Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Aku percaya Kamu


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullah.."


"Assalamualaikum warahmatullah.."


"Gawat-gawat Uti... kita harus gimana!?"(Lirih Sofi yang berbisik di telinga Salwa selepas shalat).


(...)(Salwa konsentrasi pada lantunan dzikir )


"Suddah, tenang dan lakukan seperti biasa, tunggu sampai mereka menyelesaikan do'a lalu kita kembali"(mencubit Lengan Sofi)


"E' Iyya Uti"lirih Sofi ketakutan dengan ekspresi seram dari wajah cantik Zahira.


"Allahumma innana Dzalamna Anfusana wa inlam taghfir lana watarhamna lanakunanna minal khasirin"


Salwa menirukan lantunan do'a Imam yang kini menggugah ketenangan di lubuk hatinya.


"Aamiin.."(Fattah)


"A'.. Aamiin" ujar Zahira yang sempat merasakan debar di dadanya mendengar seperti suara Fattah di balik triplek pembatas.


"Ya Allah terima kasih atas segala kemudahan yang Engkau berikan selama ini, Ya Allah kuatkan hamba menjalani ibadah suci ini, bantulah hamba melengkapi Imannya dan berkahilah kehidupan kami Aamiin ya rabbalalamin". (Khumairah)


"Ya Allah kuatkan lah Hamba menjadi Imam baginya"(Hassan menitihkan air mata)


...


"Hmmm Aku merasa Allah sedang mengajari diriku dengan semua yang sudah aku temui hari ini".


(Emm semoga dia mendapatkan jodoh yang terbaik, Aku tidak menyangka kalau selama ini akulah yang menjadi penghambat dirinya untuk bahagia".


"Mmm nggak kok Will Ia sudah memperhatikan kamu sejak lama, tapi ia memang tidak ingin mengecewakan orang tuanya".


"Hemm ia, Aku nggak pernah merasakan ini sebelumnya, aku sangat bahagia mendengar ia ingin menikah segera setelah bertemu dengan Ku, walau dengan orang lain. tapi.. katakan Aku mendoakan dirinya di beri kemudahan atas segalanya put, sakinah mawadah wa rahmah".


"Thanks Will kamu baik banget, akan Ku sampaikan pada Khumairah".)


"Aku percaya air mata Willy bukan air mata penyesalan, Bahkan pada akhirnya Ia mendoakan pilihan yang di pilih Khumai sebagai Imam, menjalani hidup sakinah mawadah warahmah".


"Memangnya ada cinta yang seperti itu? cinta namun merelakan?. selain itu Aku merasa Khumairah begitu menyukai bahkan mencintai Willy".


(memeluk lutut di depan lemari)


"Huft.... Aku makin tak mengerti pola pikir Khumairah ataupun Willy".


"Apa mereka bisa melihat pujaan hatinya bahagia dengan orang lain dengan perasaan yang masih begitu dalam".


"Haeeeh.. Aku harus berhenti memikirkan kisah cinta mereka , aku tidak mau tenggelam dalam kerumitan ini!" lirih Putri yang hampir setahun ini berteman dengan Sofi dan Ustadzah Khumai bahkan ia kini kembali sendiri karena Sofi di angkat menjadi salah satu jajaran BAKAM.


...


"Kang Tris.., maaf banget ya.. untuk kali ini saya benar-benar butuh waktu sendiri, masalah keuangan tolong di catat dan pakai seperlunya Akang boleh ambil bagian Saya selama saya tidak berada di sini".


"Ah ... mas jangan seperti itu, Saya di sini sebagai Karyawan hanya manut apa yang terbaik dari mas Willy dan mas Suna, Apa boleh Saya berlaku demikian sendiri di sini".


"Emm maaf kang ngerepotin".


"O nggak , bukan maksud saya tidak mau mas".


"Ia, saya paham, Kang tris ini lah arti nama dari "Kafe Kita" semuanya yang kami punya di sini kami percayakan sejak dari awal bertemu agar Kafe Kita mencapai arti sebenarnya dari namanya".


(...)(Kang Tris diam)


"Saya percaya dengan Kang Tris , Kang Tris tidak akan menenggelamkan Kapal Kita(Kafe) hanya untuk meraup keuntungan"(memegang pundak kang triss)

__ADS_1


"Oo endak Mas ndak".


"Saya percaya Kang Triss bisa menangani Kafe sendiri untuk sementara waktu , dan semuanya bisa Kang Triss atur sedemikian rupa sementara Saya dan Suna tidak berada di Sini"(lesu)


"Ia Mas saya akan berusaha".


(...)(Willy mengangguk)


...


"Kang sore ini kita musti mengecek kandang karena kini Kang Suna sedikit sibuk di masjid, Aku tidak enak jika harus mengalihkan kesibukan barunya"(Salman menyentuh pundak)


"Wah ia, aku pun berfikir begitu yah sudah kita lakukan segera".


ujar willy setelah dzikir dan do'a shalat berakhir.


"Sorenya sangat cerah, sebenarnya Ada baiknya kalau kita berolahraga tapi apa boleh buat kita urus Hewan ternak terlebih dahulu".(merentangkan tangan)


"Uti... uti... mana sandal Ku... !!"


"Ya Allah Sofi.. kamu taruh di mana?"(Salwa panik)


"Bukanya sandal kamu Sandal selop yang biasa kita pakai di seberang(lingkungan Santriwati)".(Salwa)


"Kan sandal itu terlalu mencolok jika di pakai Santri Putra, aku pikir kamu tidak memakainya sewaktu ke sini".(Zahira)


"Iya, aku tadi kan di tarik Uti salwa jadi tidak sempat memperhatikan tapi.. Sandal atau apapun itu sudah hilang!!"(ujar Sofi yang kini raut wajahnya memerah karena perasaan berkecamuk, terjebak di lingkungan Santri Putra)


"Wah.. gawat... !! bentar kau tunggu saja di situ... aku ambilkan sandal yang lainya di rumah!".(Salwa berjalan dengan terburu-buru mengetahui belum banyak perubahan dari sifat Sofi yang sedikit cengeng dan pemalu)


"Ada apa Sofi..? Zahira? Kok belum kembali nanti ramai loh.!?"


"Emmmh ini Ustadzah sandal yang di kenakan Sofi hilang entah ke mana Uti Salwa pun udah kembali mengambilkan sandal di rumah Ustadzah, Dzah".


"Oo Kamu temani Sofi ya Zahira, nanti biar Salwa membawa sandal milik Saya untuk Sofi kenakan, tunggu di sini ya".


(Zahira)


"Sofi sebentar ya nak".(mengelus punggung Sofi)


"Eng? Z Zahira? K kok di sini? ada acara apa?"


"Ada baiknya Kamu segera tinggalkan kami sebelum Kiayi menemukan kalian , mungkin kalian akan segera di turunkan dari BAKAM karena mengajak bicara lawan jenis".(ketus Zahira yang sebenarnya sedikit terkejut mendapati Fattah dan Salman muncul dari serambi kiri masjid bahkan mereka berdua terlalu jauh memutar jika hanya ingin kembali ke asrama yang berada di arah utara masjid).


"O.. Kiayi sedang mengajak Akang Hasan berkeliling menuju arah barat, kalian benar tidak ingin kami bantu atau apalah itu? sebelum semua Anak laki-laki keluar masjid dengan beramai-ramai?".


(...)(Zahira dan Sofi mulai merasakan panik mendengar suara gemuruh langkah yang mulai terdengar tanda anak laki-laki segera keluar dari masjid menuju asrama)


...


"Pah.. kira-kira Mamah berkesempatan menimang cucu atau nggak yah hhh".


"Ng?? Mamah, Mamah bicara apa toh, Mamah pasti menimang cucu ,bahkan Mamah masih secantik ini kala itu".(memeluk Sumi)


"Hemmm Papah masih se ganteng itu juga kan, kayanya rambutnya tak tak lagi hitam karena beban pikiran , yang terus menyerang hhh".


"O enggak, kan dalam waktu lima tahun lagi Papah akan pensiun dan akan ada waktu yang panjang untuk Mamah, kita mengurus cucu dari anak semata wayang yang bandel itu".


"Ih Papah, Suna sudah lebih baik loh.. sejauh ini ia mampu menunjukan bahwa dirinya mampu menempuh pendidikan di pondok pesantren".(memutar badan dan membalas pelukan Ayah Suna)


"Iya, Iya Sebuah Prestasi yang baru-baru ini bikin Mamah ingin mengeluarkannya dari Pondok Hhhh".


"Ih Papah.. sebel...(melepas pelukan)

__ADS_1


"Cup.. cup.. cup.. dah jangan kemana-mana dulu, Papah ingin melepas rindu, Kita dah lama nggak sedekat ini kan".(kembali mendekap Sumi dalam pelukan)


"Hemm Papah nggak capek?"


"Enggak, Papah lagi istirahat ini"(memejamkan mata di pundak sang istri)


Akhirnya kedua Orang tua Suna meluangkan Waktu untuk saling mendekap di Sore yang lelah, bahkan air mata mengalir di pipi keduanya, bagaikan dua sejoli yang terpisah jauh dan bersatu kembali , bahkan keduanya seperti menikmati alunan lagu yang membuat keduanya berdekatan cukup lama.


...


"Uti-Uti... tolong Aku Sofi dan Zahira sedang berada dalam masalah sepasang sandal milik Sofi hilang"


"Iya Uti tau, kamu bawa Sandal ini aja Salwa sepertinya seukuran dengan kaki Sofi ,terlebih ia sudah jauh lebih ramping tak seperti sebelumnya".(tersenyum seraya menyodorkan kedua sandalnya)


"Ukhti Salwa!!"


"Eh?"


Salwa yang terkejut karena di peluk Sofi di samping rumah kala ia sedang ingin bergegas menjemputnya, Zahira pun menceritakan bahwa Fattah membantu mereka dengan meminjamkan sepasang Sandal khas BAKAM.


"Tak Ku sangka ia bisa berfikir se memalukan itu ih... dasar Fattah tengil!!"(ketus Zahira)


"(...)(Salwa bingung)".


...


"Yah.. sudah, cepat carikan kami sepasang sandal, sebentar saja hanya untuk menyeberang menuju rumah Kiayi".


"Em. ini.. pakai Sandal Salman , Karena tidak bagus KETBAKAM terlibat interaksi bersama makhluk astral, Aku masih harus mengecek cika di rumahnya".


"Man... Pinjamkan sandal Mu, dan tunggu di sini sampai mereka menyelesaikan masalahnya , kita bertemu di rumah cika nanti".


ujar Fattah dengan sedikit sombong di hadapan Zahira bahkan dirinya sempat ingin melayangkan kaki namun masih terbalut mukena.


"Yah.. apa boleh buat , Sof.. kenakan kedua sandalku"(Salman tersenyum)


"Maaf kang". Sofi menutupi kegugupan di depan salman yang sudah lama menjadi kumbang di taman hatinya.


"Sudah.. kami pamit!"(menarik tangan Sofi)


"Eh.. Aku nunggu di sini lo...!"(Salman tersenyum girang)


"U Uti.. pelan-pelan.." lirih Sofi yang di susul dengan kerumunan Santri putra keluar dari segala penjuru masjid membuat mereka sekilas terlihat oleh beberapa santri Putra.


PENUTUP


"Ini... Sandal milikMu"(melemparkan kedua sandal tepat di depan Salman)


"Hemm You're welcome "(Salman menatap sinis Zahira yang mengembalikan sandal dengan di lempar)


"Cepat... ketua Mu mungkin sudah dahulu sampai di rumah Cika pasti ada skandal di antara kalian , dasar memanfaatkan amanat dengan hal-hal yang tidak benar nanti ada masanya kalian terseleksi dari pondok ini".


"Ya Pondok bagai Laut".


"Nah itu tau"


"Kamu cemburu?"


"Eng s siapa yang cemburu?".


"Terserah kamu aja lah!"


"Memang kalian laki-laki semuanya Buaya".

__ADS_1


Kasihan Kang Fattah di kira Buaya Cap Sapi, Cika itu hanyalah sapi ternak yang di urusi Akang Fattah, dan kamu begitu gercep (gerak cepat) naik emosi mendengar nama Cika.


Ujar Salman seraya meninggalkan Zahira yang sedikit malu hingga muncul warna merah di pipi.


__ADS_2