Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Pasangan Klop


__ADS_3

"E' eh Mang Triss".


"Iya, Kang Willy di dalem?".


"Iya Mang, masuk Mang".


Indri sedikit merasa aneh dengan gerak-gerik Mang Triss saat dirinya sedang hendak ingin membuang Sampah.


"Assalamualaikum!".


"Waalaikumussalam".


"Wah udah siap ini kayanya".


"Udah Mang".(Suna).


"Wheyy, Mang, gimana kabarnya?".


"Sehat?".(Willy).


"Alhamdulillah".


Dengan di awali sedikit obrolan ringan kini mereka berempat sudah siap menunggu pelanggan di saat sore menjelang.


Selain itu, Indri dan Willy selalu terlihat menikmati kebersamaan di antara mereka berdua, saling membantu dalam melaksanakan pekerjaan mereka di tempat Peracikan Kopi.


Sedangkan Suna dan Mang Triss yang sangat terbantu oleh kekompakan yang di pertontonkan oleh Mereka, hanya duduk dan menunjukkan senyum tak percaya kedekatan Mereka begitu memukau keduanya.


"Eh, Kang Suna, jalan".


Mang Triss memberi Suna isyarat untuk melihat jalan, karena di sana ada Sofi dan Salwa, sedang berdiri di seberang jalan.


"Uti, Uti tenang aja, kali ini giliran Aku mentraktir Uti, Uti tinggal santai dan menikmati apa yang akan Aku peroleh untuk Uti".


"Hem, terserah Kamu deh Sof".


"Ok".


"Pertama kita beli minum di Kafe Kita, soalnya masalah minum nggak ada tandingannya".


"Lalu, kita beli makanan ringan saja, biar tidak mengganggu Shalat".


"Mmmm, beli apa yah Uti?".


Salwa tanpa sadar memandangi Suna yang kala itu terlihat duduk berdua dengan salah seorang pegawainya.


"Suna".Lirih Salwa


"Hey... Akang Suna!!".


Dengan segera Sofi membalas lambayan tangan Suna di dalam Kafe.


"Ayo Uti".(Menggandeng)


"Sofi, pelan-pelan".


DI KAFE


"Hai...".(Willy)


"Eh, Ka Willy".


lirih Salwa di sapa oleh Willy yang kini bersama dengan seseorang yang begitu erat menggandeng lengannya.


"Wih... ada Pengantin baru".(Sofi).


"Sa Yang?".(Indri).


"Ini, Sofi Sa Yang, pelanggan di Kafe Kita, dulu juga hadir di pernikahan Kita loh".


"Ooo, Hai... Sofi, maaf yah, soalnya My Bebeb ini banyak kenal perempuan di masa lalunya".


"Hehe iya Ka".(Sofi).


"Lalu ini?".


"I'iya Ka.., ini kaka Saya, Uti salwa".


"Ooo, Uti Salwa".

__ADS_1


"Uti itu Saudara Sa Yang".


Ujar Willy menjelaskan kepada istrinya tersebut.


"Ooo".


"Hai... seneng bertemu Kamu".


"Kalian Saudara Kandung?".


"Emmm, Kaka kelas Hihi".(Sofi tersenyum).


"Ooo, ok.., mau pesan apa? Kita juga lagi promo loh".


"Dan ada Takjil juga".


"Gratis".(Tersenyum).


"Wah, sepertinya Aku harus diet bulan depan Emm".


"Eh, Why...?".


"Badan Kamu dah bagus Beb".


"Trust Me".


Sofi dan Salwa kini menjadi sangat Akrab dengan Indri hingga mereka memutuskan duduk tepat di depan Tempat peracikan Kopi.


Sementara itu, Suna dan Mang Triss hanya tersenyum dari kejauhan.


"Kang".


"Mmm?".


"Kalian itu pasangan serasi loh".


"Ah, masa si Mang".


"Siapa?".


"Akang dan Anak Kiayi itu".


"Salwa?".


"Hhh, Saya tidak merasa seperti itu".


"Ini menurut Saya lo yaa".


"....".


Suna hanya terdiam dan kembali termenung memikirkan satu hal.


"Na..., barusan..".


"Iya, Salwa Will".(Tersenyum).


"Nggak biasanya?".


"Hmmm, iya, mungkin Aku belum cerita sama Lu".


"Gw lagi nunggu surat keputusan buat Ta'aruf".


DEG


"....".(Willy)


"Yah, Aku tidak ingin membuat Salwa bingung".


"Dunia ini memang membingungkan Na".


"Mmm?".(Suna).


"Iya, Dunia memang membingungkan, makanya sederhanakan aja...".


"Wanita itu jarang yang berterus terang".


"Dan Laki-laki di tuntut untuk beraksi".


"Yah, dan Aku sudah".(Suna lesu).

__ADS_1


"Cih, bisa-bisanya Lu malah bikin dia Bingung".


"Di mana-mana Wanita hanya menunggu".


"Atau menerima keadaan, harusnya Lu tetep seperti sedia Kala sih".


"...".(Suna).


"Action".


"Kalau seperti ini Dia hanya akan mencoba untuk menerima keadaan". Ujar Willy yang berpaling kembali ke tempat peracikan Kopi setelah sebelumnya hendak menghampiri Suna dan Mang Triss.


Lirih kata-kata Willy menyelinap kedalam telinga Suna yang terpaku, Dan kata-kata itu makin menambah sesak di dada Suna.


(memangnya masih ada peluang?).


(Saat ini merelakan adalah hal terbaik daripada membuatnya semakin kacau, dan semuanya akan membaik dengan perlahan kan?).


(Iya kan Mah?).


...


"Sa Yang?".(Indri).


"Hemm?".(Willy).


"Nih, bentar lagi Buka".


"Wih, Thanks banget".


"Sa Yang".


"Iya Sa Yang".


Sementara itu di Pondok kini Khumairah di hadapkan dengan sebuah keputusan besar yang harus segera dirinya ambil.


(Uti, Uhibbuhu(Aku mencintainya)".


"Uti, Ana nggak mau lagi menutup-nutupi, Selain membahagiakan Abi dan Ummi, aku juga menginginkannya".


"Uti, Dia juga mencari Ku".


"Uti, nggak bisa kah ini di bicarakan?".


"Ukhti, Ukhti tahu kan dirinya berada di Pondok karena Aku?".)


"Salwa, Uti.. sangat saayang sama Salwa".


"Uti nggak mau Salwa tersakiti".


"Uti nggak mau".


Khumairah terduduk merenungkan kejadian yang telah terjadi sebelumnya, dirinya merasa telah menjadi seseorang yang lain di hadapan Salwa, Salwa yang kini sudah jauh berbeda sudah mau mengalahkan ego di Dirinya membuat dialog terakhir di antara mereka makin terngiang di telinga Khumairah.


Selain sebuah keberanian yang ada di dalam diri Salwa di masa lalu, tidak ada yang membedakan dirinya dengan Khumairah bahkan dengan kakak-kakaknya yang lain.


("Uti, bagaimana jika dia benar-benar menginginkanKu?".


"Lalu ini?".(Menunjukkan Surat).


"Uti, Tolong, Aku ingin melakukan bagian Ku".)


"Salwa, Kakak nggak mau Kamu... menjadi penghalang Al-akh Suna menentukan niatnya".


("Uti, Aku tidak ingin membuat beliau merasa penantiannya sia-sia".)


"Salwa, percayalah memang ada yang sudah berubah di Dirinya".


("Salwa, jaga batasan-batasan diri Kamu, dengan Beliau menuliskan Surat ini, berarti sudah ada yang berubah di dirinya".)


("Satu lagi, jika Al'akh Suna tidak memilihMu di kala dirinya berubah menjadi lebih baik, Uti rasa ada yang perlu di perbaiki dari diri Kamu Sal".)


"Tapi Kakak percaya kalau itu bukan di sebabkan oleh Kamu De' ".


"Ya Allah, maafkan Aku".


"Aku sudah berlebihan".


Lirih Khumairah menitihkan air matanya.

__ADS_1


...


__ADS_2