
Tante.., Tante bahkan nggak melarang Suna untuk menuntut ilmu di Pondok itu?
"Em..., sebenarnya Tante juga khawatir, mungkinkah Tante berlebihan jika menanyakan perihal menantu dan cucu dengannya?"
"Oh enggak dong Tante.., kan memang seharusnya Tante seperti itu, yah aku juga bingung, memangnya apalagi yang di tunggu suna dengan umur yang matang serta kemapanan yang ia miliki sih Tan"
"Hem..., suna, mamah kangen nak, " ujar sumi menghela nafas mengingat keputusan yang di ambil suna secara mendadak dan sepihak.
"O ia, kalian kan... masih.."
"Mm... ia Tante..., kami masih sama-sama kok belum lama ini aku juga di ajak Suna jalan,". ujar putri seraya meraih secangkir teh menutupi kegugupannya.
"Kalau bukan karena pertanyaan tante soal Istri dan Cucu, memang sepertinya Suna sedang mempersiapkan sesuatu untuk kamu deh put..".(mengelus lutut putri)
"Tadinya Tante sempat berfikir hal yang lain"
lirih sumi seraya tersenyum.
"Mm.., Tante.., bisa aja"
"Eh gimana kalau kita jengukin Suna Tante, tante pastinya kangen kan, atau paling enggak mastiin suna di sana baik-baik aja".
"Wah keliatannya calon mantu Tante ini juga sudah kangen banget sama suna, kalau begitu besok pagi saja kita jengukin dia , dan memastikan keadaannya,"
"Hehe ia tante".
"Mm..., jadi hari ini.. aaa gimana kalau nak putri bantu Tante belanja keperluan untuk menjenguk?".
"Ok Tante, kebetulan putri suka banget masak".
"Ok bentar ya.., tante siapin mobil dulu".
"Hh.., udah tante pake mobil putri aja.., kan sama- sama mobil Tante juga".ujar Putri tersenyum
"Ng... kamu..., "(gemas)
"kalo gitu yuk, kita beli sayuran ke pasar".
....
Sementara itu Salwa dan Zahira kini sedang merasa bingung karena ada perubahan jadwal yang begitu mendadak, dua Fakultas yang seharusnya masuk pagi itu di pindah pada siang hari, membuat mereka berdua duduk di taman tempat biasa menunggu di mulainya kelas kuliah.
"Hem..., dosenku tak hadir karena ada masalah mendadak".
"Hem... sama dosen fakultas ku juga tak hadir hari ini. jadi harus bagaimana. mana masih lama lagih".
ujar Zahira menyilang kan kedua tangannya.
"Kalau pulang ke Pondok nggak mungkin, tapi ...
a aku tahu satu tempat yang menarik di kunjungi".
ujar salwa menarik tangan sahabat karibnya tersebut.
"Eh.. kemana.., ?".
"Ikut aja ayok".
ujar Salwa melangkahkan kaki dengan terus menggandeng tangan sahabatnya tersebut.
"hem..., mulai deh Salwa, kita masih ada kelas siang ini Sal... bisa-bisanya kamu ngajak aku ke sini?"
ujar Zahira mengomel dengan menahan sedikit langkah salwa yang seperti anak kecil menarik tangan orang tuanya.
"Yah..., aku bisa apa lagi.., masalahnya Klepon cuma ada di sini yang enak".
ujar Salwa menyusuri lapak-lapak pedagang di pasar yang dekat dengan kampus mereka.
"Hmm, ia apa boleh buat, sudah sampai di sini juga".
lirih Zahira yang sudah tak berdaya di buat salwa.
....
"Dah semuanya tan?"
"Em..., yah udah, rumah sudah di kunci pokoknya hari ini Tante harus bener-bener memanfaatkan kesempatan untuk Suna".
"Ia tan",
ujar Putri tersenyum.
"Mm..., kita kira-kira mau ke mall mana tan?"
"Eh..., jangan ke mall.., mahal. kita ke pasar makmur aja.,"
"Aaa..., hhh"(Putri)
"Ia kita ke pasar put.., tante nggak terbiasa jalan ke mall, selain itu di pasar se...muanya murah", ujar ibu suna meyakinkan putri yang sempat terkejut.
"hhhm., ia tante".
lirih Putri sedikit merasa apa yang ia rencanakan tak seperti realita yang terjadi.
"Yah tempat apapun jadilah, kalau hanya untuk sekedar berbincang dan merebut hati Tante Sumi.
semangat Put.. kamu pasti bisa".
gumam Putri seraya memperhatikan jalan.
"O ia, Put.. nanti kita mampir ke Kafenya suna yah.., Tante mau lihat tempat yang selalu membuatnya tidur larut bangun lambat".
"Em..., ia tante. nanti sepulang dari pasar kita ke Kafe". ujar Putri yang merasakan dirinya di duakan juga oleh kafe yang di miliki Suna.
Dan betapa syok nya putri setelah mendapati keadaan Pasar yang begitu padat dan jauh dari bayangan nya semua orang berlalu lalang hampir dengan celah yang begitu sempit.
__ADS_1
"Mana yah... ra..., aku kok kesulitan nyarinya"
"Mm... kayanya kita udah muter-muter deh sal".
"Ia.. aku juga merasa begitu tapi.., Klepon di sini enak loh".
"Mungkin penjualnya nggak dateng Sal.., mending kita cari tempat lain untuk menunggu kelas".
ujar Zahira yang berharap bisa mematahkan keinginan sahabatnya mencari Klepon dan keluar Pasar.
"Ah... itu ra...,! di sana.".
Dengan tanpa sengaja Zahira melihat salwa sedikit bersentuhan dengan seorang wanita menggendong tas serta seorang preman dan dua orang pemuda yang dengan sengaja melangkah membuat sempit jalan.
Zahira pun melangkah dengan perlahan serta memperhatikan gerak gerik tiga pemuda di jalan yang sempit itu, dan benar saja Zahira mendapati itu adalah modus pencopetan dengan situasi yang di buat oleh tiga orang pemuda dan preman bertubuh penuh dengan tato sebagai eksekutornya.
"Ayo Ra...,"
Dengan situasi yang tanpa di sadari, salwa tak sempat melihat gerak-gerik tangan preman yang ada di depan nya .
"Tap...,".
tangan Zahira yang dengan penuh penyesalan menyentuh tangan besar pencuri berniat memanfaatkan tas yang terbuka milik seorang ibu untuk mengambil sesuatu di dalamnya.
Dengan situasi yang sudah mencekam Zahira pun tak dapat berbuat banyak kecuali menghindari pukulan demi pukulan yang di layangkan Preman bertubuh penuh tato tersebut. dan Salwa histeris meminta pertolongan namun hanya di abaikan para pedagang karena ketakutan.
Di tengah zahira menghindari serangan-serangan preman tersebut, dua orang pemuda dari arah belakang Zahira mendekatinya.
Salwa yang tak bisa berbuat banyak hanya sempat melemparkan Smartphone miliknya yang hanya mampu mengenai salah seorangnya saja.
Zahira yang mengetahui salah satu barang berharga milik Salwa tergeletak di tanah sempat kehilangan keseimbangan dan menyebabkan dirinya terkena sedikit dari pukulan preman tersebut yang melemahkan nya.
Dengan air mata yang terus mengalir salwa histeris meminta pertolongan,
(tidak-tidak ini bukan yang aku inginkan tidak jangan dia ya allah jangan,... ira...)
dalam hati Salwa bergejolak melihat sahabatnya menerima luka lebam di pipinya.
"Lu mau apa sekarang ha...!!!!! "
"Lu cantik nggak seharusnya lu sok jagoan!!!!".
(berjalan menghampiri smartphone salwa)
"Bismillah".
tiba-tiba lirih seseorang melayangkan tendangan ke tangan preman tersebut menyebabkan sakit tak terbendung di tandai dengan teriakannya yang sangat keras.
"Kamu nggak papa ra?".
Fattah meraih lengan zahira yang di balas dengan tolakan tangannya.
"Aku nggak apa-apa".
Kini tinggal pemuda asing berjaket abu-abu dan Fattah yang di hadapkan dengan tiga preman tersebut.
"Mohon bantuannya"
lirih Fattah seraya mengencangkan kedua tali ranselnya seraya memasang kuda-kuda di belakang pemuda tersebut.
"Sudah sepatutnya"
ujar pemuda tersebut yang sudah dalam posisi siaga untuk menyerang.
Akhirnya dengan beberapa serangan, ketiga preman tersebut dapat di atasi oleh Fattah dan pemuda misterius tersebut.
Setelah pertarungan tersebut Fattah langsung mencari-cari Zahira yang membuatnya begitu khawatir.
"Ra..., ra.. lu ngga papa kan?".
ujar Fattah menghampiri Zahira yang sedang di obati oleh seorang ibu-ibu.
"Mm..., ini sepertinya harus di kompres,,.
sebaiknya kamu ikut tante biar Tante obatin".
"Mmm.., nggak apa-apa Tante ini cuma memar sedikit aja".
"Jangan tolak, ini sebagai terima kasih Tante sudah di selamatkan oleh kamu".
"Ah.., ia kita ke Kafe aja Put.., ujar Sumi seraya menggenggam tangan Zahira, yang sejenak muncul ingatan akan sesuatu tentang gadis yang kelihatanya begitu dekat dengan ibu yang ia selamatkan itu,
namun tak tahu di mana, dan sedang apa.
Sedang Salwa yang tak berdaya hanya mampu menyertai sahabatnya dengan mata merah karena tangisan tersebut kemana pergi, Fattah yang dalam hal ini tak bisa begitu dekat dan ikut empat orang wanita tersebut. akhirnya hanya mengantar mereka hingga mobil.
"Mm... , maaf mobilnya cuma 4 seat jadi...
"Ah.. ia nggak papa yang terpenting tolong jaga sahabat saya..,"
"Hmmm.., ok..,"
ujar Putri seraya memasuki mobil.
"Sebentar ya.., nanti kita segera obati luka memarnya".
"Mm.., makasih banyak Tante".
ujar zahira dengan tubuh yang masih belum terbiasa dengan keadaan mencekam hingga sedikit menggigil.
sedang salwa memeluk erat sahabatnya tersebut.
"Gimana..., enak..,?"
"jujur Tante itu tak tahu harus berterima kasih dengan cara apa., berhubung anak satu-satunya kebetulan pemilik Kafe ini jadi kalian Tante bawa ke sini deh".
__ADS_1
(Zahira dan Salwa hanya mengangguk kosong karena mengetahui di hadapan mereka adalah ibu dari Suna pemilik Kafe tersebut dan wanita di sampingnya adalah Putri yang saat itu, tepat di sini memutuskan hubungan secara sepihak)
"Mm..., ibu' ini obat-obat yang di sarankan Apoteker..., untuk di minum dan beberapa salep".
ujar mang Tris membawakan sekantong obat.
selain itu, jauh di meja kasir Willy memandangi keempat wanita termasuk Zahira yang berpipi sedikit lebam dengan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ah,, hhh nak Zahira ini tolong di terima" ujar Sumi menyodorkan sekantong obat pada zahira yang masih mengompres lebam di pipi dengan sekantong es batu.
"Oh, ia tadi itu..."(Putri)
"Itu teman di Pondok alhamdulillah datang tepat waktu".
"Aaa dia tadi bilang sahabat kamu bilang teman emmmm..,"(bingung)
"Ehm.., Putri.., kalau jaman Tante dulu ada situasi yang di kenal namanya mau tapi malu. anaknya juga baik, pintar beladiri Ganteng, hem... sama persis seperti Suna".
"Ukhu'... tiba-tiba Zahira tersedak karena mendengar kata-kata ibunda Suna di sela-sela ia meminum capuccino dingin.
"Hehe ia sih tan Ganteng juga". ujar Putri menambahkan, dengan saling berbalas senyum dengan Sumi ibunda Suna.
"AWh...,"
(zahira)
"Pelan-pelan ra...," ujar Salwa mengelus pundak Zahira
"Ia.., ini lukanya sakit banget".
(Zahira yang tak begitu yakin dengan kata-kata yang ia ucapkan langsung meraih kembali gelas miliknya)
Sedang putri dan ibu Sumiati hanya terkekeh mendengar kata-kata Zahira yang gugup. kala mereka membahas pemuda yang hadir di pasar tadi.
"Makasih banyak Tante.., kami berdua pamit".
"Loh..., kemana buru-buru sekali".
"Kami harus ngampus Tante".
"Ah.., ia di antar sahaja kalau begitu..., nak putri tolong di antar ya.., kemana? kampus yang deket sini itu kan..?.(memegang tangan Putri agar segera bergegas mengantar)".
Akhirnya zahira dan salwa diantarkan oleh Putri karena jam kuliah sudah tak lama lagi.
"Mm.., terima kasih untuk semuanya ya mbak. sudah menolong Ibu saya, nggak kebayang tadi kalau nggak ada mbak-mbak semuanya sama temen mba tadi".
ujar Putri sembari menyetir".
"Ia mba sama-sama".(Zahira)
"O ia, mbak-mbak ini kan di Pondok yah tadi bilangnya.., berarti tau Suna eh".
"Tau.". (Salwa dengan tanpa sadar keceplosan)
"A... hhhh ia jadi... mbak kenal donk?".
"Ng..., enggak-nggak saya nggak kenal. (siapa juga yang mau kenal dengan orang arogan)"lirih Salwa di kursi belakang.
"Mm..., ia syukurlah mba nggak kenal, jadi saya nggak perlu menasehati lebih jauh. saya hanya ingin memberitahu Suna adalah calon Suami saya".
"Eh..., mba. kiri-kiri ujar Salwa memberikan isyarat pada Putri agar menurunkannya di pinggir jalan dekat dengan pasar saat mereka berdua terlibat pertarungan".
"Ok..,"
"sekali lagi terima kasih banyak.,".
"Ia mba".(singkat Salwa sebelum membuka pintu)
"Huft....
ayok kita kembali ke Kampus".
"maaf yah.. , gara-gara aku kamu harus seperti ini".
ujar salwa seraya menggandeng tangan sahabatnya tersebut.
"Em..., kamu nggak bisa menyembunyikan perasaan itu Sal". lirih Zahira.
"Ng?? ooo ya... , sama seperti kamu, tenggorokan yang tersedak tapi yang sakit di dada eh.. di pipi".
ujar Salwa meledek Zahira.
"Aw.., sakit".(Zahira)
"Euh ueh cup-cup sini mana yang sakit em... sakit di pipi kanan merah di keduanya".
hihi.
"Mm..., tapi..., kamu merasa ada yang aneh nggak?".
kini Salwa yang merasa melupakan sesuatu.
"Aneh apa? siapa? ujar Zahira, em... seingetku hanya ada keanehan seseorang yang sangat pandai beladiri dengan teknik yang sangat bagus sudah menolong kita. ujar Zahira yang teringat sosok yang baru pertama kali ia lihat dengan topi dan jaket yang misterius".
"Mmm..., ia., itu juga, tpi bukankah perguruan silat sudah marak di mana-mana?".(salwa)
"Lantas apa yang aneh, yang kamu maksud?".
tanya Zahira
"Mm..., Handphone... Handphoneku tadi.., bukankah aku lemparkan tapi.., kita keburu pergi tanpa mengutip nya kembali".
ujar Salwa.
What... bisa-bisanya kamu kaget dengan ekspresi se datar ini ayok kita cari dasar Salwa..., nggak dari tadi...(menarik tangan Salwa)
__ADS_1