Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Ceroboh


__ADS_3

"Akang Suna?"(Kader BAKAM)


"Ada hal yang ingin ku selesaikan di depan".


"Oo Ok Kang, jangan lama-lama, ada kajian jam sembilan".


"Ya!".


Suna berharap kehadirannya di Kafe dapat membantu pekerjaan karyawannya


karena dengan ketidak hadiran Willy di pagi hari seperti saat ini pasti membuat Kang Tris mengalami kesulitan yang besar.


ngkikkkk!!! Thinnn!!!


"Oi!!! jalan pakek mata!!!


"Eh... Maaf bang maaf"(terburu-buru)


"Loh Kok di sini Mas?"


"Aku ada waktu dua jam kosong pagi ini, tolong ingatkan jika udah waktunya mas, Aku ada kajian di masjid soalnya"(meletakan kitab kajian)


"Emm apa enggak d(i)


"Ngga apa-apa Kang, Aku sudah izin dan menulis nama tadi".


Suna yang sudah menyusun rencana sedari malam tak ingin usahanya sia-sia terlebih ia teringat pekerjaan dan gaji yang di berikan untuk kang tris tidak begitu sepadan hanya Tiga Ratus Ribu Rupiah selama seminggu.


...


"Kenapa Kak Willy menghilang seingetku dirinya tidak pernah sekalipun absen dari pekerjaannya selama ini".


"Ra' Salwa masih di Pondok yah?"


"(...)".


"Pagi-pagi gini dah kaku dingin aja,".


"Aku tidak pernah tau kalau kamu juga perduli dengan Salwa, sebaiknya Kamu lupakan dirinya jika hanya untuk menahannya, yang sudah bisa membedakan yang baik dan tidak untuk dirinya sendiri"ketus Zahira memberikan peringatan pedas setelah kesendiriannya di usik oleh Fattah.


"Ra' Asal Kamu tau dia lah satu-satunya alasan aku bisa berbicara panjang lebar dengan Mu".


"So?"


"Ya selain itu tidak ada lagi".


"Ok.. fine biarkan yang sudah berlalu , kini Salwa sudah menemukan sedikit ruang dan apapun yang menyertai keberadaanya di pondok sudah nggak perlu di bicarakan lagih".


"Ra' "(menyentuh lengan)


"Lepas Tah, kamu nggak pernah ngerasain betapa inginnya Salwa seperti dirimu, berbicara panjang lebar bahkan Kamu bisa melakukan hal ini padahal kamu seorang Ketua ".


(...)(Fattah)


"Lepasin !!"(berusaha melepas cengkraman Fattah di lengannya)


"Astaghfirullah".(melepaskan genggaman)


"Kita emang gak perlu lagi ketemu atau semacamnya tah urusi saja urusanmu"(bergegas)


(Kenapa harus dengan cara-cara bodoh seperti itu! aku bukanlah hadiah dari kesengsaraan yang kau ciptakan)


...


"Hemm biasanya kalau jam segini aku punya waktu untuk membicarakan banyak hal dengan Khumairah namun akhirnya aku pun kembali sendiri huft".(menyandarkan diri di taman)


"Argh mana hafalan ini sedikit membuat mataku berat.. kalau saja..".


"Yah begitulah ceritanya, Saya ke sini mau Order kopi biar bisa jadi teman saya mengejar hafalan tepat waktu". ujar Putri menceritakan perihal penyebab kedatanganya di Kafe Suna pagi ini pada Kang Triss.


"Oo, semangat Mba Putri semoga harinya menyenangkan!"(Menyodorkan secangkir Kopi)


"By the way, Kok sendiri mas?"(menyodorkan uang)


"Ah, iya Mas Willy anu..


"Oo iya, iya, Saya paham pasti ingin menyendiri kan, yah semoga dia cepat membaik, memang tak mudah merelakan"(tersenyum)


"Aamiin, eh?"


"Hhh bukan apa-apa mas, sekali lagi terima kasih kopinya!(bergegas kembali ke pondok)


"Kok Putri bicara begitu perihal Willy?"(keluar dari tempat persembunyian)


"Eng mungkin nih mas, mungkin nih yah, semua ini ada kaitanya dengan Mba Putri dan temanya tempo hari, sebelum mas Willy memutuskan untuk rehat".


"Memangnya kenapa , siapa teman Putri dan apa kaitanya dengan Willy?"


"Yah mana Saya tahu mas, hehe"


...


"Dok.. bagaimana kondisi Suami saya dok!?"


"Ibu' Kami sudah mengupayakan penanganan terbaik Kami, kondisi beliau sudah stabil tapi..


"Tapi apa dok?"(terisak)


"beliau mengalami Koma, akibat benturan keras di kepala, kita harus tetap mendampingi beliau agar lekas siuman".


"(...)"(menangis pilu)


(Pah.. kira-kira Mamah berkesempatan menimang cucu atau nggak yah hhh".


"Ng?? Mamah, Mamah bicara apa toh, Mamah pasti menimang cucu ,bahkan Mamah masih secantik ini kala itu".(memeluk Sumi)


"Hemmm Papah masih se ganteng itu juga kan, kayanya rambutnya tak tak lagi hitam karena beban pikiran , yang terus menyerang hhh".


"O enggak, kan dalam waktu lima tahun lagi Papah akan pensiun dan akan ada waktu yang panjang untuk Mamah, kita mengurus cucu dari anak semata wayang yang bandel itu".


"Ih Papah, Suna sudah lebih baik loh.. sejauh ini ia mampu menunjukan bahwa dirinya mampu menempuh pendidikan di pondok pesantren".(memutar badan dan membalas pelukan Ayah Suna)


"Iya, Iya Sebuah Prestasi yang baru-baru ini bikin Mamah ingin mengeluarkannya dari Pondok Hhhh".


"Ih Papah.. sebel...(melepas pelukan)


"Cup.. cup.. cup.. dah jangan kemana-mana dulu, Papah ingin melepas rindu, Kita dah lama nggak sedekat ini kan".(kembali mendekap Sumi dalam pelukan)


"Hemm Papah nggak capek?"

__ADS_1


"Enggak, Papah lagi istirahat ini"(memejamkan mata))


"Papah.."(terisak di kursi tunggu)


...


"MasyaAllah.. hhh" (merebahkan tubuh di sofa )


"Alhamdulillah semuanya kelar bahkan lebih cepat dari perkiraan".


"Iya Uti alhamdulillah semuanya selesai, tinggal haus nih".(Membenarkan lipatan hijab)


"Mau kaka ambilkan minum?"


(meletakkan pel-pelan)


"Emmm nggak lah Uti, biar Salwa sendiri yang mencari abis ini, kayanya es kopi enak nih".


"Eumm"(Khumairah tersenyum)


"Yah sudah, terima kasih banyak ya Salwa, udah ngerepotin kamu deh jadinya".


"Ah Uti mah... gituh, nggak apa-apa Uti Salwa tidak membantu dengan gratis tau, lain kali datanglah tengok adikmu ini di Pondoknya"(memeluk)


"Mm ya.. tapi kita kan sudah ketemu, ya paling tiga bulan atau enam bulan lagi dari sekarang".(terkekeh)


"Ih.. Uti.. , ".


"Iya, iya, nanti Uti sempatkan berkunjung sebulan sekali mungkin, melihat sikon juga karena Uti sekarang punya anggota kelas".


"Ya .. Aku juga bercanda kok Uti, tengoklah selagi ada waktu".


"Loh? mau kemana salwa?"


ujar Hasan yang merapihkan bagian luar rumah.


"Akang hasan saya mau pamit semuanya sudah selesai, mau pulang ke rumah Abi".


"Eummm, makasih banyak ya Salwa sudah membantu".


"Iya, sama-sama Akang , Aku titip ka khumai kalau nakal di cubit aja".


"Hehe iya Salwa, kamu juga semoga hafalannya lancar".


"Eumm Aamiin ya rabb".


...


"Jam segini anak-anak SMA Dalam(Pondok) belum ada yang beristirahat, Sofi pun sepertinya tidak sedang tugas piket kamar".


"Hemm padahal bertahun-tahun aku di sini tidak pernah merasakan keheningan ini, setiap hari berpacu dengan waktu hihihi".


"Salwa?"


Putri yang berpapasan dengan Salwa yang berjalan sendiri, menyapa dengan senyuman, dengan secangkir kopi dan beberapa cemilan ringan di kantong plastik di tangannya".


"Umm Uti Sedang belajar yah, semangat!!"(tersenyum)


"Mmm Makasih banyak, Kamu juga ya, semangat. Aku mau ke taman hafalanku masih banyak da..".(melangkahkan kaki)


"Iya Uti.. semangat yah, Uti pasti bisa kok! Aku percaya"


"Thank You So Much"(tersenyum)


"Ku rasa Uti Putri kecantikannya menyaingi ka Khumai deh bahkan ia lebih terlihat begitu menawan hhh pantas lah dia menjadi pacar Suna".


Lirih Salwa yang melangkah mendekati Pintu gerbang.


إذا المرأ لا يرعاك إلا تكلفا


Jika seseorang tidak menjagamu, tapi justru memberatkanmu,


فدعه ولا تكثر عليه التأسفا


Maka tinggalkanlah ia, dan jangan terus mengasihaninya.


ففي الناس أبدال و في الترك راحة


Diantara manusia, ada banyak pengganti (dari mereka yang menyusahkanmu), dan ketika meninggalkan mereka, akan ada rasa tenang.


و في القلب صبر للحبيب ولو جفا


Dan dalam hati ada kesabaran bagi mereka yang dicintai, meski mereka sedang berjauhan.


فما كل من تهواه يهواك قلبه


Tidaklah semua orang yang kau cintai, mencintaimu dari dalam hatinya.


ولا كل من صافيته لك قد صفا


Dan tidak pula semua orang yang engkau tulus (mencintai) mereka, mereka pun tulus (mencintai)mu.


إذا لم يكن صفو الوداد طبيعة


Jika cinta yang tulus belum menjadi suatu tabiat dalam suatu hubungan (persahabatan),


فلا خير في ود يجيء تكلفا


Maka tiada kebaikan dari sebuah cinta yang hanya mendatangkan kesukaran.


ولا خير في خل يخون خليله


Dan tak ada kebaikan dalam persahabatan yang salah seorangnya mengkhianati yang lain,


و يلقاه من بعد المودة بالجفا


Dan membalas cinta temannya dengan sikap yang dingin.


و ينكر عيشا قد تقادم عهده


Dan mengingkari janjinya yang telah ia lontarkan


و يظهر سرا كان بالأمس قد خفا


Dan membuka rahasia (temannya) yang sudah sangat tertutupi sebelumnya


سلام على الدنيا إذا لم يكن بها


Ucapkan selamat tinggal pada dunia (tak ada manfaatnya lagi) jika tak ada lagi di dalamnya,

__ADS_1


صديق صدوق صادق الوعد منصفا


Seorang teman yang jujur, menepati janji, lagi adil (mampu menempatkan semua urusan sesuai pada tempatnya)


-imam syafii


"Ok ... kita mulai dari bait pertama"(Putri)


"Idzal mar'u la yar'aka illa takalufan".


...


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam , eee De' salwa dah lama nggak keliatan kemana aja?".


"Eng? Saya pindah ke Pondok tahfidz Kang, kemarin kan Saya juga ke sini".


"Ooo".(terkejut)


"Tapi sebentar aja, Akang pun sedang sibuk kemarin jadi bukan Akang yang melayani Saya".


"O iya, Mas Suna kemarin yah".


"Yah, es kopinya satu Mas".


"Iya,"


"Ngomong-ngomong dia nggak di sini kan?"(melirik ke segala arah)


"E' iyya nggak di sini kok ,"


"Mas Suna kan?"


"(...)"(Salwa mengangguk)


"Nggak, Mas Suna ada di dalam(Pondok) o iya, kan katanya kemarin ada kajian di Mesjid Untuk mereka-mereka yang tidak kuliah".


"O.. iya, sekarang kan sudah jam sembilan lewat"(melihat jam mungil di tangan)


Sedang mas Tris yang mendapati Suna seolah tidak ingin menemui Salwa hanya merasa aneh dengan tingkah Suna yang sempat memberi kode dari kejauhan.


"Apakah sebaiknya Aku yakinkan kembali hati Salwa bahwa Aku benar-benar mencintainya?"(memeluk nampan)


"Ng Ini?"(meraih sebuah buku pegangan Santri bertuliskan nama Suna)


"Emm i'(Ya)"(Kang triss)


"Ini milikKu Sal.."


Tiba-tiba Suna meraih buku dan memegang tangan Salwa.


...


"Astaghfirullah.. kenapa dirinya tidak juga mengerti bahwa... bahwa yang Ia lakukan tidak akan membuahkan hasil, bahkan sekuat apapun tekadnya kalau menurut Abi salah ya salah".


lirih salwa yang berkeluh kesah di jalan menuju rumah.


...


Di Masjid.


"Afwan Ustadz, saya terlambat".


"Bil qiyam"


"Iya ustadz"


Dengan kajian yang di pimpin oleh KH.nuruddin ,Suna melewatkan belasan menit pertama hingga membuat dirinya berdiri hingga akhir kajian.


Bahkan iya kembali teringat usaha terakhir yang ia lancarkan di kesempatan yang tidak di duga-duga juga tidak membuahkan hasil yang membuat dirinya sedikit tenang, karena Salwa jelas-jelas terganggu dengan sikap dirinya yang seolah lancang menggenggam tangan Salwa, bahkan Salwa memberi peringatan besar untuk tidak melakukan hal-hal di luar kewajiban Suna di Pondok atau Ia akan melaporkan Suna pada Ayahnya.


"Suna, Segera potong habis rambutmu"


"Iya Kiayi?"


"Potong habis rambutMu dan segera menghadap ke rumah Saya jika sudah".


"Tap


"Suna, Saya tidak mengharapkan apa-apa dari seluruh Santri kecuali kemauan, kalaupun tidak ada niatan itu pada diri salah seorang Santri, mereka ataupun Kamu sekalipun bisa melangkahkan kaki dari Pondok ini karena Saya merasa bukan Satu-Satunya Orang yang punya lembaga pendidikan agama".


DEG


Suna yang mendengar ucapan Kiayi merasakan perasaan bersalah yang teramat menyesakkan dada.


SEBELUMNYA


"Kang siapa yang sedang ada di luar? Adakah yang sedang izin?"


"Oh.. anu Kang Salman, Kang Suna katanya ada urusan yang ingin di selesaikan tapi sudah Dua jam lebih belum kembali".


"Dua jam?"(Terkejut)


"Iya kang".


"Ada apa nak Salman?"


Lirih Kiayi Nuruddin sepulang mengecek seluruh Pondok di pagi hari, membuat Salman tak kuasa dan menceritakan perihal Suna yang sudah keluar Pondok lebih Dari waktu yang sudah di tentukan.


"Cukur habis rambutnya Salman".


"Iya Kiayi?"(terkejut)


"Kamu paham peraturan tetaplah peraturan, tidak seorang pun di bedakan di Pondok ini semuanya sama jika melanggar, dan Kamu Saya kira sudah sangat paham dengan itu".


"Setiap orang harus mampu menempatkan diri pada tempatnya, dan juga memimpin, kita semua ini adalah pemimpin minimal pemimpin untuk diri kita sendiri".


"Iya Kiayi".


"Ahsanta,".(Kiayi Nuruddin)


"Tapi Kiayi, Saya tidak bisa melakukanya Akang Suna Sahabat Saya".


"Saya tidak .. tidak sampai hati Kiayi".


"Baiklah untuk itu, beristirahatlah dari jajaran BAKAM agar dirimu kembali mengerti pentingnya berkata yang baik walaupun pahit".


"Lalu jangan lakukan apapun sebelum kembali Saya pinta".

__ADS_1


"(...)"(Tertunduk)


__ADS_2