
Assalamualaikum
Waalaikumussalam.
"MasyaAllah".
"Kiayi, Sudah lama tidak berkunjung".
Pagi ini seseorang yang sangat dekat dengan Kiayi Nuruddin kembali menyambangi Pondok Ihya'.
Kedatanganya tidak sendiri, namun bersama seorang Ustadzah seorang sahabat dari Salwa, adik Hasan.
"Seperti itulah, Jadi kedatangan Saya beserta rombongan seperti ini, ingin memperkuat ikatan silaturahmi di antara Kita, serta mengantarkan Ustadzah Fitri Ramadhani untuk membantu mendirikan kelompok penghafal, seperti yang di minta oleh Kiayi Nuruddin".
"MasyaAllah".
"Saya sangat bahagia Kiayi, karena di kunjungi Ayah sendiri".
"Apapun yang yang Kiayi minta, insyaAllah".
"Alhamdulillah".
"Maaf, karena Saya tidak memberi tau sebelumnya".
"MasyaAllah iya Kiayi".
"Saya juga memohon maaf sebesar besarnya atas penyambutan yang sangat sederhana ini".
"O nda papa nda papa".
"O ya, Antum kenal Salman?".
"Apakah dia masih seperti dulu membuat masalah?".
"Alhamdulillah Kiayi".
"Setahu Saya".
Hasan menceritakan kemajuan besar Pondok Ihya' yang di dorong oleh kehadiran Salman, dengan mengadakan perkumpulan penghafal serta beberapa perkumpulan lainya, Termasuk tahajjud, Serta Puasa Daud.
"Alhamdulillah".
"Saya juga hendak menjodohkan beliau dengan adik njenengan(Kamu) kalau bisa".
DEG
Sontak kata-kata Ayah Salman membuat canggung Ustadzah Fitri Ramadhani serta Hasan yang di dampingi oleh Khumairah.
...
"Ya Allah".
"Capek".(Mengibaskan Topi).
"Man, kalau Aku mengajukan diri untuk Ta'aruf kira-kira bagaimana menurutMu?".
"Emmm Taaruf yah".
"yang pertama mungkin, Aku akan berjodoh dengan Salwa".
"Dan Aku tidak mau".
"Cih".(Tak menduga).
"Al Ustaadzu".
"Ustadz loh kang".
Salman kembali meyakinkan Suna kembali akan Posisi dirinya yang sudah lama hendak di jodohkan Salwa sebagai tanda pengikat erat silaturahmi antara Pondoknya dan Pondok Ihya'.
__ADS_1
"Yah, memang sih sedang merebak perta'arufan".
"Tapi Akang juga masih menunggu Dia kan?".
"Yah".
"Mungkin, tapi kalau Salwa di sana juga kenal dengan banyak orang".
"Laki-laki juga kan".
"Hhhh,Pupus sudah".
(Salman meledek).
"Hehehe".
"Aku nggak terlalu sedih karena itu".
"Hanya saja kalau memungkinkan bersama dirinya akan sangat membuatKu bahagia".
"Yah".
"Meski kedengarannya lebay".
"Tapi Saya dukung kok".
"Ngomong-ngomong".
"Jam berapa ini?".
"Delapan lebih".(Suna).
"Wah waktu Kita nggak banyak".(Salman).
Salman dan Suna yang hendak membersihkan Masjid di kejutkan dengan kehadiran Mobil Pondok Tahfidz kepunyaan Ayah Salman yang sudah terparkir di sekitar rumah Kiayi Nuruddin.
"Situ mau Nyamperin Kiayi?".
"Ya BapakMu Man".(Senyum).
"Biar Saya mulai lebih awal".
Lirih Suna yang segera memulai pekerjaan tanpa beristirahat seperti biasanya yang selalu duduk-duduk di tangga utama memperhatikan para Pengajar yang bergantian memasuki ruang kelas, ataupun para santri yang berkeliaran di awal-awal waktu istirahat.
...
"Ah, Ituh".
"Saya tidak enak untuk memutuskan secara sepihak Kiayi".
"Ah, Iya".
"Saya mengerti".
"Nanti jika Salwa sudah pulang biarkan Kita kembali bertemu dan Saya akan menanyakan secara langsung".
(Salwa dan Salman?)Ustadzah Fitri merasakan Sesak di dada mengetahui sahabatnya itu hendak di jodohkan dengan Salman.
"Emm, Sepertinya begitu Akan lebih baik Kiayi".
"Iya, Apapun itu".
"Kita tetaplah Saudara, seiman, apalagi Saya kenal baik dengan Kiayi Nuruddin".
"Saya harap Antum bisa menasihati beliau jika sudah pulang".
"InsyaAllah, InsyaAllah akan Saya lakukan seperti yang Kiayi minta".
...
__ADS_1
"Fitri".
Lirih Salman yang terhenti ketika hendak menghampiri Rombongan, Para ustadzah yang mengantar Ustadzah Fitri keluar dari kediaman Kiayi Nuruddin yang kini di huni oleh Hasan setelah Ummi zakiyath menyusul Kiayi Nuruddin belum lama ini.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".
"Ini siapa ya?".
(Dr Riyan).
"Suna pah".
"Eh Suna".
"Gimana kabarnya?".
"Alhamdulillah Baik".
"Tumben nelfon?".
"Ah, Suna iseng aja".
"Giman kabar Mamah?".
"Baik?".
"Uem, sedang istirahat".
"Sebenarnya Suna ingin berbicara masalah Ta'aruf".
"Di sini Suna di tawari untuk mengajukan diri untuk berta'aruf".
"Taaruf?".
Seketika Dokter Riyan kembali teringat kata-kata Sumi ibunda Suna yang mengatakan bahwa Apapun yang terbaik untuk Suna Iya kan saja.
"Ya..segera Suna".
"Ta'aruf kan baik".
"Papah akan sangat mendukung".
"Emmm, tapi Suna akan terus di pondok selama hidup Suna".
"Pulang hanya sesekali pah".(Suna).
DEG
"Wah ituh".
"Sepertinya harus Kita bicarakan terlebih dahulu nak".
"Kamu tahu sendiri Mamah Kamu saja sangat sayang kepadamu".
(Sampai-sampai mamah belum bersedia menambah personel).
"Yah, Sudah lah".
"Suna juga hanya Iseng".
"Nggak perlu di bawa terlalu serius".
"Besok Suna akan pulang, Beristirahat sebentar".
"Ok".
"Kita atur pertemuan dengan club futsal Papah".
__ADS_1
"Wah, Pah boleh tuh".
...