Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Seminggu


__ADS_3

"Ini..?".


"Perkenalkan, Ini Ustadz Husain Ibu,".


(Bismillah ya Allah).


Di dalam diam Putri merasakan debaran yang begitu mengguncang hatinya kala bertatap langsung dengan Calon pendamping hidupnya.


"Ukhti Putri".


"Semuanya bisa di putuskan secara luas oleh Ukhti Putri ingin melanjutkan proses dari Ta'aruf ini atau tidak".


(MasyaAllah)


(Cantik).


Ustadz, Husain yang tak jemu menatap ketiga Sosok di hadapannya untuk kembali meyakinkan diri melepaskan masa lajangnya.


...


"Terima Kasih banyak atas bantuannya hari ini".


"Emmm, Ini nggak gratis loh".


"Mmm?".


"Sudah Ku bilang kan".


"Aku akan sangat senang jika Kamu pergi bersama Ku".


Dengan tatapan polosnya Indri mencoba meyakinkan Seseorang yang sudah lama dirinya incar selama ini.


Sedangkan Willy, Indri baginya terlihat seperti seseorang yang tidak bersungguh-sungguh, dirinya mengira Ia hanya hendak menarik perhatian sesaat untuk sebuah pencapaian Dunia Maya yang sedang Booming.


"Hey, Bengong".


"Kalau mau sekarang Kita bisa pergi".


"...".(Willy).


"Sudah Ku duga Kamu mah, bisa seperti ini".


"Dah, daripada Aku kedinginan mending Pulang".


Indri hanya semakin merasa tidak nyaman setelah melakukan hal yang tidak selaras dengan kebiasaanya selama ini dalam perihal lawan jenis.


"Huft, sepertinya Aku harus...(Kembali menjadi diriku).


Indri yang tiba-tiba di gandeng oleh Willy sempat merasa kaget, pasalnya dia sudah berpaling dan melangkah beberapa langkah dari tempat dirinya berdiri sebelumnya.


"Ayo".


"Mmm?".(Indri).


...


"Mas".


"Mmm?".


"Sepertinya Kita perlu deh Mampir ke Pondok".


"Aku kangen hehe".


"Ummm, boleh".


"Tapi tunggu sampai pekan depan".


"Mas lagi sibuk-sibuknya di kantor".


"Iya".


"Nggak Apa-apa".


"Ngomong-ngomong".


"Malam ini Kita nggak ada acara kan?".


"Eh...".


"Enggak, enggak, maksud Mas Kita di rumah aja kan?".


"Iya kenapa?".

__ADS_1


"Enggak, kirain mau kemana gituh".


"Ooo".(Memikirkan yang lain).


"Padahal baru kemaren".(Lirih).


"Emm?".(Fattah).


"Enggak, enggak hihi".


...


"Eh Zahira".


"Kalau nanti Kamu lulus mau kemana?".


"Eng?".


"Kita masih Smp Fattah".


"Berhentilah berangan-angan kosong,belajar aja".


"Hemm, iya".


"Jangan pergi jauh-jauh".(Fattah).


"Fattah, bantu Ummi sini nak".


Ummi zakiyath sedang merapihkan taman kecil di belakang Rumah.


"Zahira".


"Lebih baik kalian berjodoh, dan menjadi Ustadz dan Ustadzah disini Besok".


lirih Salwa yang sedang bermain rumah-rumahan pasir bersama Zahira.


"Is apanya".


"Aku nggak mau".


"Eummm?".


"Ih Kamu mah mau pergi yaa?".


"Hihihi, Aku nggak mau, kalau Kamu masih ndut".


...


"Em.. kemana?".


"Kita cari tempat makan terdekat".


"Memangnya kenapa cari yang terdekat?".


"Mmmm, Kita perlu bicara kan?".


"Emmm, bicara apa".(menahan tawa).


"Ok, lupakan, Aku lapar".


"Lalu?".


"Kamu harus ikut".


"Aku teriak".


"Eh".(Melepas genggaman tangan).


"Emmm Ayo".


"Aku becanda kok".(Meraih tangan Willy).


"Dah malem, kalau kelamaan ntar nggak ada angkutan buat pulang".(Indri khawatir).


"..."(Willy).


...


"Eh, Uti, Tau kabar terbaru nggak?".


"Em?".(Sofi).


"Ustadz Husain balik Pondok".

__ADS_1


"Eh?".


"Ustadz yang mendiami Bait Alqur'an?".


"Iyaa".


"Kabarnya dia kemari bersama kedua orang tua".


"Hemmm kira-kira Ustadadzah siapa yang beruntung berjodoh dengan beliau ya..?".


"Emm, bisa saja baru mau Ta'arufan kan?".


"Ya benar".


"Ta'arufan".


"Apa mungkin Ustadzah yang baru-baru ini di antar oleh Kiayi Pondok Tahfidz?".


"Wah, Ini sebuah Konspirasi terbesar abad ini".


"Ah apa sih Kamu ni Des".


"Aku hanya menebak saja".


"Yaa tau Ukhti".


"Ustadzah Fitri, Fitri Ramadhani".


"Emmm?".


"Nama Ustadzahnya Fitri Ramadhani".


"Beliau pembimbing anak-anak penghafal".


"Eumm, sepertinya Aku berminat untuk menghafal Al-qur'an deh".


"Cobalah Ukhti, Kalau Aku masih pusing Perkuliahan hhh tugas numpuk, Belum nanti harus menyiapkan bahan Skripsi".


"Judul".(Sofi).


"Iya itu juga".


...


"Aaaa!!!".


"Awas jatuh!".


"Apa?".


"Pegangan?".


"Iyaaa".


Willy yang kini mengendarai kuda besi 600 cc menyusuri jalanan di malam hari dalam dekapan Indri seseorang yang baru di kenal tempo hari.


"Kamu nggak denger kata-kata Aku yaa!".


"Aku perlu waktu!!".


"Emm".


"Lalu?".


"Indri... tolong Kamu ngertiin".


"Aku perlu waktu untuk ngeyakinin kedua prang tuaKu".


"Ya sudah Kita yakinkan bersama".


"Indri, beri Aku waktu seminggu".


"Aku akan menikahi Kamu, Aku janji".


Ujar Rudi yang entah kali berapa berjanji namun selalu di lupakan seperti yang sudah-sudah.


Sedangkan Indri yang kesehariannya mengurus beberapa macam Usaha, Toko, Butik, serta Beberapa Kafe mengantarkannya kepada Kafe Kita hingga mempertemukan dirinya dengan Willy yang sejak awal sudah mempesona dirinya.


"Hhh, Bahkan kejadian seminggu yang lalu dirinya tidak ingat".


Lirih Indri yang sadar bahwa dirinya hanya salah satu pembeli yang terbuai pesona yang dimiliki Willy, bahkan dirinya tidak pernah tahu kepribadian Willy yang sebenarnya Se sejuk Oase di kegersangan kisah cintanya bersama Rudi.


Hingga Akhirnya membuat dirinya memberanikan diri tampil lebih jelas di hadapan Willy setelah secara tiba-tiba dirinya melihat postingan Motor Gede di Kafe yang beberapa hari ini Dirinya Kunjungi.

__ADS_1


"Aku berdosa banget".


Lirih Indri seraya memeluk erat tubuh Willy di atas Motor.


__ADS_2