
Di gelapnya malam dengan angin yang berhembus sedikit kencang, Salman masih berdiri dengan sedikit rasa penasaran dengan sosok yang berbisik seperti sangat dekat dengan dirinya, berkali-kali ia memutar pandanganya ke kanan dan ke kiri bahkan sudah siap dengan kuda-kuda untuk bertarung mengantisipasi kalau saja sosok tersebut bukanlah suna,melainkan sosok yang lain.
"Huft.. apa aku sedang berhalusinasi, jelas-jelas aku pergi di jam segini, anak-anak Pondok itu pastinya sudah tidur apalagi BAKAM yang tinggal si penjaga malam.
lirih salman yang kabur pada jam setengah satu malam.
....
"Alhamdulillah ya Ukhti, baru beberapa hari, tapi kecepatan hafalan Ukhti bisa menyaingi anak-anak lama,
ujar salah satu Ustadzah yang menjadi pembimbing Salwa selama menghafal.
"Cepat beradaptasi ya Ukhti, jangan lama-lama sendiri supaya tidak terasa asing, tambah ustadzah Zahra yang selalu melihat Salwa menutup diri dengan menolak anak-anak lama untuk berbincang-bincang dalam kesehariannya.
"Ia Ustadzah (tersenyum)
[Alhamdulillah , hari ini aku selesai menyelesaikan hafalan lima lembar, Sofi .. kamu apa kabar. aku kangen kamu, Uti Zahira Uti Lailah semoga kalian dalam keadaan baik.
Penyiram Bunga , kamu masih dengan perasaan yang sama atau
"Ukhti, sudah malam, segera selesaikan semua kegiatan dan tidur, agar esok tidak susah di bangunkan..!"
"Ng nggak kok Ukhti saya sudah selesai".(menutup buku diary dan meletakan di bawah bantal)
"Good night pria tangguh"..
Salwa kembali tenggelam dalam kenangan-kenangan bersama Suna meski hanya sekejap, karena ia harus sesegera mungkin melupakan hal-hal tersebut untuk mempermudah hafalan, dan tidur dengan nyenyak.
(Hey... Kamu yang waktu itu kan... Kamu masih ingat Aku??!!)
....
"Allahu akbar, hhh .. Astaghfirullah"
ujar Suna tersadar dari tidurnya yang sebelumnya terlihat nyenyak, terbangun dengan sedikit membuat kebisingan karena dirinya sempat berteriak, hingga membuat teman di sampingnya terbangun.
"Kang... nggak apa-apa?".
(...)(mengangguk)
"masih larut kang mending segera tidur biar subuh cepet bangun"(memejamkan mata)
Glutak...tap!! tap...!!
(...)(Suna)
"bunyi apa itu? apakah Kucing, cuma agak aneh..,".
lirih Suna yang akhirnya memutuskan untuk mendirikan Shalat Tahajjud dan menemukan keanehan dibelakang asrama.
....
"Thanks banget untuk hari ini ya.., kamu sudah nemenin seharian hhh, udah di kenalin sama Ukhti Zahira dan Ukhti Lailah juga.
"ia Ukhti. makasih juga sudah mau jadi temen aku.. Ng .. sahabat.."
(...)(tersenyum menitihkan air mata)
"Oooo Ukhti ternyata.. calon Istri dari Akang suna ya...".
lirih Zahira yang teringat tingkah angkuh Putri kala dirinya dan Salwa terlibat insiden pencopetan.
(...)(Putri)
"Hmmm selamat Uti, aku sangat terkesan dengan keberanian Uti mengambil keputusan masuk ke sini".
__ADS_1
Ukhti lailah yang melihat Putri lebih dewasa dengan penampilan bak Ustadzah mengira ia sudah tidak seharusnya berada di sini dan berteman dengan Sofi yang jauh lebih muda. (menyodorkan tangannya untuk bersalaman).
"Cepat berbaur ya Ukhti"
tambah Ukhti Zahira seraya menyodorkan tangannya juga untuk bersalaman setelah Ukhti Lailah, sedang Sofi mengetahui bahwa Putri juga mengincar Akang Suna kembali teringat sahabatnya Salwa yang akhirnya memutuskan untuk pindah ke Pondok Tahfidz.
"Mmm yuk tidur Ukhti, aku udah ngantuk (menguap dan memiringkan tubuh membelakangi Ukhti Putri yang berada di sisi kirinya)
"Ya Allah, aku kangen Ukhti Salwa".
(lirih Sofi terpejam dan menitihkan air mata)
"Hemm... maaf Sofi, ini pasti berat untuk kamu berteman dengan ku mengetahui aku menyukai Suna sedang kamu berteman dengan Salwa yang begitu dekat sebelum ini".
"Astaghfirullah"(lirih Putri terpejam serta mengalirkan air mata)
....
Salman yang tidak ambil pusing setelah berdiri dan berputar dengan pose kuda-kuda hampir setengah jam akhirnya melanjutkan kembali perjalanan yang belum mencapai setengahnya.
"Ok. kali ini jalan setapak" (lirih Salman dengan membuka jalan yang di penuhi dengan rumput ilalang yang tinggi)
....
"Assalamualaikum wa Rahmatullah..".(ujar Suna menyelesaikan Shalat Tahajjud nya)
"Ya Allah kuatkan aku untuk menimba Ilmu di sini , jagalah Ayah dan Ibuku, jauhkan mereka dari marabahaya serta sempatkanlah Aku membahagiakan mereka dengan seorang cucu... Aamiin"(mengusap wajah)
(Mmm setelah Ku ingat-ingat Salman juga berniat ingin kabur malam ini) gumam Suna setelah Shalat.
(ini rentetan cara orang dewasa yang tidak mendapat jalan keluar dari masalahnya paham". (Salman ))
"hhh. tidak dapat jalan keluar gimana , memang sesulit itu bagi anak seorang Kiayi menolak kehendak ayah?".
Tiba-tiba Suna teringat Salwa yang di awal sudah sedemikian rupa dalam ingatannya. kini Suna sedikit tenggelam dalam kekhawatiran akan keadaan Salwa maupun Salman.
"Hh mikir apa aku, Kiayi Nuruddin sepertinya tidak sejahat itu, ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, dan Salwa..
Salwa pasti baik-baik saja Suna..".(meyakinkan diri)
....
"Ok... kita cek Di Masjid" lirih Suna yang mendapati Salman tidak berada di dalam kamarnya.
"Kang Suna malem-malem gini lagi apa? mau Tahajjud yah, lirih Hasan duduk di tangga Masjid di jam yang menunjukan pukul dua pagi.
"Mmm sudah kang..."
"Oo Alhamdulillah"(Hasan tersenyum)
"Em saya sedang mencari Akang Salman karena ia tidak berada di kamarnya".
"Ng.. sepertinya tidak ada orang yang ke sini kecuali saya dan Arif, biasanya pukul setengah tiga baru ada anak-anak yang akan Shalat Tahajjud,".
"O... ia Terima Kasih ya Kang.. saya akan melanjutkan pencarian".
"Gimana kalau saya ikut membantu kang?"
"Salman-Salman bisa-bisanya kau mempersulit diri seperti ini". lirih Suna seraya meloncati tembok belakang Pondok setelah menolak bantuan Hasan untuk membantunya karena Subuh sudah menjelang.
(Kenapa tidak berakhir juga ini alang-alang , aku sudah pastikan melewati jalan kemarin tapi... kenapa sepertinya tidak berakhir)gumam Salman yang sudah kelelahan dan terduduk.
"Kenapa sesusah ini... huft".
....
__ADS_1
"Yah... katanya Putri masuk ke Pondok itu".
"Eng? kenapa bisa kebetulan ya Mah, atau Putri ingin mengejar Suna hingga ke sana?".
lirih ayah Suna seraya mencari baju tidurnya.
"Kan mereka memang deket Pah pacar .. Untuk apa di kejar kalau menjenguk saja bisa".
"Ya.. kalau bukan mungkin ia ingin mengejar yang lain".
"papah..."(merengut)
"Ya untuk apa lagi? , mungkin mereka berdua sudah merencanakan untuk membangun Rumah Tangga bersama".
(tersenyum)
"Mmm semoga mereka bener-bener berjodoh ya Pah".
"Ya semoga saja Suna dan Putri mendapatkan yang terbaik dari usaha mereka,(tersenyum dan menghampiri ranjang)
"Mah.. sepertinya kita perlu sesekali untuk liburan".(merangkul)
"Mmm boleh-boleh, papah nggak sibuk? mamah sebenernya kepikiran mau nengokin Putri".
"Ya.. kalau mamah mau kita bisa pergi setelah menjenguk Putri".
"Tapi papah nggak lagi sibuk kan? kalo sibuk ngga apa apa, papah selesaikan saja dulu pekerjaannya, kita bisa menunda sampai akhir bulan".
(melirik)
"Oh, enggak Papah harus ada waktu buat Mamah, setidaknya sebulan sekali itu nggak bisa di tambah loh, kalau tidak di manfaatkan sayang, Papah sibuk".(terkekeh)
"Is.. gituh..??. dah lah mau tidur..".(merengut)
....
"Lahu.. ma fissamawati wama fil.. ardi man dzalladzi...
(salman yang terduduk tak berdaya hanya menghafal karena menemui jalan buntu ketika dia sudah sejam berputar-putar di ladang ilalang)
"Man!! Salman..!! Salman !!!
(...)(Salman)
"Allahuakbar.., kamu ngapain di sini?(Suna terheran-heran melihat Salman terduduk kelelahan)
"Jangan bertanya seolah kamu tidak tahu apa-apa, aku ingin mengunjungi tempat tersebut"(berdiri dan melentikkan tubuh yang kelelahan)
"Hemm jangan bilang kamu tersesat?"(terkekeh)
"Tidak... aku hanya beristirahat... biasa sudah tak lagi muda".(tersenyum)
....
"Jadi ingat.. kita hanya berkunjung dan sesegera mungkin pulang jangan berbuat hal konyol waktu kita sudah sangat sedikit". lirih Suna menekankan permintaan pada Salman.
"Ok... Fine, anggap saja ini tanda terima kasih Ku karna Kau datang".(berjalan di belakang Suna)
By The Way becanda mu tadi jelek banget sumpah!!! (mendorong pundak Suna)
"Bercanda apa?"
"Le.. nggolek opo... le nggolek opo ,,,, sego... Astaghfirullah coba saat itu Akang muncul mungkin sudah ku tumpas di tempat". ujar Salman berkeluh kesah
(...)(Suna)
__ADS_1