
"Ukhti,, ukhti ada masalah ? kenapa uti selalu menyendiri ? Ukhti juga selalu menitihkan air mata saat tidur".
(....)(Salwa hanya senyum dan terdiam menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang lontarkan oleh pengurus kamar)
Mmm kalau Ukhti udah baikan dan bisa bercerita, ceritakan segera agar mudah Ukhti menemukan jalan keluar..
"Ia Ukhti..".
....
"Hmmm inilah kita berdua sekarang.."(menghela nafas panjang)
"Aku kan sudah peringatkan di awal kalau takut ya jangan ikut".
"Man, Aku dulu pernah membenci seseorang yang menjauhkan Ku dengan satu hal tanpa ia mengenal Aku terlebih dahulu".
(...)(Salman hanya terdiam)
"Aku hanya berpikir apakah bisa melihat seseorang hanya sekilas mata dan menentukan sikap".
(...)
"Namun saat aku mencoba menunjukan diri dengan cara sederhana malah ini jadinya".
"Kang kalau yang akang maksud dengan unjuk diri di sini sebenarnya bukan tempat yang benar , sama seperti aku yang ingin membuat Ayahku agar bisa secara terpaksa menarik diriku kembali".
"Kalau Akang ingin.. ya datangi rumah kiayi dan katakan yang ingin Akang katakan".ujar Salman mengetahui niat Suna ingin menunjukan dirinya pantas mendapatkan Salwa.
"Yah... aku pernah berfikir spontan seperti itu, namun mengetahui Kiayi sudah mencari tahu siapa diriku di luar sana jauh sebelum aku menyadari itu aku tidak bisa Man Kadang semua orang butuh proses"..
"lalu... kalau semisal di akhir proses Akang tidak mendapatkan Salwa?".
(...)
"Akang... jangan berfikir sesederhana itu, kalau akang di sini lantas pasti bisa meminang Salwa apalagi mengajakku untuk tetap di sini Kang... Akang tidak tahu seberapa dekat ayahku dan KH. Nuruddin".
"Bisa saja dengan adanya aku di sini aku ataupun salwa terjebak perjodohan karna ayahku dan Kiayi".
"DEG"
(....)(Suna terdiam)
Suna kini mengetahui perihal Pondok, Kiayi, Salwa serta semua hal yang berkaitan di dalamnya mengantarkannya pada satu titik jatuh terdalam, bila mengingat-ingat semua hal yang sudah di lalui.
....
"Jadi... jengukin Putri di Pondok?".
"Mmm jadi lah kan Papah udah meluangkan waktu, nggak kerja eh .. tapi cuman sehari Hummm".
(...)(Ayah Suna tersenyum)
"Nggak apa deh buat Calon Mantu"..(tersenyum)".
"Pah kita sekalian nge cek kafenya Suna yah.., sekalian".
"Ia.. nanti kita mampir dulu"(mengemudikan mobil)
"Untuk semuanya saja, jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu di pondok, datangnya kamu-kamu semua di sini untuk menimba ilmu dan tidak di bedakan statusnya sama sekali, manfaatkan masa muda Mu untuk hal-hal yang bermanfaat".
"Banyak yang lupa dengan hari ini dan menghawatirkan hari esok hingga menyesali hari-hari yang sudah lalu.".
"Ini adalah permisalan untuk semuanya yang tidak berjalan lurus pada rel-rel pendidikan di pondok ini, maka siapapun itu akan menyisihkan sedikit waktu untuk bisa kembali menyadari tujuan datang ke pondok ini".
ujar Kiayi Nuruddin seusai memotong habis rambut Suna dan Salman dengan tasbih yang selalu bergulir di tangan kananya.
....
__ADS_1
"Khumairah, masih membutuhkan waktu Abi.., karena khumairah masih belum cukup berani untuk mengarungi bahtera rumah tangga seperti Ummi".
"Ummm.."(KH.Nuruddin)
"Ya sudah, Khumairah, tak apa, ada baiknya kamu pikirkan dulu permintaan Abimu yah,".(mengelus pipi anaknya)
"Ia ummi".(tersenyum dan membawa kembali nampan seusai menyediakan teh untuk kedua orang tuanya)
"Ummi, sebenarnya apa yang di tunggu Khumairah, bahkan sedari lama perencanan ini".
"Abi.., bukannya khumai menolah hanya saja ia membutuhkan waktu, bukankah pernikahan untuk seumur hidup Khumairah, biarkan ia belajar untuk mempersiapkan diri".
Khumairah yang mendengar percakapan kedua orangtuanya hanya memeluk erat nampan, karena selama ini Uminya lah yang sedikit menyelamatkan dirinya dari pernikahan yang di kehendaki oleh Ayahnya".
....
"O... mba ini .. guru di pesantren ya .. berarti Ustadzah yah hehe pantes dari penampilan begitu jauh dari santri-santri pada umumnya".
"emm maaf?".
"Oh... enggak-nggak apa-apa Ustadzah .. memang Ustadzah cantik ini pengakuan saya yang jauh dari lubuk hati yang paling dalam.".
(...)(tersenyum)
"Mmm Ustadzah tinggal di sini kan...".
(...)(mengangguk)
"Wah bisa lah kita nge save nomornya hehe,".
"Nomer Handphone?"
(mengangguk)
"em .. ini.(mencatat di kertas) memangnya mau buat apa?"
"Ia untuk kasih tau ke bu'e ada makhluk allah secantik ustadzah".
"Mmmm saya ..saya harus pergi"(segera menyertai ajakan sahabatnya Zulfa)
.....
"Kang... maaf untuk kedepanya jangan bersikap seperti itu pada Ustadzah Khumai, ada baiknya Akang perlakukan seperti para pelanggan pada umumnya.
ujar Zulfa dengan nada sedikit tinggi membuat Suna selaku pemilik Kafe mendekati dirinya dan Willy.
"Mmm mba ada masalah apa yah, membuat kegaduhan di sini?".(meletakan nampan pembawa pesanan)
"Emm Ia maaf tapi dia tidak terganggu sih sejauh pandangan saya, saya cuman sedikit memuji dirinya".
(....)
Suna yang tidak di perduli kan keduanya hanya berlalu meninggalkan mereka menuju kamar istirahat dan merebahkan diri.
"Hhhhh andai Suna tau penyebab aku tidak pernah menjalin cinta selama ini"
lirih Willy yang teringat kejadian lama jauh sebelum Suna terlibat cinta (mengelap meja kasir)
"Hmmm Khumai"(tersenyum)
"Ramai pengunjungnya hari ini will?".
"Eh.. bapak ibu, alhamdulillah, ramai seperti biasanya, tumben pagi ini kesini bareng".
"Ia kami berniat menjenguk Putri di Pondok, tapi sepertinya lebih baik berjalan kaki aja ya Yah".
(...)
__ADS_1
(Ayah Suna tersenyum)
"O ia , kalo ada yang lain kasih tahu ya Ibu' ujar Willy setelah menyajikan dua cangkir Cappucino dan Roti Manis.".
"O ia saya bisa minta ganti ini dengan Kopi Hitam saja, Ayah Suna meminta ganti dari Cappucino yang di bawakan Willy.".
"O ia bapak, akan segera saya ganti".
"Maaf yah ngerepotin".(Lirih Sumi)
"Oo nggak bu'.".
Ujar Willy seraya beranjak.
"Mah, setelah ayah pikir ada baiknya Suna itu segera menikah supaya mamah nggak sering-sering sendiri".
"Udah lah Pah, jangan di paksa Suna nya, kan yang mau ngejalanin Suna toh sebenarnya Mamah biasa aja di rumah sendiri, Papah juga nggak perlu khawatir sama keadaan Mamah".
"Setidaknya kita tunggu sampai Suna selesai dengan urusan Mondok nya dulu lalu kita bahas masalah Pernikahan".
(...)(Ayah Suna tersenyum)
....
"Fit.. maaf sekian lama aku tidak berbuat baik padamu.".(menyodorkan sebuah coklat)di depan asrama di sela-sela rehat dari menghafal.
"Eng? Salwa?".(menerima coklat)
"Aku butuh sedikit waktu beradaptasi dengan lingkungan baru bahakan teman-teman baru"..(memeluk erat Al-Quran)
"O ia, aku paham , aku juga banyak mengalami suasana seperti itu, kamu nggak salah kok".(tersenyum)
"Huft... sebenarnya aku punya sahabat di sana(Pondok Ihya)
Beberapa waktu ini selalu teringat dirinya sudah makan atau belum,".
"Oh ya??".
"Ya.., biasa anak pindahan belum pernah Mondok, beberapa hal yang ia temui sangat membuatnya terkejut".(terkekeh)
"Wah, sepertinya kalian melewati banyak hal(membuka coklat dan membaginya menjadi dua)
"Ia... dia itu lucu dulu ia bilang lauk di sana belum matang,
dan masuk ke Bagian Kesehatan karena mencoba sambal".
(menerima coklat yang di sodorkan Fitri)
"Hmm sepertinya dia juga sangat merindukan kamu Salwa".
"Eng? dari mana Uti tau? dulu aku sempat membohonginya saja ia terlihat biasa saja setelah mengetahui aku anak Bapak Nuruddin".
"Menurutku dengan pribadi kamu yang seperti ini akan banyak orang yang mengenal kamu yang rindu".
ujar Fitri menggigit coklat di tangannya.
"Hmm entah lah yang jelas Aku kangen sama mereka".
"Mmmm kamu umur berapa Salwa?".
tanya Fitri pada Salwa.
"Sembilan belas aku sebenarnya baru beberapa bulan menjalani sekolah di Perguruan Tinggi tapi di pindah ke sini".
"Aku juga punya seseorang seperti itu..".
(...)(salwa mengunyah coklat seraya mendengarkan cerita Fitri)
__ADS_1
Akhirnya Salwa mengetahui Fitri adalah seorang santri berumur Dua puluh tahun dan sudah hampir menyelesaikan hafalannya, dan ia punya sahabat yang di pindahkan dari pondok itu, dan berpisah beberapa waktu yang lalu.