Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Awal Baru


__ADS_3

Waktu subuh sudah berlalu, kini mentari sedikit menyilaukan di pondok Ihya yang selalu terkontrol dua puluh empat jam sedari bangun tidur hingga tidurnya santri kembali, dengan cepatnya kegiatan yang bergulir tetap menyisakan beberapa orang yang memang terlihat santai karena sudah menyelesaikan beban hafalan dan juga tidak mengikuti kegiatan SMA (dalam) Pondok.


"Oi.. Kang.. kemana?"


"Ngecek kandang ternak Rif, kenapa?"


"Jam segini?"


"(...)"(mengangguk)


"Kandangnya kotor, sepertinya Aku kurang memperhatikan kondisi mereka"


Lirih Suna seraya memegang kayu pembersih lantai setelah mengecek persediaan pakan.


"Yah gimana, temen Akang itu di angkat jadi BAKAM oleh Kiayi, padahal dulu sempat Ku pergoki kabur, padahal ia tidak lebih berguna di dalam sana"


ketus Arif seraya membantu Suna mengalirkan air.


"Sudahlah.. jangan seperti itu mungkin Kiayi melihat sisi baik Salman yang belum kita ketahui".


"Tapi kan Kang , secara umur Aku lebih mendukung Akang Suna yang di angkat menjadi BAKAM, toh.. Akang Suna yang menyelamatkan Ukhti Salwa ya meski di bantu Akang Salman".


"Hhhh , ya .. tapi Kamu lupa Kiayi berperan besar melibatkan Salman, kalau tidak Aku sudah tamat di habisi para preman malam itu".


"Emm sebenarnya malam itu Kang... Saya dan Akang Hasan juga punya peran besar loh meski kami bukanlah seorang BAKAM".


"Ya.. kalau tidak dengan do'a kalian dan Kiayi, semuanya tidak akan selamat bukan?".(tersenyum)


"Eng ya... itu juga, hehe sebenarnya malam itu Kiayi meminta kami mencari Akang Suna dan Akang Salman , cuma karena Saya perlu menjaga Saka pondok(Masjid) saya tidak di ijinkan keluar oleh kader BAKAM".(manyun)


"Kan, Aku sudah menduga ada kontribusi besar Kiayi pada malam itu".


Ujar Suna seraya mempercepat gerakannya.


...


"Wah... ada banyak yang perlu di lakukan kalau bentuk gedungnya seperti ini"(terkejut)


"Salwa biar Saya saja yang merapihkan, Kamu dan Khumairah mengambil beberapa barang yang masih di rumah Kiayi".


"Ey.. kenapa nggak kita panggil Sofi atau Zahira pasti mereka bisa bantu"ujar Salwa yang asal menyebut nama sahabatnya di kala Ia berada di kawasan keluarga Pondok tempat Ustadz-Ustadz maupun Ustadzah yang mengabdikan sisa hidupnya di dalam Pondok.


"Mereka juga punya kesibukan Salwa, kuliah dan sekolah, nggak boleh sembarangan Ih"(Zahira tersenyum merangkul tubuh Salwa)


"Bi.. kita bersihin bareng aja, soalnya barang-barangnya nggak banyak, bisa kita ambil lain kali"


Deg


"..."(Hasan)


"Wah.. karena kalian Aku sepertinya ingin menikah muda"

__ADS_1


"Iya Ummi' gituh Kang"ia


ujar Salwa seraya menyenggol pundak Hasan yang berada di depan pintu menyisakan dua insan yang sudah mulai membuka diri untuk menerima perubahan besar di dalam hidup mereka.


"Ey.. Uti, Akang ini koper di taruh di mana!".


"Aku di sini buat bantu-bantu loh bukan ngerjain semuanya".


Sementara itu Zahira dan beberapa anak-anak yang sudah menduduki bangku Perkuliahan juga sudah bersiap menyambut mentari pagi dengan mengecek beberapa barang bawaan dan kerapian hijab yang di kenakan, tak terkecuali Fattah di Pondok Putra dirinya pun sudah bersiap menuju gerbang dan mendapati Suna bersama dengan Arif sedang kembali dari pekerjaan yang membuat sedikit aroma kotoran sapi di tubuh mereka.


"Wah.. wah wah , semangat banget memulai hari, Shabahul Khair?"


"Shabahunnur kang!!'(Arif)


"Shabahunnur , Tah, Kuliah?"


"Iya , sepertinya mentari pagi ini sangat cerah semoga saja akan menjadi Awal yang baik".


"(...)"(Suna)


"Semoga aja... Hafalan Hadist pagi ini tidak sulit"Lirih Arif terkekeh.


"Yah yang terpenting Terus Istiqamah, mana tau dapet anak Kiayi ya kan"


lirih Fattah dengan tawa seolah menyindir Suna.


"(...)"(Suna)


"Dah ah, bercanda-bercanda Kita tidak seberuntung Hasan"(melangkahkan kaki)


lirih Arif takjub namun mendengar kata-kata Fattah justru Suna benar-benar menemukan tanda tanya besar tentang keberadaan dirinya di dalam Pondok yang akhir-akhir ini mengganggu di benaknya, karena dirinya menjadi buah bibir di kalangan santri.


"Apa benar ini adalah jalan yang terbaik"


(Atau aku yang terlalu berambisi)


lirih Suna hingga timbul sebuah pertanyaan besar di hatinya.


...


"allahumma bika asbahna wabika amsaina wabika nahya wabika namut wailaika nusyur".


"Uti... Zahira.. ! semangat.. tahun depan Aku bakal nemenin Uti berjalan ke Kampus" ujar Sofi yang secara tiba-tiba merangkulnya di pagi ini dengan seragam SMA.


"Eng? tumben sudah seragam?"


"Wah Uti sepertinya hanya tertarik memperhatikan masalah di banding perubahan-perubahan selama ini yang sudah terjadi di sekitar Uti".


"hmm"(tersenyum)


"Aku dah lama memulai kebiasaan ini , jadi ku sempatkan segala hal di waktu sebelum subuh , dan sekarang Aku akan mencari Uti Putri, kasihan dia semenjak Aku beralih kamar di BAKAM Aku jarang bertemu dia ketika sarapan".

__ADS_1


"Yah sudah, ada baiknya kamu segera mencarinya aku tak mau dia kesepian"(tersenyum)


"Ok.. Uti Hati-hati ya.. kalau ada yang macam-macam Uti tahu kan harus apa!"


"Harus apa?"


"Ya lari lah Uti, Cari perlindungan Aku belum bisa bantu soalnya hhhh da.. Assalamualaikum"(berhenti untuk memutar balik arah)


"Iya waalaikumussalam da!!!".


...


"Jadi.. Apalagi menu kita hari ini , wah... !! terong balado!?"(meneguk liur)


"Eng? kenapa Uti.. ini kan memang waktunya lauk terong balado?"


"Entah kenapa lauk ini masih tidak begitu ramah rasanya di mulutku"(membalik-balik beberapa potongan terong yang menyatu dengan sambal merah yang membuat tampilannya seperti bubur tim untuk bayi.


"Heran aku sejauh ini Uti adalah satu-satunya teman yang aku temukan tidak suka dengan lauk yang satu ini, bahkan hanya suka dengan tempe berenang(tempe kuah pindang)".


"Yah.. mungkin Aku unik hhh"


lirih Putri yang sempat teringat kala dirinya di ajak ke angkringan oleh Suna.


"Astaghfirullah , Putri Putri sadar!"(memukul kepala dengan tangan)


"Eh.. Uti kenapa?"


"Eh. enggak Sof nggak Aku cuma teringat sesuatu, bukan apa-apa kok"ujar putri menenangkan Sofi yang sempat bereaksi panik melihat dirinya beristighfar.


"Uti.. Ustadzah Khumai udah nikah yah, padahal baru kemarin aku di angkat menjadi BAKAM berkat surat persetujuan dari beliau".


"Hemm apa hubungannya antara kamu di angkat menjadi BAKAM dengan Menikahnya Khumai?"


"Emm ya kaya enggak nyangka aja gitu loh Uti.. aku juga kaget beliau menikah dengan Akang Hasan hhh"


"Iya Aku juga kaget Sof hehe , memang Jodoh tidak akan kemana, dan pasti cerminan dari diri kita sendiri, seperti Khumai".


lirih Putri yang mengerti pernikahan Khumairah adalah sebuah perjuangan setelah beberapa tahun menanti seseorang yang ia harapkan muncul dengan sebuah niat yang lebih jauh dari sekedar meminta nomer telephone.


...


"Halo?"


"Apa benar Ini kediaman Ibu Sumiati?"


"Halo., iya benar ini dengan Saya sendiri?"


"Suami Anda mengalami kecelakaan, dan sekarang sedang menuju Rumah sakit Bandar".


"...."(Sumi)

__ADS_1


"Halo..? halo..? apakah ada orang? halo? ibu Sumi ?"


"Halo?


__ADS_2