Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Hampa


__ADS_3

Seminggu berlalu Suna berada di rumah dengan segala hal yang ia rasa tidak berubah, setiap pagi dirinya terlambat menemui sosok Ayahnya yang sibuk bekerja, sedangkan malam hari selalu kembali dengan kelelahan karena bekerja di Kafe.


"Nggak kerja Den?"


"Nggak Bi' ".


"Mamah dah pergi lagi?"


"(...)".


"Kali ini Mamah benar-benar membuat Aku curiga".


"Emm Den, Ibu bukanlah seseorang yang seperti itu".


"O nggak Bi' Saya juga tahu tentang itu, tapi Saya juga tidak bisa menutupi kecurigaan Saya, Apakah ada hal yang terjadi antara papah dan mamah?".


"(...)".


"Ah ya sudah lah, nanti biar Saya sendiri yang menanyakan".


ujar Suna seraya beranjak dari meja makan.


...


"Heh Ketua BAKAM hari ini Lu piket kamar!"


"Saya dua hari yang lalu sudah".


"Eh ngelawan lu ya?"


lirih Luqman yang tidak henti-hentinya mengusik ketenangan Fattah bahkan dalam seminggu ini Fattah selalu di bayang-bayangi dirinya hingga terasa tidak nyaman.


"Ketua BAKAM apanya santri pelanggar lebih tepat".


"(...)" Fattah menggeleng seraya menuju kamar mandi untuk bersiap menuju Kampus.


"Uti Zahira, ada apa?"


"Em?"


"Kelihatanya akhir-akhir ini Uti lebih banyak melamun?"


"Apa karena banyak tugas?"


tanya Sofi kepada Sahabat karibnya tersebut.


"Ah enggak Sof, Uti hanya sedang ada sedikit masalah"(tersenyum)


"Eng? masalah apa nih Uti?"


"Yah, Kampus tugas, dan lain-lain"(tersenyum)


"Wah Uti, Uti harus semangat... Uti nggak boleh lemah begini, Aku belum Kuliah ntar kalo dah Kuliah kan Aku bisa bantu-bantu Uti".(merangkul)


"Ok, lupakan lah, lebih baik Kita bergegas Sarapan dan segera berangkat ke kelas".(beranjak)


"Iya, sekalian sama Uti Putri".


"Ya. boleh., dah lama nggak ngobrol sama beliau".


Di DAPUR


"Jadi begitu.. kira-kira di bolehin nggak yah?".


singkat Putri menceritakan rencana dirinya untuk mengadakan pentas Kreativitas Busana antar Santriwati kepada Zahira dan Sofi.


"Emm Aku Setuju banget sih Uti, jadi kita juga punya kegiatan selain yang sudah kita jalani".


"Jadi menurutmu gimana nih Ra?"


"Entahlah, Sepertinya akan sangat sulit jika ide ini hanya di antara kita ataupun BAKAM , setidaknya kita perlu Ustadzah Pembimbing agar persiapannya dapat kita lakukan".


"Hemm benar juga, selain itu tidak mudah berbicara dengan Kiayi sedangkan Rumah beliau posisi ruang tamunya di seberang tembok pembatas".


(Sofi sesaat sebelum memasukan makanan ke dalam mulutnya)


"Sepertinya Ustadzah Khumai bisa membantu kita".(Zahira)


"Nah iya coba nanti Aku bicarakan pada beliau, kebetulan beliau Wali kelas ku".(Sofi tersenyum)


"Alhamdulillah".(Putri)


"(...)"(Zahira tersenyum)

__ADS_1


...


[Semalaman kamu sudah berusaha keras, aku minta kamu juga seperti itu hari ini Salwa... semangat!!!]


"Salwa ayo.. segera menuju Masjid"


"O... iya Uti Sebentar" (Memasukkan Diary)


Pagi hari di pondok Tahfidz menjadi pagi yang sangat sibuk karena semua orang berkumpul di Masjid dengan segala hal yang sudah di persiapkan untuk menghafal hingga waktu sebelum Dzuhur menjelang.


Ayat demi ayat mereka hafal hingga berlembar-lembar setiap paginya untuk menamatkan tiga puluh juz dari Al-Qur'an bermimpi untuk mempersembahkan mahkota kepada kedua kedua orang tua di akhirat kelak.


Di sore harinya mereka berolahraga setelah dua jam beristirahat di siang hari sebagian mereka ada yang berlatih panahan, dan juga sekedar bermain badminton di depan gedung kamar.


Sedangkan di waktu Maghrib mereka mengulang hafalan serta bersiap untuk melapor pada Ustadzah pembimbing atas hafalan sehari, syarat untuk bisa tidur dengan tenang. karena besok akan terus berlomba dengan sahabat sekaligus pesaing dalam kecepatan hafalan.


"Alhamdulillah, Salwa sepertinya hafalan Kamu tidak berubah, bahkan setelah kembali dari liburan".


"alhamdulillah Ustadzah".


"Baiklah Ustadzah, Saya pamit ingin segera kembali ke kamar".


"Iya Salwa istirahat segera agar besok memperoleh hasil maksimal".


"Aamiin".(Meraih dan mencium tangan Ustadzah)


"Hemm Ustadzah Fitri masih banyak menangani penghafal".


lirih Salwa yang kembali sedikit lebih cepat dari teman-teman penghafal yang lain.


[Alhamdulillah hari ini semua kegiatan selesai seperti hari-hari yang lalu, Terima kasih sudah berjuang, istirahatlah dan kembali besok pagi,


Sofi.. Zahira.. kalian juga semangat ]


"(...)"(Tersenyum)


[Untuk Uti Putri, Kamu hebat berjuang hingga sampai saat ini, Semangat ya!!]


"Setelah aku ingat-ingat ia memang secantik itu setelah hijab menutupi semua helai rambutnya".


"Uti Salwa?".


"Na'am Uti saya segera tidur".


"Iya, cepat ya, agar tidak mengganggu yang lain".


...


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumussalam".


"Mamah dah Pulang Bi'?".


"Belom den".


"Papah?"


"Papah belon juga?"


"(...)".


"Sepertinya kepulangan diriku sama saja halnya Aku berada di Pondok, tidak bersama Orang tua".


"(...)".


"Bibi tau mamah pergi kemana?"


"Em anu".


"Bibi jangan menyembunyikan apapun!"


ujar Suna yang merasakan puncak kehampaan dalam hidupnya dikala ia seolah benar-benar tidak akan pernah bertemu kedua Orang tuanya.


"Den.. sebenarnya Papah Den Suna mengalami kecelakaan".


Sontak kedua mata Suna mengucurkan Air mata begitu derasnya bahkan setelah iya menyangkal dan mempertanyakan kebenaran hal yang di katakan pembantunya tersebut.


Dengan perasaan hati yang hancur mendengar kabar yang sudah lama di rahasiakan ibu dan pembantunya Suna pun memacu motor dengan kencangnya menuju Rumah Sakit.


"Den... Ibu sangat tidak ingin mengganggu aden dalam menuntut Ilmu di Pondok bahkan beliaulah yang ingin merahasiakan musibah yang menimpa Ayah aden Suna agar Den Suna bisa tenang belajar di Pondok".


"Ibu Sangat tertekan Den".

__ADS_1


"Sus pasien di dalam bagaimana keadaanya?".


"Maaf anda kerabatnya? Saya tidak boleh sembarangan me(nerangkan kondisi pasien )


"Saya Anaknya Sus"


Lirih Suna dengan air mata mengalir dengan derasnya.


"A' anaknya?"


"(...)".


"Ayah anda mengalami koma, sebaiknya anda menengok dan memberikan sentuhan anak pada beliau, mungkin akan dapat mempercepat kepulihan beliau".


"Ibu saya berkunjung jam berapa?".


"Ibu anda hampir setiap hari mendampingi beliau".


"Nama anda siapa? jika benar anda anak dari ibu Sumi dan suaminya maka saya akan konfirmasikan kepada Ibu anda".


"Nama saya Suna Sus tapi tolong jangan beri tahu pada Ibu saya jika Saya berkunjung".


"Maaf?"


"Tolong Suster jangan beri tahu, tolong suster".


"(...)"


Suster tersebut langsung meninggalkan Suna yang masih memandangi kedua sosok orang yang paling berjasa dalam hidupnya, kini masih menyembunyikan hal terpahit yang menimpa mereka hanya untuk dirinya agar dapat menyelesaikan belajar ilmu agama, bahkan sesak di hati Suna makin menjadi di kala kepulangannya ibadah wajib yang selalu di kerjakan


selalu tidak lengkap tiap harinya.


"Mamah".(terisak)


"Pah...".


...


"Suna!!"


"Suna!!, bangun nak!"


"Sarapan sudah siap!"


"Iya mah!"


"Sebentar!"(memegangi gagang pintu)


"Emmm tumben udah pakai baju rapih tapi tetep lambat turun nya?"


"Hhh"(memeluk)


"Eh eh eh??"


"Mamah pasti capek banget ya...".


"Emmm kamu kenapa to?"


"Iya mamah pasti capek banget ngurusin rumah, Ayah, Suna, makasih banyak ya mah, maaf Suna masih nyusahin, masih belum bisa kasih cucu ke mamah".


(Suna yang terkekeh menutupi sesak di dadanya karena berbohong seolah tidak taumenau perihal Ayahnya yang koma).


"Sudah Suna, Jangan hiraukan Ibumu ini, fokuslah pada apa yang sudah kamu mulai, lalu selesaikan, Mamah Papah masih terlampau muda kok untuk menimang cucu, kamu jangan khawatir mamah dan papah pasti punya masa-masa itu".


"Yang penting kamu sekarang sarapan yah".


"Ayah kamu ...


"Ayah udah duluan, memang Ayah selalu begitu ya Mah giat banget cari uang hemmm hhh"


Lirih Suna melepas pelukan pada mamahnya dan menduduki kursi di meja makan.


"Hemmm iya, jangan hiraukan Ayahmu doakan saja".(Tersenyum)


"Iya mah"


ujar Suna seraya menyeka air mata yang terlanjur menganaksungai.


"Besok Aku akan kembali ke Pondok, katakan pada Ayah agar menjenguk jika ada waktu luang".


Deg


"Iya nanti Mamah dan papah akan menjenguk kamu kok Suna, Mamah janji".

__ADS_1


air mata Sumi mengalir tanpa bisa ia hentikan.


Pagi itu Suna tidak pergi kemana pun dan mengurung diri di dalam kamar hingga iya kembali tidur, dirinya tidak pernah membayangkan akan mengalami kehampaan seperti yang ia rasakan sekarang, bahkan Asisten rumahnya pun menitihkan Air mata jika teringat kejadian Pagi ini di mana kedua insan saling menutupi kebohongan satu sama lain.


__ADS_2