Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Call


__ADS_3

"Sofi".


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


"Uti Salwa".


"Uti, Uti di rumah?".


"Yaa Emm Kamu di rumah?".


"Emm".


"Uti, Aku di Rumahnya Al'akh Fattah masih".


"Wah Uti".


"Aku kangen".


"Sini, Aku juga".


"Aku punya sedikit waktu untuk mempersiapkan kepergian Ku".


"Ng?".


"Pergi".


(Terisak).


"Hey, Aku belom pergi ih".


"Besok bila ada waktu berkunjunglah ke sini".


"Emmm iya, Aku akan berkunjung".


"Iya, gimana mendakinya?".


"Seru?".


"Seru sih".


"Tapi Aku nggak mau ngulangin lagih".


"Capek".


"Ih kok gituh".


"Aku juga pengen loh".


"Ya mungkin Kalo sama Uti bisa deh kapan-kapan".


"Hmmm, dasar".


"Eh, Uti, Al'akh Suna menghilang ketika Kita asyik mendaki".


"Iya?".


"Iya, Saat ini kabarnya, beliau di rawat di Rumah Sakit".


"Ana(Saya) nggak tahu pasti".


"E' yang bener Sof".


"Emmm, masa Aku bohong Uti".

__ADS_1


"Kalau Aku tahu yang sebenarnya pasti sudah ku jelaskan secara terperinci tanpa kurang".


"Emm, Yummy".


"Ih, Sofi".


"Aku serius, Kamu lagi apaa?".


"Bentar Uti, Aku turun Gunung menguras banyak tenaga".


"Hemm, Memangnya Kamu tau dari mana Suna baik-baik saja?".


"Al'akh Fattah".


"Kata beliau, panitia serta beberapa relawan menemukan Akang Suna, Setelah beberapa pendaki mengaku melihat barang-barang Milik Akang Suna di Salah satu Pos".


"Tunggu, Kalian kehilangan Suna, tapi orang lain yang menemukan?"


"Kok kalian tega".


"Emm, Ukhti denger nih".


"Bukan Ukhti aja yang heran, kini Uti zahira Uti lailah dan Uti Putri pun tengah Syok".


"Syok?".(Salwa).


...


"Akaltunn?".(Sudah makan?)


"Emmm, Saya sudah".(Salwa).


"Dari Indonesia ternyata".


"Astaghfirullah".


Lirih Salwa yang teringat kembali kejadian dirinya yang di sapa oleh sesama mahasiswa dari Indonesia.


Sedangkan ingatan hari dimana dirinya menghubungi Sofi perihal Pendakian juga tak hilang di telan waktu, karena banyak hal terjadi setelah itu.


...


"Kang Sun!!".


"Ng?".


"Ini".


"Sebaiknya Akang tuliskan sepatah kata di Surat, untuk membuatnya berhenti".


"Emm, Rif".


"Kamu kan bukan petugas Pos".


"Yah, Aku tahu".


"Tapi nampaknya Makhluk di seberang sana begitu terkesima kepada Akang".


"Harusnya Ket Bakam juga tau".


"Hmmm".(Suna)


"Tapi".


"Apa?".

__ADS_1


"Yah, Ketua BAKAM putri sepertinya sedang berbunga-bunga".


"Yah, Ternyata dari beliau".(Suna).


"Ng?".(Arif).


"Pantas saja Sofi, maupun BAKAM lain tidak sampai hati".


"Ini Mommy Pondok Rif".


"Wah, sebaiknya Kamu kembalikan ini surat, dan bilang Bahwa Saya merekomendasikan Ta'aruf untuk beliau".


"Mommy".


"Ta'aruf?".


"Aneh, bisa-bisanya".


Ujar Arif yang sangat heran betapa seseorang sangat berani mengirimi Sahabatnya tersebut surat.


"Memangnya Akang mau mengajak beliau?".


"Enggak".


"Yah, itu kan di ikuti Ustadz ustadz yang sudah berkeinginan untuk menikah".


"Akan lebih menyakitkan jika Aku berbicara seperti itu".


"Kang, Akang memang tidak mau menuliskan Surat?".


"Nggak ah".


"Selain itu(Surat), Surat akan mengingatkan beliau kepada Saya".


"Saya pun belum berkeinginan untuk mengenal lawan jenis saat ini".


"Eum, yah, Saya tau".(Arif).


"By The Way".


"Saya pamit".


"Mau kemana?".


"Wartel".


"Sudah lama tidak menelfon".


"Kenapa tidak mencari Anak Kuliahan?".


"Kan biasanya mereka juga bawa gatget?".


"Emm, Saya segan".


"Akan lebih Syahdu saja kalau menelpon dari Wartel Pondok".


"Selain Kita akan lebih mengharigai Waktu, kita juga bersedekah kepada Pondok".(Senyum).


"Ooo, gitu ya".


"Yaa, Akang cobalah sesekali menggunakan wartel, Biar serasa anak Luar daerah".(Arif).


"Yaa".(Suna).


"Assalamualaikum".(Arif beranjak).

__ADS_1


"Waalaikumussalam".(Suna).


__ADS_2