
"Suna, maaf Mamah ada urusan di rumah Nenek jadi tidak bisa mengantar, ngomong-ngomong Rambut kamu kenapa hilang ?"(terkekeh)
"Hemm sepertinya seminggu ini Mamah terlalu capek sampai tak menyadari hilangnya rambut di kepalaku".
"Emm iya Kamu kan selalu memakai Topi akhir-akhir ini".
"Hehe Iya aku telat menghadiri kajian Mah".
(Hemmm Mamah benar-benar kelelahan akhir-akhir ini, tapi mengatakan kebenaran bila Aku sudah tahu keadaan Ayah pasti akan menambah beban untuknya, Mah .. Mamah yang kuat yah jagain Papah Suna bakal sungguh-sungguh di Pondok apapun yang terjadi)
Dalam diam Suna kembali teringat Ibunya kala memacu kuda besi 600cc menuju Pondok.
"Eh .. mas Suna Saya khawatir bila Mas Suna menitipkan Motor segede ini pada Saya".(terkejut)
"Ah, Kang Triss mah bisa aja, nggak bakal gigit juga motor ini".
"Yah, kalo Kang Triss mau Pakai saja, atau kalau tidak, Kang Triss pastikan keadaanya terkunci dan aman di dalam Kafe".(tersenyum meninggalkan. Kunci di atas meja Kasir)
"Wah wah wah , dah siap buat ke kampus nih pagi-pagi".
"(...)"(Zahira)
"Maaf untuk yang kemarin, Aku melibatkan Kamu dalam masalah hanya karena Aku penasaran akan Salwa, terima kasih untuk sudah menginformasikan semuanya padaku, kedepanya Kamu nggak usah khawatir Aku tidak akan bertanya apapun lagi".
"(...)"
"Semoga harimu menyenangkan".
lirih Suna seraya meninggalkan kafe tempat dimana dirinya di diamkan Zahira
sedang di seberang jalan Suna mendapati Fattah berjalan menatapnya.
"Emm seriusan Aku nggak bawa barang-barang terlarang Al-akh".
"Hemm baguslah kalau begitu sebaiknya segera kembali banyak tugas, masjid dan para hewan ternak sudah sangat merindukan Akang".
"Ini nggak di periksa nih?"(mengangkat tas)
"Nggak terima kasih".
"O iya itu si Zahira ada di Kafe".(tersenyum)
"(...)"(Fattah)
...
"Kak Willy belum juga kembali?"
"(...)"(Kang Triss menggeleng)
"Kang Kopinya satu".(berdiri fokus memperhatikan Kang Triss)
"(...)".(Zahira)
"Password Nya Pagi-pagi kang"
ujar Kang Triss pada Fattah yang biasa menanyakan Password terlebih dahulu
namun tidak kali ini, bahkan Fattah berlalu tanpa menghiraukan Zahira meski sempat berdiri bersebelahan.
(Apa dirinya benar-benar menyeriusi perkataan Ku padanya?, tapi memang dirinya sudah sangat keterlaluan).
__ADS_1
Gumam Zahira kala berjalan tidak jauh di belakang Fattah.
"Aku akan mencari jati diriKu yang telah lama hilang semenjak mengenalMu Ra".
"Terima kasih".
"Atas semuanya".
...
"Assalmualaikum!!"
"Waalaikumussalam eh, Kang Suna dah pulang".(bangkit dari tempat duduk)
"Alhamdulillah iya, eh lu ngapain di dalem sini? lemari?(bengong)
"Hhh Rif, jelasin".Salman terkekeh dengan keberadaan dirinya yang di pertanyakan Suna.
"nah begitulah ceritanya Kang, Akang jangan berfikir Kang Salman berniat tidak baik".
lirih Arif menjelaskan bahwa Salman di perintahkan Kiayi membantu dirinya selama Suna tidak ada.
"Yang pasti Aku tidak akan berakhir seperti Kang Hasan kok , santai tidak ada yang seberuntung beliau yang mendiami kamar ini".
ujar Salman seraya tertawa.
"Yah, bagaimana bagusnya lah hehe, Aku pun nggak berhak mengatur di sini hhhh".
"Ini Ada beberapa cemilan yang Aku bawa".
"Wah banyak banget".
"Yup silahkan".(tersenyum membuka cemilan)
"Mantap ini mah kombinasi kamar Ta'mir Haafidz Al-qur'an serta Pendekar Pondok dan juara dua Turnamen beladiri Santri".
"Bisa aja kamu, kalau saja Aku tidak cidera kala itu Mungkin aku yang menjuarainya".
"Heh KangSun jangan lupakan, antum nggak bakalan semudah itu menjadi juara kita belum sempat bertemu di Lapangan".
"Wah benar juga itu, Aku pun penasaran bila saat itu antum antum ini nggak menolong anak Kiayi, entah jadi apalah nasibnya".
DEG
Suna dan Salman menatap tajam kepada Arif yang masih mengunyah cemilan di depan Lemarinya.
"Ups.. hhh alangkah baiknya Kita tidak berandai-andai Kang hehe Itu yang di katakan Ustadz di kelas kemarin".(tersenyum khawatir)
"Ng.. ngomong-ngomong kenapa pagi ini tidak ke kelas?".
"Aku hari ini Piket kamar jadi kebersihan Masjid adalah tanggung jawabKu".
(mengangkat angkat kedua alis seraya tersenyum)
"Baguslah!! Aku bisa beristirahat sejenak karena tadi malam HafalanKu sangat banyak dan ada kajian juga dengan Kiayi nanti Sore".
"Ooo Nanti Sore waktunya?"
"(...)"(Salman mengangguk)
"Eh. eh. eh. kang Aku juga butuh bantuan Atuh, mana mungkin aku mengerjakan semuanya sendiri dulu juga kalau ada Kang Hasan Kami mengerjakan berdua".(memelas dan mengunyah)
__ADS_1
"Rif Aku barusan mendengar Satu pepatah bagus , jangan berandai-andai, nggak bagus buat kesehatan hehe".(Suna mengganti baju)
"Iya Susah move on".
(mendorong Pundak Arif)
"Sebaiknya Siapkan Air Untuk mengepel".(Suna)
"Ok Siap".
Pagi itu para pemuda Masjid memulai pagi di Pondok Ihya' dengan begitu antusias membersihkan lantai, hingga beberapa Waktu kehidupan pondok berjalan begitu dinamis semua terjadwal dan berjalan seperti biasanya.
"Whah... indahnya pagi di Pondok ini hhh jarang-jarang aku bisa menikmati pemandangan seperti ini".(menatap jauh ke arah asrama Putri).
"Istighfar, istighfar...".(Suna)
"Iya nih anak, dah bagus-bagus di tolongin malah kerjasamanya nol".(mengibaskan kain pel)
"Whohoho tolong!"(berlarian menghindari Salman yang memburu dengan kain pel)
...
"pah, anak Kita sudah kembali ke Pondok, jadi papah nggak usah khawatir Suna pasti bisa selesai menuntut Ilmu di sana, jadi Papah cepat sembuh yah".
Sumi yang sedikit merasakan lega karena Suna tidak banyak menunjukan kecurigaan tentang keberadaan Ayahnya, kini iya bisa kembali ke Rumah Sakit menemani sang Suami, berharap agar dirinya cepat pulih dan melewati masa-masa Koma.
"Hemmm Terima kasih Pondok, hari ini Aku akan memberanikan Diri untuk berbicara secara langsung pada Mamah dan Papah".
"Rasa-rasanya ada yang kurang bila kepergian diriku ke sini tanpa menjelaskan panjang lebar kepada mereka".
"Assalamualaikum".
"...".
"Waalaikumussalam,Ini siapa?"
"Mah,
"Putri?? Kamu kemana aja kenapa tidak mengabari?"
"Hhhh, Iya Mah, Putri baik kok, Mamah gimana kabar?".
"Baik, Baik, Mamah dan Papah di sini baik sayang, jadi kapan Kamu mau Pulang ke Ibu Kota?"
"Mamah ka...ngen.. banget sama Kamu".
"Emmm Iya Mah, Putri juga kangen . .. banget sama mamah".
"Mah, ngomong-ngomong Tante ada bicara sesuatu sama Mamah ?".
"Ng? tante? nggak , Tante selalu kasih kabar Kalau Kamu selalu sibuk dengan Pekerjaan butik, dan segala hal yang menurut Kamu penting".
"Putri, Pulang lah nak, Mamah dah laaama sekali menunggu kamu di sini, menunggu Kamu selesai dengan Butik, kalau perlu pindahkan saja Butik yang Kamu kelola ke Sini".
"Mamah kangen Putri".
"Emmm Mah, sebenarnya ... Butik nggak perlu Mamah khawatirkan, Putri sudah berhenti belum lama ini, jadi Putri akan siap pulang kapan aja".
Akhirnya Dalam kesempatan menelpon dari Wartel(warung telephone) Pondok Putri menjelaskan keadaanya sekarang, sudah berada di Pondok dan menyerahkan semua hal yang berkaitan dengan Butik Pada tantenya.
Kabar masuknya Putri ke Pesantren sempat membuat Ibunya terkejut karena di umurnya yang pada umumnya sudah menikah namun mampu menimba Ilmu dan tanpa sepengetahuan Ibunya, namun kabar baik itu pun dapat di terima oleh Ibu Putri dan berencana menjenguk Putri Lusa.
__ADS_1