Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Kebahagian libur smester


__ADS_3

"Suna apakah kamu baik-baik saja selama ini nak?".


"Ng... aku baik yah, ... swear.. kalau saja hari ini bukan libur semester untuk anak-anak SMA dalam(Pondok) aku juga malu di tengok".


"Hmm kamu tuh.., bisa-bisanya bilang gituh sama ayahmu, lah wong ayah kamu loh bisa meluangkan waktu hanya untuk melihat kamu hari ini".


"Ya mah..,


sss aduhh hhh". (tergigit bibir ketika mengunyah,)


"Hmmm, itu tuh, akibatnya kalau tidak ingin di jenguk oleh orang tua, kegigit nih kan bibirnya". (mengecek keadaan bibir Suna)


"By The Way, apakah kamu sudah menemukan calon jodoh kamu di sini?". (ujar ayah Suna seraya membenarkan posisi kacamatanya kala membaca koran)


(...)(memperlambat kunyahan)


"Suna kamu kesini bukan untuk mencari jodoh kan!?', 'kamu ke sini untuk menjadi imam yang baik buat putri kan


nak!?.,


(....)(suna)


"Aaa atau ,ya... ya ya, mamah tahu sekarang apa yang membuat kamu ingin sekali memasuki pondok ini waktu itu, kamu ingin mengejar anak kiayi yang waktu itu ya..!?".


ujar sumi curiga.


"Ukhuk huk khuhk"(suna tersedak makanan yang tengah ia makan)


"Ueh ha ha hhh mamah.. mana mungkin suna se lancang itu...',


'pastinya ada alasan besar untuk suna memasuki Pondok ini, benar kan Suna?",


"Itu semua benar"(mengunyah makanan)


"Ya kalau memang betul adanya ya nggak apa-apa, berarti kamu sudah benar-benar memilih untuk masa depan kamu,tapi kamu harus benar-benar menjadi suami yang bisa mengayomi anak dan istri seumur hidup apalagi kalau kamu menginginkan anak dari seorang Kiayi".


"Ng...' 'ayah, sepertinya ini masih terlalu cepat untuk ku..,".


Kedua orang tua suna di buat kaget dengan pernyataan dirinya perihal jodoh dan pernikahan, karena Suna mendapati wanita yang ia suka belum memberikan signal positive untuk dirinya menjadi imam belum lagi umur Suna yang hendak menyentuh angka dua puluh delapan.


....


"Buka pintunya...!!! buka!!!" ( ujar beberapa BAKAM berteriak di depan gerbang pondok )


Sebuah mobil tua melaju tanpa suara,yang hanya berjalan karena dorongan para anggota BAKAM serta Hasanuddin, melaju memasuki gerbang dan menuju depan rumah kiayi nuruddin,hingga akhirnya semua orang yang mengalami luka berat di larikan ke bagian kesehatan santri termasuk para preman yang masih terikat.


"Ummi, abi...". (lirih Salwa mengetuk rumah)


"Allahuakbar de'!! kamu kenapa?".(memeriksa keadaan salwa dari ujung jilbab hingga ujung rok panjangnya, bahkan salwa tak sempat membawa tas yang selalu ada di pundaknya karena tertinggal di tempat pemotongan ayam sewaktu di culik)


"Salwa?".


Ujar Kiayi Nuruddin setelah pulang dari kebiasaanya mengecek setiap sudut pondoknya untuk sekedar mendoakan santri maupun bangunan yang ada, namun karena merasakan hal yang tidak beres kiayi nuruddin melakukan pengecekan hingga jam menunjukkan setengah dua belas.


Hingga pagi menjelang Kiayi Nuruddin mengecek keadaan Suna dan Salman di ruang perawatan pondok di gedung palestine pagi-pagi sekali ia menghampiri kedua santri yang begitu berkarakter baginya yang terbaring lemas dengan luka lebam hampir di sekujur tubuh bahkan tak sedikit yang menyebabkan bengkak ataupun yang mengeluarkan darah.


"Ustadz.. bagaimana keadaan mereka?".


"Mereka baik-baik saja kiayi, tapi memang lebam akibat pukulan benda tumpul yang di alami salman sepertinya sangat parah, hingga membuatnya tak sadarkan diri".


"Alangkah baiknya jikalau kita merujuk mereka berdua ke rumah sakit kiayi suna pun sama selain bibir lebam di ulu hatinya juga keadaanya sangat tidak baik, bengkaknya sudah se besar ini".(menaikan kaos yang di kenakan suna)


"Segera Ustadz...,' segera lakukan yang ustadz bisa, bawa pagi ini segera..,".


"Ia Kiayi"., selain itu..


"Apa Ustadz?"


"Selain mereka berdua, tiga yang lainya juga lebih parah dari ini Kiayi, ketiga-tiganya juga masih tak sadarkan diri sepertinya karena cidera parah di beberapa titik fatal yang membuat mereka masih terlelap dari semalam".,


"Inna lillahi".


"Mmm maaf Kiayi?".(kaget)


"Segera bawa mereka ini ke Rumah Sakit segera, apapun yang menjadi kebutuhan biaya serta ganti rugi juga tolong siapkanlah"..

__ADS_1


"** tapi Kiayi mereka ini yang menculik salwa seperti informasi yang saya dapat dari Al-akh Hasanuddin , yang bukan tidak mungkin menyebabkan goncangan pada mental anak Kiayi sendiri, apa kita perlu memberikan uang itu juga ?".


"Berikan, berikan keduanya Ustadz, berikan, berikan keduanya(berbalik menuju pintu)". tegas kiayi dengan nada bicara yang tenang tak terlihat kemarahan di wajahnya.


"Ini kenapa mereka di ikat?".,


"lepaskan" lepaskan, 'perlakukan mereka seperti mana biasanya yang kita lakukan pada tamu Pondok".


lirih Kiayi Nuruddin yang terus memutar tasbihnya di tangan kanan.


.....


"Saeya... teedk terima.,!!! grhhh 'e'e saeya tdk trma,!!!!" ujar preman berbadan paling besar merengek dengan rahang yang sedikit geser membuat suara bicaranya tak begitu jelas.,


sedang yang lain pun tak jauh berbeda luka di hidung, bibir pecah bahkan lebam di pelipis mata juga di alami keduanya.


Sedangkan di bilik yang tak jauh dari para pelaku penculikan suna dan salman saling mentertawakan karena teringat detik-detik pembelian berubah menjadi penyergapan.


"Aku tidak pernah berfikir kembali bertemu dengan orang itu lagi hhh sebelumnya ku cederai tangannya, sekarang aku juga merasakan cidera yang sama".


"Hhh kamu terlalu nekat man!!" "tapi aku sangat berterima kasih, kalo nggak ada kamu mungkin aku tidak bisa menyelamatkan salwa malam itu, bahkan caramu mengenali pria besar itu masih ku ingat.."


"Wah kayanya ada yang janggal"


BUGH!!!


"Seketika kamu di hantam serangan tepat di muka, ternyata hidungmu kuat juga ya man hhhh.".


"Kau jangan meledek, aku juga tak pernah lupa kau di lempar-lempar oleh si badan besar, bahkan seolah daging cincang bersuara tanpa daya perlawanan".


"Ya... ku akui, kau sangat hebat menghadapi lawan tadi malam aku sangat beruntung kamu ikut malam itu..,".


"Sudah sepatutnya partner harus selalu melengkapi" lirih salman seraya mengelus tangan kirinya yang sekarang di balut perban dan di gendong tak berdaya di gerakan.


"Al-akh Suna dan Al-akh Salman, apakah ada nomor wali yang bisa di hubungi?".


"Aaa tidak-tidak jangan ustadz ..!!!".(ujar Salman dan Suna hampir bersamaan)


"Kedua wali saya mungkin akan khawatir jika mengetahui saya berada di rumah sakit , sedang mereka juga mempunyai tanggung jawab besar di pondok Ustadz,..". lirih Salman berharap kedua orang tuanya tidak di kabari.


"Ayah saya mungkin akan paham Ustadz, cuma ibu saya, saya khawatir ibu saya akan mengalami shock berat, jika tahu saya berada di sini, belum lagi saya tidak mengalami luka berat tidak perlu lah sampai mengabari mereka tentang hal ini.".


.....


"Aaa tidak ummi, kami hanya membantu sebisa kami.., ini semua berkat kiayi yang sudah memberikan sedikit petunjuk agar membeli ayam hingga kami menemukan salwa, jadi kami hanya sedikit membantu".


"Yang terpenting kalian sudah menyelamatkan anak kami yang kurang berhati-hati jadi kami sangat berterima kasih".(mengelus pundak salwa)


Suna yang tidak sengaja berpapasan pandang dengan salwa makin di buat yakin bahwa ada harapan besar yang menunggu dirinya di balik tatapan salwa sebelum tersipu malu dan menunduk.


"Kalian, segeralah pulih.. namun untuk sekarang beristirahat yang cukup."


"Ya Kiayi," (lirih Suna dan Salman)


"Nak suna, saya sangat berterima kasih, telah menyelamatkan Salwa nak Salman terima kasih..,"


"Aahh tidak Kiayi, kami hanya membantu sedikit..".,


.....


"Ia yah, ibu, ku dengar dirinya akan segera di pindahkan karena dikhawatirkan akan mengganggu mental dan keberaniannya kedepannya".


"Wah...', 'sayang sekali bahkan ayah...".


"Ng.. eng... ayah apa ayah apa?(sumi mencoba menghentikan suaminya yang hendak sombong di depan anak kesayanganya itu)


"Tidak... ayah hanya ingin mengatakan ayah sangat bangga menemukan mamah hhh, meskipun ayah masih muda terpaut sepuluh tahun dari mamah..,"


"Eh eh eh, mana ada mamah bertemu ayah, ayah sudah berumur tiga puluh dengan umur mamah yang masih dua puluh tahun Fresh Graduate, dulu mamah ituh, banyak yang mengidolakan kala mamah masih muda suna,..,"


"Wah hehe. berarti aku tahu apa yang aku warisi dari ayah dan mamah, hem ayah, kenapa sampai seperti itu?"(Suna terkekeh)


"Yang namanya jodoh tidak ada yang tahu suna, ada yang berjodoh sudah lama saling kenal, ada yang berjodoh sebulan baru kenal, bahkan hitungan jam saja pun ada yang berjodoh, dan jodoh bisa jadi pacar, orang terdekat, atau orang asing sekalipun, selama kamu membuka hati untuk itu.


yah... yang terpenting kamu mengerti tujuan kamu yang utama di sini, urusan yang lainya akan mengikuti".

__ADS_1


"Ia yah,". (mengunyah)


"O ia mah, Suna minta maaf, karna sempat meminta mamah cepat pulang saat mamah datang ke pondok bersama Putri, aku tidak pernah tahu kalau mamah pernah hampir di copet".


"Ng..?"(Sumi terdiam)


"Kecopet?"(ayah Suna melipat koran miliknya)


"Ng..? jadi ayah juga nggak tau? wah ayah, mamah terlalu sibuk sendiri nih, jadi sampe ngebahayain diri sendiri lain kali sama ayah mah, jadi ayah bisa jagain mamah.".


"Sssuna? kamu nggak serius kan ?".(lirih Sumi takut akan kemarahan ayah Suna yang sewaktu-waktu bisa meledak)


"Ng.. aku serius mah, maaf karna aku selalu sibuk di Kafe depan,(Kafe Kita) jadi mamah ngelakuin semuanya sendiri".


tiba-tiba menetes air mata di balik kacamata ayah suna,


karna dirinya makin terenyuh kala suna mengungkapkan rasa cintanya pada mamahnya.


"Aku bersyukur banget mamah masih bisa ngeliat Suna di sini hehe masih nyusahin, kalau aja nggak ada temen Suna waktu itu entah apa yang terjadi, lirih Suna yang menyadari dirinya telah di bantu Salman dua kali tanpa sepengetahuan Salman dan dirinya.


"Yah.., kamu mulai sekarang tak perlu mencemaskan mama mu lagi, kamu fokus saja pada apa yang ingin kamu raih, mama biar ayah yang mengurus di rumah, dengan syarat kamu jangan buat hal-hal yang nggak perlu lah Suna, malu sama umur.". kekeh ayah Suna yang membuat Suna tertawa.


"Iya hhh..., seumuran ku ayah dan mamah harusnya sudah menimang cucu namun aku di sini di sebuah gazebo kecil di jenguk dan di bawai nasi". hahaha, kata-kata ayah Suna sontak membuat suasana di dalam keluarganya menjadi sangat hangat, dan ceria. meski sebenarnya suna pun memikirkan jodoh seperti yang ayahnya katakan.


....


"Uti salwa.... uti Salwa benar ingin pindah? he'khukh hhhh he'uekh... uti... kan nggak perlu sampai pindah bisa dengan menambah teman BAKAM untuk pergi ke Kampus...


kan... uhkuh hhhhh penjahatnya sudah di tangani polisi ...".


(menitihkan air mata)


"Mmm.. Sofi.. aku juga tidak bisa apa-apa, karena sisi positive nya jauh lebih banyak, aku akan belajar ilmu baru di pondok Tahfidzul Qur'an kepunyaan sahabat abi..


kan masih ada uti lailah, Uti Zahira kamu jangan khawatir ..(memasukkan satu benda pribadi yang terakhir dalam koper) "


"Uti...,"


"Percayalah, ini semua akan ada hikmahnya, sampai nanti kamu menjadi bagian dari BAKAM mungkin, atau ketuanya, atau kamu bisa bertahan tanpa aku semuanya akan ada hikmahnya , kamu akan lebih banyak teman, dan jangan tutup hati kamu untuk berteman, aku bisa kunjungi kamu ketika aku libur".


"Uti..., "


....


"Assalamualaikum.. ...,".


"Waalaikumussalam..".(suara Ustadzah Khumai)


Glek..


(....)(bayangan Ustadzah Khumai muncul di balik pintu sebelum akhirnya kembali tertutup)


".. ada apa Salman? "


"Kiayi, saya sangat meminta maaf, karena saya telah menyimpan benda yang bukan hak saya, maafkan saya Kiayi",(bersimpuh menghampiri tangan kanan Kiayi Nuruddin yang selalu bertasbih)


"Benda apa yang kamu maksud Salman..., berdiri-berdiri, kembali ke kursi kembali, bila kamu menyimpan bukan berarti kamu mengambil dengan niat yang di sengaja"..


"Tidak Kiayi,, saya sengaja..


"Kalau begitu kamu tidak ingin memilikinya, atau orang lain memilikinya"..


"Ia Kiayi, saya tidak ingin.."


"Berarti kamu tau pemiliknya?


"


(....) (mengangguk)


"Alhamdulillah, memang kita tidak bisa memaksakan suatu hal untuk seseorang menjadi baik, tapi ketika kebaikan yang selalu di bumi kan di semarakkan, maka, tak menutup kemungkinan kebaikan itu juga timbul pada hati-hati yang tenang,. kamu sudah melakukan hal yang benar salman.".


lirih Kiayi Nuruddin dengan terus memutar tasbihnya.


"Iya Kiayi,, saya takut tidak sempat mengembalikannya (mengeluarkan sebuah ponsel milik Salwa) ini kepunyaan Salwa yang dulu saya pungut saat salwa terlibat perkelahian dengan preman yang telah menculiknya"..

__ADS_1


Salman pun menjelaskan bahwa dirinya di awal menimba ilmu di Pondok ini pernah kabur dan menemui peristiwa tersebut


"Alhamdulillah, alhamdulillah, terima kasih, terima kasih nak salman. ujar Kiayi Nuruddin mengapresiasi pada tindakan berani salman mengembalikan benda yang bukan haknya.".


__ADS_2