Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Salam Perpisahan


__ADS_3

"Hoke, terima kasih ya Will, aku titip nih Kafe, Aku ingin balik lagih banyak hafalan yang masih belum terselesaikan".


(membenarkan sarung)


"Ya... semangat Sun.. jangan khawatir sama nih Kafe, semuanya aman dan terkendali".


"Ya Aku percaya, asal jangan lama-lama!".


"NG?"(bengong)


"Hehe Aku juga kan mau di panggil Om sama anak Lu Will"


ujar Suna mengambil buku yang sudah di berikan oleh Zahira.


"Whes... mulai Lu ya..(Terkekeh)


"Abang-abang ini masih belum berubah" ketus Fattah yang juga hendak merapihkan Laptop dan memasukkannya kedalam tas.


...


"Mmm emangnya nggak apa-apa nih Dzah? kalo aku jalan bareng begini?". Ujar Putri yang Sudah sangat dekat dengan Khumairah.


"Nggak kok Put.. kamu biasa aja, Dulu selagi aku masih santriwati juga sesekali juga mengunjungi Kafe depan".


"wah kapan itu , kok nggak pernah cerita".


(putri penasaran)


"Emmm yah itu dulu selagi sahabatku masih di sini, sekarang ia sudah pulang dan ku dengar sudah memiliki Keluarga, dia juga belum lama ini melahirkan anak ke duanya".(memperhatikan penampilan)


"Oo. dah, Kamu nggak perlu takut, Kamu mah dari sisi mana pun enak di lihat, Trust me".(tersenyum).


"Thanks ya put".


"Ok, O iya , By the way, tumben kamu ngajakin ke depan, mau bicarain apa?".


"Ng? itu.. ".


...


"Hemm , Pah, kok Suna betah yah di sana , ini sudah setahun seingat mamah setelah ia dengan ngototnya ingin masuk ke Pondok Kiayi Nuruddin itu".


"Ng?"(membaca koran)


"Kirain Suna bakal menyerah setelah mengetahui keadaan di sana , atau setelah ia berpikir banyak tentang dirinya".


"Eum"(mengangkat alis)


"Biarkan saja".


"hemmm, hemmm ia , biar kan saja...".(menirukan jawaban-jawaban Suaminya yang selalu fokus ke koran)


"Papah tuh ih di ajak bicara kaya gitu .. Mamah kan khawatir sama Suna, Papah malah tenang-tenang aja".


"Yah gimana lagih, Mamah aja terlalu khawatir, kalau Papah khawatir juga, Suna nya yang kasihan, Dulu kan Mamah juga hampir di copet karena khawatir Suna tidak di beri makan di sana"(tersenyum)


"Ng.. it it itu.. kan karna Papah yang yang nggak peduli sama Suna, Papah kan terlalu sibuk sama pekerjaan, jadi nggak ada waktu buat pikir panjang".(merengut dan meraih teh)


"Ya udah, gimana kalau kita buat kejutan untuk Suna".


Sumi yang mendengar usul dari Suaminya sedikit terkejut, karena Suaminya ingin dirinya memberi adik pada Suna, sedangkan Suaminya hanya terkekeh mengerti bahwa Sumi sedari dulu hanya menyayangi Suna bahkan tidak pernah berfikir untuk memberinya adik.


...


"Jadi ambil Cuti hari ini Sal?".


"Mmm ia, Aku ingin Cuti beberapa hari saja kok Rin, Kamu pasti lega ya hehe".ujar Salwa terkekeh.


"Emm biasa aja Sal, Hafalan kamu bagus kok, malah tergolong cepat dari Santriwati lain".


"Salsa lebih cepat,".(Salwa)


"Iya, kalau kamu mah selalu melihat ke atas terus yah, hhh".

__ADS_1


(terkekeh)


"Hhh".


"Dah, Kamu cepat kok, berimbang dengan salsabila, selamat berlibur, cepat pulang biar nggak banyak hilang hafalan".(menyentuh pundak)


"Iya Ustadzah Fitri Ramadhan...".


"Aku serius loh Salwa.. Aku khawatir.. sama Kamu..".


"Khawatir apanya ih.. orang Aku pulang ke rumah kok , Iya iya aku pulang cepet, aku paham kok pasti Ustadzah kangen kan dengan murid kesayangan nya ini".(tersenyum)


"Iya kan Di sana ada banin(anak laki-laki)nya, nanti kamu nggak inget mengulang hafalan lagih".


Ujar Ustadzah Fitri yang selama ini menimba ilmu Menghafal AL-Qur'an terpisah jauh dari keberadaan Santri putra.


"Tenang-tenang, semuanya terkendali , aku jelas menjadi target pengamanan di sana, tak bisa berbuat banyak, SPY(mata-mata) nya banyak bisa-bisa aku di laporkan ke abi, niat buat liburan malah di kurung entar hhh".


"Ia Aku tunggu kamu loh di sini, jangan lama-lama".


"Ia Ustadzah.., siap..".(berjalan menghampiri pintu mobil pondok Ihya' yang sudah menjemputnya)


"ma'Assalamah fi ssafar"


"Fi amanillah)


Salwa pun menghela nafas panjang mengetahui dirinya tidak di jemput oleh ayah dan ibunya, lalu ia pun kini terbayang Sofi dan zahira entah bagaimanakah kabar mereka, setelah setahun sudah tidak bertemu.


"Ukhti, kiayi tidak bisa menjemput kerena banyak kesibukan, akhirnya kami yang menjemput" ujar Ustadz Oki dan Istrinya yang mendampingi untuk menjemput Salwa.


"Na'am Ustadz"(lesu)


...


"What.. kamu mau memberi salam perpisahan?".


"Ng.. enggak, lebih tepatnya aku ingin melihat dirinya terakhir kali sebelum aku menentukan untuk menerima tawaran Abi yang sudah sejak lama Aku diamkan".


"kenapa nggak kamu coba pikirkan dulu untuk membicarakan dirinya pada Ayahmu? kan bisa saja Ayahmu mengiyakan permintaanmu may...".


"Tapi... pilihan orang tuamu, apakah sudah pasti benar? apakah .. apakah kamu sudah tahu dengan jodoh yang di pilihkan oleh orang tuamu?"


"Sudah putri, sudah, aku sudah melihatnya empat tahun ini Dia baik dan Agamanya bagus, dan Abi maupun Ummi sudah Ridho".


(Tertunduk dengan sedikit air mata yang mengalir di pipi)


"Mmm, yah apa boleh buat Ku kira ini keputusan yang baru saja Kamu pikirkan, kalau sudah sejauh itu aku nggak bisa komentar apa-apa, semoga aja ini semua yang terbaik buat kamu may"(menyeka air mata yang ada di pipi Khumairah.


(...)(Khumairah tersenyum)


...


"Wah hari ini ramai sekali".lirih Suna yang ingin menyebrang.


"Kang.. boleh saya lihat Buku Agendanya?"


ujar Fattah dengan rasa curiga karena firasatnya menyebutkan Buku tersebut berasal dari Salwa.


"Ng?".


"Hanya memastikan.."(tersenyum)


"Nih... di cek".(Suna)


"Karna kalau di bilang satu tahun lalu berarti firasatku benar yang memberi Buku ini adalah Salwa"(mengecek tiap lembar)


"Yah mau yang ngasih Salwa atau siapapun ituh, atau Zahira sekalipun ini hanyalah Buku kosong kan, mungkin si pemberi ingin Aku banyak menulis di Buku ini".


"Ya.. mana mungkin Zahira ya kan hehe"(Fattah terkekeh)


(...)(Suna menatap curiga)


"Apa?, benar-benar buku kosong".

__ADS_1


"Ia kan... kosong.., iya yah, kenapa aku nggak pernah kepikiran sampai situ, kalau , bisa saja Zahira itu menyukai diriku dan menyamarkan si Pemberi Buku hanya untuk melindungi identitas dirinya di depan kamu ttah". Suna terkekeh melihat perubahan ekspresi fattah setelah ia mengira si pemberi Buku adalah Zahira.


...


"Assalamualaikum Ustadzah".


"Waalaikumussalam, baru pulang Kuliah ya zahira"ujar Khumairah setelah di sapa Zahira di dalam Pintu Gerbang.


"Ia, baru pulang ,hhh, Ustadzah mau..


"Cuma mau ke luar buat beli cemilan, kamu mau ikut?"


"Ohhh hhh nggak Ustadzah, enggak, hhh Saya harus kembali ke kamar, mari Ustadzah".


Akhirnya Khumairah dan Putri pun melangkahkan kaki keluar Pintu Gerbang, setelah berbincang dengan Zahira yang sebenarnya juga di tugasi untuk menjaganya setelah Salwa di pindahkan dari Pondok Ihya' namun karena Zahira pun masih menganggap Khumairah jauh lebih dewasa membuat dirinya lebih banyak berprasangka baik pada Khumairah.


"Ng? Suna" ujar Putri setelah keluar dari Gerbang mendapati Suna yang ada di seberang jalan.


"Itu Suna kan, yang dulu kamu tengok Put".


"Ia, itu Suna".


"Sebenarnya kalian serasi kamu cantik dan suna pun cocok untuk kamu".


"Ng... terima kasih, ada baiknya kita tidak menampakkan diri di depan mereka".


"Mmm ia".ujar Khumairah yang mengerti bahwa Suna bersama dengan salah satu BAKAM yang selalu melaporkan pelanggaran-pelanggaran ataupun hal-hal yang berkaitan dengan Santri maupun Santriwati pada Ayahnya.


"Hmmm yah sudah, apa boleh buat untuk saat ini Aku tidak menyitanya karena ini Benda kosong meski si Pemberi memberikannya dengan maksud tertentu".


"Ya.. mungkin itu tanda sukanya Zahira pada diriku, yah, beginilah susahnya kalau sedikit masyhur(terkenal) sampai Ketua BAKAM putri melirik Diriku" ujar Suna yang memprovokasi Fattah karena perubahan sikap Fattah menunjukan hal lain ketika dirinya membahas Zahira.


(...)(Fattah)


"Jangan banyak berharap karena Zahira yang sekelas KETBAKAM saja bisa di keluarkan dari Pondok Ihya' jadi sebaiknya kamu jangan membuat siapapun terlibat dalam masalah".


"Ya... ya ya.. Aku paham".(mengambil Buku)


"Ya kalau memang terbukti ya pasti di keluarkan kan...".


"i'iya lah semuanya bisa menanggung perbuatanya masing-masing".


"Ya.. sayang sekali kalau Zahira keluar gara-gara Aku".


(...)(Fattah)


Akhirnya Putri dan Khumairah pun menyebrangi Jalan Raya setelah menunggu Suna serta Fattah memasuki Gerbang, mereka sempat merasakan ketegangan yang hadir sekalipun Khumairah yang sudah menjadi Ustadzah.


"Eh .. pr.. E' Ustadzah, mau pesen apa Ustadzah.. Eh ada Putri juga, kang.., kang Tris".


"Ng? Opo mas will?".(merapikan meja)


"Ada meja kosong ato nggak , ini kita kedatangan Ustadzah!"


ujar Willy menanyai Kang Tris yang berada di lantai dua , bahkan suaranya membuat pelanggan di lantai satu benyak melirik ke arah mereka.


"ada... di nomer tujuh, dua puluh, dua belas, masih banyak yang kosong mas".


(membawa nampan penuh piring)


"Emm capuccino nya dua sama Macaron nya dua yah"


(...)(Willy bengong)


"hey...! denger nggak sih?".


"eh.. ia, ia, apa tadi, kopi eh apa?(Gugup)


"Emm aku coklat aja , coklat panas aja mas".(Khumairah)


"Ok.. Coklat Panas".


"Eh.. pesenan aku , Capuccino sama Macaron nya jangan lupa".

__ADS_1


"O.. ia lupa".


(...)(Putri menatap sinis)


__ADS_2