
"Huft".(Fattah)
"Pak Tua!!".
"Kang Suna!! Antum di mana Kang!?".
"Kang Suna!!!".
"Ya Allah".
"Kang!!"
"Balik Kang!!".
Arif yang baru menyadari keanehan demi keanehan kini seolah olah memojokkan dirinya setelah sebelumnya sempat mendorong Sosok yang mirip Suna kedalam jurang.
"Ya Allah".
"Astaghfirullah".
"Kang.. maaf".(Arif syok).
"Huft".
"Rif.. Kamu yakin tidak mendorong Suna ke jurang waktu itu".
Ujar Salman yang kini di selimuti amarah di tengah kebuntuan di larut malam, hingga mencengkram lengan Arif yang terduduk lemas.
Di tengah-tengah hutan dengan udara yang tidak ramah serta angin yang bertiup sedikit kencang mereka bertiga kini berjalan ke arah tenda berharap Suna sudah kembali.
"Kang Suna!!!".
"Kang Suna!!!"
"Kang!!!"
Salman yang begitu merasa kehilangan akan Suna kini begitu tidak karuan mencari sosok sahabat karibnya tersebut.
"Kang.. kalau akang di sekitar sini".
"Tolong beri tanda kang".
"Ya Allah".
"Berikan Kami kemampuan untuk menemukan Suna".
"Eh Kang... ".
"Jangan main-main kang".
"Kita harus temukan Kang Suna segera!!!".
"Beliau pasti tersesat!!!".
"Dan... dan.. dan Kita pasti belum terlambat!!!".
Amarah Salman semakin meluap mendengar Fattah seolah pasrah dengan keadaan yang mereka alami.
"Saya nggak akan pulang sebelum menemukan Kang Suna dari sini...Camkan!!!".
"Iya iya".(Melepas cengkraman Salman pada kerah baju)
"Loh kalian ngapain di sini?".
DEG.
Sontak keheningan terjadi sejenak setelah suara Suna terdengar di kegelapan malam kala itu.
Sebuah pertanyaan yang kurang tepat seperti yang diharapkan di benak ketiga orang tersebut, yang mengira pertemuan di antara mereka akan di awali dengan permintaan tolong atau maaf dari Suna yang menghilang hingga larut malam.
__ADS_1
Alih-alih menanggapi kini mereka hanya mencari sosok Suna seketika.
Dengan mengarahkan Senter, berdirilah sosok Suna di sebelah pohon besar dengan pakaian lusuh yang mereka cari.
Namun pakaian yang di kenakan Suna seperti seseorang yang sudah berkubang dengan tanah.
"Kang, Kang Suna kang".(Arif).
"...".(Salman mendekati).
"Alhamdulillah".
Lirih Fattah menyusul Salman yang sudah lebih dulu menghampiri Suna tanpa berkata-kata apapun.
"Ayo man, Pulang".
"Ke mana Kang?".
(Allahulaa ilaha illa hu).
"Pulang Man".
"Hhhh".
"Kang!".
"Jangan mendekat Kang".
Ujar Salman memberi perintah Fattah di belakangnya.
"Man ayo pulang".
"Iya Kang".
"Kemana?".(Tegas)
"Kknapa kok lusuh begini?".
Salman yang merasakan keanehan pada sosok di hadapannya tersebut makin menyadari dirinya bukanlah Suna yang Salman kenal.
Dengan Terus membaca Ayat Kursi Salman mendekati sosok tersebut yang seolah menjauhi dirinya.
"Man!!".(Siapa!!)
"Man anta!!!".(Salman yang geram kini menunjuk sosok tersebut).
"Bismillahilladzi..La.. yadurru ma'asmihi syai'un fil Ardi wala fissamaa'i wahuassami'ul alim".
"A'udzubillahi minassyaitonirrajim".
Lirih Salman.
Sontak sosok tersebut menghilang setelah seolah menangis karena Salman.
"Ya Allah".
"Allahula ilaha illahua..".
Melihat hal tersebut Fattah sontak membaca Ayat Kursi di susul Arif yang merasakan tubuhnya kaku setelah menyaksikan sosok Suna di hadapannya adalah sesosok Jin.
"Celaka".
"Apa mungkin".(Fattah).
"Setan".
"Beraninya mengganggu sampai ke sini".(Salman).
"Kang, lebih baik Kita lanjutkan pencarian esok hari".
__ADS_1
"Tapi kang!".(salman).
"Kang, Sekarang Sudah larut".
"Saya takut terjadi hal yang lebih kacau".
"Besok kita cari bantuan".
"Kang".(Salaman).
"Dengar Kang".
"Bukan tidak mungkin malah Kita yang akan celaka".
"Dan Akang Suna masih baik-baik saja".
"Tapi kang".
"kalau tidak!!".
"Aku yakin Akang Suna mungkin saja bisa temukan sekarang, dan bisa kita bantu Kang!!".(Salman).
"..."(Fattah).
Di tengah tengah kekacauan hembusan angin makin kencang dan kilatan Petir menerangi gelapnya hutan lebat.
"Man.. ayo pulang".
"Hihihihi".
"Maaaannn".
"Kurang ajar".(Salman).
"Kang Salman".
"Mungkin memang Kita sudah terlalu jauh, dan Kang Suna hanya buang air dan malah berada di perkemahan".
Lirih Fattah meraih pundak Salman yang sedang mencari sosok wanita yang sedang meledeknya.
Sementara itu di perkemahan, Keempat wanita sedang menunggu di Pos permanen, sebuah bangunan rumah kecil yang dapat mereka pakai untuk bermalam kali ini.
Tok tok tok..
"Uti..".(Sofi).
"...".
Putri membalas pelukan Sofi yang ketakutan, sedangkan Zahira dan Lailah masih merasakan tegang yang begitu memuncak dikala pintu selalu di ketuk tanpa adanya suara.
"Ingat.. jangan bukakan siapapun selama Kami belum kembali".
"E' Suna?".(Putri)
"Biarkan di luar sampai kami kembali, karena beberapa peralatan ada diluar(tenda)".(Fattah).
Dor dor dor
"Ini Aku ".
"Suna".
Lirih Putri di susul gestur Lailah meminta untuk tidak bersuara.
"Hey kalian di dalam kan".
Dor dor dor.
Dor dor dor.
__ADS_1
Dor dor dor.