Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Bisnis Katanya


__ADS_3

"Kang, Mau di bawa kemana uang sebanyak itu?".


"Man, tulang Ku nggak sekuat empat tahun lalu".


"Kalau bisa dengan cara yang Soft, sepertinya akan lebih enak".


"Huft".


"Sebenarnya Saya kurang suka memberi kesempatan jika berhadapan langsung dengan orang yang jelas-jelas seorang berandal".


"Kadang Kita perlu bertanya sebelum bertindak Man, siapa tau orang yang akan Kita temui Tulang Punggung sebuah Keluarga".


"Karena satu dari ribuan sebab, membuat mereka melakukan hal kriminal".


"Jujur Aku masih tak tega jika teringat Bapak-bapak yang Kita hajar di masa lalu".


"Rasa rasanya anaknya sangat menyayangi dirinya".


"Kadang antum(Kamu) nih, terlalu mendetail berfikirnnya".


"Mmm".(Suna)


"Lalu apa uang sebanyak itu akan membuat mereka berhenti dari pekerjaan Mereka?".


"Entah lah".


"Kan bisa jadi tak seperti yang kita Pikirkan kan".


"Ya, Sedia payung sebelum hujan".(Salman).


"Makanya secepatnya Kita bergegas memastikan keadaan Willy".


...


"Bos...! murung aja?".(Salman).


"Naa... makasih banyak, kalau dulu nggak ada Lu".


"Mungkin Aku nggak akan sebahagia ini".


"Aih... Will Lu berhak Bahagia sekarang".


"Selamat, selamat".(Mendekap).


"Mas, Makasih banyak".


"Mungkin kalo nggak ada Mas, Saya nggak akan tau betapa buruknya Rudi".


"Dan bertemu Willy adalah hadiah paling baik dari tuhan".


"Mmm, bagus deh, jagain Sahabat Saya ya".


"Masih merana Beliau karena di tinggal marriage beruntun, belum lama Putri, kini Bang Willy juga".


Ujar Salman mencairkan Suasana.


"Wah iya, apalagi katanya, Tajuknya Bisnis tapi berujung manis".


Ujar Fattah yang menerima undangan Khusus dari Willy.


"Iya nih, nggak nyangka banget".(Salman).


"..."(Suna).


"Eumm, Selamat ya Mba Indri".


"Ini".(Menyerahkan Bingkisan).


"Wah ini?".


"Bukan apa-apa".


"Willy?".


"Ooo Saya Zahira, dulu Langganan beli Kopi di Kafe Kita".


DEG


"Oooo".(Indri).


"Jangan Cemburu".


"Saya datang dengan Suami".

__ADS_1


"E' Iya, cuma Pelanggan aja kok".(Willy Gugup).


"Eh, Belum terlambat kan?"


"Maaf, Lama".


"Eiy, Mommy Pondok!".


"Eiy, Uti Zahira".


"MasyaAllah, udah berisi aja Perutnya".


"Eh, Putri dateng juga".


"Hai... Willy, wah hebat yah, Kamu dah nikah aja".


"Kalian kirain lagi pergi ke mana setelah nikah".(Willy).


"Ah, itu, hanya di sekitaran Ibu Kota aja".


"Mas Suami Harus Berkhidmat di Pondok".(Senyum).


"Suna".(Putri).


"Put".(Suna).


"Jadi gimana nih ceritanya bisa ketemu sama Mas Willy?".


"Kayanya Beliau ini sangat sibuk di Kafe Kita".


"Ooo, Kamu nggak tau aja Put, Aku mah terkenal di kalangan Wanita Opps".


"Ih Aku cemburu Loh".(Indri).


"Dulu itu".(Willy).


"Kalian cocok banget ih, harusnya Aku yang cemburu".(Senyum).


"Ooop, Dia Hanya Untuk Ku".


Ujar Indri membuat riyuh suasana, karena dirinya dengan berani mencium pipi Willy hanya karena terpancing kata-kata Putri.


Setelah beberapa waktu, Kini semua orang bersuka ria menceritakan banyak hal di Hari Bahagia Pernikahan Willy dan Indri, termasuk Suna dan Salman yang kini terpisah dari Mereka-Mereka yang hadir dengan para pasangan Mereka.


"Apa Man?".


"Pemulihannya berjalan Lancar?".


"Oh iya Man, Hanya sedikit rasa ngilu mungkin karena benda penyambung yang di masukkan di badan".


"Banyak yang nggak terduga yah".


"Terduga apa Man?".


"Yah, Kang Willy mendapat Jodoh seorang pembeli Motor Akang".


"Dan Sekarang Pemilik Motornya sedang berusaha Mencari Uang yang hilang".


"Ah, Uang bisa di cari Man".


"Kalau nggak ketemu ya rejeki Mereka".


"Ooo, dah Ikhlas nih ceritanya?".(Senyum).


"Iya, By The Way, Sendiri?".


"Em?".


"Ya, Situ di sini Sendiri?".


"Bukanya Rumah Sofi tak Begitu Jauh dari Sini?".


"Ooo Sofi".


"Iya".


"Lalu Akang sendiri?".


"Gimana Salwa?".


"Kenapa kembali menanyakannya?".


"Ya enggak, Seeprtinnya bertanya keadaan, akan lebih baik jika mengutamakan kerabat dekat".

__ADS_1


"Akang masih baik-baik saja kan".


"Atau sudah Ikhlas juga dalam hal ini?".


"Maksudnya?".(Suna).


"Yaah, kalau Akang sudah berdamai dengan cara Akang mengajukan Formulir Ta'arufan".


"Saya pun akan mencoba berdamai dengan Sofi, atau siapapun".


"Ooo".


"Saya baik".


"Chih".


"Perhatikan Muka Akang jika bicara".


"Jelas ada yang tak baik".


"Hahahaha sayangnya Saya nggak tau ekspresi Saya saat bicara".


"Kang Salman".


"Eh?".


Suna kini benar-benar tersisa sendiri di keramaian pesta, setelah Salman di hampiri Sofi, yang hadir tanpa di duga-duga.


"Huft".


"Kurang ajar ya... Beraninya Kamu penjarakan Anak Saya, dan.. dan.. berpesta seperti Ini".


"Sabar Mah Sabar mah".


"Mamah dah janji kan nggak akan ngapa-ngapain".


Ujar Adik wanita Rudi yang sempat sangat dekat dengan Indri.


"Kam kamu bisa terima lihat Abang Kamu Lumpuh dah di penjara?".


"...".


"Saya tidak Ridha... kalian bahagia".


"Hey, Hey, hey, Ibu, mohon maaf jangan merusak kebahagian Mereka".


"Maaf Ibu, ini hari bahagia".


"Maaf banget, kalau Ibu mau Ibu bisa menikmati hidangan yang sudah di sediakan".


"Puih".


Sontak perbuatan Sang Ibu yang meludah ke Suna membuat semua orang yang hadir begitu kaget, bahkan Salman yang mengetahui, Suna celaka karena anak sang Ibu sempat bereaksi namun di tahan oleh Suna.


"Ibu, maaf banget, jangan ganggu acara teman Saya mari Saya antar ke luar".


"Kamu... kamuhhh".


"Iya, Ibu".


"Semoga Kamu Rasakan apa yang Anak Saya rasakan".


DEG


"Ayo Ibu".


"Kita keluar".


Dengan begitu lembut Suna membujuk Sang Ibu meski Dirinya di ludahi, bahkan di sumpahi.


"Maaf Kamu jadi di pandang jelek oleh mereka".


"Mmmm".


"Sepertinya mereka hanya salah paham".


"Dan itu karena Rudi sendiri yang tidak pernah sekalipun berencana mempertemukan Ku dengan mereka".


"Hmmm".(Mendekap).


"Yang terpenting ini semua udah selesai".


Kedua Mempelai saling menguatkan kala di hari Bahagia Mereka terjadi hal yang tidak terduga, dan keadaan menjadi Normal kembali setelah Suna berhasil membujuk Sang Ibu untuk keluar meninggalkan Acara, Meski di Pukul dan di Ludahi.

__ADS_1


__ADS_2