
"Kalian ngerasa ada yang aneh nggak sih kalau ngelihat Akang Suna?".
"Aneh apanya?".(Bingung)
"Dia tuh..".
"Ah, Lu masih aja denger kata si dukun ini".
"Gak jauh-jauh, pasti kalo nggak ada warisan, ya jin".(Tio Ketus)
"...".
Indra hanya terdiam karena kedua temanya seolah tidak mau ambil pusing mengenai Hal ghaib yang di ketahuinnya.
"Em ya ini kekurangan ku sih, Cuma Aku ngerasa gak enak aja kalau memendamnya, karena beliau di sukai makhluk halus".
"...".(Tio)
"...".(Mujaddid)
"Lalu apa selanjutnya?, memangnya mereka punya kuasa? enggak toh?".
Ujar Mujaddid mencoba untuk tetap berpikir positife.
"Iya sih".
"Iya juga, ngapain Aku terlalu khawatir, beliau juga dekat dengan masjid, Aku pikir satu saat dia(Jin) juga pasti lelah".
"???".(Tio)
"Dih Dia siapa nih?".
Lirih Mujaddid setelah mendengar kata-kata lirih nan aneh yang di ucapkan Indra.
"Si Citra".
"Wes... wes... tambah parah inih mah, dah ah Aku nggak mau mendengar lebih jauh, buang-buang waktu aja".
(Tio).
"Iya, sebaiknya Kita kembali ke kelas, dah mau masuk".
Lirih Mujadid merangkul pemuda berkaca mata tersebut, menyusul tio.
Mereka adalah tiga serangkai yang selalu bersama, Tio yang hobi berolahraga, lalu Mujadddid yang hampir menguasai segala hal, olahraga, seni, belajar, sedangkan Indra Pemuda yang terlalu memikirkan Hal-hal Ghaib hingga tak jarang mengganggu konsentrasinya saat belajar.
"Santai, Semua orang tidak sempurna".
"Lo bisa tanya gw kalo ada yang lo rasa bingung dalam pelajaran".(Mujaddid)
"Yup, Lo juga gak perlu curhat ke tembok malem-malem".
"Serem tau".(Tio)
"Hhhh".(Indra)
"Kalo kebetulan kebangun malem".
"Bangunin gw, gw juga pengen sekali-kali tembus jalur langit".
"Helleh".
Lirih Mujaddid yang tidak kuasa mendengar kata-kata sahabatnya tersebut, di kala dirinya selalu saja hampir tersulut emosi karena kebiasaan Tio yang selalu emosi ketika di bangunkan.
...
Kajian rutin sedang berlangsung di Masjid, beberapa Anak-anak Kuliahan yang ketika itu tidak mempunyai jadwal Kuliah, ataupun yang mempunyai jam kuliah sore pagi itu berada di Masjid.
"Huah".(Menguap)
"Pstt...".
"Ng?".
"Apa man?".
"Kira-kira apa yang mestinya kita lakukan?".
"Lakukan apa?".(Suna)
__ADS_1
"Haruskah kita meminta bantuan untuk menangkapnya?".
"Menangkap Siapa?".
"Si jin".
"Ah itu, sepertinya dia tidak membahayakan Aku, dah ah nggak usah di pikirkan".
(Mencoba Fokus pada kitab)
"Iya sih, biarkan saja".
"Mungkin dia ngefans sama Gw".
"Najis hhhh!!".
"Madza?"(Apa?)
"Man yatakallam hadisan?".(Siapa yang berbicara barusan?)
Ujar Ustadz Yusuf, Ustadz Senior yang sudah seumuran Kiayi Nuruddin yang terkenal dengan
ketegasan beliau, bahkan mirip sekali dengan Sosok Kiayi Nuruddin.
"..."(Salman mengangkat tangan)
"Emmm, BAKAM?".
Lirih Ustadz Yusuf setelah menyuruh Suna berdiri.
"Na'am Kiayi(Gugup)".
"Botak".(Lirih tersenyum)
"Uppsss".Suna menahan tawa, saat mendengar Salman di minta memotong habis rambutnya.
"Afwan Ustadzi".
(Memelas)
"Mana yang lebih penting antara telinga dan rambut saat ini?".(Tersenyum)
Ujar Salman di susul bisik-bisik anak-anak kuliahan
"Rambut itu hanya penampilan, hanya sebagai tanda kamu tidak melakukan kesalahan saat mengawal keamanan".
"...".(Salman).
"Sedangkan adab Akan selalu terlihat, meskipun seseorang itu tidak mempunyai rambut".
"Tentunya ini juga hal yang harus menjadi pelajaran bagi kita, bukan hanya Al'akh Salman saja".
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
wabtaghi fiimaaa aataakallohud-daarol-aakhirota wa laa tangsa nashiibaka minad-dun-yaa wa ahsing kamaaa ahsanallohu ilaika wa laa tabghil-fasaada fil-ardh, innalloha laa yuhibbul-mufsidiin
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)
"Jangan buat kerusakan di manapun, apalagi yang berkaitan dengan adab dan Akhlak".
"Adab serta Akhlak yang baik akan menjadikan seseorang akan sangat mahal di manapun bumi yang dirinya pijak".
"Dan kebaikan di Akhirat akan mengiringinya".
"Meskipun suatu saat di ambil Allah dunianya di ambil Allah hartanya, di gantikan cobaan".
"Kebaikannya tetap ada di Akhirat, dengan di awali dari Adab dan Akhlak yang baik".
"Ada hal baik yang bisa kita petik dari sini".
"Sudahlah tentu akan kita alami di kehidupan nyata, di saat kita bermasyarakat".
"Kalau di dalam pondok".
"Kita hanya di hadapkan dengan dua pilihan".
__ADS_1
"Antara mencukur rambut sedangkan kita seorang pengawal keamanan dan ketertiban".
"Apalagi hukumannya cuma cukur rambut, sedangkan kita memang melakukan kesalahan".
"Kalau di luar, bukan hanya tentang itu".
"Bisa saja tentang perut".
"*****".
"Kedudukan, tamak".
"Bila Suatu saat di antara Antum-antum sekalian nantinya di masyarakat di hadapkan dengan perihal seperti ini, menjadi seseorang yang memegang kekuasaan, Aamiin!! (Aamiin) jangan sampai buta, atau lupa".
"Bila yang haq itu haq, dan bathil itu bathil".
"Meskipun taruhannya itu perut, lapar, *****, atau kedudukan sekalipun".
"Dunia itu ibarat tidur di siang hari, hanya sebentar".
"Jangan hanya takut dengan pengawasan Makhluk yang tempatnya Salah dan Dosa, penegak Hukum itu manusia, seperti halnya Al'akh Salman ini, bisa salah dan terjerumus pada Dosa".
"Tapi lebih takutlah pada Allah yang maha melihat, maha mengetahui, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan dari dunia yang di renggut ataupun hilang".
"Paham?".
"(Paham)".
Akhirnya Dalam kesempatan tersebut Salman merasa sangat tidak enak hati kala dirinya berdiri hingga Akhir karena melakukan kesalahan di saat kajian berlangsung.
("Afwan Ustadz, Saya sangat bersalah".
"...".(Tersenyum)
"Ana tadi denger leluconnya Al'akh Suna".)
"Haih mikir apa aku". Lirih.
"Afwan Ustadz".
"Tadi itu Saya, Saya sangat bersalah Ustadz".
"Wah, sepertinya Telinga itu tidak lagi berharga setelah bisa mendengar ya Al'akh".(Tersenyum)
"Afwan Ustadz".(Tertunduk)
"Setiap kita itu, Harus bertanggung jawab atas diri kita, pancaindra kita, dan jangan cengeng".
"Iya Ustadz".
"Iya, Cukur".(Tersenyum)
"Ustadz..".(Memelas)
"Iya, kalau nggak mau cukur sini telinganya".
(Tersenyum).
"...".(Salman menyesal)
"Mana yang lebih penting telinga arau rambut?".
"Telinga ustadz".
"Ya sudah, cukur".
"..."(Salman).
"Maka, Al'akh, bila ber otak, harus berfikir dengannya, bila berhati, harus berasa dengannya, bila bermata harus melihat dengannya, bila bertelinga harus mendengar dengannya, yang intinya pakai dengan benar Semua yang ada pada diri Al'akh, jangan sampai harus di benarkan oleh keadaan".
"...".(Salman)
"Semoga rasa bersalah itu masih ada di hati Al'akh".
"Masih Ustadz".
"Jahil (Bodoh), Saya hanya makhluk, kalau Saya tau, maka saya tidak melihat telinga atau rambut di kepala Akang saat ini".(menarik rambut)
"Sana, buat Rambut Atau telinga Antum lebih bermanfaat dari pada di hilangkan".(melepas)
__ADS_1
Akhirnya Ustadz Yusuf meninggalkan Salman yang kala itu masih merasa dirinya masih pantas di jambak dengan lebih keras, Karena tidak sanggup untuk kehilangan rambut.