
"Oi.. KETBAKAM!!"
"(...)".(Menengok)
"Tak Ku sangka kau masih menganggap dirimu sebagai Ketua".
"Kau tau turnamen olah raga tahun ini akan segera di mulai".
"Semoga jika di antara kita yang menang Kiayi tidak pikir panjang untuk menjadikan kita kembali menjadi seorang BAKAM".
"Dan yang pasti Aku sangat menantikan pertemuan Antara Aku dengan kalian-kalian pemuda masjid atau apalah itu".
"Cih.. bisa-bisanya kalian begitu mashur di kalangan Santri".
"Aku tidak butuh membuktikan apapun toh sepertinya akan ada banyak orang yang lebih berhak menjadi BAKAM selain Aku, yang punya banyak kekurangan dan ketidakpantasan".
"Bagaimana menurutmu?" lirih Fattah menanggapi sapaan serta kata-kata Luqman yang menyombongkan diri.
"Maksud lu apa!"(mendorong pundak)
"Gw nggak bermaksud beramah tamah !"
"Ini peringatan keras".
"Aku masih menyimpan curiga lu yang bikin Gw di turunin, dan... dan lu menyamarkan semuanya dengan keluar dari BAKAM".
"Ya kan !?"
"Memangnya apa yang membuat Akang berfikir Aku yang menyebabkan Akang di turunkan". lirih Fattah yang hampir tersungkur ke dalam semak-semak.
"(...)".
"Aku hanya mencoba sadar dari apa yang membuat diriku terombang-ambing dengan kesenanganku".
"Dan Akang mencoba mabuk dengan kepunyaan yang tidak lagi berhak Akang miliki".
"Dan hhh dan sepertinya Aku tidak akan pernah lihat Akang kembali ke kamar itu meskipun memenangkan apapun setelah ini".
lirih Fattah yang tidak bisa menahan diri lebih lama dengan sikap Luqman.
"Ya Allah Fattah!!!".
"Fattah.. fattah !?.."
"Kiayi, Saya merasa sudah tidak pantas menjadi seorang Ketua karena telah lalai dalam pengawasan rekan-rekan Saya".
"Maaf kan Saya Kiayi, sepertinya Saya masih mementingkan diri saya sendiri"
"Dan perihal Kang Luqman sepertinya Saya juga terlibat andil dalam memberikan kesempatan lebih hingga dirinya memanfaatkan kesempatan mengunjungi yang lain dari tempat itu(Warung Iwak Kali)".
"Saya ingin berhenti".
"Fattah!?" ya Alllah!?"
(Mengobati luka di bibir)
"Fattah kenapa kok sampai gini?"
lirih Zahira yang tak kuasa menahan air mata ketika melihat kejadian Luqman yang menyerang Fattah di tepi jalan.
"Sst au uh..".(mulai tersadar)
"Kkenap.. ".(Bingung)
"Bisa-bisanya Kamu bertanya kenapa!? Kamu ngga ingat Itu tadi Kamu di serang oleh Orang!"
__ADS_1
"Oh... iya, Gimana jam berapa ini?"(khawatir Kuliah)
"Jam delapan dua puluh".
"Gawat bisa-bisa telat ke Kampus kalau ginih".(bergegas berdiri)
meninggalkan Zahira yang masih membereskan peralatan pengamanan pertama pada luka di emperan toko yang belum buka.
...
"Permisi.. ini pesanan mba Putri".
"Ng?".(Penjaga Gerbang)
"MasyaAllah Putri ini? apa?"
ujar Ustadzah Khumai yang kaget karena sebuah mobil Box berlabel 'Butik Cantik' dengan warna hijau muda dan pink yang mendominasi.
"Ini beberapa Sample Kain yang semoga bisa membantu temen-temen yang masih mencari dan membuat disign bajunya Dzah, Ada beberapa peralatan yang biasanya aku pakai juga dalam membuat baju, jadi nantinya bisa di manfaatkan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan".
"Oo MasyaAllah".
"(...)"(tersenyum)
Pagi itu sebuah terop dengan berbagai macam peralatan dan kain telah berdiri dengan berbagai macam design pakaian yang pernah di buat oleh Putri bahkan dengan sekejap di kunjungi oleh para santriwati yang penasaran, dan dengan sedikit arahan kini pembuatan baju yang akan di lombakan mendapatkan kemajuan setidaknya dua puluh persen hingga dapat menghemat waktu.
"Wah Alhamdulillah, seharusnya kalau seperti ini tidak perlu bingung dengan dapat tetap menjaga ibadah maupun belajar".
...
"Uti Salwa?"
"Ng?"
"Uti udah enakan?"
"Uti makan dulu yuk?"
"Uti belum makan sedari pagi".
"Emm nggak laper Uti".(memeluk al-qur'an)
"Uti .. ".
"Jangan, biarkan saja Uti".(menolak Al-qur'an yang hendak di ambil dari pelukan)
"Salwa?! "
"Ya Allah Salwa? Kamu kenapa?"
"Allah, Panas!"(panik)
"Kata Ustadzah, Ukhti sedang sedikit banyak pikiran jadi tidak memperhatikan pola makan ustadzah".(pengurus Bakesa)
"Sini Biar Saya yang memberikannya".(meraih sepiring nasi)
...
"Suna, maafkan mamah, kegigihan Ayahmu tidak bisa Mamah hentikan untuk mencari karunia Allah".(menyajikan hidangan yang sudah di siapkan dari rumah).
"Iya.. Den,". tambah asisten baru yang mendampingi Sumi.
"Ibu tidak ingin Bibi memasak hingga membuat semua makanan ini khusus untuk Aden".
"Hemm ".(menuangkan nasi)
__ADS_1
"Bagaimana sejauh ini di Pondok Suna?"
"Mah, jangan khawatirkan Suna di sini, Mamah jaga kesehatan Ayah mah, Aku ingin Kita kembali berkumpul".(menjaga nada bicara)
"Iya Suna, Mamah pun ingin berkumpul sama-sama lagi".
"Wah, sepertinya ada yang sedang berbahagia nih di jenguk Orang tua".
lirih Salman ketika Suna membuka segala jenis barang bawaan yang di berikan Ibunya.
"Hemm nih(menyodorkan segala jenis makanan), O iya, Orang tua Mu tidak pernah datang?".
"Hehe Ayah akan datang jika ada sebuah kemajuan yang sudah kulakukan, pengambilan ijazah atau penghargaan, selain itu pasti Ibu yang sudah sangat merindukan anaknya ini".singkat Salman.
"Ooo".
"Jadi sebulan sekali di jenguk?"(Salman)
"Emmm iya sepertinya akan seperti itu, karena Ibuku sedang berbohong".
"Ng? sedang berbohong?".
"Iya, jadi Aku pun harus berbohong juga".
"Ah, sudah jangan di pikirkan Aku minta do'a nya agar mereka selalu sehat".
"Wah sebenarnya aku sedikit penasaran dengan kata berbohong".
"Tapi Semoga mereka berdua selalu sehat dan di lancarkan Rezekinya".
lirih Salman yang sedang berkutat dengan catatan hadist yang sedang ia hafalkan.
"Aamiinn".
"Arif?"
"Arif tadi hanya kembali sebentar lalu ke kelas lagi".
"Ooo".
...
"Kang.. Aku sangat Salut dengan keberadaan Akang Fattah yang sekarang di Asrama, ketika datang dirinya sudah bangun dan berpakaian shalat".
celetuk Arif di waktu Dzuhur yang sebentar lagi menjelang.
"Ya pantas saja dirinya sudah berpakaian Shalat, seingatku dirinya tidak pernah putus Sholat Tahajjud di Masjid". (Suna)
"Bukan seperti yang Satu itu, kalau bangun perlu di guyur Air".
"Siapa?"
"Akang luqman?"
"Ng?"(Suna dan Salman saling menatap)
"Ya memang katanya Kang Luqman sering berlaku kasar dan susah di bangunkan".
"Heh heh, nggak baik membicarakan Aib orang..".
"Segera wudhu dan laksanakan kewajiban".(Suna)
"Astaghfirullah , Astaghfirullah".(Salman tersenyum)
"Astaghfirullah"(lirih Arif bergegas mengambil air wudhu)
__ADS_1
...