
"Wah..., sayang sekali, juara satu tahun ini juga di sabet bagian BAKAM., padahal aku... sudah berusaha keras,, apalagi tidak bertemu dengan akang Salman dan kang Suna di turnamen ini, harusnya aku sudah bisa meminta rekomendasi Wali Kelas untuk menjadi BAKAM".
"Wes oo, pada intinya kan mondok sama saja, mau jadi Santri biasa ato yang bakam sekali pun".(Suna)
"Ia jangan lah..., 'kamu cuma mempersulit orang saja kalo jadi BAKAM, jadi Santri biasa aja, pagi dan sore hari mengaji memperbagus bacaan Qur'an, atau menghafal, dari pada menjadi Bakam yang mencurigai saja kerjaannya".
ujar Salman yang kini lebih banyak berkumpul dengan remaja masjid,
Iya... kumpulan anak-anak yang selalu meluangkan waktu lebih dari yang lainya , Kang Hasan, Arif, Suna termasuk dirinya sudah masyhur di kalangan Santri akhir-akhir ini sebagai Remaja Masjid.
"Kang..., akang kalau iri sebaiknya tidak sejelas ini...." hhhh iri itu tanda tidak mampu...,".
"Wah... kamu Rif... memmang.. yah... kalau saja insiden itu tidak melibatkan kami (dirinya dan Suna) pasti kami masih bertanding di lapangan waktu itu, coba-coba, sebutkan apa yang tidak aku mampu selama ini.., sebut kan...!!!.
"Warung iwak kali belakang pondok !!! ghoummmmnmmm..."(di bekap mulutnya oleh Hasan)
Sontak kata-kata Arif membuat hasan cepat-cepat menarik telinga kirinya, dan berbisik sesuatu pada Arif, Suna dan Salman yang masih belum begitu tau, hanya mendiamkan dengan sedikit rasa penasaran, di pagi menjelang siang saat beberapa anak SMA dalam (Pondok) melakukan shalat dhuha, sedang suna dan salman baru saja menyelesaikan pekerjaan di kandang.
"Memangnya Warung wak kali apa tadi?".
"Emmm. itu... hehe itu hanya gurauan Arif saja kang.., Arif mah suka gitu, sembrono gak ada kerjaan".
"Itu satu tempat seperti Kafe kita di depan itu kah?"
lirih suna menebak-nebak bentuk tempat yang kini sudah terlanjur membuat penasaran dirinya maupun Salman.
"Lll lebih sederhana kang.kk ktanya(katanya)(Arif yang di halang-halangi Hasan untuk tidak memberi tahukan tempat tersebut)
"Heh, Kafe depan memang se wah ituh?".ujar Salman yang lupa pemiliknya duduk tepat di hadapannya.
(...) (Suna menatap datar)
"Ups hehe canda Kang, seriusan."
"Nah loh, bercanda apa seriusan , kasih lah kang...".
ujar Arif mengompori Suna.
".Eh..... it itu.., itu warung tengah malam yang berada di belakang Pondok konon katanya hidangan di Warung itu sangat enak.".ujar Hasan memberitahukan info yang sebelumnya ia tutup-tutupi karena takut suna dan salman kini seolah sedang bersitegang.
"Ia kah? memang apa istimewanya?"
lirih Suna,seraya menoleh ke arah Hasan
"Menurutku.., bukan sekedar istimewa, sepertinya ada semacam tantangan untuk mencapainya ya kan,.".(Salman)
"Iya Kang, kalau untuk anak-anak kuliahan mungkin bisa dengan mudah membeli, tapi untuk anak-anak SMA dalam(Pondok) tidak semudah itu"..
ujar Arif yang menceritakan perihal warung tengah malam yang berada jauh di belakang Pondok, setelah Hasan tidak mempersulitnya dalam berbicara, iapun memberitahukan bahwa BAKAM selalu berpatroli ke sana mencari anak2 yang kabur.
....
"Nah, nak Putri, ini anak ibu, dia juga mengajar di SMA dalam Pondok , jadi kamu di antar ke asrama bersama dia ya",
"Iya Ibu".
"Khumairah, antar adik kamu ke asrama ya nak".,
"Ia Ummi', lirih Ustadzah Khumai yang suaranya sangat lembut membuat putri sedikit hilang percaya diri di hadapan sesosok pengajar yang berbusana dengan anggun dan tidak meninggalkan kesan kalem sebagai seorang Santriwati.
"Mba yang dulu pernah ke sini ya.."
lirih Ustadzah Khumai dengan tangan yang seperti menutupi kegugupan kala berjalan di depan asrama Putri Pondok milik ayahnya,
"Pssts... masyaAllah wah.."
"Masyaallah... Ustadzah sama siapa ituh, cantiknya..."
"Ish.. dua-duanya cantik uti.."
__ADS_1
(Bisik-bisik di balik pintu kamar anak-anak lama yang sebagian masih menjalani liburan dengan bermukim di pondok bagi anak-anak SMA yang jauh rumahnya)
"Emm gimana Ustadzah?".
"Emhh hihi jangan panggil Ustadzah saya pikir uti juga seumuran dengan saya, panggil saja Ukhti atau Khumairah".
"Uu..kh kh"(Putri kesulitan mengucapkan)
"Ukh..ti"
"ukhti artinya saudari" (ujar Ustadzah Khumai yang berhenti dan berbalik arah menatap Putri)
"Ukhti.., ya, ust.. eh ukhti.."
(putri yang seketika kaget karena di pandangi oleh Ustadzah Khumai yang membuat dirinya menghentikan langkah).
"Sudah sampai, Ukhti bisa pakai Khizanah kepunyaan adik saya",(memasuki kamar setelah melepas sepatu)
"Ukhti... hix hix... khuk ukhuk.."
"Kk kenapa dia menangis ? Ukhti?". lirih Putri membisik ke telinga Ustadzah Khumairah yang terbalut hijab berwarna abu-abu.
"Sofi..?. kamu kenapa?"
"Ukhti Salwa? uhkhuk..".(tepejam)
"Sofi...? Sofi? ".
lirih Utadzah Khumairah, membangunkan Sofi yang memeluk erat bantal miliknya.
"Emmm begitu ceritanya"
,"Sofi.. kamu harus move on, bertemanlah dengan teman sekamar kamu, jangan hanya karena Salwa tidak di sini kamu menyiksa diri sayang..."
"masih ada uti Devi, Anita uti.. zahira kamu berteman dengannya kan?.
ujar Ustadzah Khumai yang masih dalam keadaan di peluk oleh Sofi yang merengek setelah membuka mata.
"Ustadzah.., uti Salwa,, uU uti Salwa janji mau berteman sama a'akhu... dzah.. ttappi.. u'uti Salwa pergi dzah aku nggak punya siapa-siapa lagi... aku ngga ada temen bareng-bareng la'aghi ukhu' ukhu..".
(....)(Khumairah terdiam)
"Hmmm aku mau bareng-bareng sama kamu.., aku disini nggak punya siapa-siapa juga, jadi.. kamu temen pertama aku...".
(lirih Putri berharap Sofi dapat menyudahi sedihnya, karena entah bagaimana meski perasaan yang belum pernah ia rasakan berpisah dengan teman hingga sesedih ini dapat membuat dirinya ikut larut dalam kesedihan)
....
"Ya sudah, saya pamit, terima kasih sudah menenangkan Sofi tadi".,
"ah ia, kedepanya jangan sungkan untuk memberitahu keperluan atau untuk sekedar berbincang, datang ke rumah Abi yah,". (senyum Ustadzah Khumai sebelum akhirnya meninggalkan putri dan sofi)
....
"Haruskah aku menyampaikan ini?". lirih Zahira dengan sebuah benda di tangannya , sebuah buku catatan kosong berwarna hitam dengan sebuah surat di dalamnya.
"Uti.., malam ini uti harist lail , bersama WAKA BAKAM.. lirih Shofia salah seorang teman di jajaran BAKAM".
"Oo ia uti, aku hampir lupa, nanti akan ku ingatkan uti lailah jikalau dirinya bertugas sebagai jaga malam bersama ku".
"Na'am Uti(ia Ukhti)
(Meski gak perlu sampai di ingatkan Uti Lailah mah, selalu perfect hampir di semua sisi,cantik, akademik bagus termasuk tugas jaga malam gak pernah lupa) guman Zahira seraya tersenyum
"Aaku... tidak percaya... kalau akhirnya dengan semua hal yang aku lakukan ternyata melakukan hal yang paling Un Faedah seperti saat ini".
"Udah... diem aja.. kita beli, lalu pulang kelar urusan , nggak usah merengek kalau tidak berani mundur saja dan pulang..,".
ujar Salman membuka ilalang-ilalang tinggi sebagai jalan.
__ADS_1
sedangkan Suna yang sebenarnya jauh lebih tua dari Salman, namun Suna hanya terdiam menghadapi bocah ingusan yang 7 tahun lebih muda darinya.
"Allah.. hu akbar.. ini kita nggak tersesat kan akang Suna, akang Suna hafalin jalanya,".(lirih Salman)
"Ia aku masih ingat , lagian kamu nggak hafal memang?".
"Ya aku masih ingat, tembok, sungai, semak ilalang jalan, dan di depan kita Makam Keramat".
"Ya.. emang namanya kan Makam Keramat..".(menunjuk plang hijau bertuliskan MAKAM KERAMAT)
dengan sedikit waspada kalau saja ada BAKAM berpatroli menemukan mereka , maka usai sudah riwayat kabur mereka malam ini.
"ngek... ngek.... glk gkl.. kring-kring...!!!"
Sontak suara Sepeda Ontel dengan lampu redup membuat Suna dan Salman meloncati pagar makam dan bersembunyi.
mereka saat ini merasakan detak jantung yang berdegup sedikit lebih kencang dengan nafas tersengal,
"Siapa di sana.... !!!?".(mengarahkan senter ke arah tembok Makam,)
Tak lama kemudian suara sepeda itu pun melaju kembali, membuat Salman dan Suna melongok keadaan dengan sedikit menjinjit untuk melihat keberadaan BAKAM tersebut.
"Le... golek opo?" (nak , cari apa ?)
Lirih seseorang yang menyapa mereka berdua di balik kegelapan, suara nenek paruh baya namun tak nampak jelas wujudnya membuat pikiran Suna dan Salman sangat ketakutan dan cepat-cepat meloncati pagar.
Akhirnya dengan perasaan Syok Suna dan Salman memutuskan kembali menyusuri jalan yang telah mereka lalui,
dengan harap-harap cemas tidak ada BAKAM yang melintas membuat mereka terpaksa harus menyembunyikan keberadaan mereka lagi.
"Itu tadi... Nenek-Nenek ya kan", (lirih Suna dengan sedikit penasaran)
"Bukan Nenek-Nenek atau Kakeknya yang menjadi permasalahan bagi ku, tapi keberadaanya di tempat dan se larut ini yang membuatku sedikit takut".
(....)(Suna mencoba untuk selalu berfikir positive)
.
"Tidak kah kita harusnya memastikan kembali itu Nenek-Nenek atau.. bukan, karna menurutku harusnya kita yang bertanya cari apa malam-malam begini di Kuburan?".
ujar Salman dengan nada yang masih tegas dan seolah menyakinkan bahwa dirinya tidak mengalami ketakutan.
"Mau mengecek ulang?".
"Eng..? siapa takut....!!"
(Salman menanggapi kata-kata Suna yang sebenarnya hanya sembarang bicara)
"Wait.... ini udah jam berapa man... jam 00:12 bukankah akan terlalu lama ,untuk kita kembali ke tempat itu..,ada baiknya kita kembali ke Pondok agar pagi ini tidak susah bangun".
ujar Suna merangkul erat pundak Salman agar Salman segera meniti jalan pulang dan kembali ke asrama.
"Kan... kang...!! sudah ku duga .. memang benar kata-kata anak lama , kalau di sana ada Nenek-Nenek misterius yang selalu mereka temui kala melarikan diri ke sana, tapi menurutku akang-akang semua begitu beruntung karena tidak menjadi korban nenek-nenek Makam Keramat...".
(Suna dan Salman manyun karena baru mengetahui info tersebut setelah kembali dari sana)
Dengan nafas sedikit terengah-ngah arif bercerita pada Suna dan Salman kala jam menunjukan 02.13 di serambi kanan masjid, kala itu Arif yang tak bisa tidur karena Suna dan Salman pergi di sebabkan oleh dirinya, yang menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa, kalau saja mereka berdua di pergoki Keamanan.
"Assalamualaikum!"
Suara seseorang yang mengucap salam membuat Suna dan Salman serta Arif menjadi diam hampir-hampir melupakan untuk menjawabnya kala seorang KETBAKAM yang menyambangi mereka di dalam kegelapan.
"Allahu akbar... kirain siapa", (lirih Suna)
"Wwa alaikumussalam"(Salman di iringi Suna menjawab)
"Kang .. sedang apa? larut malam begini masih terjaga ,
kang Arif juga, bukankah nanti harus bangun lebih awal?"
__ADS_1