
"Rif...".
"Kamu kemanakan surat-surat serta barang yang kamu terima?".
"Emmm?".
"Barang yang di tujukan ke akang?".
"Iya".
Arif menceritakan pada Suna bahwa barang-barang tersebut Ia simpan di atap Masjid, karena merasa sayang jika di buang, bahkan dirinya membeli gembok untuk sebuah lemari pakaian yang di peruntukkan menyimpan barang-barang yang tidak sedikit jumlahnya tersebut.
"Di sini?".
"Iya Kang".
"Aku sempat menyusahkan Akang-akang BALDIES (Bagian Listrik dan Diesel) untuk mengangkat Lemari ini".
"Semudah itu?".(Membuka kunci).
"O enggak Kang, Aku bilang ini untuk menyimpan barang-barang Inventaris jika suatu saat Kita punya hehe".
"Yang Saya lihat adalah jangka panjang".(Nyengir).
"Untung Mereka mau membantu, meski sempat menaruh curiga".
"Uh...".
"Sebanyak ini?".(Kaget).
"Ummm".
"Memangnya kurang Kang?".
"Saya nggak ngambil satu pun loh".(Arif panik).
"Bukan".
"Saya nggak percaya aja sebanyak ini".
"Bisa bantu buka semua?".
"Ya kalau Akang mau".
Akhirnya Arif membantu Suna membuka sekian banyak kado bahkan Surat untuk di bacakan, yang di hasilkan selama kurun waktu empat tahun terakhir.
"Ini?".
"Baca Rif".
...
"Bismillahirrahmanirrahim".
"Ya Allah maafkan Hamba Mu yang lemah ini".
"Yang masih kurang sabar".
"Dan egois".(Menyeka air mata).
"Hfyuh".
Fitri masih belum bisa menyetabilkan hembusan nafasnya sesaat setelah mendapati dirinya masih rapuh sama seperti dulu kala berkesempatan bertemu Salman, dirinya tidak dapat memungkiri keinginan hatinya menjadi pendamping hidup Salman.
"Setidaknya semua akan tetap baik-baik saja".(Lirih seraya emeluk erat lutut).
("Alhamdulillah".
"Saya juga hendak menjodohkan beliau dengan adik njenengan(Kamu) kalau bisa".)
Ng?".
"Ta'arufan?".(Putri).
"..."
Fitri mengangguk seraya tersenyum.
"Selamat".(Salman).
"Fyuh..".(Memejamkan mata).
(Sulit).
...
"Kang, Akang Suna sudah mempunyai tambatan hati?".
"Haih... klasik".(Arif).
"Ng?".
"Ssiapa writternya?".
"Eum?".
"Ra ni a".
"Sudah tidak di sini lagi".(Suna membuka barang-barang lain).
"Kang, di pakai ya".Sindi.
"Wih, To the point banget".
"Sindi sindi... sssst siapa?".(Suna).
"Entahlah".(Arif).
__ADS_1
"Nih Rif".(Melemparkan jam tangan).
"Eng?".
"Buat apaan?".
"Pakai".
"Kang, yang ada malah di bilangnya nggak amanah lagi ntar, make barang yang bukan seharusnya Saya pakai".
"Yah terserah mau Kamu apakan".
"Eh, Ini ada yang kasih akang sepatu juga loh".
"Wah, Hebat".(Arif).
"Sepatu?".
...
"Pssst, Mang Triss".
"Eh... Mba Indri..".
"Kenapa?".
"Cari mas Willy ya?".
"...".(Mengangguk tersenyum).
"Ada tuh di atas, sedang mengantar pesanan, dan sepertinya sekalian merapihkan Meja".
"Tumben kali ini malam datengnya?".
"Mmm lagi pengen ke sini malem Mang, Saya masih boleh magang dong...?".(Mengenakan baju dinas).
"Ooo itu, terserah Mba Indri aja".
"Emmm, Mang Triss polos banget".
"Mamang dah nggak sendiri yah?".
"Mmm, dah punya tiga Anak Mamang Mba".(Tersenyum).
"Oo, Maaf, Hihi".(senyum).
Hingga beberapa waktu Willy di lantai dua belum juga menunjukan Wujudnya di depan Indri, yang kala itu sudah mempunyai sebuah keputusan.
Indri sudah merasa lelah, dengan perihal percintaannya bersama Rudi, jadi dirinya hendak memutuskan ikatan Cintanya.
"Ooo, Elu yang mau deketin Indri".
"...".(Mencoba Sabar).
"Kenapa?".
"Apa perlu Gue jelaskan keadaan Lu yang gak ada pantes-pantesnya buat dapetin Indri".
"Apa pekerjaan Pasangannya".(Terkekeh).
"...".(Willy).
"Hey, Istirahat biar Aku yang menggantikan Kamu, Kamu udah Makan?".
"Aku Semalam nunggu chat Kamu sampe ketiduran loh".
"Emm".(Willy).
"Emmm, Aku mau Kita Makan siang bersama".(Indri).
"Biasanya Saya makan di pinggir jalan".(Ketus).
"Iya, nggak papa".
"Kemarin kan kita juga makan di warung pinggir jalan".(Bingung).
"Hueh".(Menghela nafas).
"Sebenarnya apa mau Kamu?".(Meraih Lengan Indri).
"Uh...".
"Ada Sesuatu yang sedang meningkat di diri Kamu".
(Kagum).
"Katakan saja".(Willy).
"Emmm, Aku mau Kamu".
DEG
"...".(melepas cengkraman tangan).
"Emmm".
"Sepertinya Kita belum sampai ke titik Akhir dari dialog Kita deh".
"Hhhhaaaahhha".
"Kamu kenapa?".
"Kok jadi aneh?".
"Willy...".
"Emmm... memangnya Kamu keracunan apa sih?".
__ADS_1
"Aku khawatir loh".
SEBELUMNYA
"Saya Tau Indri adalah Orang yang seperti Itu".
"Wanita kuat".(Senyum).
"Hey Bos..., Saya nggak mau pakai kekerasan, lebih baik Lu tinggalin indri dan hargai sikap ramah Gue sekarang".
"Saya tidak perduli siapapun yang mau datang maupun pergi jika memang Anda mampu, buat dirinya pergi tanpa harus memperkeruh keadaan".
"Saya tahu Anda sangat ramah".
"Tapi anda salah jika menyalahkan Saya yang tidak berniat mendekatinya".
"Ooo bagus itu...".
"Jarang Ku temui Seseorang yang tau diri bila bertemu dengan Ku Selama ini".
"Baiklah, sebaiknya Lu pergi dan lakukan tugas-tugas Lo, sebelum Bos Lu marah-marah".(Mengurai lipatan lengan baju).
...
"Kamu jujur saja, padaKu".
"Apakah Kamu sekarang sedang menjalin hubungan dengan seseorang?".
DEG
"Umm, Ituh".
"Jika memang dirinya Orang berpunya kenapa sampai seperti ini?".
"Kenapa harus muncul di hadapanKu?".(Melangkahkan kaki sedekat mungkin hingga Indri mundur menuju tembok).
"Emmm".
"Itu karena Aku sudah Setara dengan S1 jurusan percintaan".
"Empat tahun sudah Aku bersama..
"Laki-laki angkuh dan berpunya itu?".
"Wait...
"Aku belum pernah menceritakan ini sebelumnya".
"Aku udah nggak ada minat untuk berlama-lama menjalani ikatan Cinta tanpa kepastian Will".
"Lalu?".
"Ya... Aku pikir Kita..
"Kita?".(Willy).
"Ah Maaf, Sepertinya Kamu pun nggak memahami situasinya".
"Dan itu wajar, Aku bikin Kamu susah".(Menghela nafas panjang).
"Maaf".Lirih Indri memelas karena melihat Willy begitu dekat dengan kedua tangganya yang sudah menapak di tembok belakang tubuhnya.
"Kamu bahagia dengannya?".
"...".(Menggeleng).
Willy yang tersulut emosi oleh Pacar Indri pun mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan wajah mungil Indri, Indri yang sudah merasakan degup jantung yang semakin mengguncang hanya memejamkan mata.
"Ternyata benar dugaan Ku".
"...".(Indri bingung).
"Kamu nggak seperti yang dirinya bilang".(Terkekeh).
"Syukurlah".
"Emmm?".
Indri yang sudah tidak dapat menahan dirinya segera meraih tengkuk Willy yang masih dalam jangkauannya.
(Emm, maaf Will, Kamu sudah keterlaluan.. Aku patut di hukum karena ini...).
(Dassar). Gumam Indri kala me lu mat bibir Willy tanpa memberikan kesempatan Willy untuk melepaskan dekapan tangannya.
Malam itu Tak banyak orang yang tau Mereka berdua terjebak dalam posisi yang tak sepatutnya.
Namun Karena pengunjung yang tak begitu banyak, di tambah mang Triss yang sedang membersihkan Sekitar kafe, membuat mereka berdua tak bisa mengambil diri dari yang lain, dan terjebak dalam suasana tersebut hingga beberapa saat.
(Mungkin akan melupakannya tak secepat Aku jatuh seperti saat ini. tapi... Aku nggak bisa berkata apa-apa Aku... Aku jatuh Will)
(Aku sudah Jatuh).
...
"MenurutMu apa motifasi Mereka mengirimkan ini semua?".
"Yaa apalagi".
"Mungkin mereka lebih mengenal Akang".
"Akang mungkin Tipe mereka deh, kayaknya".
"Atau malah ingin menjadikan Akang kakak mereka , maybe mereka juga mempunyai Seorang kakak perempuan yang masih lajang.
Glutak!!
DEG
__ADS_1
"Emmm, Menurtuku".
"Kita udahan aja dulu kang".