondok Putra, bahkan semua hal sudah di persiapkan sedari pagi hari, bahkan ada Piano elektrik yang sempat di mainkan Putri membuat hampir semua orang yang mengetahui akan ada acara besar memandangi Putri yang memainkan sebuah lagu River flows in you, hingga seorang Ustadzah menegur dirinya untuk mengecilkan suara.
Sementara itu di seberang tembok pembatas para santri putra telah menyiapkan gelanggang di depan masjid untuk melaksanakan turnamen pencak silat.
"Hemmm Aku tidak percaya bila harus bertemu antum di sini".
"Di awal-awal turnamen hhh". lirih Salman dengan sedikit terkekeh.
"Saya juga merasa terhormat berhadapan dengan antum, dan saya berjanji tidak akan mempermudah jalanya pertandingan".
ujar Fattah pada Salman di sesi latihan pagi sebelum berangkat Kuliah.
"Ok... bersiap!!"(Ustadz Oki)
"Mulai".
Awal pertandingan di buka dengan pertemuan ketua bakam yang mengundurkan dari posisi keorganisasian dengan seorang anggota BAKAM
yang di istirahatkan.
Awal-awal pertandingan penguasaan serangan seluruhnya di pegang oleh Fattah, sedangkan Salman terlihat masih menahan diri dan cenderung memancing Fattah menunjukkan semua kemampuan yang di milikinya.
"Emm kenapa Kang salman hanya menghindar-hindar saja sedari tadi".
"Itulah Rif, Kamu masih belum mengerti Salman masih mempelajari pergerakan fattah, tunggu saja di Ronde ke dua".
Syuth... PLAK!!!!(tendangan Fattah bersarang di helm merah Salman)
"Hiya pok".(pukulan masuk mengenai pengaman tubuh Fattah).
Hanya beberapa pukulan serta tendangan fatal yang berhasil bersarang di kedua belah pihak hingga akhir dari Ronde pertama, terlihat raut wajah kelelahan tampak di wajah fattah, sedangkan Raut wajah tegang di tunjukan oleh Salman.
(Kuakui, memang serangan dirinya(Fattah)begitu sulit untuk ku patahkan dan mengulur waktu untuk mengabiskan tenaganya kurasa akan sia-sia, sial).
...
"Pah, Mamah kangen... banget sama papah, khuk ukhuk ukhuk".(menangis tersedu-sedu)
"Pah...?"
Lirih Sumi yang entah bagaimana kini dalam keadaan memeluk Suaminya, namun tidak terdengar satu jawaban apapun dari lisan suami yang sedang ia peluk.
"Mmm papah?"(melepas pelukan)
"Papah?"
"Papah?"
"Papah!!!".
"Allahu Akbar..".
Lirih Sumi tersadar dari tidur nya yang bersamaan dengan perawat yang sedang mengecek keadaan suaminya tersebut.
"Ibu, ibu nggak apa-apa?"
"Tadi ibu mengigau, dan tidak bisa di bangunkan".
"Mmm iya, sus, nggak apa-apa".
"Makasih banyak Sus".
"(...)"(suster tersenyum)
Setelah malam menjelang, kini pertarungan yang di menangkan Salman telah menjadi sebuah cerita di mana kemenangan tipis karena pada akhirnya tidak ada gerakan pamungkas tersaji, dan serangan-serangan mematikan pun hanya di tunjukkan Fattah dengan ganasnya namun dengan hal itu, fattah membayar mahal karena kehilangan banyak point karena serangan Salman banyak mengenai tepat di sasaran.
sedangkan Pemuda masjid malam ini di kejutkan dengan beberapa BAKAM yang berpatroli bersamaan, dan timbulnya pos jaga baru tepat di tengah-tengah lapangan, bahkan mereka sempat di curigai akan melancarkan hal yang tidak-tidak oleh Petugas jaga malam tersebut.
__ADS_1