
"Alhamdulillah".
"Tarawih?".
"Uti... ".
"Lagi halangan".
"Ooo".
"Kalau begitu Kita berangkat berdua saja Sof".
"Iya".
Salwa dan Sofi berangkat menuju Masjid yang mayoritas adalah santri Putra, yang kebetulan di minta menetap untuk beberapa hari.
"Mah, Suna mau ke Kafe sebentar untuk mengecek keadaan Kafe".
"Oo iya".
"Kunci?".
"Ada dai Atas lemari Suna, ".
"Deket Tv".
"O iya, ada Polisi yang dateng?".
"Emmm, belum Suna".
"Belum ketemu juga ya?".
"Hem, mungkin rejekinya Mereka deh Mah".
"Hmmmm, Kamu jadi kesusahan untuk kemana-mana deh".
"Nggak Apa-apa Mah".
....
"Dari mana Aku harus memulai?".
"Sepertinya Aku harus menemui pengantin baru itu".
"Aku takut Mamah kenapa-napa".
Herlina adik Rudi sedang mencari-cari keberadaan Suna yang beberapa saat lalu di ludahi oleh ibunya , karena kenangan itu sangat mengganggu di benaknya, apalagi sikap sang Ibu sangat tidak terima meski di perlakukan dengan begitu lembutnya oleh pemuda yang bahkan tidak di kenalnya.
"Aku mau Kamu menikahi Ku".
"Iya Salwa?".(Suna)
Salwa membayangkan beberapa kata untuk di sampaikan kepada Suna yang sudah sekian lama di diam kan olehnya.
"Aku mau Kita bicarakan perihal hubungan Kita".
(Tidak-tidak tidak ada hubungan semacam itu).
"Jadi, memangnya sejauh mana niat baikMu?".
"Suna, Aku mau Kamu".
(....)(Salwa termenung).
"Suna Hafal Ar-rahman?".
"Al-akh Suna".
"Kang Suna".
(Menggeleng)
"Sepertinya Aku belum terbiasa dengan Suasana ini".
Ujar Sofi yang menatap sebuah televisi kecil berkaca cembung di dalam kamar Salwa.
__ADS_1
"Sofi".
"Mmm?".
"Haruskah Aku menanyakannya?".
"Apa?".
"Perasaanya?".
"Buat apa?".
"Kan Ukhti sangat tau perasaanya?".
"Tapi apakah selama ini di dirinya hanya ada Aku?".
"Emm, menurutKu jelas iya sih Uti".
"....".(Salwa manyun)
"Itulah sebabnya Beliau berada di Pondok bukan?".
"Hmmmm".(Salwa).
"Uti, haus, pengen beli cemilan".
"Hemmm, udah jam segini".(Salwa).
...
"Ekhem!!!".(Salwa).
"Eh, Kalian".
"Ada yang bisa di bantu?".
"Mas, makasih banyak yah, atas waktunya".
"Saya akan kembali mampir jika ada waktu".
"Emmm diem aja?"
Ujar Suna setelah beberapa saat mereka bertiga di dalam ruangan yang sangat luas dan sedikit berdebu.
"Kami tadi tidak berduaan kok, di sini juga ada Mang Triss".
"Kami berniat menengok untuk membersihkan beberapa barang".
"Emm Kami bukan ingin mendengar itu sih sebenarnya".
(Salwa).
"Emmm, betul, Kami mau...".
"Mau capucino".
"Oh hhhh, iya di tunggu ya".
"Hfyuh".
Salwa dan Sofi menghela nafas panjang setelah dapat mengalihkan firasat Suna bahwa Mereka datang karena mendapati Suna bersama dengan wanita barusan.
"Ini uangnya".
"Mmmm?"
"Uang, Al'akh kan jualan".
"Kami akan kembali".(Salwa).
"Kenapa nggak tinggal sedikit lebih lama?".
"....".(Salwa dan Sofi).
"Kita dah lama banget nggak berbincang".
__ADS_1
"Terkahir kali Kamu memberikanKu Buku setelah saat itu Kita nggak pernah bicara panjang lebar".
"Hey".
"Jangan lupakan, Aku ada diantara Kalian loh".
"Hhhh, Sofi".
"Gimana puasanya Hari ini?".
"Lancar?".
"Mmm lancar Kang, Hehe".
"Kang Suna, Lantai atas sudah bersih".
"Iya Mang, sini, ngopi dulu".
Ujar Suna berniat menjamu Mang Tris dengan beberapa cemilan yang sudah dirinya siapkan, karena beliau bersedia meluangkan waktunya untuk menengok Kafe Kita.
"Jadi.., Kamu mau apa setelah ini?".
"Aku akan mengajar di Pondok".
"Oo,".
"Al'akh?(Akang)".
"Salwa, Aku sudah mengajukan surat untuk ber Ta'aruf".
"Mmm, memangnya Surat itu sudah jelas?".
"Akang tau dengan segala konsekuensinya?".
"Iya,".
"Pengajuan itu kan nggak mesti Kang".
"Lalu?".(Suna).
"Lalu, Akang mau menunggu lebih lama?".
"Salwa, apakah Kamu sudah menentukan untuk bersama dengan Pemuda yang kemarin itu?".
"Sudah berapa lama?".
Ujar Suna berbalik menanya Salwa.
"Al'akh, Al'akh cemburu?".
"Iya,".
"Untuk apa? kan Al'akh sudah mengajukan Suratnya(Ta'aruf)".
"Memanya apa yang ingin Akang katakan?".
"Sal, Aku sudah berdamai dengan diriKu akhir-akhir ini".
"Kalau Kamu sudah memutuskan untuk bersamanya maka apalah dayaKu".
"Jadi akang mengajukan Ta'aruf".
"Iya".
"Hmmmm, Lalu wanita tadi?".
"Dia Adik seseorang yang pernah menyerang Diriku dan Salman".
"Eh, Akang Salman?".
Ujar Sofi terkejut setelah Suna menyebut Nama Salman di hadapannya.
Akhirnya Suna yang sedang membersihkan tempat pembuatan Kopi di temani Salwa dan Sofi yang duduk di kursi di dekatnya, di temani juga oleh Mang Triss yang mempunyai beberapa kenangan di tempat yang sama, kala dirinya tidak sengaja memergoki Willy dan Indri tepat di mana Suna berdiri.
Keempat orang tersebut melewati beberapa saat dimana selama ini tidak pernah ada tempat maupun kesempatan berbagi cerita, kini di balik pintu yang tertera tulisan CLOSE
__ADS_1