Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Ujian


__ADS_3

"Al'Akh Salman, maaf kang Suna ingin keluar pondok".


ujar kader BAKAM yang selalu menentang Suna yang semenjak tadi ingin keluar Pondok untuk menyambangi Kafe miliknya bahkan Suna sudah mencoba berbagai macam alasan.


"catat saja namanya".ujar Salman yang masih di atas sepeda, salah satu inventaris BAKAM yang kini di titipkan pada dirinya.


"Tapi kang, peraturannya tidak membenarkan Santri keluar selepas isya"(bingung)


"Ya sudah, Saya sendiri yang akan mengawasi beliau ini kalau ada BAKAM lain mencari beri tau saya mengawasinya(Suna)".


"(...)"(Kader BAKAM terdiam)


"Man.. situ jaga malam nya malam ini yah?".


"Iya "(menuntun sepeda)


"Man... meski kau sekarang ini sebagai BAKAM dulu Kau dan aku pernah menaklukan penjahat bersama, di hukum bersama,"


"(...)" (Salman)


"Lupakan-lupakan, Aku hanya bercanda, Kamu masih sama seperti yang dulu"(menepuk pundak yang kini selalu berbalut jas biru langit)


...


Pancaran cahaya dari "Kafe Kita" kepunyaan Suna begitu terlihat hampir dari semua penjuru, karena Kafe maupun Pondok Ihya' terletak di pusat keramaian dan hampir semua jenis kendaraan melintas dengan padatnya ketika jam-jam sibuk.


"Ternyata Kafe ini mempunyai daya tarik tersendiri di jam-jam seperti saat ini" lirih Salman mengamati sekitar yang di sambangi beberapa pemuda dan pemudi.


"Ya.. Kafe ini selain menjadi titik temu Wali murid dengan para santri, malamnya juga menjadi tempat yang nyaman untuk sharing-sharing sama teman, kumpul-kumpul dan sebagainya.(Tersenyum)


"Mmm"(Salman)


"Ey.. Kang Tris.." Suna menyapa karyawannya yang berada di tempat kasir.


"Jadi begitu mas, yang Saya tau tempo hari mas Willy katanya sedang butuh waktu untuk menyendiri dan meminta Saya mengurus Kafe selagi mas Willy dan mas Suna nggak ada".


Ujar mas Triss yang menceritakan perihal dirinya yang kini mengurus Kafe sendiri.


"Emm tapi kang Triss nggak apa-apa kalo ngurus Kafe ini sendiri?"


"Oh ndaa apa-apa mas, paling hanya sedikit keteteran ketika ramai"


(mengelap gelas)


"Hmm betul juga" Lirih Suna mengkhawatirkan Kafe dan Karyawannya.


...

__ADS_1


"Le... kamu nda berangkat?"


"Mm ndak bu'e, saya ambil Cuti untuk beberapa hari".


ujar Willy menjelaskan pada Ibunya perihal dirinya yang tidak berangkat kerja di pagi kali ini.


(Berapapun uang yang ku punya takkan bisa menghibur diriku ataupun melupakan dirinya)


"Cih.. Sejak kapan aku se ringkih ini. memang Ia bukanlah satu-satunya wanita yang cantiknya memukau diriku namun kenapa rasa-rasanya Aku tak bisa melupakan dirinya".


"Mas.. sudah Saya peringatkan berulang kali untuk tidak bersikap aneh dengan Khumairah!"


"Mmm Ku rasa dirinya tidak begitu terganggu"(tersenyum)


ujar Willy yang selalu menunjukan perhatian lebih kepada Khumairah kala Khumairah hadir di Kafe tempat dirinya bekerja.


...


"Kiayi Ss saya"


"Hassan, Saya itu sudah menjadi mertuamu, apa yang membuat dirimu seperti ini"(terkekeh)


"Abi.. abi Hassan panggil beliau Abi... (Ayah)" Ummi Zakiyath tersenyum melihat tingkah Hasan yang belum terbiasa dengan kedudukan dirinya saat ini".


"Sebaiknya Kamu persiapkan Rumah mu di gedung Riyadh besok dan ajak juga Khumairah ke sana"


ujar Hasan yang terkejut mengetahui dirinya di minta pindah menuju gedung Riyadh, salah satu rumah yang berada di komplek perumahan Ustadz-Ustadz yang sudah mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk Pondok.


"Wah.. Ummi Abi... Salwa ingin membantu !"(Bersemangat)


"Hemm Salwa kenapa? Mau menyusul Kakak?


(Ummi)


"Salwa ada baiknya Kamu segera menyelesaikan hafalan Qur'an Mu"


"Abi... Salwa baru datang kemarin... sudah di pinta untuk kembali ke Pondok"(memanyunkan bibir)


"Iya.. Agar kamu segera mengikuti ujian di timur tengah"


"Abi.. biarkan saja Salwa membantu siapa tau dirinya ingin mengikuti jejak Khumairah"(Ummi Zakiyath tersenyum mengelus kepala anak bungsunya)


"Emm entah lah apakah aku bisa mengikuti Jejak Uti Khumai yang hampir sempurna ini"(menyenggol pundak Khumairah yang saat itu duduk di sampingnya)


"Iya.. coba lihat wajah Kakak Mu yang sangat ceria setelah menikah"


(...)(Khumairah tersenyum)

__ADS_1


Tok Tok


"Masuk!"


"Salwa Kakak boleh tidur denganMu?"


"Mmm? Boleh Tapi Kang Hasan?"


"Ia tidur di kamar Kakak".


(...)


Salwa mempersilahkan kakaknya yang sebenarnya adalah seseorang yang paling dekat dengannya selama ini.


"Uti .. selamat ya.. akhirnya uti mendapatkan Akang Hasan sebagai Imam Uti.. Salwa seneng.. banget"


"Hmmm Alhamdulillah Salwa kakak juga seneng denger kamu sangat bahagia".


"Uti.. "(Memeluk)


"Salwa... Do'akan kakak selalu menjadi Makmum yang istiqamah, dan berbakti sama suami dan orang tua"Lirih Khumairah dengan sedikit air mata yang mengalir membasahi pipinya dan pundak Salwa.


"Iya-iya.. Kakak pasti bisa kok, semuanya akan berjalan seperti seharusnya... Lancar.. allah tau kok Uti.. maupun Akang Hasan itu ... hamba-hambanya yang sangat taat".


"Aamiin insyaAllah".


"Salwa semoga kamu juga mendapatkan orang yang tepat untuk Imam kamu kelak".


"Aamiin".


...


"Kang.. ada baiknya Akang pikirkan lagi untuk Izin cuti mengurus Kafe bukankah setahun sudah akang di sini?".


"Ya... Aku pun sedang berfikir Man, apa yang harus Aku lakukan dengan kekosongan Kafe serta Willy yang mendadak Cuti".


"Ya mungkin dirinya butuh refreshing kang.."


"Tidak, sepertinya ada ada yang sudah terjadi, tapi aku tidak tahu hal itu".


"Jadi apakah dengan Ijin Cuti dapat mengatasi semua hal? atau akan menimbulkan masalah lain?".


"Kang.. Akang bukanya ingin menunjukan bahwa Akang mampu bertahan di sini dan berubah demi Salwa?!"ujar Salman meyakinkan Suna saat berjalan menuju Pondok.


"Hem iya benar, Tapi.. bagaimana dengan Kafe Ku Man!"


"Kang Akang akan lebih baik jika tetap di dalam Pondok, percayalah Kang.. "

__ADS_1


(...)(Suna)


__ADS_2