
"Afdhalu Dzikri fa'lam Annahu laa ilaaha illaAllah".
"Laa ila ha illa Allah".
"Mah? Mamah?"
"kkenapa ??"
Suna yang entah bagaimana seperti merasakan telah melewatkan satu hal di hari ini dengan ramainya orang di dalam rumahnya, serta kerabat dekat yang juga hadir menangis begitu membuat sesak di dalam dadanya, apalagi pertanyaannya tidak di jawab oleh ibunya yang juga begitu terlihat terpukul.
"Suna,"
"Ayah?"
"Jadilah Seseorang yang Alim, yang pintar. ketahuilah, tidak kan dunia begitu berharga bagi orang yang Alim, yang pintar dalam hal Agama. jangan khawatirkan duniamu Suna".
"Ayah?"
"Ayah?"
"Ayah?'.
"Suna !! Suna !!"
"Ay.. Mamah?"(Bingung)
"Bangun nak, sudah pagi, Kamu kan mau kembali ke Pondok?"
lirih Sumi yang menutupi sesaknya dada dimana dirinya mendapati Suna mengigau memanggil Ayahnya seakan-akan mengetahui keadaan Ayahnya yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
"Papah udah pergi kerja".(merapihkan beberapa pakaian ke dalam tas)
"(...)".(bangkit dari ranjang)
"Suna jangan khawatirkan Ayah, Ayah kamu baik-baik saja".
"(...)".
"Ayah dan Mamah rencananya akan menjenguk Kamu bulan depan".(menitihkan air mata)
"Jangan berjanji kalau Mamah pun nggak tau hal itu akan terjadi".
"Mamah janji kok, Papah akan sempat menjenguk Kamu".
"Iya, Suna juga berharap begitu".
lirih Suna sebelum memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Suna kembali terbayang mimpinya yang semakin membuat khawatir, bahkan dirinya sempat merasakan pegal di pundak kananya kala di dalam mimpi dirinya seolah menopang besi keranda.
"Huft".(terpejam di bawah kucuran air)
...
وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
wa qodhoo robbuka allaa ta'buduuu illaaa iyyaahu wa bil-waalidaini ihsaanaa, immaa yablughonna 'ingdakal-kibaro ahaduhumaaa au kilaahumaa fa laa taqul lahumaaa uffiw wa laa tan-har-humaa wa qul lahumaa qoulang kariimaa
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 23)
وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا ۗ
wakhfidh lahumaa janaahaz-zulli minar-rohmati wa qur robbir-ham-humaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
__ADS_1
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 24)
A'udzubillahiminassyaitonirrajim
Putri menghafal dua Ayat yang saat ini menjadi topik pelajaran bersama Ustadzah Pembimbing, kali ini dirinya berada di depan taman selepas Kajian Subuh berserta beberapa teman yang sedang meluangkan waktu untuk bermain Badminton sebelum akhirnya beraktivitas seperti biasa, masuk kelas SMA dalam(Pondok)maupun Kuliah.
"Wa qadha rabbuka .."
"Huemm".
"Eh, Uti, kenapa kok murung?".
"Ini beberapa Ayat ini sedikit menyulitkan diriku".
"Emm Ayat Baru yang di kasih Ustadzah yah?"
"(...)"(mengangguk)
"Coba aku liat?"(meraih Al-Qur'an di tangan Putri)
"Emmm ini ayat menjelaskan kepada kita cara berperilaku kepada kedua orang tua nih Uti".(tersenyum)
"Hemmm"
lirih Putri yang tak terasa mengeluarkan bulir-bulir air mata setelah penjelasan panjang lebar yang di berikan oleh Sofi tentang ayat tersebut.
"Memang Ayat ini juga menyentuh bagian terdalam dalam hidup seseorang, siapapun itu".lirih Sofi seraya merangkul Putri yang tenggelam dalam pesan-pesan yang di sampaikan Ayat Al-Qur'an.
...
Assalamualaikum ...
"Waalaikumussalam, Shabahul Khair".
"Kuliah juga hari ini?"
"Iya, Dosen ku jarang halangan di hari ini".(tersenyum)
"Uti.., perihal penjaga Kafe depan Pondok.."
"Eng?? Kang Triss? Uti Lailah ada apa bertanya Kang Triss?".
"Ng"
"Wah nggak biasanya seramah ini bertanya padaku, kalau mang Triss mah dah berkeluarga Uti".(merapihkan buku de depan Lemari)
"Eng Iya".
Lirih Lailah yang tidak ingin memperjelas kesalahpahaman yang di lakukan Zahira bahwa orang yang di maksud adalah Willy, dan bersiap membawa handuk dan gayung untuk bersiap mandi dan berangkat Kuliah.
"Hihi kok bisa-bisanya Uti Lailah bertanya akan seseorang, bahkan dengan nada yang tak setegas biasanya".(terkekeh lirih)
"Mungkin dirinya salah makan pagi ini".(menggeleng)
"uh.. Welcome!"(tersengal-sengal)
"Waalaikumussalam".(menggeleng)
"Wah wah gawat Aku belum merapihkan Buku!"(meraih pintu lemari kecil)
"Faraidh , faraidh mana Buku faraid, tam ri.. nul Lughah...
"Sepertinya Strategi hari ini tidak berjalan seperti biasanya?"(tersenyum)
__ADS_1
"Uh iya Uti, pagi ini aku terlalu lama di luar tanpa lupa melihat jam, Aku aja hampir di hukum sama Ustadzah".
"Yup... selamat berjuang!".
"Thanks..".
"Melihat jam lebih baik mandi sebentar lagi sudah tidak sempat"(keluar kamar)
"Aku sudah mandi sebelum subuh, mensiasati hal-hal seperti ini".(lirih)
"Eh... eh, mau kemana?"
"Ke kelas lah Uti, dah hampir telat, Uti mah Kuliahan".
Lirih Sofi yang sudah sedikit terbiasa berbicara dengan Uti Lailah setelah berada di BAKAM.
"Em.. sebaiknya kamu Izin di jam pertama atau keringatmu akan rembes sampai ke baju".
"Emmm terima kasih".(murung)
"Ini sebuah saran loh bukan ledekan".lirih Lailah memasuki kamar BAKAM
"Aku sangat berterima kasih"(memasang sepatu)
...
"Mah Aku pergi".(menuruni anak tangga)
"Eh, Suna Sarapan dulu, Papah dah...
"Dah duluan".(melanjutkan perkataan Sumi)
"Iya, nih Bibi masak sayur lodeh sama ayam goreng".(tersenyum)
"Iya Den lebih baik Aden makan dulu sebelum kembali ke Pondok, kan di Pondok membutuhkan tenaga lebih".
"(...)".Suna teringat kejadian saat dirinya kepergok oleh seorang Ustadz berbincang dengan Zahira.
"Loh?"
"Tasnya kok di jatuhin?"
"Em hhh nggak lah nanti Aku ambil, Suna mau makan dulu".
"(...)" Sumi hanya sedikit menggeleng melihat tingkah anak kesayangannya tersebut
"Bi' biarkan saja jangan di ambil, Bibi kerjakan yang lain saja Ukhuk".
ujar Suna mengetahui asisten rumah Ibunya tersebut berniat mengambil Ransel merah hitam miliknya.
"Iya Den"(menuju Dapur)
(Huft... kenapa rasa-rasanya aku tidak bisa melangkahkan kakiku kesana)
(Tapi Aku harus membuat sebuah kemajuan atau melupakan segala hal yang sudah ku mulai, senyum Mamah, harapan papah, tapi di saat seperti ini Mamah pasti sangat kecewa dengan semua usahanya untuk Ku)
"Suna?"
"Eng?"
"Kenapa liatin Mamah kayak gitu?"
"Emmm nggak Mah, aku bakalan kangen banget sama Mamah".(tersenyum)
"Hemm, Suna jangan khawatir Mamah juga akan sering berkunjung kok"
__ADS_1
"Iya mah, Pokoknya Mamah jaga diri dan Papah".
"Iya Suna".