
"Ok, Semuanya siap?".
"...".
"Kita harus bergegas sampai bawah sebelum gelap".
"Aku sedikit khawatir Uti".
"Aku mau nelpon mama".
"Emm, Sof".
"Kan ada Aku di sini".
"Kita hubungi setelah sampai bawah yah".
"Emm ada yang ketinggalan nggak?".
"Huft".
Putri yang tidak bisa menutupi rasa khawatirnya kini benar-benar harus menguatkan kaki dan hatinya, bila saja sewaktu-waktu hal terparah terjadi kepada Suna.
"Suna!!".
"Kang Suna!!".
Salman yang memulai langkah cepatnya seraya memanggil nama Suna kini berjalan di depan, dan Fattah mengiri mereka dari belakang, karena tak ingin kehilangan rekan kembali.
...
[Pagi]
[Bu Sumi hari ini senggang]
"Huemm".
"Apa yang harus ku perbuat?".
Lirih Sumi meletakkan Handphone.
"Bu.. Sarapan?".
"Iya Bi".
"Sini makan sama Saya".
"Tapi Bu?".
"Udah, sini Saya merasa selalu sendiri dari bangun tidur".
"Temani Saya".(Tersenyum).
"Alhamdulillah".
"Akhirnya Aku bisa pulang sejenak".
"Baiklah, Ukhti-ukhti semuanya".
"Pada tanggal yang sudah di tentukan".
"Mohon semuanya hadir tepat waktu".
"Karena insyaAllah, Kita Akan berangkat bersama dari sini".
"Humm".
"Sebulan".
"Iya Uti Salwa".
"Sebulan sampai Kita berangkat".
"Yah... nggak terlalu cepat kan yah".
"Iya May".
"By the way, Kamu kemana habis ini?".
"Ng?".
"Pulang, Kemana lagih hhh".
"Ooo Aku kira akan mengunjungi tempat lain".
"Seperti beberapa teman Kita".
"Yah, Alhamdulillah".
"Saya sendiri sudah belajar jauh-jauh hari bersama Kakak".
__ADS_1
"Wah senangnya".
"Memangnya Uti nggak suka dengan model yang seperti itu?".
"Emm".
"Yah, jawaban yang sedikit mengejutkan sih kalau Ukhti punya Sebuah yayasan besar Hhh".
"Mereka akan mengabdi, dan menuntaskan pengabdian setahun lagi setelah lulus dari mesir".
"Hhh, Tak semua orang seberuntung Ukhti ataupun Saya".
"Alhamdulillah".(Salwa).
"Alhamdulillah".(Maya).
"Memangnya Ukhti mau kemana kalau sudah selesai Kuliah?".
"Ah ituh hhh".
"Mau Usaha".
"Ooo".
"Ah yah sudah lah".
"Namanya juga belum pasti".
"Iyah, Mengajar di Pondok Ukhti juga bagus malah".
"Hhhh, Oh iya, Saya harus bergegas, sampai ketemu sepuluh Syawwal".(Maya).
"Iyaa".
"Hati-hati yaa".
...
"Suna..".
"Papah".
"...".(Meminta Suna duduk)
"Pah".
"Tapi Mamah?".
"...".(Senyum).
"Suna nggak mau ninggalin Mamah sendiri".(Terisak).
"Mas!?".
"Mas nggak apa-apa?".
Tetesan Air mengenai wajah Suna yang tak lagi dapat di kenali karena menghantam segala macam benda.
bahkan tubuhnya terasa tak berdaya di gerakkan.
"Suna".
"Ayo ikut Aku".
DEG
Sosok Ayah Suna yang tadinya duduk di sampingnya kini mengucapkan kata-kata dengan suara khas perempuan.
"Ayo Suna".
"Allah".
"hueeeeh".
"Mas...".
"Bertahan mas".
"Bertahan...".
"Sebentar lagi!!".
...
"Kang Salman!!!".
"Kang".(Lailah).
Salman yang masih memanggil Suna tak sadar dirinya terlalu cepat melangkah, dan membuat beberapa pos terlewati dengan cepat.
__ADS_1
Namun karena itu juga beberapa dari mereka merasakan penatnya perjalanan.
Krssks Krssk ksrssk.
Ngok...!!!.
"Alllah".
Khinzir..!! Khinzir...!!! (Babi)
Dengan cepat Salman memberi tau kepada teman temannya bahwa ada babi di depan tepat di semak-semak dekat dirinya berdiri.
Seketika Semuanya berlari dalam kepanikan.
"Emm".
"Uti..".
"Nggak apa-apa Sof".
"Nggak apa-apa sabar ya".(Putri).
"Kang...".
"Apa!!?".
"Saya juga sama seperti Kamu".
Ujar Salman yang kini berada di dua meter diatas tanah".
Dengan menaiki Pohon Fattah dan yang lainya menunggu Seekor Babi besar yang seolah menyadari keberadaan mereka.
Namun bukanya meninggalkan mereka malah berputar-putar mengunjungi setiap pohon yang di naiki kelompok Fattah.
"Huf".
"Kang.. gimana nih".
Ujar Salman bertanya kepada Fattah.
"Yah insiden".
"Itu saja?".(Salman).
"Ih".
"Mana najis lagi nih makhluk".
"Hush...!!!".
"Allahu laa ilaaha illa hua".
Sontak Babi tersebut menghadap ke arah Salman karena hendak membaca Ayat kursi.
"Ok fine sepertinya dia tertarik kepada Ku".
"Kalian bisa manfaatkan itu".
"Cepat bergegas ke Post bawah".
"Tapi Kang?".(Fattah).
"Kalo nunggu keburu Gelap ini!".(Salman).
Akhirnya dengan sedikit terburu-buru mereka meninggalkan Salman sendiri dengan seekor Babi liar yang sangat besar.
"Pantas Kamu tak sebesar Babi pada umumnya".(Salman).
"Ah, ini Pos Lima".
"Kita beristirahat di sini sebentar".(Fattah).
"Alhamdulillah Kita selamat".
"Uti.. Al'akh Salman gimana".
"Udah Ukhti Sofi".
"Jangan Banyak merengek, InsyaAllah semuanya baik-baik saja".(Fattah).
"Ih gimana bisa!!".(Sofi).
"Udah-udah Sof".(Putri).
"Moga Aja Kang Salman bisa mengelabui Tuh Khinzir".(Zahira).
"Aamiin".(Lailah).
Kini semuanya dalam keadaan selamat, meski kejadian malam tadi tidak terlupa dari benak mereka, kejadian yang membuat mereka tidak tidur semalaman, Hingga menyusuri rute untuk kembali menuju lembah awal pendakian.
__ADS_1