
"Kenapa semua ini bisa terjadi... bukankah salwa selalu bersama dengan Zahira maupun Fattah tapi kenapa kali ini ia bisa di culik,
belum lagi kiayi.. secara kebetulan mengamanatkan padaku suatu hal di saat yang kurang tepat".
"Nak Suna..., mau ke mana?".
("Kang... yang hilang adalah Salwa, tadi pagi ia tidak masuk ke kelas dan belum berada di Pondok".)
"Maksud kamu hilang?? lalu kenapa tidak secepatnya bicara..., aku mau mencarinya.., !".(bergegas melangkahkan kaki berniat menuju gerbang Pondok)
"Kang ... tolong tahan sampai malam ini tolong tahan jangan sampai hal ini meledak".
"Emmm...,(mengangguk) biarkan aku turut mencari!".
"Iya Kang ..".
singkat fattah meski tak di hiraukan Suna yang dengan cepat meninggalkannya.
"Anu kiayi saya emm hhh saya..."
"sedang tidak ada kesibukan to..?".
saya minta kamu pergi ke tempat pemotongan ayam segar, dan belikan saya satu ekor.
"ia Kiayi...".
"Aaa satu lagi..., datanglah bersama dengan Salman, agar kamu bisa dengan mudah menyelesaikan tugasmu". (tersenyum dan sedikit mengayunkan tangan kanan yang selalu menggerakkan tasbihnya)
(Haduh ... Salman mungkin sudah berada di Masjid bersama ratusan Santri. apa yang harus ku perbuat bila tidak segera ketemu pastinya akan semakin kacau)
(....)
"nak Nuna datang bersama Salman".(menepuk pundak Suna setelah beberapa saat terdiam)
"Emmm ia Kiayi..,". (melangkahkan kaki menuju kamar bagian ta'mir Masjid yang masih mengumandangkan bacaan Al-Qur'an)
Terlihat beberapa BAKAM menuju gerbang dengan sedikit jeda agar tidak membuat pemandangan yang dapat menjadi pusat perhatian para santri yang kala itu berada di masjid lantai dua.
"Assalamualaikum.." ,
"Waalaikumussalam.".
"Rrrif saya di amanatin Kiayi untuk memanggil Salman tapi saya tidak tahu keberadaanya sekarang di dalam Masjid di sisi mana".
"Saya masih dengan pakaian yang tidak suci".
(kalau saja pencarian ini di lakukan segera setelah aku selesai bertanding mungkin akan ada sedikit waktu sebelum matahari terbenam) gumam Suna dengan sinaran mentari yang memerah di langit.
"Ia kang sebentar".
(kembali kedalam dan memberitahukan perihal Suna yang ingin mencari Salman kepada Hasanuddin)
"Salman.., 'saya dan kamu di suruh untuk membelikan Kiayi seekor Ayam Potong".
"Ap apa? apalagi sekarang??".
ujar Salman kaget dengan masih memegang Al- Qur'an hafalannya.
ia di beritahu oleh Arif jikalau suna mencarinya karena Amanat dari Kiayi.
"Bergegaslah... aku tunggu lima menit di sini(belakang Masjid)
segera ganti pakaianmu dengan baju dan training.
"Ia.. ok..ok".(mengiyakan dengan sedikit bertanya-tanya)
Sementara itu Salman merasakan hal-hal yang sudah dan tengah terjadi seolah sangat mencurigakan dan mengganggu pikirannya,kini ia pun tengah mencoba tenang dengan melantunkan hafalan-hafalan ayat yang ia miliki)
"Laqad jaa..akum rasulullahi min anfusikum.. 'azizun alaihi ma 'anittum hariisun alaikum bil mu'miniina ra'uufurrahim...
fain tawallau faqul hasbiallah laa ila hailla 'alaihi tawaqqaltu wa hua rabbul 'arsyil adzim... lirih salman yang terus melafadzkan ayat terakhir dari surah at-taubah di kala ia merasakan tak enak hati.
Apalagi setelah Suna memutuskan memakai mobil ternak sapi untuk mempercepat pembelian ayam potong untuk Kiayi makin membuat dirinya bertanya-tanya adakah suna mendapat izin dari kiayi untuk hal ini.
"Mmm sebenarnya... akang tau tempatnya?"
"Tau apa?"
__ADS_1
"Tempat pemotongan ayam segar itu?"
"Mmmm seingat ku tempat itu ada di sekitar pasar, ada di pemukiman warga". ujar Suna yang sedikit merasakan keraguan.
"Pelan-pelan Kang., agaknya kita sedari tadi kurang memperhatikan kecepatan". lirih Salman.
"ia Salman, aku sudah sangat paham .. aku sudah sangat memperhatikan kecepatan ku..", (melakukan manufer memutar tepat di depan Kafe Kita)
NGIKKK!!!!!
Suara pekikan gesekan besi yang entah dari bagian yang mana dari mobil tua yang sudah menjerit, menjadikan beberapa pengunjung yang masih berada di kafe kita termasuk kang Tris dan Willy memalingkan muka melihat mesin tua yang di kendarai Suna melaju dengan kecepatan tinggi.
"Suna kah tadi yang mengendarai mobil itu?".
lirih Willy seraya meletakkan nampan dengan beberapa gelas dan piring yang sudah tak lagi bersih.
"Ng... koyo'e bener mas kang Suna e.. mas Suna yang ngendarain mobil tadi, kayanya ada yang nggak beres, moga aja bukan apa-apa".
"Ia , moga aja".
.....
"Astaghfirullah..., saya kan sudah bilang kang.. ada baiknya kita tidak terburu-buru .., kalau sudah seperti ini mau gimana?
lirih Salman setelah mobil yang di kendarai nya ternyata mogok setelah menyebrangi perlintasan kereta api".
"Huft.. . Astaghfirullah... kenapa mobil ini tidak bisa di andalkan seperti biasanya".(keluar dan mencoba membuka penutup mesin)
"Wah... sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang".
lirih Salman seraya melihat langit dengan sinaran merah yang makin pekat , bahkan lantunan Qira'ath Al-Qur'an sudah mulai bersautan di segala penjuru.
"Kang .!!. sedang apa di luar Pondok begini?". tanya salah seorang bakam yang dengan tegasnya mencurigai bahwa Salman dan suna hendak meninggalkan Pondok bahkan dengan membawa sebuah mobil.
"Mmm.. Kang. kita sedang ada urusan, sedang di tugasi oleh Kiayi" singkat Suna dengan nada sedikit geram pada santri yang tengah memakai atribut silat tersebut, di tambah lagi ia merasa semua kejadian yang memperkeruh keadaan adalah pihak BAKAM terlalu lambat mengambil keputusan.
"Kang., akang baru di pondok ya .. hati-hati bicara amanat jangan sembarangan atau di salah gunakan". lirih salah satu anggota bakam tersebut yang sebenarnya juga mengenal Suna sebagai pelatihnya.
"Bruk!"
(penutup mesin mobil di hempas Suna dengan sedikit tenaga mendengar kata-kata yang sedikit mengganggunya)
(lirih Suna bertanya seraya mendekati pintu tempat kemudi mobil yang sedang bersandar di dekatnya Salman)
"Sudah-sudah,,, Akang... Akang di sini mencurigai kami seolah-olah kami ingin kabur dari Pondok?(mengangkat kedua alis)
"Dengan mobil.. yang tak lagi vit ini?"(menepuk bagian bak)
"Bukankah kami pun menyimpan sedikit lebih banyak kecurigaan terhadap akang-akang BAKAM yang sudah selarut ini juga berada di luar Pondok? ".
Sontak kata-kata santai dari Salman membuat santri bakam yang bernama Luqman tertulis di baju silatnya tersebut, sedikit menurunkan nada bicaranya yang masih menyimpan curiga pada Salman maupun Suna.
"Saya di sini jelas mencari anak Kiayi yang hilang, kami pun mendapat amanat jelas dari Kiayi, jadi akang-akang tidak mempunyai hak mencurigai saya, dan akang-akang sekalian ada dalam pengawasan saya maupun jajaran bakam yang bisa melacak akang dimana saja".
"Hehe ia, kita semua di awasin , Allah mengawasi kita dari tempat yang tidak kita tahu". lirih Salman seraya menepuk mobil yang sedari tadi hendak di nyalakan Suna.
mbrummm...!!! brummm brummm..(Suna menancap gas setelah mobil menyala sesaat setelah tepukan Salman pada body mobil, dan melaju dengan cepatnya)
....
"Alhamdulillah, tenang sudah hati kalau sudah mendirikan shalat".
lirih Salman yang sedari tadi merasakan hal-hal yang banyak mengganggunya.
"hemm Alhamdulillah".
"Kang... , itu gimana ceritanya kok Salwa bisa hilang?".
"Eng... entahlah aku pun mendapat kabar sesaat setelah memberi pakan sapi sore tadi",
"Eumm...".
"Tunggu.. sejak kapan kamu tau Salwa? kamu kan belum lama berada di pondok ini?".
"eng.. itu?? ee .. itu kan siapa juga yang tidak tahu.. kerabat kiayi, sudahlah mashur di kalangan santri.. ya kan?.. hhh tak perlu menjadi santri lama aku pun sudah tahu salwa seperti apa(mengingat kembali kala pertama melihat salwa di kedai kopi saat dirinya kabur)
O..(suna)
__ADS_1
"Lagi pula... aku kan pernah menceritakan perihal ini pada akang sewaktu mencari rumput. kala aku kabur dan menemuinya dalam masalah bersama ibunya akang suna".
(.....)
"Lagi pula ia juga mempunyai paras seperti kakaknya si princess, tak menutup kemungkinan siapapun mengetahuinya".(teringat kala menerima hidangan yang di berikan salwa kala ia menggantikan arif)
"Mmmm ada baiknya kita tidak terlalu santai, takutnya setan memanfaatkan kesempatan". lirih suna seraya mengambil langkah memutar meninggalkan Salman yang masih terkekeh, dirinya ingin segera melaksanakan tugas dari kiayi dan segera membantu jajaran BAKAM mencari keberadaan salwa.
"Tidak bisa hanya mengandalkan jumlah jajaran BAKAM yang di saat ini sudah mengulur banyak waktu..." , "apalagi untuk sekedar santai karna takut terburu-buru , ini bukan sepele" lirih Suna.
Dengan waktu yang sudah larut membuat gelap langit yang kini merubah suasana jalan yang diterangi sinaran lampu.
chkkkkkk... ckkk.. ckkk...(bunyi mobil yang hendak di nyalakan suna)
"Apakah yang sebenarnya terjadi dengan mobil ini...?!".(keluar dan mencoba membuka kembali penutup mesin berharap menemukan satu sumber permasalahan kenapa mobil yang di kendarai tidak bisa menyala)
"hemm mogok lagih.."
lirih Salman seraya mengecek bagian belakang mobil, setelah ia tersadar karena melihat tutup tank pengisian mobil tersebut ia pun kembali memasuki mobil berharap menemukan penerangan.
"Subhanallah... hhhh pantaslah kita terhenti di sini kang... inilah penyebab utamanya...". lirih Salman yang masih mengamati tanki bahan bakar mobil yang kosong dengan lampu dari korek api.
....
"Na .. itulah kang.. sebaiknya sebelum berpergian di cek dulu bahan bakarnya.., untung saja cepat di ketahui sumbernya dari mana kalau tidak sudah semalaman berkutat dengan mobil lapar". ujar kang Tris yang kala itu sudah menumpang pada mobil yang di bawa Suna dan Salman.
"Makasih banyak kang.. Tris.. aku nggak tau lagi harus bilang apa, karna kali ini saya harus cepat.., mana waktu makin larut". ujar Suna setelah di bantu untuk mendorong dan sekaligus menuntunnya pada penjual bahan bakar terdekat
"Iya.. untungnya saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran kang Willy berkerja seperti biasanya kali ini karena saya sedang merasa sedikit kurang Fit".
"Aaa.. ia kang Triss .. kesehatan nomer satu.. , jangan terlalu di paksakan masih ada hari esok".
"Ok... dari sini ... di depan ada perempatan belok kanan, di ujung jalan ada tempat Pemotongan Ayam, terima kasih sudah mengantarkan saya akang-akang sekalian".
"Sama-sama kang Triss ... !!".ujar Suna dan Salman di dalam mobil..
"Ok... perempatan ., belok kanan di ujung ada tempat pemotongan ayam sedikit memutar ..., ok.. (lirih Suna memutar kendali mobil yang ia kendarai)
"Gelap sekali daerah sini.., tak ku sangka begitu sedikit rumah yang mempunyai penerang jalan, bahkan rumah-rumah tua yang mendominasi". lirih salman
"Wah.. aku tidak bisa memperhitungkan seberapa lama bahan bakar yang ku beli tadi bahkan sepertinya tidak ada penjual bahan bakar selain tempat pertama yang sudah kehabisan", ujar Suna yang sedikit ragu.
...
"Sebaiknya kita apakan bocah ini bang.. , kalau bisa kita pastikan segera , kita mutilasi kah, kita pakai kah, sudah lama kita menunggu ".
ujar salah satu penculik yang sudah kehilangan kesabaran, membuat raut wajah salwa ketakutan selain mulutnya yang terikat kain, tangan dan kakinya pun di ikat dengan tali hingga menimbulkan luka.
"Tunggu... ". ujar salah seorang berbadan paling besar di antara mereka.
"Tunggu apalagi bang... , sudah lah... kalau tidak ada yang perlu di lakukan, per singkat saja kita pakai wanita ini, cantik, badannya terawat bagus lalu kita melarikan diri..".
"Betul... bos., sudah terlalu lama kita tak ada kemajuan di sini".
"Tunggu...!!! ,, kita bisa mendapat lebih dari sekedar memakai tubuhnya yang bagus., kita dapatkan dulu uang tebusan.. lalu kita pakai ia sebelum membebaskannya..!!"
"Tap... ".
"Sudah.. tidak ada tapi-tapian.. di sini akulah pemimpinya.., tidak ada yang mendahuluiku dalam segala urusan, termasuk memakai wanita itu..!!?".(menunjuk salwa yang sudah tidak berdaya terduduk dengan lemas nya karena teriakan yang ia pekik kan tidak terdengar oleh siapapun
"Pak.!!.. pak.!!.. ada tamu., dor!! dor!! dor!!(anak si pemotong ayam memukul pintu tempat pemotongan ayam)....
"Ia le...!!! sebentar tunggu setelah bapak pulang.., suruh tunggu di rumah aja le... ".
....
Krekk!!...
"Pak.., maaf bukanya saya lancang.., tapi .. kami tidak bisa menunggu untuk mendapatkan ayam potong karena ada hal penting yang harus kami lakukan segera, jadi kami memutuskan menghampiri bapak ke sini(tempat pemotongan)".
Mendengar suara yang jelas seorang pembeli di balik pintu yang tertutupi badan besar pemilik tempat pemotongan ayam Salwa pun bereaksi dengan menggerakkan kursi yang ia duduki hingga terjatuh dan membuat luka di pipinya.
"glutak!!!!"
egnhhh..enghhh... (Salwa mengerang berharap orang tersebut mendengarnya)
Syut... diem.. ato ku bunuh..
__ADS_1
Dua orang mengerubunginya dan salah satu dari mereka memegang keras bagian wajah dan pipinya hingga ia merasakan takut yang teramat menyiksanya hingga matanya menjadi buram dan terlelap.