Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

"Yah, untuk membantu Pondok harusnya aku laporkan sama BAKAM"


Huft kalau begini caranya aku harus meninggalkan pondok ini, apa boleh buat, gak peduli sedeket apa abi sama KH Nuruddin pokoknya aku harus pulang.


gumam Salman.


"Hehe, tapi mungkin akan beda ceritanya kalau akang ajari saya loncat-loncat yang seperti barusan". dengan tersenyum Arif menyilang kan kedua tangannya.


"Hallah, ternyata mau memperalat ku".


lirih Salman memalingkan badan dan berniat menuruni tangga.


"Woi..!!!! ada anak baru... kabur.... akang BAKAm...!!!!!.".


teriak Arif di lorong kelas membuat Salman begitu panik, pasalnya dari sekian Santri maupun santriwati yang tengah berada di gedung yang sama, hanya dirinya yang berpakaian berbeda.


Pagi itu suasana pondok di buat riyuh oleh insiden Arif dan Salman yang membuat kerumunan, namun akhirnya hal itu pulalah yang membuat anak-anak BAKAM dengan mudah menangkap basah Salman yang sedang melancarkan aksi kaburnya,


Salman sudah di cari-cari di dalam dan di luar pondok kerena bahkan belum genap seminggu keberadaanya di pondok KH. Nuruddin ia sudah berulah, namun ia kini sudah menerima peringatan dan hukuman karena kabur.


....


"Bang.. abang kenapa?".


(....) salman hanya mendiamkan setiap orang yang menanyainya karena berdiri di depan megahnya masjid di pagi menjelang siang.


Suna yang tak luput dari sikap ketus Salman pun hanya bertanya-tanya apakah ia benar-benar anak dari seorang Kiayi, yang dulu sempat menyambangi Kafenya.


"Kang Suna bisa bantu saya?"


ujar Hasanuddin yang membawa sebuah ember dan pel lantai.


"Mmm..., sebenarnya saya habis keliling nyiram bunga tapi..., ok lah".


....


"Kang Hasan dah lama yah ada di Pondok ini?"


"Ng? ah.., masih baru kang , saya juga masih belajar banyak".


(fokus mengepel)


"Ooo, tapi .., akang juga tahu kan di calonkan untuk menggantikan Kiayi Nuruddin?".


"Kang.., masalah itu semua tidaklah penting bagi saya, kalau pun tidak, saya pun tetap akan tetap mengabdi untuk membantu Pondok ini".


"Ooo, mengabdi itu..., seperti mengajar-mengajar gitu?".


"Ia,".


"O saya dengar-dengar ada dari mereka juga yang di bayar Kang, jadi ... akang di di bayar juga? dibayar berapa kalau boleh tau?".


"Mmm..., alangkah baiknya kalau kita menyelesaikan pekerjaan dulu kang, nanti akan saya ceritakan".


ujar Salman mengalihkan rasa penasaran Suna untuk kembali fokus menyelesaikan pekerjaan mereka.


...


"Salwa kamu seriusan nggak akan nyamperin dia kan?".


"Ra.., nggak lah, ngapain".


"Ia jangan bikin masalah lagi deh wa.., aku kepikiran kamu di kelas tadi".


ujar Zahira yang begitu takut kalau saja Salwa kembali melakukan hal yang di luar dugaan.


Benar saja sepulang mereka dari kampus Salwa langsung merapikan beberapa barang ke dalam ransel dan melarikan diri ke rumahnya, bahkan setelah di bujuk untuk tidak pulang oleh Sofi.


....


"Pokoknya kakak nggak boleh dekat dengan owner Kafe Playboy itu". lirih salwa seraya melangkahkan kaki menuju pintu belakang rumah


"Assalamualaikum..., ummi?"


"Kemana ummi?"


Salwa yang tidak mendapati sosok ibunya hanya berlalu melewati meja makan dan menuju kamarnya.


BRUKH!!!!".


Salwa meletakkan tas di atas meja belajarnya dan menunggu kepulangan Khumairah untuk memintanya menjauhi Suna bagaimanapun caranya.


"Ok ...., welcome home..".


Sementara itu, hari berlalu dengan berbagai macam acara di dalam Pondok, hingga akhirnya hukuman satu minggu berdiri di depan masjid pusaka yang harus di lakukan Salman pun sudah berkurang satu hari, dan kini ia mendapat teguran dan nasehat oleh Sattah selaku KET BAKAM 01.

__ADS_1


"Kamu kemana aja sepagi ini?".


"Ng.., itu.. saya cuma keluar dan jalan aja".


"Saya minta kamu untuk tidak melanggar aturan kedisiplinan di Pondok ini, apalagi dengan latar belakangmu yang seorang anak dari Kiayi".


"Ia kang".


"harusnya kamu jadi contoh, bukan malah kabur-kaburan, bahkan sudah dua hari tidak mengikuti absensi kehadiran".


tegas Willy yang saat itu menasehati salman di depan gedung santiniketan selepas shalat isya.


"Ia kang".


....


Salman yang setelah mendapat teguran tidak nafsu untuk melakukan hal rutinitas di dalam Pondok, karna itu ia sekarang menuju masjid di kala para santri menuju ke dapur.


Tiba-tiba Salman kembali teringat kala ia mencoba kabur dan mendapati dua orang wanita yang menjadi korban pencopetan, serta handphone yang di lemparkan oleh salah satu dari wanita tersebut yang saat ini masih ada pada dirinya.


"Nggak makan?".


tanya Suna yang saat itu sedang duduk di tangga masjid sembari membawa Al-Qur'an miliknya, ia membelinya di koperasi pelajar berserta keperluan sehari-hari lainya.


"(......)"


"Akang tu..., ke sini buat apa toh? anak Kiayi kah?"


mendengar perkataan Suna, salman sempat ingin bereaksi berlebihan karena Suna terdengar sangat memaksa dirinya untuk berbicara sedari pagi.


"Atau ingin meminang anak Kiayi?".


sontak kata-kata Suna yang terakhir membuat salman menghampirinya serta duduk di samping Suna yang terlihat membaca-baca terjemahan Al-Qur'an.


"Saya tegaskan pada anda, saya kesini tidak lah untuk hal-hal semacam itu, saya... kalau bisa keluar malam ini saja, saya akan keluar".


singkat Salman.


"Keluar lah.., kalau kamu mau".


(.....)Salman terkejut dengan kata-kata Suna.


"ia jangan buat orang susah, ayahmu jauh-jauh memondok kan ke sini apalagi hanya untuk mengejar anak seorang Kiayi".


"(.....) ada yang salah sama orang ini.


"Hhhh, saya tidak perlu bersaing kalau hanya untuk meminang anak Kiayi Nuruddin..., apalagi bersaing dengan anda".


"Ng?? haha aku juga tidak perlu memperingatimu jikalau aku yang bersaing hhhh".


"Hehe sepertinya akang cukup berani sampai berbicara dengan orang yang tidak akang tahu latar belakangnya".


"O ia terima kasih..,".


"Saya tidak sedang memuji akang.., ini atention..".


lirih Salman dengan menepuk kan tangannya pada pundak kekar Suna.


"Memangnya siapa nama akang?".


"Suna".


"Saya Salman, dan saya tak seperti yang akang pikirkan hhh, memangnya seperti apa sosoknya anak Kiayi, hingga ada Santri disini seperti akang".


Akhirnya Suna dan Salman saling mengenal di tangga Masjid setelah perbincangan panjang yang memicu amarah, namun keduanya nampak saling memiliki suatu hal yang membuat mereka tidak meluapkan emosi dan berkelahi.


"Setelah saya pikir-pikir nggak ada gunanya juga saya bersaing untuk hal semacam itu, kalau mas mau ambil saja tak perlu berfikir saya menghalang-halangi mas". (beranjak dan merilekskan tubuh)


"Mm.., saya ingin anda memegang kata-kata itu.,karena ada seseorang yang sudah di jodohkan dengan anak KH Nuruddin yaitu sahabat saya".


lirih Suna.


"Mas..., mas nggak pah(am apa yang saya katakan?)"


"Arif!! rif...!!!"


Tiba-tiba seseorang memanggil nama arif setelah membuka pintu. dengan sedikit rasa penasaran Salman pun mendekati sumber suara tersebut, setelah beberapa lama saling unjuk untuk menghampiri suara tersebut dengan Suna.


"Maaf Arif nya nggak ada"


ujar Salman yang mendapati Salwa yang malam itu memakai busana santai berserta hijab tak seperti kala ia di temukan di pasar dengan insiden pencopetan, dan sempat ada sedikit rasa takjub.


"Mmm.. ini dari ummi' ummi masak banyak jadi takut mubadzir".(menyodorkan nampan dengan nasi dan beberapa lauk dan gorengan).


"E' ia".(singkat Salman seraya meraih nampan tersebut) salman berusaha menutupi kegugupannya kala mengetahui pemilik handphone adalah anak dari KH. Nuruddin.

__ADS_1


"O ia ada siapa di masjid?"


"Aaa ada kang sunn na".(terburu-buru)


"Ooo aa tol(long katakan) eh ...".


Salwa begitu heran mendapati akang santri tersebut meninggalkan dirinya tanpa sempat mendengar kata-katanya yang terakhir.


.....


"Astaghfirullah-astaghfirullah".


"Kenapa? kok gitu?".


"Ah, enggak" sini Al-Qur'anya saya lupa membawa.


(ingin mengecek hafalan)


"Ng.. inih..,".(menyodorkan Al-Qur'an)


....


"Akang, saya ituh.., benar tidak punya hal-hal yang bisa di banding-bandingkan, saya adalah anak yatim piatu yang di adopsi oleh KH. Nuruddin kala beliau mengunjungi yayasan Rumah Yatim di daerah saya".


Suna yang mendengar cerita Hasanuddin menjadi terenyuh dan sempat menitihkan air mata, di tambah lagi dengan sikapnya yang sempat seolah mempermainkan perasaan Hasan belum lama ini.


Hingga di akhir perbincangan mereka, suna menyadari Ustadz-Ustadz mereka yang mengabdi di Pondok ini pun tidak di bayar, melainkan hanya di fasilitasi beberapa keperluan sehari-hari dan uang saku yang tidak akan cukup bagi orang-orang yang mencari bayaran atau hal-hal yang bersifat Duniawi di Pondok itu.


Khususnya kepada Hasan, kini Suna begitu menghormatinya dan tidak berniat kembali meledek dan akan berusaha mendukungnya mendapatkan ustadzah khumai.


....


"Ummi'.., masak apa?"


(setelah setengah hari melakukan aktivitas keseharian di dalam kamar)


"Ya allah Salwa... kok di rumah?"


ujar ibu Salwa yang kaget saat mengetahui anak bungsunya sudah di rumah dan berbusana santai.


"Eh.. salwa pulang,".


ujar Khumairah yang sehari-harinya menghabiskan waktu untuk menghafal al qur'an selain waktu mengajar.


"Ia uti.., aku pulang uti seneng gak?"


"Ng..? koo gitu nanya nya?".


(Khumairah menuangkan nasi pada beberapa piring)


"Iya, uti seneng gak aku pulang, kalau Ummi' pasti sudah seperti biasanya, kok pulang? udah ketemu Abi?".


"Mmm..., anak-anak abi ada di rumah toh?".


KH. Nuruddin kembali dari Inspeksi keliling Pondok selepas isya.


"Ia abi.., Salwa pulang, satu hari ini aja, besok ke asrama lagi".


"Jangan seperti itu, apa kata temen kamu nanti kalau kamu pulang terus-terusan".


Ibunda Salwa menasehati seraya menyelesaikan masakan sayurnya dan meletakkan di atas meja.


"Ia mi' Salwa ngerti"


Akhirnya keluarga kecil KH. Nuruddin memulai santap malam mereka dengan kehadiran salwa yang pulang dari asrama.


"Ummi' masak untuk santri juga kan..,".


"Ia Abi..., jangan khawatir, sudah Ummi' siapkan".


kebiasaan turun temurun yang di warisi oleh KH. Nuruddin dari orang tuanya selaku pendiri Pondok adalah selalu memasak lebih untuk di sedekahkan pada Santri di kala santap malam.


"Mmm.., Salwa aja yang ngasih Ummi, uti,".


ujar Salwa yang mengajukan diri untuk memberikan sedekah berupa makanan yang sedang di siapkan oleh ummi' dan kakaknya Khumairah setelah santap malam.


"Biasanya Arif berada di tangga, tidak usah ke sana jadi kamu panggil saja di pintu, nanti pasti di bagi dengan temen-temen sekamarnya".


"O Arif, ok kalau nggak ada?".


"Pasti ada kok". ujar Khumairah seraya tersenyum.


.....


"nada bicaranya seolah pernah ku dengar tapi..., entah di mana, selain itu.., bukanya ini kali pertama aku berjumpa dengan dia...".

__ADS_1


lirih Fattah, setelah menasehati salman yang kedapatan kembali setelah pelariannya keluar pondok tanpa izin".


__ADS_2