
"Wah waktu yang di tunggu-tunggu sudah tiba..., Turnamen Pondok, Kang Sun... kira-kira aku bakalan menang nggak ya... ,?"
"Emmm?"
"Ia, aku kan di latih Kang Sun yang katanya Best Fighter jadi kira-kira bakalan menang nggak yah,?".
"Emmm juara dua, karna kalau turnamen itu benar adanya aku juga akan ikut., hhhh juara satu pasti akan ku sabet. jadi mau nggak mau kita bersaing".
"Dil...!!"
"pokonya mah... kalau bersaing saya mau kalaupun kalah saya nggak akan buat menjadi mudah.".
"Mantap.... ini baru semangat anak muda" .
"Memangnya semeriah apa turnamen di dalam Pondok?".
"Wah... Kang Sun belum pernah tau? Turnamen Olahraga itu... turnamen terbesar di dalam Pondok, semua biasa berkecimpung... ini lah pekan di mana kita bisa menunjukan kemampuan-kemampuan kita, dan berkesempatan bersaing dengan kakak kelas maupun BAKAM Pondok penegak Disiplin".
"Lombanya pun beragam, dari Khat,Qira'ath,Kaligrafi,dan yang paling bergengsi adalah Pencak Siilat. ya meski beberapa Santri ada juga yang suka Olahraga sepak bola".
"Ooo begitu.".
"Wah .. nggak sabarnya aku ingin menembus sepuluh besar".
"Wait... tadi bukanya target kamu juara satu?
"Mmm sepuluh besar pun sudah membanggakan Kang... karena jajaran BAKAM jelas akan mendominasi dalam kejuaraan Pencak Silat karena mereka memang bergelut di satu bidang itu selama ini".
"Eumm, kenapa kamu nggak mengunggulkan Qira'ath.. kan kamu sudah berkecimpung lama".
"Hehe , keduanya bukan hal yang perlu di bedakan Kang.. aku pun mau ikut Lomba tersebut kalau nantinya waktu pelaksanaan lomba tidak bersamaan dengan Pencak Silat".
"Pun... kang Hasanuddin pasti akan menduduki juara pertama, seperti yang sudah-sudah".
"Wah Turnamen ini sudah hampir semua ada yang di unggulkan yah". lirih Suna
Malam itu di tangga masjid arif dan suna sudah dalam kesiapan yang hampir sempurna karena sudah berbulan-bulan berlatih bahkan Suna sudah sedikit mengerti lawan kompetisi yang mungkin akan ia hadapi di setiap cabang turnamen.
"O ia, bagaimana kalau besok kita ke lapangan, berlatih bersama anggota BAKAM , sudah lama aku tidak mengikuti latihan karena fokus belajar alunan Qira'ath".
"Eh.. hhh saya sebenarnya nda berani, tapi... kang Sun wakil ketua perguruan yah... aku ikut sih kalo boleh.".
"Ia, besok kita latihan bersama".
Akhirnya turnamen olah raga pun di mulai, dengan waktu yang di tetapkan adalah selepas ashr di masing-masing cabang Olahraga, dengan tempat yang telah di tentukan
sepak bola di lapangan hijau tempat latihan BAKAM, dan peserta adalah anak-anak sma yang kebanyakan satu kelas.. sedangkan pencak silat di depan rumah KH. Nuruddin
olahraga yang paling bergengsi di kalangan para Santri.
sedang Kaligrafi dan Qira'ath berada di dalam Masjid.
hari ini sudah ada dua puluh nama Atlit pesilat yang namanya sudah di umumkan di Etalase BAKAM dan dalam satu minggu ke depan akan bersaing.
Terlihat beberapa anak SMA berkerumun di pagi menjelang masuk kelas,, sementara sebagian anggota BAKAM bersiap menuju kampus, termasuk Fattah, ketua BAKAM selaku kordinator pelaksanaan Turnamen Pencak Silat sekaligus pemenang bertahan selama ini.
"Assalamualaikum, sepertinya ada yang sedang memikirkan sesuatu di tengah jalan pagi ini".
"Eh.. hhh ia saya penasaran dengan rancangan pertandingan , soalnya barusan di umumkan di Etalase pengumuman BAKAM,ujar suna seraya menunjuk ke arah Gedung Santiniketan".
__ADS_1
Salman pun turut merasa penasaran karena selain instruksi pengajuan diri untuk mengikuti turnamen, secara umum ia tidak mengetahui jumlah dan orang-orang yang akan mengikuti turnamen tersebut.
"Jumlah dua puluh orang... setiap sore ada empat partai tiga Ronde, satu ronde lima menit partai pertama Imran dengan Wahyu, Pratama galih dengan Yoga Salman dan Mujaddid..
Wait... yu... ikutan even ini???".
Tanya asuna kaget karena setahu suna dirinya baru mengikuti latihan kemarin dan celakanya suna sempat mengunggulkan Arif yang selama ini ia latih."
"Hhh aku tak percaya kata-kata Luthfi sedikit memberi tekanan mental yang kuat pada Suna" gumam salman begitu senangnya
"Akang ke sini mau ikut Turnamen yah, wah saya kira kabar ini masih di kalangan kami (BAKAM) dan belum di publish".
"What? turnamen?".
"Ia turnamen Pondok saya pikir kemampuan akang sangat bagus jika mengikuti Event ini karena lomba ini juga bertujuan untuk menjaring anak-anak berbakat untuk masuk dalam Organisasi".
"Dengan kata lain.. pemenang akan di rekrut menjadi BAKAM?".
"Ya begitulah, meski kalau untuk anak sma dalam(pondok) harus melalui Rekomendasi dari Asatidz (dewan guru) terkait nilai Akademik".
"Hhh mau jadi BAKAM atau apalah ituh saya kurang begitu perduli".
"Wah beda sekali yah padahal banyak di antara santri ingin berkecimpung di organisasi BAKAM, tapi akang nggak mau".
"Hhh".(lirih Salman)
"O ia, sepertinya tahun ini akan ada pertarungan besar yang akan terjadi, karena ketua perguruan keduanya berada di dalam Pondok,
"Saya sarankan akang sembunyikan dulu kemampuan akang dan berikan kejutan di Final itu pun kalau akang bisa mengalahkan sebagian dari kami".
"Ok... Fine kita bertemu di pertandingan, ya... itupun kalau akang menang". lirih Salman dengan berbekal strategi yang sudah ada di dalam kepalanya.
....
Yah .. apapun itu. saya akan melihat pertarungan akang terlebih dahulu jadi sepertinya kita tidak lebih dari kosong-kosong saya masih bisa melihat dan mempelajari serangan-serangan akang, itupun kalau akang bisa menang.
"Fine...".(Salman)
"Ok Fine.".(Suna)
"By The Way, mari kita bersiap membersihkan kandang karna Kiayi barusan berpesan pada saya untuk mengajak Akang membersihkan kandang para Sapi" .
"Wah .. saya sebenarnya ingin menyiram...bbu(nga)
"Oh, no way .. itu sudah di kerjakan Kiayi sendiri , saya tahu akang ada maksud lain dengan dalih menyiram bunga, Ustadzah Khumai sudah ada jodohnya"
"Wait... aku nggak pernah ...!! kan.. aku yang memperingati sitt(u)
"Wes... dah to.!!".
lirih Salman seraya merangkul suna yang sebenarnya terpaut lebih tua.
Sementara itu pagi di Kafe Kita sudah tertata dengan rapih semenjak pagi dengan dua orang kasir sekaligus pelayan Willy dan kang Triss yang menyanyikan lagu.
"Asalkan kau baha...gia...
"Ka...takan lah see..karang ....
"Permissi...!!!".
__ADS_1
"halo .. mau order . .. ...!!!".
"Eh ia.. maaf tadi kita terlalu menjiwai, mas..... iki lo ada yang mau order..".
ujar mang Triss menepuk pundak Willy yang membelakangi mang triss dan Zahira serta Salwa.
"Oh ... ia, Zahira ya .??.. (fokus mengecek biji kopi)
"Hemmm pagi kelabu"..
lirih Zahira merengut melihat sikap Willy.
"heh... benerin tuh muka".,,
"bang... kopi hitam satu,. password WiFinya apa?
"Pagi-pagi" singkat mang triss
"Ini lagih mahluk tiap hari komen... aja, suka bilang. dateng-dateng Password nya kaka Password nya kaka
ti..ap hari kerjaannya ngikutin orrang...!!!"
"Aku .. suka kamu?"??". ujar Fattah yang sedari tadi fokus dengan layar monitor yang tanpa di sangka membuat rona merah di wajah dingin Zahira.
"Kamu mau aku bilang gituh??". ujar Fattah seraya berniat melipat layar monitor dan mengalihkan pandang pada Zahira yang di luar dugaan tingkah Zahira membuat perasaan aneh timbul entah dari mana, membuat Fattah dengan cepat mendorong kembali tangannya dan menggerakkan jari di atas keyboard.
"Hemmm asal kan kau baha..gia. ini... kopinya , semoga sukses!!" ujar Kang triss menyemangati Zahira. seraya tersenyum
"Makasih mang Triss". lirih Zahira seraya menyodorkan uang" .
"Pssset... usaha yang bagus ujar Salwa seraya mengacungkan jempol tangannya"., menyadari Fattah mengetikan jari tangan saat vidio Tutorial Silat masih menyala.
....
Setelah pembukaan yang singkat kini halaman Kiayi Nuruddin di padati oleh para Santri dan dari tempat yang dangat jauh terlihat juga Santriwati sedang mengamati meski tak kan terlihat jelas..
Sua pertandingan menghasilkan Imran dan pratama galih sebagai pemenang dan sekarang saatnya Salman dan Mujaddid yang secara fisik sama-sama besar.
Di sudut biru sudah bersiap Salman dengan semua perlengkapan maupun di sudut merah Mujaddid dan berserta sebagian besar anggota BAKAM hanya Luthfi yang berdiri di sudut biru untuk memberikan dukungannya pada Salman.
Kali ini pertandingan di pimpin oleh wasit dari salah satu guru pembimbing pencak Silat yaitu Ustadz Oki Kurniawan
dengan sedikit seni pertarungan pun di mulai, kedua kandidat sangat gesit mempertunjukan jual-beli serangan.
Yang membedakan dari keduanya adalah Mujaddid begitu keras mencoba agar dapat mengalahkan Salman, namun Salman begitu gigihnya menahan pergerakan pada serangan-serangan dasar untuk menyembunyikan kemampuannya.
Hingga di penghujung pertarungan Mujaddid sudah kehabisan tenaga terlihat pada raut dan nafas yang tersengal-sengal setelah mendapati semua serangannya di hindari bak tubuh Salman tidak dapat di jangkau oleh serangannya.
Akhirnya salman menangkap serangan mujaddid yang melambat hingga mengangkat tubuhnya hampir setara dengan dada dan membantingnya ke gelanggang pertarungan, dan memaksa wasit menyatakan kemenangan Salman telak dengan ko.
Kini kemenangan Salman menjadi buah bibir di setiap perkumpulan Santri melihat kemampuan Salman yang notabenenya anak baru yang mampu mengalahkan salah satu jajaran BAKAM.
Namun hal tersebut malah membuat Suna sedikit berfikir keras bahwa ada hal yang di sembunyikan dari Salman dari pertarungan yang lebih di dominasi oleh serangan-serangan Mujaddid meski hampir semua penonton di buat terpukau dengan penyelesaian yang mengagumkan.
"Kang...".
"emm?".
"ngelamun...?".
__ADS_1