Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Itu Bukan Aku


__ADS_3

"Suna.., Suna..,".


"Astaghfirullah".(Terbangun)


Suna yang terbangun sesaat setelah seseorang terdengar memanggil namanya hanya menghela nafas panjang, kala di setiap hari seperti biasa terbangun di jam yang sama, jam Dua pagi meskipun di Rumah iya pun tak melakukan apapun kecuali kembali terlelap di balik selimut.


Kali ini Suna berniat mendirikan Shalat Tahajjud dan sudah berwudhu dan bersiap dalam permulaan Shalat di tempat Imam mendirikan Shalat.


"Waladha..lliin".


Shalat Tahajjud yang hanya dua rakaat sudah selalu dirinya lakukan semenjak dirinya selalu terbangun dengan segala macam hal pemicu, dari bayangan Salwa, Ayahnya, dan yah terakhir karena sebuah Suara seperti memanggilnya.


Suna yang tidak Ambil Pusing hanya berlalu menuju tangga utama Masjid dengan menyalakan lampu teras masjid Suna kini sudah duduk dan sedikit termenung.


"Astaghfirullah".


"Ngapain coba ngelamun, harusnya baca Al-qur'an".


"Bismillahirrahmanirrahim".


Akhirnya Suna membaca Al-qur'an hingga Subuh menjelang bahkan sebelum itu dirinya pun mendapati sekitar Dua puluh orang lebih mengunjungi Masjid lebih awal termasuk Fattah.


"Bismillahirrahmanirrahim".


"Arrahman".


"AllamalQur'an".


"Khalaqalinsaan".


"AllamahulBayaan".


Pagi ini Suna tak mendapati Arif di kamarnya hingga Subuh menjelang, bahkan dirinya mengira Arif sedang berapi-api untuk banyak beramal dan berusaha belajar.


"Membangunkan Orang-orang yang tahajjud mungkin"(Bergumam)


...


"Astagfirullah..."


"Astaghfirullah..."


"Ya Allah ya allah".


"Astaghfirullah".


"Eh .. tumben, biasanya dah ganti pake Training atau apalah itu".


"Dah Shalat kah kang?"(Bingung)


"Shalat? Dhuha?"


"Ya belum lah".


"Bukan, Subuh!"


"Udah lah, Tumben Kamu bangun cepat, biasanya perlu di bangunin dulu lebih awal".


"Wah, gawat kang, gawat".(Bergegas keluar kamar)


Arif yang tingkahnya Aneh sempat membuat Suna bertanya-tanya perihal apa yang sudah terjadi, tapi prasangka baik selalu ada dan beranggapan dirinya sedang panik karena Ujian Atau jadwal ujian yang sudah keluar.

__ADS_1


"Mungkin...".(lirih Suna tersenyum)


"Lebih baik Aku kembali mengurus ternak".


"Allah, Allah, Allah".


"Allahummaghfirlii ya Allah".


Suna yang mendapati Arif melakukan Shalat dengan keadaan begitu ketakutan kembali terduduk menunggu sahabatnya tersebut menyelesaikan Shalat.


Selain ingin bertanya, dirinya pun berniat mengajak Arif untuk ke kandang karena tidak ingin merepotkan Salman, yang sudah menjalani kewajiban di BAKAM.


"Rif.. ada acara nggak?"


"...".(pucat ketakutan)


"Mmm, Kamu kenapa toh?"


"...".(Menggeleng)


"Sakit?"


"Ya sudah, Kalau Sakit istirahat aja".


"Eh, memangnya Shalat Duha dah bisa?"


"Kan Matahari belum terbit?"(Bingung)


"..."(mencari Sarung untuk menyelimuti tubuh)


...


"Assalamualaikum!!".


"Tumben, Ramah banget".(Salman)


"Eng?"


"Emang Aku biasanya kaya gini eh?".(Bingung)


"Huuah... kemana Arif?"(Fattah menguap)


"Entah, Sepertinya Dirinya sedang sakit".(mengambil pendorong Kotoran Sapi)


"Pantas"


"Kok bisa-bisanya dia membiarkan Antum kerja sendirian".(Fattah)


"Iya, Mana gayanya seperti sedang punya masalah besar".(Salman)


"..."(Suna)


Mengetahui arah pembicaraan kedua Sahabatnya yang aneh Suna hanya fokus dengan pekerjaan agar cepat selesai dan bisa melakukan pekerjaan lainya mencari pakan.


"Kang lain kali bangunin Anak-anak BAKAM yang biasa-biasa aja, memang Kami terkadang suka jail memasang aliran listrik ke pegangan pintu".


"Tapi kan tegangannya kecil, lagian sepertinya Akang Suna sudah tau".


"Wah, kalian memang parah sih, tiap hari Aku terkejut saat memegang gagang pintu BAKAM".


"Iya, sebenarnya itu sangat membantu kan, jadi nggak ngantuk lagi"(Tersenyum)

__ADS_1


"Membantu apanya, Jantungan yang ada".(Suna)


"Ok lah, lain kali Kami tidak akan memasang lagih".


"Kami dah kapok".(Salman)


"Bagus".(Suna)


"Tapi memangnya Apa yang sudah terjadi?".(Suna)


"Antum nih jahat atau apa?".


"Antun tau sendiri, Kami Anak-anak bakam pagi ini terbangun karena genangan air yang merembes di lantai".


"What ada yang ngompol?"(Suna)


"Bukan, Mana ada Anak bakam yang ngompol".


"Kami di setrum".


"What?"(Suna)


"Siapa tuh yang berani nyetrum si Penegak Disiplin Pondok?"


"Siapa lagi Kalau bukan Akang lah, orang Saya sempat sadar kala itu".


"Memang sih Posisinya Akang membelakangi Kami karna dah mau pergi"


"Tapi Saya tahu persis itu Akang".(Salman menatap datar)


"wait.. wait.."


"Lu ngigo kayanya Man".


"Dah jelas-jelas Hari ini Saya nggak ke Asrama, Apalagi Kamar BAKAM".


"Dan Saya nggak pernah Lolos dari perangkap setrum kalian eh".(Suna)


"Lantas siapa? Arif?".(Salman)


"Ndak.. ndak, bukan Arif, Saya juga melihat kok Akang Suna membangunkan Anak-anak pagi ini".


"Akang Suna juga Duduk di mesjid kan".(Fattah)


"Nah, kan Saya duduk di Masjid!?'(Suna mengernyitkan dahi)


"...".(Fattah).


"Saya bertugas Qira' Subuh pagi ini".


"Malah Saya mengira Arif yang Membangunkan Semuanya".


"Mana ada... Arif Saya tahu persis gaya jalanya, mirip Zombi sempoyongan".


"Kang... sekali lagi saya jelaskan, Saya bertugas Qari' pagi ini Dan Arif yang ke Asrama kalau nggak percaya tuh tanya Arif di kamar, bahkan sekarang sedang beristirahat, menggigil, mungkin menemui hal aneh di Asrama".


"Kok Saya malah bingung ini".


Ujar Fattah yang mendengar pernyataan Suna.


"Tapi kalau di pikir-pikir saya melihat jelas Akang berada di kawasan Asrama, dan kalau di ingat-ingat saya juga bertemu Akang di tangga masjid".(Fattah)

__ADS_1


"Nah, Aku juga melihat antum itu kang".


"Tapi kan, yang ke Asrama Itu Arif... bukan Saya".(Suna)


__ADS_2