
"Huemm, tak Ku sangka selama ini Suna tak kembali, sebenarnya selain menyebalkan, ternyata ada juga sisi kosong yang di tinggalkannya dari Pondok".
"Hhh biasanya pagi begini pasti sudah sibuk mengurusi orang".(Mengibaskan Topi)
"Eh kang Salman?".
"Eng?".
"Tania?".
"Kenapa di sini?"
"Ah, iya Saya sedang menunggu Kang Fattah, karena hari ini pakan Sapi Pondok habis".
"Mmm iya, kalau begitu Saya pamit".
"Mmm Iya Hati-hati".
"..."(Tersenyum).
Di mana letak dan kapan pertama kali Salman mengenal Tania masih belum teringat, bahkan dengan kesibukan Salman yang akhir-akhir ini selalu menjaga Saka Pondok(Masjid).
Dengan tidak terlalu memikirkan kejadian yang baru melibatkannya pagi ini Salman kembali tenggelam dengan kewajiban dan pekerjaannya.
"Al'akh Salman, Kembalilah Ke BAKAM, karena dengan Jumlah BAKAM yang sekarang, sepertinya sedikit kesusahan membagi tugas".
__ADS_1
"Tapi K..Kiayi".
"...".(Hasan).
Dua Sahabat yang sempat bersama, kini kembali banyak berbicara namun dengan suasana dan cerita yang makin membentuk pribadi masing-masing untuk selalu menghormati satu sama lain.
Bahkan jika tidak pernah mendengar niatan Kiayi yang masih ingin memberi Suna kesempatan, Salman lah Kandidat kuat yang mempunyai tempat terbesar untuk bersanding dengan Salwa.
Selain Ayah Salman dan Kiayi Nuruddin bersahabat, Hasan tau betul kemampuan dan pengetahuan Salman muda yang Empat lima tahun lagi mungkin akan melengkapi kepemimpinannya.
Setelah suasana Pondok yang sempat berduka dengan kepergian Kiayi Nuruddin,di awal tiada keyakinan bila Hasan mampu untuk mengemban amanat seperti sosok Beliau Ayah mertuanya, dan akhirnya dengan nasihat Ummi Zakiyath Salman pun memberanikan diri, berbicara panjang lebar atas posisi dan keberadaanya sebagai pengganti kiayi Nuruddin di depan enam ratus Santri dan santriwati yang mendengarkan pidato perdana Hasan Sesaat setelah Shalat dzuhur di tunaikan.
...
Tapi ada sedikit cerita di kala Liburan yang melibatkannya itu, di kala Kesibukan dan keceriaan yang telah di lalui entah karena tingkah laku asisten mereka, Ataupun di kala hanya sekedar berjalan berdampingan dengan Sang anak bak sepasang sejoli.
"Hemm Suna Pasti belum bangun sepagi ini".(Merentangkan tangan di depan pintu)
"Ibu Sumi?"
Terkadang terlintas niat untuk kembali Move on, namun dengan perbandingan Umur atau posisi, apalagi Kepergian Suami yang masih sangat membekas hangat seakan dekapan itu masih dapat di rasa hingga melupakan banyak hal di dunia nyata.
"Mah?"
"Eng?"(Sumi)
__ADS_1
"Mamah masih mengkhawatirkan Papah yah?".
"...".(Sumi)
"Mamah juga jangan sampai lupa mengkhawatirkan Diri mamah, mamah perlu menjaga kesehatan, menjaga pola makan, biar tetap fit".(Tersenyum)
"Papah Pasti baik-baik saja kok, papah pasti sedang terlelap beristirahat seperti halnya tidur siang".
"Emmm Papah pasti kesepian ya Na?".
"Emm nggak lah Karena dengan kebaikan Papah setahu Ku pasti allah akan memberikan nikmat Kubur, Suna yakin mah".(menggenggam tangan Sumi)
"Jadi Mamah harus gimana Suna?".(menatap datar)
"Mamah harus segera memperhatikan diri Mamah, lihat mamah dah seperti biasanya kok setelah liburan".
"Papah kalau tahu Mamah malah kurus dengan kantong mata besar seperti sebelumnya pasti bakal sedih banget".
"...".(Sumi)
...
Catatan seorang Mahasiswi semester akhir.
Salman (menggambar)
__ADS_1