
"Hai".
"...".(Salwa).
"Emmm, belum kapok juga yah".
"Ah, Kamu bicara apa sih Sisi".
"Sofi".
"NamaKu Sofi".
"Itu maksud Ku".
"Ngomong-ngomong, Kapan Kamu akan kembali Salwa?".
"Kamu nggak pengen Berbuka bersama di Rumah?".
"...".(Salwa).
"Bi".
"Suna udah turun?".
"Emmm belum Bu".
"Suna!!?".
"Hemmm Dikunci?".
"Lagi nggak di Rumah?".
"Pah, Suna tadi malem Pulang kan?".
"Aooouhhhmmm".
"Paling ikut Sahur on the road, lagi booming di kalangan anak-anak Muda Mah".
"Yuk, Sahur".(Dr. Riyan).
"Suna?".
"Bu?".
"Bi Suna di Rumah kan?".
"Iya Bu, tadi malam den Suna kembali tapi langsung ke kamar ".
"Bu, sepertinya Den Suna perlu berbicara dengan Ibu".
"Mmmm".
...
"Harusnya Aku meminta nomer telponnya waktu itu".
"Kalau seperti ini Aku akan meluangkan sedikit lebih banyak waktuKu".
"Aku takut Mamah melukai dirinya".
"Semoga aja ketemu".(Menarik tuas rem).
...
"Aku... mau Kita bicarakan ini sama Kamu".
"Tumben?".
Tatapan Salwa menyimpan banyak keluh, karena dirinya sekarang mulai menyimpan sedikit rasa yang tidak ingin dirinya miliki.
"Jangan terlalu memaksakan Salwa".
"Biarkan seperti ini aja".
"Lam, Aku nggak ingin Kamu terus seperti ini".
"Nggak apa Sal, Aku ngelakuin ini semua buat Kamu kok, Kamu tau itu".
"Lam, jangan, Aku nggak mau Kamu lakuin ini semua karena Aku".
"Why?".
"Aku nggak mau Kamu sakit".
"Aku?".
"Sakit?".
"Iya, Aku... menyukai seseorang".
"....".(Herlambang).
("Uti nggak tau Sof, mendengar kata-kata Suna tadi, sepertinya ada sesuatu yang sudah berubah".
"Uti, kenapa Uti tidak menanyakan kesanggupan Akang Suna menjadi Imam Uti, Atau seberapa jauh niat Beliau?".
__ADS_1
"...".(Salwa).
"Uti, mungkin Beliau juga sudah berdamai karena sudah berkaca dengan umur, atau posisi Uti yang kini sudah di hampiri Mas Herlam".
"Uti, percaya deh, Akang Suna sudah berubah tidak seperti dulu lagi".
"Sof".
"Uti tahu itu, Dia hanya menunggu Uti hingga sekarang".
DEG
"Merelakan Uti itu nggak mudah, apalagi hanya untuk mempermudah Mas Herlam masuk mendekati Uti".
"Tapi karena Beliau sudah berdamai selama ini".
"Hampir lima tahun Uti".
"Aku pikir Beliau berhak menerima hasilnya".)
"Aku pernah membuat seseorang mengejar Ku meski dengan kesembronoan nya".
"Siapa Sal?".
"Aku ingin Kamu mendengarkan semuanya".
"Aku..".
"Aku bahkan belum pernah menceritakan perasaanKu pada siapapun".
"...".
"Aku selalu berharap dirinya menjadi seseorang yang seberani diriMu".
"Kamu sangat mengerti memperlakukan Wanita".
"Sal".
"Sal, dengarkan Aku .., ".
"Aku nggak berniat untuk mengajakMu pacaran atau sebagainya, Kamu nggak harus menunggu atau menjalani hubungan tanpa kejelasan".
"Sal, Aku ingin Kita menikah".
"Sal".
Salwa yang mengetahui kesungguhan niat dari Herlambang merasakan sesak yang seketika menyerang di dadanya di susul air mata yang menganak sungai.
"Sal...".
"Aku.. (Terisak)".
"Uti?!".
"Uti?"
"Emmm di sini rupanya Kalian".
"Sof".(Salwa).
"Aku kan udah bilang Uti, Para pria tampan itu sangat bermasalah".
"Aku melukainya".(Salwa).
DEG
"Allah".
Herlambang merasakan patah hati yang amat sangat menyiksanya, melihat Salwa melangkah pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
"Salwa".
KRIUKkKkK
(Lapar).
"Shadaqallah...".
"Nah... Suna..".
"Dari mana saja Kamu nak?".(Menghampiri).
"Dari Kamar aja Mah".
"Den... Ini Bibi buatkan Bubur Kacang hijau".
"Mmm enak itu Bi".
"Aden, Shalatnya nggak bolong kan?".
"Ng?".
"Nggak Bi".
"Syukurlah".
__ADS_1
"Udah, udah, segera bersiap untuk Berbuka".
"Papah?".
"Masih di Rumah Sakit".
"Oo".(Suna).
"Biarkan saja, Papah masih sibuk".
"Baru kemarin Berbuka bersama".(Suna).
"Suna".(Sumi).
"Ng?".
"Iya Mah?".
"Kamu kenapa?".
"Akhir-akhir ini kelihatan murung".
"Cerita".
"Mmm, nggak apa-apa Mah".
"Suna".
"Mamah nggak minta apa-apa dari Kamu, Mamah akan saaangat bahagia, kalau Kamu juga bahagia".
"Mah, maaf, buat Mamah menunggu seorang cucu begitu lama".
"Ng?".
"Cucu?".
"Iya".
"Suna, Mamah masih terlalu muda untuk merengek menuntut Kamu menikah, untuk menimang seorang Cucu".
"Jalani saja apa yang membuat Kamu bahagia".
"Mungkin Kalau Mamah sudah seumuran Bibi baru akan memaksa Kamu".
"Eh?".(Bibi).
"Iya kan Bi' ".
"Ah, nggak juga Bu' ".
"Banyak umur pernikahan yang tidak seumur jagung karena berbagai macam tuntutan".
"Intinya Aden harus menemukan Calon yang tepat, yang mampu melengkapi kekosongan Den Suna".
"Tapi memang menimang Cucu punya kebahagiaan tersendiri".
"ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR!!".(Adzan).
"Alhamdulillah".
"Uti...".
"Assalamualaikum?".
"Waalaikumussalam".
"Eh, pulang?".
"Iya,".
"Ustadzah".
"Hey Sofi, ummmm MasyaAllah".
"Dah Buka Nak?".
"Udah, Ustadzah".
"Yuk masuk".
"Mmmm"
"Dah makan?".
"Pasti belum".
Salwa menyambangi Rumah setelah membantu Sofi seperti kemarin, dirinya kini bersama Ustadzah Khumairah yang sedang berhalangan di tengah semua penghuni Pondok yang melakukan Shalat Tarawih.
"Gimana kegiatannya liburan?".
"Emmm, alhamdulillah Ustadzah, seru".
"Ini?".
Salwa mendapati sebuah Formulir pengajuan Ta'aruf di atas sebuah lemari di ruangan keluarga.
__ADS_1