
Muhammad dai ikram Fajar Husain ibnu abdullah.
"Uti Putri".
"Ibu".
"Kami di Sini sebagai penyambung tali silaturahmi antara Ustadz Husain, dan keluarga".
"Kami ingin sekali meenjadikan beliau beliau ini sebagai kader penerus kepengurusan Pondok".
"Untuk itu, Kami merasa sangat bahagia ketika akhirnya Beliau beliau ini bersedia mengajukan diri".
"O' ".
"Ini... tadinya Putri yang mengajukan Ustadz?".
DEG
"Mmm, maaf ibu?".
"Mamah...".
"Ustadz, Maafkan Ibu Saya".
"Semuanya sudah Kami sepakati sebelumnya".
"Mamah, pliss".(Lirih Putri).
"Emm sebenarnya Kami juga sudah mewanti-wanti kejadian seperti hal ini".
"...".(Putri merasa sangat malu).
"Oleh karena itulah, Kami hendak berbincang terlebih dahulu sebelum kita bertemu dengan beliau, Calon menantu Ibu".
Lirih Ustadz Oki yang mewakili Hasan dalam menjadi penyambung silaturahmi.
"Ustadz, Saya sebenarnya Sangat khawatir".
"Bila saja Anak Saya ini, hanya bersemangat di awal saja".
"Dan mengikuti Acara ini karena sedang marak dan hanya mengikuti tren semata".
"Mamah..".(Lirih).
"Mamah, biarkan Putri menentukan jalan hidupnya".
Lirih Ayah Putri mendekap wanita parubaya yang kini merasakan sesuatu hal akan hilang dengan Menikahnya Putri.
"InsyaAllah, Ibu, Saya sangat memahami perasaan Ibu".
"Dan apabila hal ini perlu di tunda ataupun di batalkan itu juga tidak akan mengubah cara pandang Kami kepada Saudari Putri".
"Mamah".
"Putri Masih anak Mamah, dan, dan Putri nggak akan bermukim sepanjang tahun, Putri juga akan ada waktu mengunjungi Mamah".(Memeluk).
"Putri..., Mamah.. hix hix hix, Mamah nggak mau kehilangan Kamu".
__ADS_1
Akhirnya beberapa saat keluarga kecil tersebut membuat semua orang yang berada di dalam ruang pertemuan yang di langsungkan secara tertutup itu sedikit merasakan keharuan di antara mereka, karena menyaksikan Putri dan sang Ibu histeris.
Pertemuan di awali oleh keluarga Ustadz Oki dan Istri yang menjadi perwakilan Kiayi dan Pondok untuk menyampaikan Pesan dan tujuan di adakan nya Ta'aruf belum mencapai setengah dari proses yang harus di lalui, karena belum sempat di pertemukan dengan Calon keluarga dari pihak Laki-laki.
"Mamah".
"...".(Mengangguk).
"Yah, bagaimanapun, Putri juga berhak untuk membatalkan kan Ustadz?".
Dengan Menyeka air mata Ibunda Putri menguatkan hatinya menuruti keinginan sang Anak.
"Iya, Ibu, Karena dalam proses Ta'aruf ini, intinya adalah Awal perkenalan, Ibu maupun Ukhti Putri bisa membatalkan jika tidak berkenan".
"Kami, sebagai perwakilan Kiayi, dan Pondok berpesan kepada Ibu maupun Ukhti Putri bilamana hal itu terjadi, untuk tidak di besar-besarkan, dan tidak di perbincangkan secara luas".
"...".(Ibu Putri).
"Memangnya Siapa Calonnya Ustadz?".
Ayah Putri tidak bisa lebih lama untuk memendam perasaan ingin tahu, setelah Sang Istri sudah merelakan keinginan Putri.
Pada Awalnya sang Istri hendak menghentikan proses perkenalan tanpa ingin mengetahui lebih lanjut siapa dan seperti apa calon menantu yang hendak di pertemukan kepada mereka.
"Ini.., Biodata beliau".
"Beliau seorang Seniman, kelahiran Jogjakarta, mempunyai Hobby olahraga Basket".
"Dan untuk Pendidikannya Beliau sedang menempuh pendidikan S2 Sastra Bahasa Arab".
"Nama Beliau, ".
DEG..
(Sepertinya nama itu tidak asing)(Putri).
"Beliau Sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu mengajar di Rumah Al-qur'an di Luar Pondok".
"Baitul qur'an?".(Putri).
"Ng?".
"Ukhti Tau Baitul qur'an?".(Ustadz Oki).
Sebenarnya ada banyak tempat yang pernah Putri singgahi sebelumnya, tapi tempat tersebut tidak pernah terlupa dari ingatan, karena dari sanalah dirinya sempat ber do'a untuk berubah, hanya do'a sekilas selepas Sholat Dzuhur.
"Ah, ituh".
"Saya hanya menebak saja Ustadz".
"Mungkin tempat yang Ustadz maksud berbeda".
"Oo".
"Nanti Kita akan segera pastikan".
"Karena insyaAllah, Beliau sudah siap sekarang".(Melihat jam tangan).
__ADS_1
Muhammad dai ikram Fajar Husain ibnu abdullah.
Seorang pengajar Al-qur'an, tinggi 176 berat badan proporsional kulit Putih, hidung mancung serta memiliki Alis khas timur tengah, karena sang Ayah.
Sedangkan Rambut mewarisi sang ibu sedikit bergelombang, karena Sang ayah berambut lurus.
Dengan rambut gondrongnya kini dirinya menggandeng Kedua orang tua menuju Ruang pertemuan, yang berada di Pondok Putri, kedatanganya yang hampir tidak pernah lebih dari Sepuluh kali dalam sebulan untuk mengajar di Pondok Putra maupun Putri, sukses membuat dirinya menjadi pusat perbincangan kali ini.
Di jam Sembilan Kala semua orang tengah berusaha mempertahankan konsentrasi di akhir-akhir jam pelajaran ke Dua.
"Eh, psst, Itu...".(Menujuk ke halaman).
"Mmm, Ustadz Husain".
"Aku belum pernah lihat".
"Nimtunn".(Kamu tidur).
"Mata?".(Kapan).
"Daaaiman,(Selalu) hihi".
"Hmmm".
...
"Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh".
"Ustadz".
"MasyaAllah".
"Sehat?".(Ustadz Oki).
"Alhamdulillah".
"Bapak, Ibu".(bersalaman).
"Kaifa?".(Bagaimana?).
"Emm ,we have a little problem".
"Um, di tolak yah?".(Husain).
"Ka'?".
Ibunda ustadz Husain sontak bereaksi setelah mendengar celetukan Ustadz Husain.
...
"Alhamdulillah".
"Nama Saya".
Muhammad dai ikram Fajar Husain ibnu abdullah
__ADS_1
"...".(Keluarga Putri terdiam).