Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Waktu Sendiri


__ADS_3

Siang itu, semuanya merasakan penat seusai melakukan kegiatan mengantar ibunda Suna, beberapa saat hening menyelimuti Hunian mewah bernuansa Abu-abu dan putih, lirih televisi menyala dengan Bibi yang menyaksikan dari Sofa.


Sedang Suna dan Sumi telah kembali ke kamar mereka masing-masing,rasa kantuk menghinggapi kedua kelopak mata Bibi yang sedikit kekenyangan dengan aneka makanan laut yang di belikan Suna, bahkan dirinya kini beranjak menuju kamar setelah mematikan televisi.


Entah bagaimana Suna yang seolah tersadar setelah tidur kembali dalam pangkuan sang Ibu tapi dengan keadaan fisik yang masih kanak-kanak.


"Mah, Kapan Ayah kembali?"


"Eng?"


"Ayah kenapa belum kembali setelah di antar ke kuburan?"


"Ayah nggak ingin sama-sama kita lagi ya Mah?"


"Atau di sana Ayah mempunyai keluarga baru?".


"Emmm Ayah Kamu pasti kembali kok sama-sama kita lagih".


"Ayah hanya sedang di panggil oleh Allah".


"Emmm jadi Ayah akan kembali besok ya Mah?"


"..."(Tersenyum)


"Allah!!...".(Tersadar dari tidur)


"Allah...u akbar!!! Allahu akbar!!!"


Suara Adzan dzuhur berkumandang dari Masjid di sekitar komplek Perumahan dari Rumah Suna, dengan sedikit berkeringat Suna beristighfar Bangkit untuk bersiap mendirikan Shalat Dzuhur.


Sementara itu Di kediaman Kiayi Nuruddin suasana sedih Menyelimuti kepergian Kiayi Nuruddin, selepas Shalat Dzuhur kabar Duka meninggalnya Kiayi begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru Pondok, bahkan kini Sanak Saudara bahkan anak-anak serta Cucu beliau Sudah memadati Kediaman KH. Nuruddin yang Wafat pada Usia beliau yang ke 78 tahun.


Dengan Persiapan yang sudah sedemikian Rupa, Akhirnya Kiayi pun di shalatkan di Masjid Jami' al ihya' dengan seluruh Santri dan berserta Kerabst dekat Kiayi Nuruddin.


Tiada seorang pun yang mengira Pagi hari yang cerah tersebut kini berubah dengan hujan yang mengguyur setelah sesi pemakaman Sang guru besar yang di akhir hayatnya menyelesaikan shalat Dzuhur menjadi Imam untuk sang Istri beserta Khumairah dan Hasan yang kala itu berada di Kediaman beliau.

__ADS_1


Di Sujud terakhir beliau juga menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya hingga membuat shalat harus di lanjutkan oleh Hasan sebelum akhirnya di susul histerisnya Hasan beserta ummi dan Sang Istri mendapati Sang Ayah yang berpulang.


Perasaan Yang campur aduk tidak karuan juga menimpa Salwa yang sebelumnya Sempat bercakap-cakap dengan sang Ayah, namun tak menyangka bahwa itu adalah kali yang terakhir dirinya mendengar suara sang Ayah.


Dengan perasaan shock siang Itu dirinya tidak mengikuti rutinitas yang biasanya dirinya lakukan, karena kali ini Kiayi sahabat Sang ayah lah yang memintanya Pulang ke Pondok Ihya' bersamanya.


Taburan kembang berserta Do'a kini di panjatkan oleh Hasan di atas Makam Kiayi Nuruddin yang di guyur Hujan, Satu persatu sanak Saudara melangkahkan kaki meninggalkan makam sang Kiayi, namun karena Rasa kehilangan yang masih begitu besarnya Hasan yang di temani Salwa dan Sang Istri menjadi yang paling akhir memberikan untaian do'a.


Kehadiran sahabat-sahabat Salwa pun kini menemaninya secara bergantian, tak terkecuali Sofi dan Putri yang mendampingi Ummi yang masih terlihat begitu sedihnya terdiam dengan tatapan kosong.


Salwa.., Contohlah Kakak mu Khumairah, dia alhamdulillah menyelesaikan semua hal hampir sempurna Abi ingin kamu seperti kakakmu Nak, Abi sangat sayang sama kamu Salwa, Abi ingin.. ada seseorang yang bisa menuntun mu di jalan Allah dan kamu melengkapinya di semua Keilmuan yang kamu gemari, tak perduli dirinya tamatan sekolah apa, yang terpenting ilmu agamanya Salwa.


Kalian Anak-anak abi adalah pencetak tunas-tunas bangsa dan agama yang Abi harap punya banyak warisan ilmu.


"Jadi Salwa... Abi ingin kamu menempuh Pendidikan yang sebenar-benarnya kalau perlu ke timur tengah, mesir atau madinah".


"Abi selalu mendoakan dirimu agar di permudah mencapai Cita-cita Salwa, kamu masihlah sangat muda jangan sia-siakan hidupmu".


(menyeka air mata)


...


"Mamah, Dah makan Bi?"


"Emm belum Den".


"Ya udah, Bibi siapkan saja, Saya yang akan panggil".


"Mamah?"(Meraih tuas Pintu)


"Suna, Mamah Mau ikut Ayah".


"Hush... mikir apa aku".(menyadarkan diri dari pemikiran yang tidak-tidak)


"Mamah?"

__ADS_1


"Ayo, makan malam dah siap".


"Emmm Suna, tadi Obatnya gimana cara minumnya?"


lirih Sumi dengan butiran tablet di tangannya.


"Eh.. mamah".


"Mamah dah minum berapa?"


"Mamah ambil dari setiap setrip nya satu kan?" (Khawatir)


"Hehe iya, Tapi Mamah takut belum makan".


(Tersenyum)


"Ya udah, yuk Kita makan dulu, kan percuma minum vitamin tapi perut kosong?"(merangkul)


"Mah, Suna serius loh kita perlu jalan-jalan besok".


"Ng?"(Sumi nggak yakin)


"Inget kata dokternya kan?"(Suna)


"Emm terserah kamu aja deh Suna".


"Iya, ntar Bibi juga yah, siap-siap sama bantu Mamah siapin barang yang ingin di bawa".


"Emmm iya Den".


"Memangnya mau ke mana?"


"Jauh? kok sampai siapin barang bawaan?"


"Emm Pokoknya Mamah harus refreshing udah, itu aja".

__ADS_1


__ADS_2