
("Lagian segitunya, Memang nggak ada wanita lain selain Salwa?".
"Ah, itu..".
"Aku hanya menginginkannya".(Suna).
"Nikahi lah".(Salman).
"Yaa kan dirinya ada jauh di mesir".(Suna).
"Bagai mana bila dirinya lupa dengan Akang?".(Salman).
"Mmmm".(Suna).
"The Real Cobaan".(Singkat Salman).)
"Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah".
Suna Malam ini kembali menenangkan dirinya di dalam masjid di atas Sajadah duduk sendiri dengan keheningan yang membuat detakan jantungnya seperti terdengar.
(Ya kalau memang betul adanya ya nggak apa-apa, berarti kamu sudah benar-benar memilih untuk masa depan kamu,tapi kamu harus benar-benar menjadi suami yang bisa mengayomi anak dan istri seumur hidup apalagi kalau kamu menginginkan anak dari seorang Kiayi".
"Ng...' 'ayah, sepertinya ini masih terlalu cepat untuk ku..,".)
(Ia Yah, Mah, ku dengar dirinya akan segera di pindahkan karena dikhawatirkan akan mengganggu mental dan keberaniannya kedepannya".
"Wah...', 'sayang sekali bahkan ayah...".
"Ng.. eng... ayah apa ayah apa?(sumi mencoba menghentikan suaminya yang hendak sombong di depan anak kesayanganya itu)
"Tidak... ayah hanya ingin mengatakan ayah sangat bangga menemukan mamah hhh, meskipun ayah masih muda terpaut sepuluh tahun dari mamah..,"
"Eh eh eh, mana ada mamah bertemu ayah, ayah sudah berumur tiga puluh dengan umur mamah yang masih dua puluh tahun Fresh Graduate, dulu mamah ituh, banyak yang mengidolakan kala mamah masih muda suna,..,"
"Wah hehe. berarti aku tahu apa yang aku warisi dari ayah dan mamah, hem ayah, kenapa sampai seperti itu?"(Suna terkekeh)
"Yang namanya jodoh tidak ada yang tahu suna, ada yang berjodoh sudah lama saling kenal, ada yang berjodoh sebulan baru kenal, bahkan hitungan jam saja pun ada yang berjodoh, dan jodoh bisa jadi pacar, orang terdekat, atau orang asing sekalipun, selama kamu membuka hati untuk itu.
yah... yang terpenting kamu mengerti tujuan kamu yang utama di sini, urusan yang lainya akan mengikuti".
"Ia yah,". (mengunyah))
"Akan ada Jodoh selama Aku membuka hati".
"Itukan Yah?".
Lirih Suna di hadapkan dengan Buku harian dari Salwa serta Formulir pengajuan Ta'aruf.
...
[Thanks Banget udah ngabulin permintaan Aku]
^^^[Iya, Aku juga karena Aku laper]^^^
[@_@]
^^^[Berarti besok Kamu akan menebus motornya kan?]^^^
[Iya, hemm singkat]
"Hemm, memangnya Aku berhak untuk ini?".
Lirih Willy yang sangat berhati-hati dengan perihal percintaannya, meski sempat terbayang dikala dirinya di dekap erat oleh Indri serta senyumnya yang kini membayang-bayangi.
"Aku ... Suka sekali makanan Pedas".
"Uemmm".
"Bisa-bisanya Kamuh".(Willy khawatir).
"Mas, Air Putih hangat!".
"Sssseee Uh... nih Coba".(Menyodorkan nasi dengan tangan).
"...".
"Oh, Iya sendok".(Lirih).
"Minum".(Willy).
"Eumm".
"Thanks, Ukhuk khuk kok pedes banget!!".(Menitihkan air mata).
"Eh?".
"Kamu nggak mau coba?".
"Emm, Lebih baik ini".(Nasi Ayam tanpa sambal).
"Terkadang suka Bertanya-tanya kenapa kok ada orang yang suka makan sampai keringetan".(Menyapu keringat yang tiimbul di wajah Indri).
"Wah...".
"Aku jadi nggak bisa lupain Kamu inih".
__ADS_1
"Hemmm".
"Why?".
"Ngelupain?".
"Oh, Enggak, Kamu kan nggak suka pedes Seluruh keluargaKu dari buyut... kakek nenek ayah se...muanya suka makan pedes".
Tersenyum mengalihkan kecanggungan yang sempat merebak.
"Maaf".
"Eng?".(Willy).
"Aku bukan tipe Kamu".
"Cara Kamu melihat, Cara makan,(Menunjukan tangan yang masih ada nasi), Serta Hobi makan pedas Ku".
...
"Hemmm Indri".
"Lucu".
"Aaa".(Geregetan).
Sementara itu Di tempat lain, Rudi sedang berfoya-foya dengan Gadis lain selain Indri, di suatu Karouke.
"Mas".
"Mmm?".
"Hari ini Aku yang teraktir".
"Ok".
[Thanks Banget udah ngabulin permintaan Aku]
^^^[Iya, Aku juga karena Aku laper]^^^
[@_@]
^^^[Berarti besok Kamu akan menebus motornya kan?]^^^
[Iya, hemm singkat]
[Pesan di Hapus](01.00]
"Huft kenapa Orang baik selalu datang terlambat?".
[Dimana?]
[Hey]
[Seharian nggak ada kabar?]
[Kamu nggak khawatir Aku jalan sama orang lain?](23.20)
"Siapa?"
"Ibu?, dah di minta pulang yah?".
Ujar Willy setelah menyaksikan Indri begitu seringnya mengecek Smart Phone miliknya.
"Ah, bukan".
"...".(Willy).
"Jangan khawatir, Kamu kan orang baik jadi mereka pun nggak khawatir".
"Allah lebih Sayang mereka".(Terisak).
"Hemm, Kamu seperti ini pada semua orang?".(Willy).
"Emmm ney".(Menggeleng).
"Kamu Orang kedua".
"Ooo".
"Kamu nggak apa-apa kan?".
"Emm?".
"Enggak".
"Yah... kan sudah Ku duga".
"Hemm biarlah, Aku walau seperti ini, insyaAllah, maaasih suci".
"Jangan Khawatir".
"Baguslah".
...
__ADS_1
Pagi begitu cepat menyingsing menerpa Jiwa-jiwa yang hidup dengan semua beban di pikiran, hingga tak jarang mereka memungkiri panggilan untuk 'kembali' di tinggalkan dalam lelapnya tidur.
"Hemmm, Pagi".
Lirih Indri di atas Ranjangnya setelah mematikan Jam weker yang sudah menunjukan pukul tujuh.
Segera dirinya beranjak menuju kamar mandi, serta bersiap menyiapkan sarapan lalu memulai hari mengunjungi semua cabang Usahanya.
Hidup sendiri di Rumah peninggalan Orang tua dengan semua hal yang sudah bisa menunjang kebutuhan sehari-harinya Indri tak jarang merasakan kekosongan di sisi lain dirinya.
"Hemmm".
"Ku kira akan membaik setelah mempunyai kuda besi".
"Ayo...".
"Cemungut Indri".
Lirih seraya melahap roti selai.
Sementara itu, Di Pondok hari-hari biasa tetaplah Sama.
Setiap hari berisi semua hal yang wajib, wajib di kerjakan dan wajib di tinggalkan.
"Wah ini apalagi ini?".
"Al'akh".
"Itu Anak yang kemarin jimatnya di rusak Oleh Akang Salman".
"Hemm".
"Cepat Apa yang Kamu inginkan?".
Lirih Suna seraya mencoba meraih tengkuk seorang anak yang sedang tidak sadarkan diri.
"Mati".
"Hemm, Ada banyak orang yang punya beban lebih besar daripada Kamu".
"Koe Mati".
"Ooo, Saya akan mati pada waktunya".
"Saiki waktune!!(Sekarang waktunya).".(Melayangkan Cakar).
"Allahula ilaaha illa hual hayyul qayyum".(Suna).
"Laa ta'khudzuhu sinnatuwala naum".(Anak kesurupan).
"Alhamdulillah Ustadz terima kasih".
"Alhamdulillah".
"Jangan Kaget Al'akh".
"Mereka memang ada yang usil, dan tak jarang mereka juga beragama".
"Oo iya Ustadz".
"Yang terpenting jangan goyah Imannya, adik-adiknya lebih di perhatikan lagi Ibadah dan Do'anya".
"Na'am Ustadz".
Lirih Suna yang kala itu sempat dikagetkan dengan jin yang melanjutkan lantunan ayat kursi yang dirinya bacakan.
Namun para pengurus yang mendapati keadaan canggung, segera meminta bantuan ke Ustadz Yusuf, Dengan Segelas yang di bawa dari keran untuk menyiram bunga, beliau dapat membuat sadar anak yang sedang tak sadarkan diri.
"Bismillah".(Menumpahkan air tepat di muka Sang anak).
"Ini penyebabnya kalau tidur nggak baca do'a ini".
Lirih Ustadz Yusuf seraya terkekeh, mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Lain kali pengurusnya di perhatikan, adik-adiknya sebelum tidur, kalau perlu wudhu supaya doanya benar".
"Ini ngantuk pasti ketika Do'a".
Tambah beliau di susul tawa beberapa anak yang menyaksikan kejadian tersebut.
"Tinggalkan segala jenis maksiat... maka mereka akan meninggalkan Kamu".
"Tinggalkan semuanya yang jelek-jelek".
"Percaya jimat, ini jimat itu, penunggu ini penunggu itu".
"Paham?".
"Paham".(Para santri).
...
"Apa ini Al'akh Suna?".
"Ini... Formulir biodata Saya Kiayi".
__ADS_1
"Mmm?".